Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 91 IRS


__ADS_3

Saat ini, pasangan pengantin baru itu sedang berkeliling untuk membeli kebutuhan rumah, mereka juga membeli peralatan mandi. 


"Aku pengen buah mangga, boleh?" Tanya Renata. 


"Boleh, ambil saja. Mau semua yang ada di etalase juga boleh," jawab Reza membuat Renata terkekeh. 


"Buat apa buah mangga banyak-banyak, nanti busuk kan sayang mubadzir, aku beli satu kg aja." Renata memilih buah yang sudah matang dan mencium aroma nya. Lalu memasukkan nya ke dalam kantong kresek. Dia hanya mengambil 4 buah saja, dia rasa cukup. Tiba-tiba saja dia ingin makan puding mangga. 


"Beli buah kiwi, bagus buat kesehatan." Saran Reza. 


"Rupa sama bentuknya kek gimana? Aku cuma pernah lihat dalam nya aja, itu pun di ponsel."


"Yang ini, Sayang. Beli yang ini ya, manis. Kalau yang hijau rasa nya asam." Reza mengambil satu bungkus buah kiwi dan memasukkan nya ke dalam troli belanja.


"Ini buah apa?" 


"Peach atau buah persik, mau nyobain?" Renata hanya nyengir, dia mulai penasaran ada berapa banyak buah yang tidak pernah dia makan karena tak mampu membeli nya. 


"Ambil aja sayang, apapun yang kamu mau." Jawab Reza santai. 


"Yeay makasih." 


Banyak buah-buahan asing bagi Renata di supermarket, maklum lah dia tak pernah belanja di tempat seperti ini, cukup di abang-abang sayur, jika ingin buah dia hanya perlu mampir di pinggir jalan. 


"Sayang, mau ini gak?" Tanya Reza sambil menunjuk buah anggur yang di bungkus dengan rapih, bahkan ada pita nya. 


Mata Renata membeliak saat melihat bandrol harga nya, Renata refleks menggelengkan kepala nya. 


"Enggak, kita beli anggur biasa aja. Mehong beb, satu kotak itu bisa beli 3 kg anggur." Jawab nya membuat Reza terkekeh.


"Yaudah, kita beli yang lokal aja." 


Reza mendorong troli belanja, mengikuti kemana langkah istrinya. Dia mengambil sabun mandi, pasta gigi dan bath bomb juga aromaterapi. 


"Yang, nyobain yang mawar dong." Tunjuk Reza. Renata menurut dan mengambil satu botol. 


"Buat jaga-jaga kita beli aromaterapi yang biasa juga kalo ya? Kalo wangi nya gak enak kan bisa pakai yang ini." Saran Renata, pria itu setuju dan langsung menganggukan kepala nya.


"Ehh, aku lupa beli stok roti Jepang. Sebentar ya, jangan kemana-mana." 


"Roti Jepang? Maksudmu pembalut?" Tanya Reza dengan wajah cengo, membuat Renata tergelak melihat wajah bodoh suaminya. 


"Iya, aku wanita sehat yang pasti akan kedatangan tamu setiap bulannya." Jawab Renata setelah selesai dengan tawa nya. 


"Yaaahh, belum juga di pake masa udah banjir."


"Tadi malem di tawarin kagak mau, salah siapa coba?" 


"Ya kan aku cuma khawatir, Sayang. Gimana kalo nanti kamu lagi gituan sama aku terus bayangan kamu malah sama pria lain kan jatuhnya zinna."


"Maksud kamu, aku bayangin pria lain nyentuh aku gitu? Pikiran kamu terlalu jauh, aku gak serendah itu." Jawab Renata ketus, ucapan Reza melukai hatinya. 


"Sayang, maaf aku gak maksud nyinggung kamu."

__ADS_1


"Gapapa, aku maafin kok. Tapi ingat, jangan berpikir berlebihan, itu sama saja melukai diri kamu sendiri. Kamu yang selalu bilang aku wanita terhormat, tapi kenapa kamu bisa berpikir hal itu?" 


Renata berjalan lebih dulu, dia mengambil dua bungkus roti Jepang untuk stok bulan ini, jika tamu nya datang tiba-tiba, dia takkan kebingungan.


Renata mengambil beberapa bungkus mie instan, es krim dan juga minuman bersoda. Kini adalah saat yang paling mendebarkan, yakni membayar. Renata menggigit kuku nya, khawatir kalau belanjaan nya melebihi budget. 


"Total nya 4 juta 900 ribu rupiah, Tuan." 


Reza dengan santai nya mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas dan memberikan kartu itu pada kasir, dia menggesek nya dan setelah selesai langsung mengembalikan nya. 


Reza menenteng beberapa kresek di tangan nya yang berisi kebutuhan selama satu bulan kedepan. 


Namun Renata mematung saat mata nya tak sengaja bertatapan dengan sepasang mata yang menatap nya penuh keterkejutan. 


Ya, Dimas dan Sila ada disana. Perempuan itu menggelayut manja di lengan Dimas, seakan menunjukkan pada orang-orang bahwa pria itu adalah miliknya. 


Reza mengikuti arah pandang Renata, dia menyeringai sinis saat melihat mata Sila hampir keluar dari tempatnya. Dia ketar ketir sendiri, entah apa alasan nya, hanya Reza dan Sila yang tahu. 


"Sayang, kenapa? Apa kamu ingin mengadakan reuni antara mantan? Yang satu mantan teman mu, yang satu nya lagi mantan suami mu." Usul Reza membuat Renata seketika menoleh. 


Kedua anak manusia di depan mereka nampak terkejut, panggilan sayang yang terlontar begitu manis dari mulut Reza, apa itu artinya…


"A-apa kabar, Renata?"


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Bahkan lebih baik setelah bercerai darimu." Jawab Renata, dia meraih tangan Reza dan menggenggam nya erat. 


"Kau dan Reza.."


"Aku menikahi nya kemarin, Dimas. Kau tak ingin mengucapkan selamat padaku?" Tanya Reza, dia sengaja menunjukan cincin kawin yang tersemat manis di jari mereka berdua. 


"Aku pasti sangat bahagia karena bisa hidup dengan wanita pujaan ku, aku berjuang sangat keras untuk mendapatkan nya, namun yang justru mudah mendapatkan nya malah menyia-nyiakan nya, bodoh!" Sindir Reza tersenyum sinis ke arah Dimas dan Sila.


"Bagaimana kalau kita ngobrol sambil minum kopi disana?" Usul Sila, Renata ingin menolak. Namun Reza malah langsung mengiyakan, membuat wanita itu menghela nafas nya berat.


"Kalian habis belanja?" Tanya Dimas. 


"Jika kau punya mata, harusnya tak perlu bertanya lagi. Kau bisa melihatnya sendiri," sahut Renata ketus. 


"Wahh, kau hebat sekali Renata. Baru cerai dari Dimas dan hanya berjarak 4 bulan kau sudah menikah lagi, dengan teman mantan suamimu." Sindir Sila. 


"Kau juga tak kalah hebatnya, Sila. Kau merebut suami teman mu, dan sebelum aku resmi bercerai dari nya kalian sudah menikah." Balas Renata tak kalah sinis.


"Ohh iya, sejak kapan Reza menjadi pemulung? Mungut bekas orang, eehh bekas teman nya sendiri, upsss." Celetuk Sila berlagak keceplosan hingga dia menutup mulutnya dengan tangan.


"Kenapa tak kau tanyakan sendiri pada pria di samping mu? Setidaknya aku meraih Renata karena dia wanita terhormat, lah kau sendiri? Tak ubahnya seperti jaalang." Celetuk Reza membuat wajah Sila memerah menahan amarah.


"Hanya orang bodoh yang menyia-nyiakan wanita sebaik Renata, dan laki-laki itu adalah pria yang ada di sampingmu. Membuang berlian demi seonggok kotoran di tepi jalan, otaknya sudah terkontaminasi barang murah, jadi ya murahaan."


Sindir Reza habis-habisan, membuat Dimas merasa tersinggung, begitu juga Sila. Sedangkan Renata anteng meminum jus melon tanpa merasa terganggu dengan sindiran-sindiran pedas yang terlontar dari mulut suami dan mantan suami plus madu nya. 


"Lihat saja, bahkan suami mu saja tak membela mu saat aku mengatai istrinya murahan, jaalang. Itu karena dia sadar sudah salah langkah, hanya belum menyesali keputusan nya untuk berpisah dari Renata dan kembali ke pelukan seorang mainan CEO." 


Dimas melotot, Reza tahu? Tapi dari siapa dan dari mana? 

__ADS_1


Ya, dua Minggu terakhir ini Dimas mencurigai istri dan CEO perusahaan tempat dia bekerja ada main di belakang nya, dia berusaha mengikuti langkah Sila, namun sialnya selalu gagal. 


"Gak heran sih, kalau udah gatel ya gatel aja. Harusnya di tabur cabe tuh lubang, biar kapok." 


"Heh, gue kagak gitu ya!" Berang Sila sambil menggebrak meja nya. 


"Kalo enggak merasa ya kenapa Lo marah? Santai aja, tuh bini gua aja santai nanggapin sindiran-sindiran Lo." 


"Kalo marah, berarti Lo merasa dan secara langsung Lo ngakuin kalo omongan gua bener." Cetus nya sambil melipat tangan di dada. 


"Minum dulu sayang, nyindir juga perlu tenaga, jangan sampai tenggorokan kamu seret pas lagi seru-serunya." Renata menyodorkan sedotan ke arah mulut suaminya.


"Eehh, ada noda lipstik aku di sedotan nya, maaf ya."


"Gapapa sayang, biasa nya juga aku makan langsung." Jawab Reza membuat Renata merona.


Dimas menatap kemesraan kedua nya dengan sendu, wanita yang kini berada di depan nya adalah wanita yang dia sia-siakan dan kini di persunting oleh teman nya sendiri, dia yakin Reza mampu membahagiakan Renata.


Pria itu pemberani, bukan pengecut seperti dirinya. Aaah bolehkah dia menyesal sekarang? Tapi sudah sangat-sangat terlambat.


Apalagi setelah melihat Reza begitu mencintai mantan istrinya, hal itu bisa dia lihat dari sorot matanya saat menatap Renata, teduh, hangat dan penuh cinta.


"Sebaiknya kita pulang saja, nanti Mommy nyariin." 


"Iya, kamu kan menantu kesayangan nya." Reza menekan kata menantu kesayangan dan itu berhasil membuat Sila marah, dia terlihat mengepalkan tangan nya. 


"Ya sudah para hadirin, kami pamit pulang dulu. Semoga hari kalian menyenangkan, ya meski aku yakin suami mu mulai mencurigai mu. Soalnya kamu banyak uang padahal pekerja biasa, padahal kamu punya kerjaan sampingan, jadi pemuas pria berkuasa." Sindir Reza lagi, membuat Sila refleks berdiri dan bersiap memukul Renata. 


Tapi Reza paham dan langsung menarik Renata, menyembunyikan istri nya di balik punggung kokohnya. Dia mencekal tangan Sila dengan keras, membuat wanita itu meronta karena rasa sakit. 


Dia memanggil suaminya, namun Dimas tak beranjak sedikitpun, cenderung membiarkan dan tak peduli sama sekali.


"Dengar, aku tahu semua tentang mu. Bahkan tau betapa jahat nya kau hingga membuat Renata celaka demi ambisi kotor mu itu, aku bisa saja membongkar nya sekarang. Namun aku rasa belum saatnya, karena Renata pasti akan terguncang. Jadi jangan berharap kau bisa bebas, ku pastikan hidupmu takkan tenang, kau bahkan takkan bisa menghirup udara dengan leluasa mulai sekarang!" Tegas Reza, membuat Sila melotot. 


Sila menyadari bahwa Reza bukanlah orang biasa, ternyata dia bisa mengetahui hal yang bahkan dia sembunyikan rapat-rapat. 


Reza menghempas tangan Sila dan mendorong nya hingga terjatuh dia tak peduli meski wanita itu meringis kesakitan, mau mati sekalipun dia tak perduli.


Tatapan tajam nya hilang entah kemana saat dia menatap istrinya, tatapan itu berganti jadi tatapan lembut dan penuh cinta, berbeda sekali cara Reza menatap wanita lain dan menatap istrinya.


"Kita pulang sayang.." ajak Reza, dia menggenggam tangan Renata dan membawa nya pergi dari restoran itu. 


"Apa yang kamu bisikkan pada Sila?"


"Hanya sedikit ancaman saja, kenapa? Kamu cemburu?"


"Tidak, hanya saja bibirmu tadi sangat dekat dengan telinga nya." 


"Aku akan membasuh nya dengan air dan menggosok nya dengan sabun nanti." Jawab Reza, membuat Renata tersenyum puas dengan jawaban suaminya.


"Mari kita pulang tuan putri." Reza membukakan pintu mobil untuk sang istri, kedua nya pun pergi dari supermarket, menjauhi keramaian tempat mewah itu. 


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


yang nanyain Dimas kemana, nih author selipin dia di bab ini, jangan pada kesel ya😂


__ADS_2