Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 17 Apa tujuanmu


__ADS_3

Vishal sangat terkejut mendengar jika gadis yang dia tiduri satu malam itu ternyata sudah bersuami.


Hatinya retak seketika. Harapannya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya pupus sudah. Dia sudah menjadi milik orang lain.


"Dimana suamimu?" CEO Vi Sky ingin tahu dimana suami wanita yang telah dengan cepat mencuri hatinya.


"Disini. Dia bekerja disini," Stella bingung harus mulai darimana dalam menceritakan apa yang terjadi dengan pernikahannya.


"Dia salah satu pegawai ku? Siapa namanya?"


"Alvin. Dia bekerja bagian teknisi," kata Stella.


"Alvin, bagian teknisi," ulang CEO. "Ada lebih dari dua puluh orang yang bekerja di bagian teknisi. Aku tidak begitu hafal satu persatu orangnya,"


"Lupakan soal siapa suamiku. Saya datang karena tawaran anda. Bukankah Anda bilang saya bisa bekerja disini? Sebagai sekretaris pribadi anda?"


"Itu....aku pikir kau belum bersuami...." CEO nampak kecewa, terlihat jelas di raut wajahnya.


"Jadi, jika saya telah bersuami, anda akan menarik kembali ucapan anda?"


"Biar aku bertanya padamu? Apakah suamimu tahu kau menginap disini semalam?" CEO menatap tajam wajan Stella. Sangat tajam.


"Tidak,"


"Suamimu tidak tahu?"


Stella menggelengkan kepalanya.


"Saya datang dari kota J. Saya datang tanpa sepengetahuan suami saya,"


"Ohh, jadi kau disini dan akan bekerja tanpa sepengetahuan suamimu?" Dengan cepat CEO membaca pikiran Stella.


"Ya, Saya harap anda tidak memberi tahu suami saya jika saya bekerja pada anda?"


"Hahahaha, menarik. Kau memata-matai suamimu sendiri?"


"Maaf, beberapa hal tidak bisa saya katakan pada anda. Itu masalah pribadi saya dan suami saya," kata Stella.

__ADS_1


"Oke. Kau bisa bekerja sebagai sekretaris pribadi," CEO langsung tersenyum setelah tahu jika Stella datang tanpa sepengetahuan suaminya.


Mungkin mereka akan bercerai, atau di ambang perceraian, itu yang di pikirkan CEO saat ini.


Stella duduk dimeja lain satu ruang dengan meja kerja CEO.


"Tugas pertamamu,"


Kata CEO yang memberikan kertas gaji pegawai pada Stella dan menyalinnya ke file.


Syukurlah, ini yang aku cari. Aku ingin tahu gaji suamiku. Dan hari ini tanpa membuang banyak waktu aku akan menemukannya.


Satu persatu Stella mengetik gaji, tunjangan keluarga, dan juga lembur serta bonus untuk semua pegawai PT Vi Sky yang jumlahnya ribuan.


"Ahhh, sudah lewat jam makan siang, tapi aku belum menemukan catatan haji suamiku,"


Kata Stella yang sengaja tidak makan demi bisa mendapatkan informasi itu. CEO masuk dan melihat Stella masih bekerja dan matanya menatap layar monitor dengan serius.


"Kau sudah makan siang?"tanya CEO yang baru saja rapat dan meninggalkan Stella diruang kerjanya.


Kenapa dia tidak makan siang? Bekerja tanpa istirahat tentu tidaklah baik untuk kesehatan. Aku ingin semua pegawai ku sehat dan tidak melewatkan jam istirahat untuk makan.


"Aku akan pesan makanan untuk kita berdua,"


"Saya tidak usah. Saya sangat sibuk," kata Stella tanpa menoleh.


Vishal tidak peduli dan tetap menelpon restoran dan memesan makanan dua porsi.


Tidak lama kemudian, makanan yang dipesan Vishal datang. Vishal lalu berjalan ke meja Stella dan berdiri didekat monitor.


"Makan dulu, nanti kau bisa teruskan setelah makan siang,"


"Tidak, saya tidak punya banyak waktu," kata Stella yang teringat jika dia menitipkan bayinya pada Andin. Dan tidak ingin merepotkan sahabatnya lebih lama. Dia ingin segera membuktikan kejujuran suaminya.


"Apa maksudmu? Makan dulu, ini perintah!" kata CEO itu dan terpaksa Stella menurut pada perkataan atasanya.


"Ayo, makanlah, ini untukmu," kata CEO sambil menatap manis wajah Stella.

__ADS_1


Stella makan dengan sangat cepat padahal CEO baru satu dua suap.


Setelah makan, Stella langsung kembali bekerja tanpa berbicara apapun. Tujuannya hanya satu, segera menyelesaikan masalah rumah tangganya dan tidak membuang waktu.


CEO terpana dengan kecepatan makan Stella.


"Kau tidak bertanya berapa gajimu?" CEO memancing Stella yang kembali menatap layar monitor seakan tidak peduli jika Bos nya ada didekatnya dan memperhatikan gerak geriknya.


Stella menoleh dan menatap sesaat pada Bosnya yang makan dengan santai.


Mereka saling bertatapan sesaat.


"Berapa anda akan memberikan gaji pada saya?" Stella akhirnya bertanya juga. Bekerja tanpa di gaji, hanya akan membuat CEO curiga dengan niat awalnya. Dia bekerja bukan untuk gaji, tapi untuk sebuah penyelidikan.


"Gaji bagian teknisi dua puluh juta. Mereka sudah naik sejak satu tahun yang lalu. Dan sekarang naik lagi menjadi dua puluh lima juta. Maka kau akan aku gaji lima belas juta. Bagaimana, kau setuju?"


Apa? Apakah dia tahu jika aku memang sedang mencari tahu gaji suamiku? Tapi dia malah sudah mengatakanya dengan gamblang.


"Jadi, gaji bagian teknisi saat ini dua puluh lima juta?" Stella terbelalak. Lalu kenapa aku hanya diberi nafkah lima juta oleh suamiku?


CEO memperhatikan setiap perubahan mimik wajah Stella.


"Lalu bagian administrasi. Berapa gajinya?" tanya Stella lagi.


"Delapan juta," kata CEO menatap dengan menyipitkan mata.


"Sebenarnya, apa tujuanmu bekerja denganku?" CEO melihat jika Stella datang bukan untuk gaji yang tinggi. Tapi ada tujuan lain.


Haruskah aku mengatakan apa tujuanku pada atasan suamiku? Tidak! Aku harus menunggu sampai besok. Besok tanggal satu. Mas Alvin akan mentransfer uang padaku. Coba aku tanyakan masalah gaji padanya. Sebelum semuanya jelas, atasanya tidak boleh tahu tentang tujuan dan misiku, batin Stella.


"Saya...."


"Sudahlah. Tidak perlu kau jawab. Aku akan segera tahu tidak lama lagi,"


Akhirnya Stella tenang karena tidak perlu menjawab pertanyaan atasanya.


"Teruskan kerjamu. Aku akan jalan-jalan keluar sebentar," CEO lalu berjalan keluar kantornya.

__ADS_1


__ADS_2