Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 95 IRS


__ADS_3

Waktu terasa cepat berlalu, hari ini adalah bulan ketiga setelah Reza menikahi Renata secara resmi. Tak ada resepsi yang sudah di rencanakan matang-matang oleh keluarga besar, bahkan gaun buatan Mariska hampir selesai. 


Tapi, tiba-tiba saja Reza membatalkan rencana pesta karena sesuatu yang sangat tidak terduga.


Ya, Renata hamil. Awalnya wanita itu kurang yakin karena tak ada tanda-tanda apapun kalau dia sedang mengandung. Namun, justru terbalik.


Reza lah yang mengalami mual dan muntah-muntah parah setiap pagi, sudah satu Minggu ini dia tak masuk kantor karena selalu lemas setelah muntah.


Awalnya Renata pikir suaminya masuk angin atau dia punya penyakit, namun setelah di periksa dokter keluarga, suaminya malah di nyatakan baik-baik saja. 


"Baik-baik saja? Tapi dia selalu muntah-muntah setiap pagi, Dokter." 


"Tak ada penyakit yang berbahaya Nona, tak perlu khawatir. Di lihat dari gejala nya, ini seperti gejala morning sickness." Ucap dokter yang memeriksa keadaan Reza. 


"Morning sickness? Bukan nya itu terjadi pada wanita hamil, dok?"


"Iya, tapi bisa saja berpindah pada suami, Nona. Apa Nona sedang mengandung?" Tanya nya membuat kedua mata Renata membulat, hamil? Tidak.


"T-idak dok, hanya saja saya memang mengeluh kalau siklus menstruasi saya berantakan." 


"Kapan terakhir Nona mengalami menstruasi?" Tanya dokter itu lagi. Renata berusaha mengingat, namun nihil.


"Setelah nifas, saya tak menstruasi lagi dok." 


"Nifas? Nona pernah mengandung?"


"Pernah dok, tapi keguguran karena kecelakaan. Lalu saya bercerai dengan mantan suami saya, selesai masa Iddah saya menikah. Ohh iya, saya pernah 2 kali menstruasi sebelum menikah, tapi setelah menikah rasanya belum." Jelas Renata.


"Bagaimana kalau kita tes saja dulu?" 


"Baik dok." Jawab Renata, dia mengambil alat tes kehamilan dari tangan dokter wanita itu dan membawa nya masuk ke kamar mandi.


Dia mengambil wadah dan menampung sedikit cairan sisa metabolisme nya, dan mencelupkan alat itu. Ya, hasilnya dua garis merah yang terlihat sangat jelas.


Renata menutup mulutnya, dia tak menyangka akan di beri kepercayaan lagi secepat ini. Dia menengadahkan kepala nya menatap langit-langit kamar mandi mewah itu. 


"Terimakasih, engkau sudah memberi kepercayaan pada hamba, hamba berjanji akan menjaga nya dengan lebih baik sekarang." Gumam Renata, dia mengusap perut nya yang masih rata.


Dia keluar dari kamar mandi, dokter itu mengambil alat test itu dengan segera. 


"Benar dugaan saya, Nona sedang hamil." Ujar nya sambil tersenyum manis.


"Iya dok, saya malah gak nyangka bakalan hamil secepat ini."


"Rezeki siapa yang tahu, Non. Saya aja pengen hamil lagi, susah kalo belum rezeki. Selamat ya, Nona. Jaga kandungan anda dengan baik." 


"Untuk tahu berapa usia kandungan nya, sebaiknya Nona memeriksakan diri ke dokter kandungan. Alat-alat yang saya bawa tidak memadai." Saran nya, Renata mengangguk cepat.


"Terimakasih ya dok, tapi saya mohon jangan kasih tahu Mommy atau Papi dulu ya, saya sama suami mau bikin kejutan. Kalau mereka nanya, bilang saja Eza nya masuk angin."


"Baik Nona, saya akan mengatakan demikian. Kalau begitu saya permisi, silahkan beristirahat. Selamat siang, nona dan tuan muda." Pamitnya, lalu keluar dari kamar pasangan suami istri itu. 

__ADS_1


Renata mengusap lembut kepala sang suami yang sedang tertidur, dia tersenyum, jelas dia bahagia mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung benih cinta nya bersama Reza.


"Sayang, aku kenapa?" Tanya Reza, merasakan usapan di kepala nya membuat nya terbangun.


"Kamu gapapa, hanya saja…"


"Hanya saja apa? Apa penyakit ku parah? Apa aku akan mati, ohh ya tuhan jangan kau ambil dulu nyawa hamba." 


'Astaga suami ku random amat, pengen bikin suasana haru malah jadi bengek.' batin Renata.


"A-ku hamil, sayang." Jawab Renata membuat Reza yang sedang berbaring langsung duduk. 


"Apa? Kamu hamil? Serius?" 


"Iya, nih testpack nya. Hasilnya dua garis merah, tanda nya aku beneran hamil." Jawab Renata membuat Reza bersorak kegirangan, dia melompat-lompat di atas kasur saking senangnya. Membuat rasa lemas nya hilang entah kemana, berganti dengan rasa bahagia. 


"Sayang ihh, jangan gitu. Udah mau jadi ayah masa kelakuan nya kayak anak kecil sih, malu sama anak kita." 


"Aahh iya, maafin aku sayang. Saking seneng nya sampe lupa diri," ucap Reza sambil nyengir. 


Dia memeluk Renata dengan erat, menyandarkan kepala wanita nya di dada bidang nya, biar saja jika istrinya itu mendengar jantung nya yang berdetak lebih cepat.


Dia bahagia, sangat bahagia! Reza junior akhirnya akan hadir dalam hitungan bulan lagi. 


"Terimakasih, kamu sudah memberiku kebahagiaan yang tak ternilai." 


"Ini memang keinginan ku, mengandung anak kita." Jawab Renata.


"Aku juga mencintaimu, suamiku." Balas Renata, dia mencium bibir suaminya singkat. Namun seperti nya Reza merasa kurang, jadi dia melanjutkan ciuman singkat itu menjadi ciuman dengan lumaatan dan permainan lidah.


Keduanya sangat menikmati ciuman itu, hingga lupa waktu dan melupakan posisi mereka yang saat ini Renata sudah duduk di atas pangkuan suaminya, dengan blouse bagian dada yang sudah terbuka kancing nya karena ulah tangan nakal suaminya.


Reza melepaskan paguutan bibirnya, dia melihat bibir istrinya sedikit bengkak karena ulahnya, dia mengusap bibir istrinya yang basah lalu kembali memeluk nya dengan erat. 


"Aaahhh aku semakin yakin bahwa kamu adalah sumber dari semua kebahagiaan ku, sayang. Terimakasih banyak sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak-anak ku." Bisik Reza membuat wajah Renata merona. 


Meski sudah 3 bulan dia menyandang status sebagai istri Reza Argantara, namun tetap saja dia selalu merona saat Reza mengucapkan kata-kata manis.


"Besok kita ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan mu, sayang."


"Kenapa gak sekarang aja, Sayang?" Tanya Renata.


"Aku masih sedikit lemes, takut gak kuat disana nya, gapapa ya?"


"Iya sayang, gapapa. Tapi masa iya kamu mau libur lagi besok?" Tanya Renata, sudah seminggu suaminya ini meliburkan diri karena gejala yang dia alami membuatnya lemas tak bertenaga, padahal malam harinya pria itu bisa menghajar Renata beronde-ronde dengan gagah nya.


"Semoga aja besok hari terakhir aku libur, kerjaan aku pasti numpuk di kantor." Keluh Reza.


"Aku bantuin kamu ya, aku gak mau kamu kecapean. Apalagi sampe lembur, aku gak mau tidur tanpa pelukan hangat."


"Iya sayangku, aku juga mana mau tidur tanpa meluk kamu. Bisa-bisa aku malah gadang semalaman." Cetus nya membuat Renata tertawa. 

__ADS_1


"Ya udah, sekarang kamu tidur lagi aja ya. Aku temenin, mau?" 


"Mau sayang, mau banget malah. Sambil ***** boleh?" Pinta Reza, Renata langsung mengiyakan, lagipun dia menyukai saat Reza bermain-main di dada nya lama.


Reza pun menyusu di dada sang istri dan Renata dengan senang hati mengusap kepala belakang sang suami, membiarkan nya bermain disana sepuasnya. Perlahan dia mulai mengantuk dan akhirnya tertidur pulas, di susul oleh Reza yang akhirnya tertidur juga dengan mulut yang masih menyusu di putiing istrinya.


Sedangkan di bawah, kedua orang tua Reza sudah merasa lebih tenang setelah mendengar penjelasan dokter pribadi keluarga Argantara. Meskipun penuh kebohongan karena diskusi dengan istri putra mereka, tapi ya setidaknya mereka tahu bahwa putra mereka tidak mengidap penyakit parah.


"Eza baik-baik aja Mom, Papi ke kantor dulu ya."


"Iya Pih, hati-hati di jalan nya." Mariska mengantar sang suami hingga ke teras dan melambaikan tangan nya saat mobil yang di tumpangi suaminya mulai menjauh dari rumah.


Sore harinya, pasangan suami istri itu terbangun dari tidurnya. Renata bangun lebih dulu dan membersihkan diri dengan cepat, selain merasa lapar dia juga merasa bersalah karena tak membantu kegiatan apapun di rumah karena menemani Reza tidur. 


Disaat sakit seperti ini manja nya minta ampun, di tinggal bentar aja gak mau. Bahkan saat tadi muntah-muntah pun dia kekeh tak mau di tinggalkan sedetik pun, terus memegang tangan istrinya. 


Renata pun sabar menunggu sambil memijat tengkuk suaminya agar mual nya berkurang dan setelah selesai, pria itu akan langsung memeluk sang istri, menghirup aroma tubuhnya, barulah dia merasa lebih baik. Ibarat kata, aroma orang yang di cintai adalah obat paling mujarab.


"Sore Mom.." sapa Renata.


"Sore Sayang, gimana Eza?"


"Dia masih tidur Mom." Jawab Renata.


"Yaudah, kamu makan dulu ya mumpung Eza nya lagi tidur. Inget, kamu harus makan teratur biar gak ikutan sakit juga. Eza maunya di temenin sama kamu doang."


"Iya Mom, maaf ya Rere gak bantu Mommy." Ucap Renata.


"Gapapa sayang, kan kamu ngurusin Reza. Lagian Mommy tahu, Eza manja banget sama kamu. Yaudah, ayo makan keburu Eza bangun nyariin kamu." 


Renata pun menurut dan makan, setelah mengetahui dia hamil, nafssu makan nya malah bertambah, namun Mariska seperti nya tak curiga dan tak mempermasalahkan, mungkin karena dia kecapean mengurus suaminya, jadi dia makan lebih banyak. 


Sedangkan Reza, dia mulai terbangun dari tidurnya dan mencari keberadaan sang istri yang tak ada di kamar, dia celingukan mencari bahkan berteriak-teriak memanggil sang istri.


"Yang.."


"Sayang…" teriak nya, membuat Renata yang sedang makan langsung pergi ke kamar, dengan membawa nasi berisi makanan nya yang belum habis karena Reza keburu teriak memanggilnya.


"Iya sayang, aku lagi makan, laper. Dede bayi nya minta makan." 


"Aaa makan nya disini aja, gak mau jauh." Rengek Reza membuat Renata mendengus, kalau sudah begini dia harus pasrah saja. 


Renata duduk dan melanjutkan makan nya dengan lahap, sedangkan Reza memeluk nya dengan erat dari belakang, sambil mengendus aroma istrinya. 


Meski terasa geli, namun dari pada Eza nya rewel mending dia biarkan saja, yang penting suami nya anteng dan tak merengek. Astaga, dia yang hamil tapi yang manja malah sebaliknya. Kok bisa ketuker gini ya?


......


🌻🌻🌻🌻..


ceritanya di skip dikit ya, biar gak terlalu banyak bab, hehe. maaf kalo alur nya kecepatan☺️ salam manis dari istri sah nya Jungkook, happy reading, don't forget to like, komen, vote🌻

__ADS_1


__ADS_2