
Setelah selesai mengukur tubuh Renata, Mariska mengajak calon menantu nya ke dapur. Dia sudah lama berharap saat dia memasak akan ada yang menemani nya selain bibi art yang dia pekerjakan.
"Masak apa kita, Mom?" Tanya Renata, dia melihat-lihat seisi dapur di rumah mewah ini, tertata rapih dan bahan makanan yang lengkap.
"Kamu mau masak apa buat Reza, sama papi?" Balik tanya Mariska, dia sendiri sering bingung saat menentukan akan memasak apa setiap hari nya.
"Rere bingung mom, buat bekal aja Rere suka nanya dulu sama Eza nya, mau di masakin apa buat bekal."
"Jadi kamu bikinin bekal buat Reza, sayang?" Tanya Mariska, Renata mengangguk.
"Iya Mom, sejak kami memutuskan berkomitmen, Rere yang selalu ngasih bekal makan siang buat Eza."
"Pantesan aja, dia selalu nolak bekal buatan Mommy." Akhirnya dia mengerti kenapa putra nya selalu menolak bekal buatan nya, ternyata bekal dari Renata menjadi pilihan nya.
"Jadi, kita masak apa Mom? Rere suka ngasih Eza bekal sederhana aja, terakhir Rere masak ayam sambel kemangi dan bekal nya habis tak bersisa." Jelas Renata.
"Masak itu aja kali ya? Sekalian Mommy belajar resep nya."
"Papi suka pedes, Mom?" Tanya Renata.
"Suka, cuma ya jangan terlalu pedes aja. Soalnya Papi dah tua, suka gak terduga." Bisik Mariska, Renata paham akan ke khawatiran calon mertua nya, jadi dia mengganti cabai rawit nya dengan cabai merah besar yang tak memiliki rasa pedas sama sekali.
"Lho Mommy ngambil blender buat apa?" Tanya Renata saat melihat Mariska membawa blender.
"Buat blender cabe sama bumbu-bumbu nya, biar cepet."
"Gak usah, Mom. Biar Rere ulek aja, ada cobek disini?" Mariska mengangguk, dia sedikit kurang yakin saat Renata mengatakan akan mengulek bumbu nya, apa dia bisa?
Renata mengeluarkan cobek nya, dia mulai mengulek bumbu satu persatu hingga semua nya halus, tentu saja itu membuat Mariska terkejut sekaligus merasa senang. Calon menantu nya bisa melakukan apapun.
Masalahnya, di jaman yang serba modern seperti ini tak banyak wanita yang bisa mengulek dengan cobek, kebanyakan pasti akan memilih menggunakan blender agar simpel dan cepat. Namun berbeda dengan Renata.
"Kenapa pake cobek sih, Yang? Kan ada blender." Tanya Reza, dia berniat mengambil minuman dingin di kulkas, tapi dia malah salfok saat melihat Renata sedang mengulek bumbu.
"Kata orang, makanan yang di buat dengan tangan sendiri akan terasa lebih enak." Jawab Renata, membuat Reza manggut-manggut.
"Pantesan aja masakan kamu selalu enak, ternyata di buat nya dengan cinta dan ketulusan ya."
__ADS_1
"Iya dong, biar suami aku gak marah nanti."
"Marah kenapa coba? Alesan aku marah apa?" Tanya Reza dengan kening yang berkerut.
"Ya karena aku gak bisa masak."
"Aku nyari istri, bukan chef tukang masak. Jadi gapapa kalau gak bisa masak." Jelas Reza.
"Sebagai istri yang baik, aku juga harus bisa menyenangkan suami."
"Menyenangkan suami bukan hanya dengan memanjakan perut nya saja, Sayang. Masih ada yang lain yang bisa kamu coba buat menyenangkan aku." Ucap Reza sambil menyandarkan dagu nya di pundak Renata. Tangan nya perlahan melingkar di pinggang Renata.
"Contohnya?"
"Full servis di ranjang misalnya." Bisik Reza membuat wajah Renata memerah, dia menyenggol perut Reza membuat pria itu sedikit menjauh.
"Jangan mesuum, aku lagi masak. Lagian kamu kesini mau ngapain? Bantuin enggak, ngerecokin iya." Ketus Renata, namun wajah nya masih memerah dan itu sangat menggemaskan di mata Reza.
"I love you, Renata Lusiana." Bisik Reza lagi, membuat bulu kuduk Renata meremang seketika.
"Kamu bilang apa, Sayang?"
"Aku? Memang nya aku bilang apa? Perasaan gak ada." Jawab Renata usil, padahal dia tahu apa maksud Reza.
"Sayang.." rengek nya manja, sambil menarik-narik ujung blouse yang di pakai Renata, seperti anak kecil yang tak di berikan permen.
"Jangan mesra-mesraan disini, bukan tempatnya. Ke kamar sana," celetuk Mariska yang baru saja datang dengan membawa keranjang berisi sayur segar, yang sepertinya baru saja di petik.
"Tuh, Mommy udah nyuruh ngamar. Yuk," ajak Reza bersemangat.
"Kemana?"
"Ke kamar." Jawab Reza membuat Renata refleks mencubit lengan nya, membuat pria itu meringis kesakitan.
"Belum sah, gak ada acara ngamar." Ketus Renata, membuat Mariska terkekeh.
Merasa takkan menang jika dirinya sendiri dan kaum perempuan berlevel ganda, Reza memilih kembali ke ruang depan.
__ADS_1
"Itu sayur dari mana, Mom?"
"Dari kebun belakang mansion, Sayang."
"Ada kebun, Mom?"
"Ada Sayang, kebun kecil-kecilan. Biar butuh sayur gak harus beli, lagian kalo beli kadang sayur nya gak organik." Jelas Mariska. Dia sadar berada di lingkungan orang berada saat ini, jauh dengan kehidupan nya. Yang masak pun secukupnya uang.
Acara memasak selesai, makan malam juga selesai. Kini Renata dan Reza sedang dalam perjalanan untuk pulang, di tangan nya Renata memegang sebuah tas kecil berisi oleh-oleh dari Papi yang entah apa isinya.
"Za, kenapa kamu mempercepat pernikahan kita? Itu terkesan terburu-buru." Tanya Renata.
"Memang nya kenapa? Kamu belum siap? Kamu trauma dengan pernikahan?" Renata mengangguk pelan. Reza menginjak rem dan mobil pun berhenti di jalan yang sedikit sepi.
"Tak masalah, aku yang akan menyembuhkan nya. Begitu kamu menerima lamaran ku, itu artinya kamu siap saat aku ingin menikahi mu, it's okey aku siap menerima semua nya, kekurangan dan kelebihan mu."
"Aaahh aku lupa, kamu sempurna sayang. Kamu tak memiliki kekurangan apapun di mataku, jadi biarkan aku egois kali ini saja Sayang. Aku benar-benar serius dengan perkataan ku, aku harap kamu setuju dan siap menikah dengan ku dalam waktu satu bulan kedepan." Jelas Reza panjang lebar, membuat Renata tertegun.
Pria itu tak main-main dengan perkataan nya, dia benar-benar membuktikan nya secara gentel.
"Baik, kalau itu keinginan mu aku akan siap, Eza." Jawab Renata, membuat Reza menoleh.
"Baguslah, lagipun kamu tak bisa menolak karena Mommy akan mulai mengerjakan gaun pengantin mu besok. Masalah cinta, tak apa aku bisa menunggu sampai kamu benar-benar mencintaiku dengan tulus, bukan sekedar menyenangkan ku."
"Terimakasih, kamu benar-benar pria yang sangat baik, Reza."
"Laki-laki baik pasti tercipta untuk wanita yang baik juga, begitu juga aku." Jawab Reza, dia tersenyum lalu mengecup singkat bibir Renata.
"Aku akan sabar menunggu mu sampai kapan pun, wanita seperti mu sangat layak untuk di tunggu." Reza mengusap lembut kepala Renata, lalu kembali menyalakan mesin mobil nya.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
Abang Eza, dari samping aja ganteng nya minta ampun😍😍❤️
__ADS_1