
Reza berangkat pagi-pagi sekali, dia kesal karena pagi ini, kekesalan sang istri belum kunjung reda juga, jelas saja kesal dong.
Melakukan hubungan intiim memang suatu kewajiban yang harus di tunaikan, tapi harus tau waktu juga, harus peduli dengan lawan main. Kalau main nya sebentar, Renata juga tak masalah jika suaminya minta jatah setiap hari.
Tapi, jika seperti waktu itu? Bayangkan saja empat jam nonstop oyy, bisa-bisa lubang nya robek. Reza memang memiliki nafssu yang cukup tinggi, meski selama ini Renata berhasil untuk mengendalikan nya, tapi entah kenapa melakukan hal itu setelah melahirkan rasanya jauh berbeda.
Nikmat, tentu saja rasa itu masih ada bahkan mendominasi. Tapi terasa berbeda saja.
Berbeda dengan Reza, pria itu selalu bernafssu saat melihat sang istri apalagi saat mengenakan daster selutut berbahan satin, dia selalu saja bergairah jika melihat Renata nya memakai pakaian seperti itu.
Setelah melahirkan, Renata malah nampak lebih menggoda dan menggairahkan di mata Reza. Apalagi ras yang di berikan oleh lubang miliknya selalu membuat Reza tak bisa mengontrol dirinya sendiri, dia selalu kebablasan tanpa menyadari bahwa hal itu cukup menyakiti bagi Renata.
Meski jahitan bekas bantuan jalan lahir itu sudah mengering dan bisa di bilang sembuh, tapi tetap saja rasanya masih sangat ngilu bagi Renata.
"Kusut bener muka Lo, kenapa sih? Gue perhatiin dah dua hari wajah Lo kek gini." Tanya Dimas sambil fokus menyetir tanpa melirik ke arah sahabatnya. Pria itu beberapa kali menghembuskan nafas nya kasar lalu mendongakan kepala nya, melihat langit-langit mobil.
"Pusing gue, sakit kepala Dim. Bini gue kagak ngasih jatah, semingguan ini."
"Oalah, ternyata masalah jatah toh. Gue kirain ada masalah apa gitu,"
"Pusing anjir, nafssu gue gak tersalurkan." ucap Reza sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Kepala nya juga sakit sebelah, akibat hasraat yang tak tersalurkan dengan baik.
"Sabar lah, emang Lo bikin Renata kenapa, sampai dia gak mau ngasih jatah?" Tanya Dimas lagi, kali ini dia melirik sekilas ke arah Reza yang wajah nya sudah di tekuk. Kusut seperti bungkus nasi padang.
"Gue main nya kelamaan."
"Pantes aja Renata ngambek," celetuk Dimas sambil terkekeh.
"Lo kayak kesenangan liat gue frustasi kek gini, Dim!"
"Bukan gitu anjir, dimana-mana juga kalo main nya kelamaan pasti itu cewek nya sakit, apalagi Renata yang udah pernah lahiran, pasti punya bekas jaitan di itu nya kan?" Tanya Dimas membuat Reza menoleh.
"Yaiyalah di jahit, bukan di jahit lagi tapi di obras luar dalem." Jawab Reza.
"Lu bayangin, bini Lo di jahit pake jarum yang bentuknya kek kail pancing hidup-hidup, pas dia baru aja berjuang nahan mules mau lahiran, habis ngeden. Bisa bayangin gak sakit nya gimana? Ya walaupun pake obat, tapi tetep aja sakit nya bakal kerasa." Jelas Dimas membuat Reza merenung. Apa yang di katakan sahabat nya sangat benar.
Kenapa dia bisa melakukan hal itu? Ya, pasti Renata nya kesakitan menahan gerakan nya saat dia bergerak menghentak lubang kecil itu dengan senjata nya. Membayangkan betapa sakitnya saja Reza meringis, hatinya terasa sakit.
"Coba deh, kalo Lo di posisi Renata? Di hajar gitu terus main nya lama, padahal bisa di bilang jaitan nya aja masih basah. Lo marah kagak? Kalo gue sih pasti marah."
"Ngilu banget gue bayangin nya, Dim." Keluh Reza lirih, sambil menundukan pandangan nya.
"Sebaiknya Lo minta maaf sama bini Lo, mau gimana pun itu masuknya kekerasan. Kalo bini Lo gak nyaman dengan durasi main, sebaiknya Lo jangan egois. Ingat, hubungan intiim itu harus saling menikmati. Bukan yang satunya menahan sakit, yang satunya lagi menikmati. Gak adil itu namanya."
"Iya, gue bakal minta maaf sama Renata nanti. Thanks ya udah ngasih solusi sama pencerahan, meskipun gue liat-liat hidup lu surem sih." Celetuk nya membuat Dimas mendelik.
"Nyesel lah gue ngasih solusi sama temen koplak kayak Lo, mending petuah gue ini gue tuangkan dalam bentuk buku, kayaknya bakalan laku sih, iya gak?" Tanya Dimas meminta pendapat.
"Iyain aja biar seneng, tapi kalo gue pribadi sih di jamin gak bakalan beli."
Dimas mendengus kesal, membuat Reza tergelak melihat raut wajah Dimas yang di tekuk, seperti dirinya tadi.
"Btw, masalah nikahan Lo gimana?"
"Kata Mami sih udah 80%, gaun yang mami pesen sama Mommy Lo katanya udah hampir siap."
"Iya, soalnya Renata yang bantuin. Katanya dia mau buat desain khusus buat cewek Lo." Jawab Reza, Renata memang mengatakan hal demikian. Dia ikut mendesain gaun sederhana namun harus terlihat elegant itu bersama Mommy nya, hingga dia baru masuk ke kamar jika waktu di jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam, atau bahkan pukul 11 malam.
"Gara-gara ngerjain gaun buat nikahan Lo sih, bini gue tidur nya larut malem."
"Lah, mana gue tau. Lagian Mami gue yang minta Mommy Lo langsung yang desain, bukan sama Renata." Ucap Dimas, seadanya. Mana dia tau kalau Renata ikut andil dalam pengerjaan gaun pesanan mami nya untuk moment sakral nya.
__ADS_1
"Ya iya juga sih, lagian itu inisiatif bini gue sendiri."
"Jangan buru-buru nyalahin orang, nanti orang nya kesinggung terus ngambek kan gak lucu, Za."
"Haha, sorry deh Dim." Reza tergelak mendengar ucapan Dimas yang menurut nya lucu.
"Gak lucu lah." Ketus nya, lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya ke perusahaan.
Meskipun Dimas sudah kembali ke rumah nya, Reza selalu berangkat bersama dengan sekretaris nya itu, karena arah dari rumah Dimas ke perusahaan itu searah, jadi biar sekalian. Lagipun, sering kali Reza malas nyetir sendiri. Jadi ada untungnya berangkat bareng Dimas, biarkan saja sekretaris nya itu menyetir untuknya. Ide yang cukup bagus pikir Reza.
Singkatnya, mobil itu berhenti di parkiran khusus petinggi perusahaan. Kedua pria tampan nan gagah itu turun dari mobil dan berjalan bersama, lebih tepatnya Dimas yang berada di belakang Reza. Karena disini, status mereka bukanlah sahabat melainkan atasan dan bawahan.
"Selamat pagi pak Reza, pak Dimas." Sapa karyawan yang berpapasan dengan mereka dengan sedikit merendahkan tubuhnya sebagai rasa hormat.
"Hmmm.." Reza hanya berdehem sebagai jawaban atas sapaan karyawan nya, sedangkan Dimas memamerkan senyum manis nya, membuat karyawan perempuan itu meleleh seketika jika melihat senyum Dimas.
Dimas memang di kenal murah senyum dan lebih ramah di bandingkan Reza, tapi hal itu seringkali membuat karyawan khusunya perempuan itu salah paham, mereka menyangka bahwa senyuman itu tanda bahwa Dimas suka atau menyukai mereka.
Apalagi status nya yang duda tanpa anak, dengan penampilan yang sempurna, membuatnya jadi incaran para karyawan perempuan di kantor. Tak tau saja mereka kalau Dimas sudah punya pawang yang bisa meluluhkan hatinya.
"Ehh tau gak, tadi pak Dimas senyum ke gue anjir. Salting brutal pokoknya, kapan lagi di senyumin cowok seganteng pak Dimas ya kan?" Ucap karyawan yang tadi di senyumi oleh Dimas pada teman nya.
"Seriusan? Wah beruntung banget Lo, fiks sih pak Dimas suka sama Lo. Soalnya ini bukan pertama kalinya dia senyum ke Lo kan?" Tanya nya, membuat perempuan itu mengangguk cepat.
"Kalo di hitung, ini yang ke empat kalinya dia senyum ke gue."
"Wahh, kenapa gak confess aja?"
"Dih, kagak lah anjir. Malu, kalo di tolak gimana? Bisa tengsin gue."
"Yaudahlah, kalo di tolak kan gapapa. Seenggaknya Lo tanya lah, maksud dia senyum ke Lo itu apa." Celetuknya membuat perempuan di depan nya mendongak.
"Gue harus nyiapin mental dulu lah, minimal kalo di tolak gue dah di senyumin pak Dimas beberapa kali."
Ya, mereka di tuntut untuk profesional dalam bekerja. Jika meleng sedikit saja dan data tidak sesuai, gaji mereka bisa-bisa habis di potong perusahaan. Meskipun Reza baik, tapi dia tidak mentoleransi kesalahan semacam ini. Dia CEO yang tegas jika menyangkut pekerjaan, meskipun di rumah dia menjelma menjadi pria bucin.
Reza be like : saya sebenarnya dua orang readers.
Jika saja para karyawan nya di perusahaan tau sebucin dan semanja apa CEO mereka jika di rumah, pasti mereka nyaris tak percaya saking berlawanan nya sikap Reza di rumah dan di kantor.
Reza berjalan dengan langkah tegapnya di ikuti Dimas, keduanya pun memulai pekerjaan yang seolah tak pernah ada habisnya, setiap hari pekerjaan mereka selalu menggunung dan menunggu untuk segera di selesaikan secepatnya.
Meski hanya tinggal merekap, mengecek ulang, lalu tandatangan, tetap saja jika dari satu perusahaan, berkas nya pasti akan menggunung dan itu harus di periksa satu persatu, bisa di bayangkan bagaimana pusing nya seorang Reza dan Dimas.
Di rumah Dimas, Elina berjalan pelan menggunakan jangka. Meskipun lukanya sudah mengering dan bisa di katakan sembuh, tetap saja rasanya sakit dan ngilu jika berjalan tanpa bantuan alat. Memang merepotkan kemana-mana harus bawa jangka, tapi ya daripada gak bisa jalan sama sekali.
"Pagi Mi, lagi apa?"
"Ehh sayang, sudah bangun? Ini mami mau buat kue bolu pisang." Jawab Mami Erika sambil fokus mengupas buah pisang yang sudah matang dan meletakan nya di wadah.
"Kalo boleh, Elin pengen belajar juga dong? Kata Kak Dimas, dia suka makan aneka jenis kue."
"Tentu boleh dong sayang." Jawab Mami Erika sambil tersenyum manis.
"Yaudah, mami lanjut timbang tepung sama gula nya, kamu hancurin pisang nya sehalus mungkin ya." Pinta Mami Erika, Elina mengangguk dengan antusias. Entah kenapa dia sangat semangat belajar membuat kue, mungkin pengaruh kata 'suka' ya. Karena Dimas suka makan kue.
Elina menghaluskan buah pisang itu hingga cukup halus, kemudian mami Erika menuang tepung terigu, gula dan mentega yang sudah di cairkan lebih dulu secara perlahan, lalu di aduk dengan menggunakan mixer.
Elina memperhatikan setiap step yang di lakukan oleh Mami Erika dengan seksama dan mencatat nya dalam otak. Mulai dari berat tepung terigu, gula dan mentega nya tak luput dari ingatan Elina.
"Setelah rata, tinggal di oven aja 25 menit di suhu 150 derajat, selesai."
__ADS_1
"Okey Mi, gak sabar pengen nyobain deh bolu buatan Mami." Ucap Elina, lagi-lagi dengan antusias.
"Buatan kita sayang." Mami Erika menepuk-nepuk loyang berisi adonan kue itu ke meja, tujuan nya agar adonan nya lebih padat dan tak ada celah yang akan membuat bolu nya bantet nanti.
"Mi, itu di gituin biar apa?"
"Biar adonan nya rata, gak ada celah di loyang nya. Kalo ada celah, nanti bolu nya bantet." Jelas Mami Erika, membuat Elina mengangguk pertanda mengerti akan jawaban yang di berikan calon mertua nya.
"Kita oven dulu ya." Mami Erika membuka oven yang sudah dia panaskan lebih dulu. Lalu memasukan loyang berisi adonan kue dan kembali menutup nya.
"Kamu belum makan, kenapa?"
"Gak laper mi." Jawab Elina dengan senyum nya.
"Jangan rusak diri kamu sendiri dengan kata diet." Tegas Mami Erika, membuat Elina tertegun sejenak. Dari mana mami Erika tau kalau dia ingin melakukan diet? Sebenarnya, Elina merasa kurang percaya diri dengan bentuk tubuhnya. Dia ingin mengecilkan lengan dan perutnya yang berlemak.
"Hehe, enggak kok Mi."
"Kalau enggak ya bagus, tapi kalau iya sebaiknya kamu berhenti sebelum mami aduin sama Dimas. Asal kamu tau, Dimas itu paling gak suka sama perempuan yang suka diet. Jadi, bisa di pastikan seperti apa reaksi Dimas nanti jika kamu ketahuan melakukan hal yang tak dia sukai."
Elina menelan ludahnya dengan kepayahan, kata-kata mami Erika terdengar seperti sebuah ancaman. Tapi, dia melakukan itu karena dia sayang pada calon menantu nya. Cukup, selama dia hidup bersama orang-orang jahat saja dia menderita, bahkan untuk makan saja seadanya, menurut cerita Elina dan tubuhnya yang sangat kurus waktu itu.
"Iya Mi, Elin gak bakal lakuin kok. Maafin Elin ya Mi."
"Gapapa sayang, mami bukan nya galak tapi karena Mami sayang sama kamu, jadi mami larang kamu buat melakukan hal yang akan merugikan diri kamu sendiri. Dimas cinta sama kamu apa adanya, lagian apa bagusnya kurus hmm? Mau seperti waktu itu ya?" Tanya Mami Erika, refleks Elina menggeleng.
Dia tak mau sekurus itu, hanya ingin mengecilkan bagian tangan dan perut saja, bukan artinya dia ingin kembali seperti Elina yang kekurangan gizi.
Waktu tak terasa cepat berlalu jika di lalui dengan kebahagiaan, itulah yang di rasakan Elina. Dia keasikan ngobrol bersama Mami Erika, hingga tak menyadari bahwa kue nya hampir matang. Beruntung saja kue itu belum gosong, kalau tidak gagal sudah makan kue bolu pisang.
"Gosong gak mi?"
"Enggak dong, malah mateng nya pas." Mami Erika menunjukan kalau bolu itu matang sempurna, atas nya kering berwarna kecoklatan namun bukan gosong. Dengan cepat, Mami Erika memindahkan bolu itu ke piring dan mengirisnya.
"Cobain deh, menurut kamu enak apa nggak." Mami Erika memberikan irisan bolu pertama untuk Elina, gadis itu dengan senang hati menerima nya lalu memakan nya.
"Enak Mi, ini mah enak banget."
"Suka?" Elina mengangguk cepat, mulutnya penuh dengan irisan kue bolu tadi.
"Elina suka banget, Mi."
"Yaudah, kalau kamu suka makan yang banyak, kalau perlu habisin aja."
"Kak Dimas gimana?" Tanya Elina dengan mata bulatnya yang membuat Mami Erika gemas.
"Masih ada di oven, mami bikin dua loyang kok."
"Yeee makasih mami, sayang mami banyak-banyak." Ucap Elina lalu mengecup singkat pipi kanan calon ibu mertuanya, dia pun kembali memakan bolu itu dengan lahapnya.
Perlu di maklumi, di beri kasih sayang yang berlimpah adalah keinginan setiap anak, begitu pula dengan Elina. Namun sayang, ibu nya harus meninggal, lalu ayahnya menikah lagi dan tak lama kemudian ayahnya menyusul sang ibu.
Akhirnya dia hidup bersama ibu tirinya, awalnya Elina merasa cukup nyaman karena harta warisan ayahnya masih tersisa, tapi saat warisan itu habis ibu tirinya berubah seperti iblis berwujud manusia.
Jadi, Elina tak mendapatkan kasih sayang dari orang tua nya, bahkan saat ayahnya masih hidup, beliau memilih mengacuhkan putri nya karena dia merasa kalau Elina hanya beban hidupnya.
Jangankan merasakan masakan ibu nya, melihat wajahnya saja Elina belum pernah, tak ada foto satu pun yang di tinggalkan wanita yang sudah mengandung dan melahirkan nya itu. Dia tak tau seperti apa sosok ibunya sendiri, bahkan sampai sekarang setelah usia nya 18 tahun.
Menjalani kehidupan yang begitu kejam hanya sendirian, tanpa siapapun yang bisa di ajak berbagi membuat Elina terbiasa sendirian. Di sekolah pun dia di kucilkan, hanya karena dia berpenampilan kucel. Dia bertekad, kalau suatu saat nanti hidup nya berubah, dia akan bersikap sangat baik jika melihat orang yang berbeda, bukan malah menghakimi atau membiarkan nya sendirian, itulah tekad seorang Avelina Maheswari.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻