
Di rumah, Renata dan kedua nanny sedang duduk sambil mengajak main kedua bayi yang saat ini sudah berusia 4 bulan itu. Keduanya tumbuh dengan sangat baik, lucu dan menggemaskan, hingga membuat nanny nya sering merasa gemas sendiri saat melihat kedua bayi yang mereka asuh.
"Ututuu, gemoy nya pipi baby Aisha." Ucap salah satu nanny bernama Rini, dia bertugas menjaga Baby Aisha.
"Baby Farish juga gemoy, nih liat mana ganteng banget. Udah keliatan dari masih bayi ini mah, fiks pas udah dewasa nanti jadi rebutan." Ucap Rina, nanny yang bertugas menjaga Baby Farish.
Kedua nanny itu tidak kembar, hanya saja kebetulan nama nya hampir sama, Rini dan Rina. Renata menatap kedua nanny nya itu dengan senyum yang dia kuluum.
"Dua bayi aku lucu-lucu kan?"
"Sangat Bu, nanti kalau Rini nikah pengen nya yang kayak gini. Ampun deh lucu nya, pengen gigit tapi gak boleh." Celoteh Rini.
"Pengen nyubit Bu, tapi duh gak tega. Nanti bisa-bisa di denda milyaran sama bapak, juga tuan besar karena udah berani nyubit cucu nya." Celetuk Rina membuat Renata terkekeh geli mendengar celotehan kedua nanny nya.
Renata memang akrab dengan keduanya, karena kepribadian mereka hampir sama, dan lagi usia mereka hanya berselisih dua tahun di atas Renata, jadi kalau ngobrol mereka pasti nyambung.
"Yaudah, kalian kapan mau nikah?"
"Rini mah belum laku, Bu." Jawab Rini sambil cengengesan.
"Sama Parjo aja mau?" Tawar Renata, Parjo adalah nama tukang kebun di mansion ini. Dia bujangan ganteng yang mau bekerja keras untuk membantu ekonomi keluarga yang kesulitan ekonomi.
"Parjo nya gak mau sama Rini kayaknya, Bu."
"Emang udah pernah bilang kamu suka dia?" Tanya Renata lagi, Rini menggeleng membuat Renata tergelak.
"Terus tau dari mana kalo Parjo gak mau sama kamu, Rin?"
"Nebak aja sih, Bu. Soalnya dia cuek banget sama Rini."
"Kali aja dia malu kalo ngobrol sama kamu, Rin." Ucap Renata.
"Gak taulah Bu, kalau jodoh nanti juga mendekat." Jawab Rini lagi sambil nyengir
__ADS_1
"Kalau Rina, Kapan?"
"Sama kayak Rini Bu, belum laku alias belum ada jodohnya." Jawab Rina.
"Kalau Rina kenapa gak sama Mamat aja? Dia kan jomblo akut juga, lagian dia ganteng juga gak kalah sama Parjo."
"Mamat nya udah punya pacar, Bu."
"Lho, apa iya?" Tanya Renata sambil mengernyitkan dahinya.
"Iya, katanya dia punya pacar di kampung."
"Ohh, yaudah nyari yang lain aja. Pekerja di mansion ini pada ganteng-ganteng plus cantik kok." Usul Renata sambil cengengesan.
"Nanti aja Bu, soalnya belum mau nikah kalo Rina mah."
"Iya, kalau belum mau jangan di paksain. Nanti gak bener," jawab Renata, dia mengambil baby Aisha dan membiarkan nya tiduran di lantai, sudah 4 bulan tapi yang bontot belum bisa tengkurap sendiri. Sedangkan Farish sudah bisa tengkurap sendiri, juga balik sendiri.
"Ayoo Aisha, kamu harus tengkurep sendiri. Abang Farish udah bisa lho, kamu kapan? Ini pantaat nya terlalu berat kayaknya ya."
"Baby Aisha kan gemoy, Bu. Jadi perlu waktu buat bisa tengkurap sendiri." Ucap Rini, selaku pengasuh Aisha.
"Iya, kayaknya sih gitu. Lagian ini anak bontot lebih mageran dari pada Farish yang keliatan lebih aktif."
"Iya juga sih Bu, maaf bukan maksud Rini gak baik, tapi apa karena terlalu berat ya?"
"Seperti nya sih iya Rin, tapi mungkin aja belum, agak lambat kayaknya." Jawab Renata, Mariska yang baru datang ikut bergabung dengan ketiga wanita itu.
"Wajar aja sih sayang, usia empat bulan belum tengkurep, soalnya Reza dulu juga sama kayak Aisha, lima bulan baru tengkurep. Bisa jalan nya 18 bulan, satu tahun lebih. Karena gemoy gini juga sih." Ucap Mariska ikut nimbrung.
"Apa iya Mom? Ihhh Eza pasti ganteng kayak Farish ya, Mom?"
"Iya, mirip banget sama Farish. Makanya Papih sempet bilang kalau Farish itu fotokopian nya Reza banget, soalnya mirip." Jawab Mommy Mariska sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Ke empatnya pun meneruskan obrolan ringan mereka, sesekali terdengar gelak tawa yang mewarnai ruangan khusus kedua bayi itu bermain, Argan sendiri yang mendesain nya secara langsung, khusus untuk kedua cucu kesayangan nya.
"Yaudah, kamu lanjutin aja ya. Mommy ada orderan gaun pengantin ini, mana mendadak banget."
"Rere bantuin ya Mom." Pinta Renata sambil bersiap berdiri dari duduk nya.
"Gak usah sayang, hanya gaun sederhana karena gak ada pesta. Kamu tau buat siapa?" Renata menggeleng, mana dia tau gaun itu untuk siapa? Lagipun, Mommy Mariska belum memberitahu nya.
"Elina, dia kan mau menikah sama Dimas beberapa hari lagi."
"Ohh apa iya, Mom? Baguslah, jadi Elina ada yang ngelindungin."
"Kelanjutan kasus dia sekarang gimana ya?"
"Kata mas Reza sih sidang nya di undur sampai Elina sama Dimas nikah dulu, biar tenang juga." Jelas Renata, membicarakan kasus perdagangan manusia ini memang selalu membuatnya kesal.
"Yaudahlah, semoga aja Elina jadi yang terakhir buat Dimas. Mana Erika langsung yang minta di desain kan gaun nya, jadi mommy mau nolak kan gak enak gitu."
"Terima aja Mom, kalau ada yang bisa Rere bantu panggil aja. Nanti Rere kesana," Mariska mengangguk lalu keluar dari ruangan.
Renata tersenyum, dia senang saat mendengar berita ini. Saat dia datang menjenguk Elina ke rumah sakit hari itu, gadis cantik itu mengeluh bahwa dia cukup ragu karena mengingat perkenalan mereka yang singkat.
Ada wajarnya juga kalau Elina merasa ragu pada Dimas, karena hanya 2 Minggu mereka saling mengenal satu sama lain dari ketidak sengajaan.
Yang mengenal lama saja bisa bubar, apalagi yang cuma hitungan Minggu. Mungkin seperti itulah hal yang Renata pikirkan, tapi jodoh tak begitu. Kalau memang sudah di takdirkan berjodoh, pasti mereka akan langgeng dalam hubungan pernikahan.
Jodoh memang tak mengenal kapan akan datang dan dari peristiwa apa, itulah yang terjadi pada Dimas dan Elina. Renata merasa bahagia jika Dimas memutuskan untuk menikahi gadis cantik nan manis itu. Dia memang harus lebih dewasa dalam menyikapi hal-hal yang berhubungan dengan hati.
Karena Dimas, tipe laki-laki yang bodooh jika sudah mencintai.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1