Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 61 IRS


__ADS_3

Keesokan harinya, hal yang sama terjadi lagi. Pelakor itu kembali datang ke rumah pagi-pagi sekali, katanya ingin ikut sarapan juga. 


Renata menatap penampilan Sila dari atas sampai ke bawah, lalu menggelengkan kepala nya heran.


"Kenapa natap gue kek gitu? Iri Lo?" Tanya Sila sewot, membuat Renata terkekeh geli.


"Gue? Iri sama Lo? Haha, lucu. Bukan nya Lo yang iri sama gue ya, Sil? Soalnya, apapun yang gue punya selalu Lo rebut." 


"Apaan, gue gak merasa tuh ngerebut punya Lo? Kalo masalah Dimas, dia duluan yang Dateng sama gue." Jawab Sila santai sambil duduk di sofa ruang tamu. 


"Gue tahu siapa Lo, dan apa aja yang bisa Lo lakuin biar bisa dapetin apa yang Lo mau, jadi gue yakin Lo ngemis buat maaf dari Dimas." 


"Tapi, kalo Dimas gak cinta sama gue, dia gak bakal mau duain Lo dan lebih milih gue." Bangga Sila, membuat Renata tergelak. 


"Antara cinta sama nafssu itu beda nya tipis, say. Gue tau dari awal Lo gak pernah serius sama Dimas." Sila tersenyum meremehkan, dia merasa di atas awan saat ini. 


"Bagi gue, Dimas cuma mainan. Gue emang gak pernah serius sama Dimas." 


"Oke, Lo jadiin Dimas mainan. Apa Lo mainan juga?" Tanya Renata telak, membuat Sila menoleh dan menatap Renata dengan tajam. 


"Apaan sih Lo?" 


"Ckkk, pura-pura polos Lo ya. Sekali Jalaang ya tetep jalangg." Ucap Renata membuat Sila meradang. 


"Kenapa? Lo marah atau gak terima? Kasian, tapi kalo Lo gak merasa ya ngapain marah?" Sindir Renata lagi membuat Sila marah, dia mengepalkan kedua tangan nya. 


Dia bangkit dari duduknya dan bersiap menampar Renata, namun Renata dengan sigap langsung menangkap tangan Sila dan memelintir nya ke belakang. Membuat perempuan itu meringis kesakitan. 


"Lepasin tangan gue!" Teriak Sila, membuat Renata semakin bersemangat, dia memperkuat cengkraman tangan nya hingga membuat Sila meronta. 


"Sakit Renata, sialan." Pekik nya lagi. Dimas yang baru saja keluar dari kamar lengkap dengan seragam OB nya langsung berlari mendekat, dia berusaha menolong Sila, namun dengan cepat Renata menendang selangkangaan Dimas, membuat pria itu kesakitan. 


"Aaarrgghhh, sakit!"


"Setelah ini, bisa kah batang mu itu bangun lagi, Dimas?" Tanya Renata dengan sinis. Dia melepas pelintiran tangan nya lalu menendang punggung Sila hingga dia terjerembab ke lantai. 


"Sayang, kamu baik-baik saja?"


"Sakitt.." rengek Sila dengan manja, membuat Dimas menatap Renata dengan kilatan amarah.


"Kenapa menatap ku seperti itu? Kau marah, tuan Dimas yang terhormat?" 

__ADS_1


"Aku benar-benar tak mengenali dirimu, Renata. Kau berubah!" Ucap Dimas, dia membantu selingkuhan nya berdiri dengan tetap merangkul nya dengan lembut.


"Berubah? Aku gak pernah berubah, Dimas. Aku hanya menyesuaikan diri saat menghadapi dua iblis menjijikan di depankj ini." Jawab Renata santai. 


"Renata, cukup hentikan semua kegilaan ini."


"Kau meminta aku berhenti, Dimas? Lalu, bisakah kau juga berhenti berhubungan dengan wanita murahan ini?" Tanya Renata, nada suara nya masih datar. Dia sangat berusaha menghadapi kedua manusia di depan nya ini dengan tenang, meski hatinya sangat berlawanan. 


"Renata, aku gak bisa!" 


"Sekali lagi aku tanya sama kamu, Dimas. Pilih aku atau Sila?" Dimas diam, membuat Renata yakin bahwa pria itu memilih Sila, bukan dirinya. 


"Kalau sudah tak ada yang bisa di pertahankan lagi untuk apa kita masih bersama?" 


"Renata, kamu tahu sendiri kalau Mami gak suka sama Sila, jadi tolong jangan memperburuk keadaan dengan berkata omong kosong!" Bentak Dimas. Namun Renata sama sekali tak gentar, dia tersenyum kecut. 


"Sebisa mungkin aku sudah berusaha bertahan, Dimas. Tapi aku tak mau berjuang sendirian, aku lelah. Jika kamu bahagia dengan pilihanmu, silahkan. Pergi dan aku akan mengurus surat perpisahan kita secepatnya." 


"Renata!" 


"Jangan pernah meninggikan suaramu di depan ku, Dimas. Aku tak takut padamu, kau sudah kehilangan rasa hormat ku sebagai istri pada suaminya." Tekan Renata lalu pergi ke kamar dengan membanting pintu. 


"Sayang, gimana? Kamu pindah aja ke apartemen aku." Saran Sila. 


"Lalu, kau akan mengemis padanya? Jangan Dim, biarkan saja." Usul Sila. 


"Aku akan pikirkan nanti, sekarang kita harus pergi, aku akan terlambat bekerja." 


Dimas pun menggandeng tangan Sila keluar dari rumah kontrakan Renata, perempuan itu tersenyum jahat. Dia sudah berhasil membuat Renata menderita, namun dia masih merasa kurang, dia ingin melihat Renata sangat menderita bahkan berharap untuk kematian nya sendiri. 


Dua Minggu sudah berlalu, sejak pertengkaran pagi hari itu, Renata menjalani harinya dengan baik. Meski rasanya berat sekali di usia kehamilan nya yang masih sangat muda, dia di hadapkan dengan cobaan hidup yang begitu berat. 


Sudah dua Minggu juga, dia tak melihat batang hidung Dimas. Pria itu tak pulang ke rumah, tapi Renata tak mempermasalahkan, hati nya sudah ikhlas menerima semua nya. 


Tentang perpisahan, Renata juga sudah memikirkan nya baik-baik. Namun dalam agama nya, bercerai di saat mengandung itu di haramkan. Jadi, terpaksa dia harus menunggu beberapa bulan lagi sampai anak yang dia kandung lahir. 


Wisuda kelulusan S1 nya pun tinggal satu bulan lagi, setelah semua nya selesai dia akan pergi jauh. Itulah rencana nya ke depan, namun bisa saja berubah suatu saat.


Malam hari, Dimas pulang dengan wajah datar nya. Dia tak menyapa Renata sama sekali, padahal perempuan yang masih berstatus sebagai istri sah nya itu sedang menonton televisi di ruang tengah. 


"Aku kesini untuk membawa pakaian ku, Renata." 

__ADS_1


"Terserah kau saja, memang nya aku peduli?" Jawab Renata savage, membuat Dimas melengos masuk ke kamar. 


Dia membuka lemari dan mengambil beberapa pakaian lalu memasukkan nya ke dalam tas gendong. 


Ceklak..


Suara benda terjatuh saat Dimas menarik pakaian nya. Dia melihat benda pipih itu dan mengambil nya, testpack bekas yang sudah di pakai dengan dua garis merah yang nampak jelas. 


"Renata.." gumam Dimas, dia berlari keluar dan mendapati Renata tengah muntah-muntah di wastafel dapur. 


Dimas memijat tengkuk leher Renata dengan lembut. Namun dengan cepat, Renata menepis tangan Dimas. 


"Minggirlah, jangan dekat-dekat denganku. Kau bau wanita itu!" Tegas Renata, setelah selesai dengan muntah-muntah nya dia membersihkan mulut nya lalu nyelonong pergi dan meminum vitamin seperti biasa sebelum tidur. 


"Kenapa menatap ku seperti itu, Dimas?" 


"Kau hamil, Renata?" Tanya Dimas, membuat Renata membulatkan mata nya. Baru saja dia akan menjawab, Dimas menunjukan testpack bekas nya yang dia simpan rapi di dalam lemari agar tak ketahuan. 


"Ya, aku hamil." Jawab Renata akhirnya. 


"Kenapa kau tak memberitahu ku?" 


"Jika aku memberitahu mu sedari awal, apa kau akan berhenti bermain di belakang ku, Dimas?" Balik tanya Renata, membuat Dimas bungkam.


"Setidaknya aku berhak tahu hal ini, karena dia anak ku, darah daging ku!" 


"Lalu? Apa semua nya akan berubah? Aku rasa tidak, jadi sudahlah. Jangan berpura-pura terlihat menyesal di depanku, aku muak Dimas. Cepatlah pergi, mencium aroma mu membuat aku mual." 


"Re.." 


"Tunggu apa lagi, Dimas? Pergilah, kedatangan mu membuat mood ku sangat buruk." Usir Renata, dengan langkah lesu Dimas keluar dari rumah itu meninggalkan Renata sendirian. 


......


🌷🌷🌷🌷


kehadiran mu sangat tak di harapkan Dimas😑


...


hai, ada yang suka baca novel bergenre mafia? boleh nih mampir ke karya temen author.

__ADS_1



Dokter Misterius VS Mafia Kejam karya kak Anisyah S, mampir juga yaww❤️


__ADS_2