Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 18 Di kafe


__ADS_3

Vishal berjalan ke kafe dan akan minum sesuatu sambil melepas penatnya setelah rapat.


"Mas Alvin!" Seorang wanita cantik dan montok memanggil nama Alvin. Alvin memakai seragam teknisi.


Reflek CEO langsung menoleh pada arah suara itu. "Bagian teknisi. Namanya Alvin, Apakah dia suami Stella?" gumam CEO dalam hati dan tetap memperhatikan mereka dari jauh.


Wanita itu memakai seragam bagian administrasi. Mereka lalu duduk dipojok kafe dan memesan minuman.


"Ohh shhheeetttt!" Saat menoleh melihat dua sejoli berciuman hangat di pojokan. Tidak ada yang peduli memang. Hal seperti itu sering terjadi dikapal pesiar, tamu sesama tamu dan juga pegawai dengan tamu sesaat.


Tapi CEO sangat peduli, karena pria itu punya hubungan dengan Stella. Wanita yang dengan cepat mencuri hatinya.


"Suaminya bermain dengan wanita lain. Apakah Stella tahu? Inikah tujuannya datang dan bekerja menjadi sekretaris ku?"


CEO lalu kembali keruang kerjanya. Stella sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia sedang duduk sambil mengantuk.


Deg!


Saat dia sangat mengantuk, dia kaget melihat atasanya masuk.

__ADS_1


"Kau sudah selesai?" tanya atasanya tersenyum tipis melihat mata Stella yang lelah dan mengantuk.


"Ohh, ya, saya sudah selesai. Apakah ada pekerjaan lain lagi?"


Jika tidak melakukan apapun, aku mengantuk di ruanganya yang sunyi ini. Jika keluar jalan-jalan, aku takut terlihat oleh suamiku.


"Mau jalan-jalan, ada kafe didekat sini," kata CEO pada Stella.


"Kafe?" Stella terkejut. Tapi demi mengusir rasa kantuknya dia akhirnya mengangguk. Jika di kafe, tidak akan ketahuan oleh Mas Alvin, batin Stella.


"Ikut denganku," CEO tersenyum dan berjalan disamping Stella.


Jika tidak, kenapa setiap bulan harus mengirim uang pada wanita itu. Dan jumlahnya dua kali lipat dari yang dia berikan pada istrinya? Menyakitkan sekali, tega sekali kamu mas...


"Silakan duduk, biar aku yang pesan minuman," CEO berjalan dan memesan minuman. Saat berbalik, dia menghentikan langkahnya. Terpaku melihat Stella yang terus mengawasi dua sejoli itu dengan wajah merah membara karena marah.


CEO lalu duduk kembali.


"Siapa yang kau lihat?" Bertanya padanya seakan dia tidak tahu apapun. Tapi pikiranya sangat tajam, dia bisa melihat dan membaca beberapa sikap seseorang.

__ADS_1


Termasuk sikap Stella. Stella terlihat marah dan matanya berair terus menatap ke arah dua sejoli yang sedang makan dan minum sambil bercanda dan tertawa.


"Kau baik-baik saja?" tanya CEO sambil memberikan tisu pada Stella. CEO masih bersikap seakan dia tidak tahu siapa yang dilihat oleh Stella.


"Ada yang bisa aku lakukan untukmu?" CEO menawarkan bantuan karena dia bisa memecat seseorang ataupun memberinya penghargaan. Dia adalah pemilik kapal pesiar, yang sedang jatuh cinta pada istri orang lain.


"Kau sudah berumah tangga?" tanya Stella tiba-tiba.


"Belum,"


"Ohh, jika begitu kau tidak akan bisa tahu masalah yang aku hadapi," Stella mendengus.


"Kata siapa? Haruskah seorang ahli konseling dalam hal rumah tangga wajib menikah, baru bisa menyelesaikan masalah kliennya?"


"Tidak," jawab Stella.


"Jika begitu, katakan, kau bisa bercerita. Aku akan mendengarkan, kau akan merasa lega setelah menceritakan nya," CEO mendekatkan wajahnya sedikit condong ke depan.


"Apa yang akan kau lakukan jika pasanganmu mengkhianati mu?" tanya Stella tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2