Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 110 IRS


__ADS_3

"Mas, pelan-pelan dong ngilu."  Renata meringis pelan saat Reza mempercepat gerakan maju mundur nya. Keringat membanjiri tubuhnya, ini adalah olahraga yang dia sukai, selain bisa membakar lemak rasanya juga nikmat. 


"Iya sayang, maafin Mas ya. Habisnya enak banget," jawab Reza, dia mengecup singkat kening sang istri lalu kembali menggerakan tubuhnya. 


"Mas, a-aku.." 


"Iya sayang." Reza mempercepat gerakan nya, membuat tubuh Renat terguncang, ranjang berderit nyaring menandakan bahwa kedua insan di atas nya itu sedaIning mengejar kepuasan mereka.


"Aaahhh.." Renata mendesaah panjang di iringi dengan cairan hangat yang mengalir dari inti miliknya, membuat Reza memejamkan mata nya, menikmati denyutan sisa-sisa pelepasan sang istri yang membuat junior nya terasa di remas-remass.


"Berbalik sayang." Pinta Reza, pada sang istri yang masih mencoba mengatur nafas nya setelah ledakan klimaaks yang membuat nafas nya tersengal.


Renata menurun, dia berbalik memunggungi sang suami dengan tubuh setengah berjongkok. Kali ini Reza akan melakukan nya dari belakang, dia membelai pelan lubang surga milik sang istri yang berwarna pink.


"Mass.."


"Sebentar sayangku, milikmu terlalu indah untuk di lewatkan." Jawab Reza, dia kembali memperhatikan inti sang istri. 


"Ayolah Mas, jangan menatap itu ku seperti itu, aku malu." Ucap Renata, disaat begini suaminya itu sempat-sempatnya memperhatikan miliknya.


"Aaahh baiklah sayang, aku akan kembali menjejeli nya dengan junior ku." Jawab Reza, dia mengarahkan senjata nya ke arah inti sang istri, menggesekan nya beberapa kali lalu menekan nya dengan perlahan hingga semua nya masuk.


"Mmmhhh.." Renata bergumam lirih, intinya terasa sangat penuh. 


Perlahan, Reza kembali menggerakan tubuhnya maju mundur, hingga beberapa menit kemudian dia mempercepat gerakan nya karena merasa sesuatu sudah di ujung miliknya.


Reza bergerak semakin brutal hingga melupakan bahwa istrinya sedang hamil besar dan gerakan nya itu cukup menyakitkan bagi Renata. 


"Aaahh Mas, sakit.." keluh Renata, namun Reza yang sudah tak tahan lagi memilih tak mendengar keluhan sang istri dan terus menggerakkan tubuhnya, hingga akhirnya pria itu mengerang panjang sebagai tanda bahwa dia sudah melepaskan cairan kental miliknya. 


Reza segera mencabut batang miliknya dan membawa sang istri ke pelukan nya, dia masih mengatur deru nafas nya yang tersengal, begitu juga Renata.


"Terimakasih sayangku, aku mencintaimu."


"Sama-sama Mas, aku juga mencintaimu." Jawab Renata, dia mengeratkan pelukannya di tubuh polos sang suami, menduselkan wajah nya di dada bidang suami tampan nya dengan manja. 


Padahal tubuh Reza masih di penuhi keringat, tapi sepertinya hal itu bukanlah masalah bagi Renata, dia begitu menikmati aroma suami nya. Percampuran antara aroma maskulin dan keringat membuat Renata sangat nyaman untuk berada dalam dekapan nya berlama-lama.


"Kita mandi yuk?"


"Bareng?" Tanya Renata, Reza tersenyum lebar. Tentunya dia memiliki rencana besar untuk mengerjai kembali istri cantiknya itu.


"Ayo sayang.." Reza membopong tubuh sang istri ke kamar mandi dan meletakan nya di bath up yang sudah dia isi dengan air hangat, bath bomb dan beberapa tetes aromaterapi. 


"Mas, itu kok bangun lagi?" Tunjuk Renata, membuat Reza tersenyum nakal.


"Satu kali ya, oke?"


"Gak mau, tadi udah. Kamu kalau udah nafssu suka gak bisa di kendaliin, ini aku sakit, ngilu tau." Rajuk Renata, membuat Reza terkekeh.


"Kali ini janji pelan-pelan deh."


"Enggak mau, Mas." Jawab Renata kekeh.


"Ayolah, satu kali lagi ya?" 


"Bentaran doang tapi." Pasrah Renata akhirnya, dia sebenarnya menyukai apa yang di lakukan suaminya, hanya saja dia takut gerakan terlalu cepat membuat bayi nya kenapa-napa. 


"Yes, ayo sayang. Biar kamu tau cepet atau lambat nya, jadi kamu aja yang mimpin." Pinta Reza, membuat Renata mendelik sebal. Dengan pasrah dia menduduki batang sang suami dan mulai bergerak pelan, hingga membuat air dalam bath up itu meluber karena kegiatan mereka.


Suasana di kamar mandi pun terasa lebih panas oleh kegiatan yang di lakukan oleh sepasang suami istri itu, beberapa kali terdengar lenguhaan dan jeritan nikmat hingga beberapa menit kemudian kegiatan panas mereka selesaikan dan keduanya pun membersihkan diri dengan benar.


Sedangkan di bawah, Karina tengah menunggu sang adik ipar untuk di ajaknya melihat-lihat koleksi pakaian nya, besok dia akan menghadiri acara penting, dan dia ingin tampil cantik. 


Tapi sudah hampir dua jam, keberadaan adik ipar nya masih juga tak terlihat, sampai dia merasa cemas sendiri, ingin nya dia menyusul ke kamar adiknya, tapi niat itu dia hilangkan karena bisa saja mereka sedang melakukan kegiatan yang bisa membuatnya merindukan suaminya.


Dia tau benar bahwa adiknya itu tukang pamer, pamer kemesraan maksudnya dan dimana pun kalau sudah berdekatan dengan istrinya, Reza menjadi tebal muka. Rasa malu nya seolah menghilang entah kemana, dia tak malu menunjukan kebucinan nya di depan nya, juga kedua orang tua nya.


Jadi, karena sifat adiknya itulah Karina merasa khawatir, tapi lagi-lagi pikiran itu dengan cepat dia entahlah dari otaknya, mana mungkin Reza akan menyakiti istri nya sendiri, terlebih dia tahu bagaimana keadaan istrinya itu. 


Tapi, setelah cukup lama bergelut dalam pikiran nya sendiri, akhirnya yang di tunggu muncul juga. Renata keluar dengan dress berwarna maroon selutut yang membuat nya nampak sangat cantik, apalagi dengan perut yang membuncit.


"Dek, anterin mbak dong." Pinta Karina langsung, membuat adik iparnya itu mengernyit, sedangkan Reza menatap kakak nya dengan tatapan kesal.

__ADS_1


"Kemana mbak?" Tanya Renata. 


"Mbak kan besok mau ke acara penting, jadi mbak mau minta saran kamu baju apa yang kiranya bagus buat mbak pakai." 


"Ohh yaudah, boleh mbak." Jawab Renata, membuat Karina bersorak kegirangan. Berbeda jauh dengan ekspresi Reza yang sudah kecut seperti asam Jawa. 


"Izin dulu sama pawangnya." Ucapnya datar sambil menyedekapkan tangan di dada. 


"Dek, mbak pinjem istrinya sebentar ya. Nanti mbak balikin kok."


"Jangan lama, hati-hati. Kalau kegores dikit aja, baju mbak aku bakar semua." Karina menelan ludahnya dengan kepayahan, lalu mengangguk dan segera pergi bersama Renata. 


"Ciee, ayang nya di bawa mbaknya." Ledek Mariska, Reza memutar matanya jengah. Semakin kesini, mommy, mbak dan papi nya sama saja, gemar menggoda nya.


"Masih punya salad gak, Mom?"


"Ada keknya di kulkas, cuman dua lagi jangan di habisin, soalnya Mommy belum buat lagi, nanti Renata pasti makan itu."


"Issh iya iya, lagian itu box gede amat. Eza cuman makan dikit aja kok Mom, takut bener. Lagian yang putra Mommy itu kan aku, bukan Renata." Gerutu Reza smabil berjalan. 


Dia kadang suka iri pada Mariska, selalu mementingkan istrinya lebih dulu daripada dirinya, tapi dia juga merasa bahagia karena Mommy nya terlihat sangat menyayangi Renata. 


Reza membuka kulkas dan mengambil salad buah di dalam box, menyendok nya beberapa kali dan memindahkan nya ke dalam mangkok. Dia memakan nya sambil berjalan dan itu sukses membuatnya terkena omelan sang istri.


"Heh, kalau makan gak boleh sambil jalan. Gak sopan, kalau mau makan harus duduk." Omel Renata, dia juga ingin makan salad, makanya ke dapur. 


"Iya iya, maaf istriku sayang. Mau salad?" 


Wanita itu mengangguk, Reza dengan sigap mengambilnya dan membawanya ke ruang depan, tempat keluarga mereka berkumpul sambil berbincang-bincang. 


Renata anteng memakan salad nya, hingga suara bisikan membuatnya merinding. Dia celingukan kesana kemari, tapi semua orang sedang terlibat perbincangan, jadi tak mungkin ada yang berniat menjahili nya.


Wanita itu merapatkan duduknya pada sang suami, Reza keheranan apalagi saat melihat wajah sang istri.


"Kenapa sayang?"


"Tadi ada yang bisik di telinga aku, kamu ya?" 


"Tapi seriusan lho mas, nafas nya aja masih kerasa." 


"Udah sayang, mungkin kamu halusinasi aja. Yuk, kesini duduknya." Reza merengkuh pinggang sang istri dan memeluknya, merasa lebih tenang akhirnya Renata kembali melanjutkan acara makan salad buah nya.


Namun, lagi-lagi suara bisikan itu terdengar membuat Renata memekik.


"Mas!" 


"Sayang, kenapa sih?"


"Suara itu lagi, Mas. Lihat nih, bulu-bulu aku sampe merinding gini." Renata menunjukan bulu-bulu halus nya yang berdiri. 


"Kenapa ya? Mungkin pikiran kamu lagi kosong sayang, tenang ya."


"I-iya Mas." Jawab Renata, dia menduselkan wajahnya di pelukan Reza, membuat Argan dan Mariska mengernyit, tak biasanya Renata seperti ini.


Sedangkan di penjara, biasanya Sila yang terlihat kuat, kini hanya bisa berbaring lemah. Membuat teman tahanan yang merasa iba dengan keadaan nya langsung melapor pada sipir yang berjaga. 


Tak lama kemudian, wanita itu di bawa ke ruang pemeriksaan yang ada di penjara, ada seorang dokter paruh baya yang memeriksa keadaan wanita itu. 


"Sejak kapan dia begini?" Tanya nya pelan namun tegas.


"Seperti nya mulai tadi pagi, karena kemarin dia masih sempat membuat ke onaran." Jawab sipir itu datar. 


"Penyakit nya sangat parah dan harus di bawa ke rumah sakit, hubungi keluarga nya agar mereka tahu bagaimana keadaan nya dan hati-hati, jangan sampai menyentuh nya. Penyakit nya menular," peringat dokter itu, membuat sang sipir menganggukan kepala nya.


Dengan pakaian khusus, mereka membawa Sila ke rumah sakit.  Sementara yang lain nya berusaha menghubungi nomor telepon Reza, karena tak ada informasi apapun tentang keluarga tahanan itu. 


Reza yang sedang mengobrol bersama keluarga nya langsung mengangkat ponsel yang ternyata dari kantor polisi.


"Hallo.."


'Dengan Pak Reza Argantara?'


"Ya, saya sendiri. Ada apa ya, pak?" Tanya Reza.

__ADS_1


'Tahanan atas nama Sila Derkain saat ini sedang sakit dan menurut pemeriksaan dokter, dia terjangkit penyakit menular. Dengan ini kami harus membawa nya ke rumah sakit, sebagai bentuk kewaspadaan, di harapkan bapak bisa datang ke rumah sakit kepolisian untuk tahu lebih lanjut tentang kondisi dan apa penyakitnya.' jelasnya panjang lebar, membuat Reza mendengus.


"Baik pak, saya akan kesana sekarang."


'Satu lagi pak, maaf apakah anda mengenal sodara Renata Lusiana?' tanya nya, membuat Reza heran. Kenapa sipir ini menanyakan istrinya?


"Dia istri saya pak."


'Kalau memungkinkan, bawa istri anda ke rumah sakit. Karena selama beberapa bulan ini, tahanan itu selalu menyebut nama nya setiap saat.' 


"Baik pak, saya akan pergi kesana sekarang juga."


'Terimakasih, dan maaf atas ketidaknyamanan nya.' 


Panggilan pun selesai, Renata menatap wajah sang suami. Sebenarnya dia enggan untuk melihat wajah pembuat onar itu lagi, tapi apa mau di kata? Dia khawatir kalau wanita itu mati tanpa ada yang menguburkan nya.


"Siapa Mas?"


"Dari kantor polisi, katanya Sila sakit dan sekarang di bawa ke rumah sakit. Mas sama kamu harus kesana, biar kita tahu jelas kondisi dan apa penyakit nya." Jelas Reza, membuat Renata menunduk. 


Dia sendiri tak ingin melihat wajah wanita itu lagi, tapi ini demi kemanusiaan jadi dia memilih untuk ikut bersama suaminya.


"Ya sudah, sebentar ya aku ambil baju hangat dulu." Reza hanya mengangguk, membiarkan sang istri pergi ke kamarnya, tak lama kemudian Renata sudah keluar dengan cardigan rajut yang membalut tubuhnya. 


"Kita berangkat sekarang?"


"Iya Mas."


"Eehh, mbak ikut." Ucap Karina.


"Apa sih, ganggu aja. Biarkan kami pergi berdua, Mbak." 


"Elah, mau ikut ya?" Bujuk Karina membuat Reza akhirnya mengalah dan membiarkan kakak nya ikut.


Mereka bertiga pergi dengan menggunakan mobil yang biasa di pakai Reza. Beberapa kali pria itu menggerutu, kenapa juga dia yang harus repot-repot menjenguk wanita ular itu? Kenapa polisi malah menghubungi nya, kenapa bukan Dimas? Sial.


"Sudahlah Mas, jangan terus menggerutu. Mungkin polisi melakukan itu karena hanya kamu yang mereka tahu, kamu juga yang mengajukan kasus ini ke pengadilan." Jelas Renata. Benar, memang benar. Dia beberapa kali mencantumkan nomor handphone nya saat mengisi berkas-berkas pengajuan ke pengadilan saat itu.


Tak butuh waktu lama, mobil yang di kemudian oleh Reza sampai di rumah sakit. Polisi yang menghubungi nya langsung menyambut kedatangan Reza dan Renata, juga Karina di depan ruangan tempat Sila sedang di periksa.


"Selamat malam pak Reza."


"Malam pak, apa hasilnya sudah keluar?"


"Dokter masih di dalam, dia sedang melakukan beberapa test, ada kecurigaan dari dokter di sel tentang keadaan nya. Kalau dugaan nya benar, pasti ini akan sangat berat." Jelasnya, membuat Reza menganggukan kepala nya. Sedangkan Renata memilih berdiri agak jauh dari suami dan beberapa orang polisi bersama Karina, wanita hamil itu terus menggenggam tangan kakak ipar nya dengan erat. 


Cukup lama menunggu, hingga akhirnya dokter keluar dengan wajah kusut. 


"Bagaimana dok?"


"Dugaan awal benar, tahanan atas nama Sila Derkain mengidap HIV AIDS, atau penyakit kelamin yang menular." Jelas dokter itu membuat Reza menganga.


"Biasanya, penyakit ini menular karena berhubungan intiim dengan berganti-ganti pasangan, tanpa memakai pengaman." 


Reza terlihat seperti mengingat sesuatu, dia khawatir kalau saja sahabat nya itu juga tertular karena dulu Sila adalah mainan nya. 


"Lalu bagaimana sekarang dok?"


"Pasien harus mendapatkan pengobatan dengan segera, kalau tidak penyakit nya bisa membuatnya kehilangan nyawa." Jelas dokter itu lagi, membuat Reza memutuskan untuk memberikan pengobatan. 


Hanya sebagai rasa peduli sesama manusia, kalau tidak mengingat hal itu dia sudah pergi dari tadi atau bahkan takkan datang kemari, untuk apa dia repot-repot kesini hanya untuk mengurusi wanita yang hampir saja merenggut nyawa istrinya.


"Apa ada yang bernama Renata disini?"


"S-saya dok." Jawab Renata lirih,


"Dia selalu memanggil anda, kalau berkenan anda di perbolehkan masuk, tapi hanya melihat nya dari jendela. Karena keadaan anda sangat rawan saat ini, penyakit itu bisa menular dari sentuhan fisik." Jelas dokter, Renata mengangguk. Dia masuk dan memperhatikan keadaan Sila dari jendela, dia tak di perbolehkan masuk ke dalam karena keadaan nya yang sedang hamil besar. 


"Re-nata.." 


........


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2