
Mami Erika melerai pelukan nya dengan Renata, dia tersenyum lalu menangkup wajah mantan menantu nya itu.
"Kamu makin lama makin cantik aja."
"Mami bisa aja, Rere gak banyak berubah kok." Jawab Renata sambil tersenyum ramah.
"Apa kabar, Elin?" Tanya Renata sambil mendekat ke arah brankar dimana ada Elina yang sedang duduk dengan kaki selonjoran.
"Sudah lebih baik kak." Jawab Elina ramah.
"Aahh syukurlah, aku dengar dari Eza katanya kamu di culik ya?"
"Huum kak, tapi mungkin lebih tepatnya bukan di culik sih, tapi menjemput. Soalnya Elina kan di jual sama ibu tiri Elin."
"Aku gak habis pikir sama itu orang, kenapa bisa sejahat itu, apa kamu punya salah, sayang?" Tanya Renata sambil duduk di sisi ranjang Elina, mengusap lembut punggung tangan gadis itu.
"Gak tau kak, Elina gak tau apa kesalahan Elin."
"Yang sabar ya, gapapa sekarang kamu aman. Orang yang udah beli sama jual kamu udah di tangkap sama polisi, dan suami aku yang mengurus semuanya. Jangan khawatir ya," Renata mengelus pelan puncak kepala Elina.
Meski Renata yakin Elina heran dengan sikapnya, tapi sebisa mungkin dia takkan memberitahu apapun tentang masa lalu nya bersama Dimas, biarkan saja pria itu yang menjelaskan semuanya, dia tak berhak apapun.
"Kenalin, aku Renata. Istri nya Reza, temen nya Dimas."
"Ohh iya, istrinya kak Eza ya." Ucap Elina sambil manggut-manggut.
"Kamu cantik sekali, berapa usia mu cantik?" Tanya Renata.
"Delapan belas tahun, kak."
Renata terhenyak begitu mendengar jawaban Elina, di usia semuda itu dia sudah mengalami kehidupan yang sangat sulit dan menyakitkan. Dia merasa menjadi orang yang paling banyak masalah hidup, tapi apa ini? Elina jauh lebih menderita dari pada dirinya.
Usia yang bisa di katakan belum dewasa, dia di hadapkan dengan keserakahan seseorang akan uang, hingga rela mengorbankan apapun asal keinginan nya terpenuhi. Renata menatap gadis itu dengan sendu, banyak rasa sakit yang gadis itu simpan seperti nya, terlihat dari raut wajahnya.
Meski dia tersenyum, tapi mata nya tak bisa berbohong. Ada rasa sakit yang dia sembunyikan, tapi entah itu apa dia tak berani bertanya lebih banyak, takutnya Elina malah merasa tak nyaman.
"Mami keluar dulu sebentar ya." Ucap Mami Erika.
"Iya Mi." Jawab keduanya kompak. Mami Erika pun keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan perlahan, meninggalkan Renata bersama Elina, hanya berdua di ruangan itu.
"Apa masih ada yang sakit?" Tanya Renata lagi.
"Kaki kak, lumayan sakit karena jahitan nya belum mengering. Dulu, Elin juga pernah dapet luka yang lebih besar dari ini, tapi kalo di jahit rasanya lebih sakit." Jelas Elina sambil memperlihatkan perban di betis nya.
"Pernah? Kenapa, apa ulah ibu tiri mu juga?" Perlahan, Elina mengangguk. Jelas, itu membuat Renata kesal sendiri. Bagaimana bisa ada wanita sekejam itu memperlakukan anak tirinya? Meskipun bukan anak kandung, tak ada salahnya memperlakukan dia dengan baik, menyayangi nya dengan tulus.
"Dulu, Elin kan lagi sakit. Demam gitu, bawaan nya lemes sama pusing gitu. Tadinya Elin mau tidur aja istirahat, ehh tiba-tiba ibu datang bawa sapu dan mukul kaki Elin pake gagang nya."
"Dia marah kan, karena nyuruh cuci piring tapi karena Elin gak enak badan jadi Elin pikir ibu bakal mentolerir. Ehh ternyata enggak, jadi Elin maksain ke sumur buat nyuci piring, Elin pusing terus piring itu jatoh otomatis pada pecah, nah luka itu Elin dapat karena kepeleset terus nimpa pecahan piring." Jelas Elina panjang lebar.
Dia menyibak celana panjang nya, menunjukan bekas luka yang nampak sangat jelas, meskipun saat ini hanya terlihat seperti garis tipis, tapi Renata yakin luka itu sangat dalam dulu. Apalagi ini terkena pecahan kaca, pasti rasanya sakit menyakitkan.
"Terus ibu tiri kamu gimana?"
"Masih lanjut marah-marah karena piring nya banyak yang pecah, Kak. Padahal waktu itu di sumur udah penuh darah dari luka Elin yang menganga, tapi ibu gak peduli dan sambil nahan sakit, Elin tetep maksain cuci piring nya yang tinggal beberapa, karena kebanyakan udah pada pecah." Jawab Elin dengan senyum yang terlihat sangat di paksakan.
"Aku gak tau seperti apa jalan pikiran ibu tiri mu itu, Elin. Tapi aku rasa, hukuman di penjara seumur hidup itu terlalu ringan di banding dengan kejahatan yang sudah dia perbuat."
"Elin berterimakasih banget sama kak Reza karena udah perjuangkan keadilan buat Elin, bilangin ucapan terimakasih aku ya kak." Renata tersenyum lalu kembali mengusap puncak kepala Elina.
"Pasti, akan aku sampaikan nanti. Aku berfikir, setiap orang memang harus memperjuangkan untuk keadilan dirinya sendiri, Elin. Kenapa gak dari dulu kamu melapor ke polisi? Ini sudah sangat menyalahi aturan."
"Elin gak berani Kak, lagian dari mana Elin punya uang? Walaupun Elin kerja setiap hari, tapi Elin gak pernah bisa rasain uang hasil kerja keras Elin. Pas gajian, semuanya pasti di ambil sama ibu."
Elina menunduk, membuat Renata meraih wajah gadis itu agar mendongak dan mau menatap dirinya. Renata melihat kedua mata gadis itu berkaca-kaca, dengan cepat Renata meraih Elina ke dalam pelukan nya.
"Kamu ingin menangis? Menangis lah di pundak kakak, sayang. Pasti selama ini kamu merasa sendirian kan, merasa tak punya siapa-siapa untuk menjadi teman berbagi? Sekarang ada kakak, kamu bisa berkeluh kesah pada kakak ya."
__ADS_1
Mendengar ucapan Renata, Elina menangis sesenggukan, dia menumpahkan semua rasa sakit yang sudah teramat lama dia pendam sendirian.
Ucapan Renata benar, dia merasa sendirian, dia merasa tak punya siapapun untuk berbagi masalah nya, berkeluh kesah tentang hidupnya, tapi tak ada yang mau mendengarnya.
Tapi kini, Tuhan mengirimkan sosok malaikat sebaik Renata untuk menjadi teman nya berkeluh kesah. Elina menangis pilu di pelukan Renata, wanita itu mengusap punggung nya dengan lembut, memberinya sedikit ketenangan pada gadis yang kini terisak di pelukan nya.
"Tak apa, tumpahkan semua rasa sakitmu sampai kamu merasa lega." Ucap Renata lagi.
Setelah beberapa menit menangis, akhirnya Elina merasa tenang. Rasa sesak yang selama ini menghimpit dadanya kini tak ada lagi, berganti rasa lega yang membuat hatinya lebih tenang.
"Merasa lebih baik?" Tanya Renata, Elina mengangguk pelan.
"Sekarang tersenyum ya, maaf sudah membuat mu menangis."
"Makasih ya kak, udah mau dengerin Elin. Kakak benar, aku memang selalu merasa sendirian, tak ada siapapun yang bisa aku jadikan tempat berbagi. Tapi, kini kakak datang dan aku merasa punya harapan." Jawab Elina.
"Sama-sama, El. Ohh iya, kakak bawain buah, ini bagus buat pemulihan." Renata mengeluarkan dua kotak buah dan membuka nya.
"Ini buah apa, kok berbulu kak?"
"Kiwi, ini buah yang banyak mengandung vitamin C dan kaya akan serat. Bagus buat recovery sehabis operasi, di cobain dulu."
"Elina baru tau ada buah kayak gini, kak." Jawab Elina sambil melihat-lihat buah di tangan nya.
"Kakak juga baru tau setelah nikah sama Eza."
"Cara makan nya gimana ini, kak?" Renata terkekeh, baginya gadis di depan nya ini begitu menggemaskan. Tak heran, Dimas bisa menyukai gadis ini. Sikap nya sangat tulus, tak di buat-buat.
Renata mengambil pisau kecil dan membelah buah itu menjadi dua, mengambil sendok dan menyendok buah itu.
"Buka mulutmu.." pinta Renata, Elina menurut dan membuka mulutnya begitu Renata mendekatkan sendok berisi buah itu. Meski dia merasa ragu, akan seperti apa rasanya buah yang menurut nya cukup aneh itu, tapi tak ada salahnya percaya pada Renata kan? Apalagi dia mengatakan buah ini bagus untuk pemulihan pasca operasi.
"Gimana?" Tanya Renata, saat buah itu sudah mendarat di mulut Elina. Gadis itu mengunyah nya perlahan lalu mengangkat satu alis nya.
"Enak kak, tapi agak aneh ya." Jawab Elina sambil mengecapkan mulutnya, merasa sedikit aneh.
"Itu karena kamu baru sekali makan buah ini, nanti kalo udah sering pasti biasa kok. Nih makan lagi, ini kakak juga bawain peach."
"Nanti di coba ya, kalau Dimas udah pulang. Sekarang makan yang ini aja dulu, semakin di makan rasanya akan semakin enak."
Elina menurut dan kembali memakan buah itu dengan lahap, sesekali dia mengajak Renata untuk mengobrol dan keduanya tertawa bersama. Secepat itu Renata bisa mengakrabkan diri dengan Elina, gadis yang baru pertama kali dia temui.
Tak lama berselang, mami Erika masuk dengan kantong kresek yang dia tenteng di tangan nya.
"Sudah makan, sayang? Mami beliin mie ayam, ayo makan dulu." Tawar Mami Erika pada Renata, membuat rasa penasaran nya tentang siapa Renata sebenarnya kembali datang.
"Kebetulan Rere laper Mi, pedes gak?"
"Kamu ibu menyusui, gak boleh makan pedes." Tegas Mami Erika, yang membuat bibir Renata mengerucut lucu.
"Yaudah lah, dari pada gak makan mie ayam sama sekali." Pasrah Renata, meski dia merasa ada yang kurang jika makan mie ayam tanpa sambal.
"Mie ayam makanan favorit kakak ya?" Tanya Elina. Renata menoleh lalu tersenyum, dia mengangguk cepat sebagai jawaban.
'Sebenarnya kak Renata itu siapa? Bahkan Mami Erika sampai tau makanan favorit nya?' batin Elina.
"Ayo, kamu juga makan ya."
"Aahh iya kak." Jawab Elina sedikit canggung, dia pun mengambil mangkuk berisi mie ayam dengan bakso dan pangsit itu dari tangan Renata.
"Yuk makan, jangan lupa berdoa dulu." Peringat Mami Erika, mereka pun berdoa lalu makan dengan lahap. Apalagi Renata, sudah lama dia tak makan mie ayam karena suaminya benar-benar melarang nya, apalagi jika pedas.
"Kamu disini sampai Reza pulang kerja kan?" Tanya Mami Erika.
"Iya Mi, suami Rere juga tau kok kalau Rere disini, dia juga yang nyuruh Rere stay aja disini, nanti pulang bareng." Jawab Renata, sambil tersenyum hingga matanya menyipit.
"Bagaimana dengan anak-anak mu, Nak?"
__ADS_1
"Allhamdulilah baik, Mi."
"Anak-anak? Memang nya kak Renata punya berapa anak?" Tanya Elina, dia mana tau berapa anak wanita cantik di depan nya, ini adalah pertemuan nya yang pertama kali.
"Anak kakak dua, kembar."
"Wahh, pasti sangat menyenangkan ya punya bayi kembar. Sepasang kah?"
"Iya, mereka couple." Jawab Renata.
"Nama nya?"
"Farish sama Faisha, El."
"Nanti kalo Elin udah sembuh, Elin pengen liat mereka kak, apa boleh?"
"Tentu saja boleh, main ke rumah kakak ya. Pasti mommy sama papi seneng kalo kamu main ke rumah, biar aku gak bosen di rumah terus." Jawab Renata, terkadang dia merasa bosan tinggal di rumah. Apalagi tak ada teman yang bisa di ajak ngobrol asik.
Tapi sepertinya Elina orang yang asik di aja ngobrol, seperti nya mereka sefrekuensi. Mira juga kadang datang berkunjung, hanya saja sangat jarang karena dia sibuk ngampus untuk melanjutkan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi.
"Iya kak, nanti Elin main ke rumah kakak." Jawab Elina dengan antusias.
Setelah menghabiskan mie ayam nya, Renata pun menyimpan mangkuk kotor itu. Ketiga wanita berbeda generasi itu kembali mengobrol dengan topik random yang seringkali mengundang gelak tawa.
Tak terasa, waktu cepat berlalu. Hari sudah mulai petang, Reza baru saja duduk di mobilnya bersama Dimas.
"Lo balik ke rumah apa ke rumah sakit?"
"Rumah sakit kayaknya, soalnya Elin masih belom di bolehin balik. Kenapa?" Tanya Dimas.
"Enggak sih, gue juga mau kesana."
"Hah, ngapain ege?" Tanya Dimas dengan ekspresi terkejutnya.
"Bini gue disana, nengokin calon bini mantan suaminya." Jawab Reza datar, membuat Dimas terkekeh mendengar jawaban teman nya.
"Yaudah lah." Dimas menghentikan tawa nya, seperti nya ini adalah pertemuan kedua nya setelah Renata resmi menjadi istri Reza.
Pertemuan pertama di mall, saat itu dia masih memperistri Sila. Lalu sekarang? Kiranya seperti apa penampilan mantan istrinya itu setelah mempunyai dua anak?
Singkatnya, mobil yang di kendarai Dimas berhenti di rumah sakit, keduanya pun turun dari mobil dan berjalan beriringan. Membuat orang-orang yang tak sengaja berpapasan dengan kedua nya menatap mereka dengan tatapan kagum.
Bagaimana tidak, semua orang tau bahwa pria yang sedang berjalan dengan langkah tegap itu adalah Reza Argantara, CEO perusahaan Argantara's group dan yang satunya lagi adalah asisten nya, Dimas Fahrian.
Kedua nya berpenampilan rapih dengan wajah yang tampan, bak idol Korea membuat para gadis bahkan perawat sekalipun langsung menghentikan aktivitas mereka sejenak saat melihat kedua pria itu berjalan.
Kedua pria itu sampai di depan ruangan Elina, Dimas membuka nya dan saat itu juga dia mematung. Wanita yang berdiri di depan nya pun demikian, dia ingin keluar dari ruangan untuk sejenak, tanpa dia tahu kalau Dimas juga baru saja datang dan saat ini keduanya mematung dengan saling berhadapan.
"Ehemm.." Reza berdehem, membuat keduanya langsung memutus kontak mata.
"Sudah selesai, kita pulang sayang. Baby Aisha rewel," ucap Reza sambil menarik lembut tangan sang istri.
"Aku pulang dulu ya, El. Kalau ada waktu luang, mainlah ke rumah." Ucap Renata, Elina mengangguk dan dia pun pergi dengan Reza yang menggenggam erat tangan nya.
Cemburu? Pasti ada, karena Dimas adalah mantan suami istrinya. Setidaknya, keduanya pernah merajut kasih meski tak lama, dia memang percaya sepenuhnya pada sang istri. Tapi tetap saja rasa itu tetap ada, dia tak suka cara Dimas menatap istrinya.
Di ruangan, Mami Erika berpamitan pulang dan meninggalkan Dimas bersama Elina. Kini, pria itu sedang duduk di kursi dekat brankar dimana Elina berbaring.
"A-aku ingin bertanya kak, apa kamu tidak keberatan?" Tanya Elina pelan.
"Tentu saja tidak, apa yang ingin kamu tanyakan, sayang?"
"Siapa Kak Renata? Dan ada hubungan apa antara kakak dengan nya?" Tanya Elina membuat Dimas terhenyak.
Dia tau, hal ini akan di pertanyakan. Cepat atau lambat, dia memang harus memberitahu Elina yang sebenarnya, siapa Renata dan bagaimana masa lalu nya.
"Renata adalah…"
__ADS_1
........
🌻🌻🌻🌻🌻