
Stella sedang menjemur anaknya dihalaman rumah. Matahari bersinar cerah, tidak ada awan mendung yang menutupinya. Alvin duduk di teras sambil minum teh dan makan cemilan.
Dari tempatnya duduk, tersenyum melihat Stella berbicara sendiri pada anaknya sambil menjemurnya.
"Aku melihatmu begitu bahagia, sejak kau punya anak. Dan semua ini berkat Nungky, madumu," gumam Alvin sambil terus menatap istrinya.
Matahari makin menyengat, kulit punggung Esther mulai memerah.
"Aish, kulitmu mulai merah, mama balikkan ya....huufff pelan-pelan, nah sudah, mama tutupi matanya, biar ngga silau, putriku yang cantik, terimakasih sudah hadir dalam hidup kami...." Stella berbicara sendirian.
Bayinya sepertinya merespon lalu membuka mulutnya lebar seakan terjalin ikatan batin antara keduanya.
"Lek, oek, oek....."
"Kenapa....sudah panas ya, baiklah, ayo kita masuk," Stella lalu membawa bayinya masuk.
"Kenapa? Kok udahan?" kata suaminya.
"Dia sudah kepanasan Mas. Aku ajak masuk saja, ntar lagi mandi, kamu bantu akunya Mas," kata Stella masuk sambil menggendong bayinya, dan diikuti oleh suaminya.
Tiba-tiba ibu mertuanya dan kedua adiknya datang.
"Mas Alvin!" teriak mereka berdua dari halaman. Alvin lalu menoleh.
"Mana Stella?" tanya ibunya.
"Didalam, lagi mau mandiin Esther," jawab Alvin.
"Duduk sini, ada yang ibu mau bicarakan,"
Mereka lalu duduk berempat. Sementara Stella sedang memandikan bayinya.
"Ada apa sih Bu, kelihatanya serius sekali?"
"Itu, istrimu, apa benar, anak itu adalah anakmu? Kedua adikmu, melihatnya tidak hamil satu bulan lalu, pergi ke supermarket," Ibunya melihat raut wajah Alvin.
Deg.
__ADS_1
Alvin kaget tapi berusaha bersikap tenang. Kedua adiknya tidak luput terus melihat raut wajah kakaknya.
"Kalian ini bicara apa? Stella kan tinggi, jadi saat hamil dan pakai baju longgar, jelas lah tidak kelihatan," Alvin membuat alasan. Dia tahu, mereka sedang mencurigainya.
"Lalu...kenapa tidak mengadakan acara tujuh bulanan jika dia hamil?" Ibunya kembali mencari celah.
"Ibu...Stella sangat sibuk. Dan aku tidak pulang, aku yang mengatakan padanya untuk tidak mengadakan acara tujuh bulanan. Yang penting terus berdoa agar bayinya sehat dan setelah lahiran, baru kita adakan acara syukuran," kata Alvin menggelengkan kepalanya melihat sikap kedua adiknya dan ibunya sendiri.
"Kau tidak sedang berbohong pada kami? Awas jika dia tidak hamil dan anak itu dari panti asuhan. Aku akan mengusirnya bersama anak itu, jika kalian berbohong," kata Ibunya lalu pulang, di ikuti kedua anaknya. Mereka akan ke tempat katering lagi.
"Astaga, mereka curiga," gumam Alvin saat mereka sudah pulang.
Stella keluar bersama Esther setelah memandikan anaknya.
"Siapa itu mas? Tadi aku seperti dengar suara ibu," kata Stella sambil mengusap kepala bayinya dengan lembut.
"Ohh, ibu, dan kedua adikku. Mereka mencurigai jika kita mengadopsi anak dari panti asuhan. Satu bulan lalu melihatmu ke supermarket,"
"Astaga, lalu gimana mas?" wajah Stella berubah menjadi cemas.
"Syukurlah Mas," Stella lalu membawa anaknya ke kamar dan memakaikan baju.
Anak itu berbaring lucu menghadap kearahnya. Kaki dan tangannya bergerak seakan ingin meraih sesuatu.
"Ooouuhhh manisnya...." Stella menciumnya setelah memakaikan baju dan memberinya susu.
Alvin berdiri dipintu kamar dan mengamatu istrinya yang benar-benar bahagia sejak kehadiran Esther, anak dari Nungky, istri sirinya.
Beberapa Minggu kemudian.
Alvin berpamitan pada Stella dan akan berlayar lagi. Sebelum pergi, dia bertemu dengan Nungky di sebuah hotel.
Mereka sudah janjian dan akan menginap satu malam sebelum besoknya pergi ke kapal.
"Sayang, kau sudah bugar kembali,"
"Tentu saja! Uangmu habis untuk merawat tubuhku ini pasca melahirkan," kata Nungky.
__ADS_1
"Tenang saja sayang. Nanti mas kasih lagi. Yang penting, kamu rawat tubuhmu dengan baik, demi aku," kata Alvin dan tiba-tiba sebuah ciuman mendarat dipipinya.
"Jangan lupa, nanti kamu transfer ya Mas,"
"Iya, kamu tenang saja. Nanti Mas transfer kalau kita sudah sampai kesana," Alvin lalu bergandengan tangan Nungky dan mereka masuk kekamar yang sudah dipesan.
Alvin langsung mengunci pintu dan memeluk Nungky.
"Belum Mas. Nanti tunggu satu bulan lagi. Biar benar-benar pulih,"
Nungky sedikit mendorong tubuh Alvin. Belum mau disentuh pasca melahirkan, Alvin lalu mengangkat bahunya.
"Astaga, kenapa lama sekali?"
"Sabar dong Mas. Emang kamu ngga melakukanya dengan istrimu? Dia kan tidak melahirkan, jadi kamu pasti tidur denganya bukan?"
"Aku tidak puas sayang. Dia sudah kelelahan saat malam hari. Anak kita rewel dan dia tidak bisa melayani sebaik dirimu," kata Alvin menggoda Nungky.
"Ahh, kamu....." Alvin lalu memindahkan Nungky ke atas pangkuan nya.
"Jangan Mas, air susunya masih keluar," kata Nungky ketika Alvin akan memegangnya.
"Ya ampun.... lalu apa yang akan kita lakukan disini?" tanya Alvin mulai kesal.
"Ya, kita akan tidur semalam sebelum berangkat besok Mas,"
"Ya sudahlah!" Alvin terpaksa membaringkan tubuh Nungky dan tidak menyentuhnya kali ini.
"Sabar ya mas...." Nungky lalu berbaring juga di samping Alvin.
Pagi harinya mereka ke bandara dan akan ke kota dimana Alvin bekerja.
Saat didalam pesawat mereka duduk didepan Andin dan suaminya.
Andin kali ini ikut dengan suaminya, sementara Alvin tidak menyadari jika dia duduk didepan Andin dan suaminya.
Andin terbelalak kaget. Melihat suami Stella satu pesawat dengannya dan bahkan duduk didepannya bersama gadis yang sama yang ada di hotel itu.
__ADS_1