
Elina terbangun setelah pingsan semalaman. Dimas dengan setia menunggui nya, hingga gadis itu terbangun. Lingkaran hitam jelas terlihat di bawah matanya, dia tidak tidur semalaman demi menunggui gadis nya terbangun dari pingsan nya.
Gadis itu mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan, tempat yang sangat asing dengan bau obat-obatan dan antiseptik yang menguar membuat dirinya mual. Tapi, ada aroma lain yang membuat Elina menundukan pandangan nya.
Seketika senyuman gadis itu terbit saat melihat siapa yang tengah menatap nya juga dengan senyum.
"Sudah bangun my little girl?" Tanya Dimas sambil bangkit dari duduknya, dia mengusap pelan kepala Elina, gadis kecilnya.
"Ada yang sakit?"
"Kepala ku sangat pusing, kak." Jawab Elina.
"Itu pengaruh obat bius seperti nya."
"Memang nya aku kenapa sampai harus di bius, kak?" Tanya Elina lagi.
"Di operasi, karena luka di kaki mu infeksi." Jawab Dimas.
"Jadi? Aku gak punya kaki, kak?"
"Punya dong, ini kaki kamu lho. Cuma di perbaiki sedikit aja." Jelas Dimas dengan lembut, lagi-lagi dia mengusap lembut kepala Elina.
"Kakak.."
"Humm, apa sayang?" Tanya Dimas, membuat wajah Elina memerah karena Dimas memanggilnya dengan sebutan sayang. Hello, siapa yang gak salah tingkah coba, di panggil sayang sama cowok ganteng?
"Makasih udah nyelamatin Elin, kalau enggak pasti sekarang masa depan Elin udah hancur."
"Udah, gak usah di pikirin ya cantik. Sekarang kamu fokus aja sama kesehatan kamu." Jawab Dimas, dia menangkup wajah mungil Elina lalu mengecup singkat kening nya.
Wajah Elina semakin memerah saja karena ulah Dimas, wajah nya terasa panas dan tesss..
Elina mimisan, darah segar mengalir dari lubang hidung nya. Buru-buru Dimas menyumpal nya dengan tissu, sedangkan Elina semakin memerah saja karena menurutnya ini sangat memalukan, baru di kecup saja dirinya sudah mimisan.
Dimas terkekeh sambil menggelengkan kepala nya.
"Gadis yang menggemaskan." Ucap nya sambil mengunyel-unyel pipi Elina, membuat gadis itu semakin salah tingkah dengan dada yang berdebar.
"Kakak isshhh.."
"Haha.." Dimas tergelak kencang mendengar gadis nya merengek.
"Aku marah nih.."
"Maaf, gadis cantik gak boleh marah lho nanti cantiknya luntur." Ucap Dimas sambil mencolek hidung mancung gadisnya.
"Kakak nyebelin."
"Nyebelin gini kamu suka kan?" Goda Dimas yang membuat Elina menunduk untuk menyembunyikan rona kemerahan di wajahnya, padahal Dimas sudah tahu.
"Udah, gak usah di sembunyikan. Aku udah tahu kok wajah kamu merona."
"Kakak.." Elina merengek kembali, membuat Dimas kembali tergelak.
"Baiklah, maaf ya cantik. Sekarang, apa kamu ingin makan sesuatu? Lihat, empat hari menghilang kamu kurusan."
"Elin pengen makan martabak telor, kayaknya enak kak." Jawab Elina malu-malu.
"Oke, tapi aku gak mungkin ninggalin kamu sendirian disini. Jadi, aku pesen online aja ya."
"Terserah kakak aja." Dimas mengangguk lalu memesan martabak lewat ponsel nya.
"Sudah, tinggal nunggu aja ya. Awas kalau gak di habisin, kakak gak bakal beliin kamu makanan lagi."
"Aihh kakak mah gitu.."
"Uhhh gemesin nya gadisku, jadi pengen aku gigit."
"Gue tau kalian tuh bucin, tapi tau tempat juga keles." Celetuk seseorang di belakang Dimas. Keduanya menoleh bersamaan, seseorang itu tersenyum smirk dengan kedua tangan yang bersedekap di dada. Siapa lagi orang nya kalau bukan Reza.
"Ganggu aja Lo."
"Makanya tau tempat kalo mau ngebucin." Jawabnya sambil terkekeh, dia berjalan mendekat dan meletakan parsel buah.
"Hai gadis kecil pacar nya Dimas, apa kabar? Sudah lebih baik?" Sapa Reza dengan ramah.
"B-baik kak."
"Wahh, gadis Lo gemesin banget. Wajah nya merah, habis Lo apain?"
"Cuma di cubit pipi nya doang, seperti kata Lo barusan, dia gemesin." Jawab Dimas santai.
"Dim, bisa kita bicara berdua aja? Penting."
"Ya, bisa Za." Jawab Dimas, apalagi saat melihat raut wajah serius Reza.
__ADS_1
"Yaudah, gue tungguin di luar. Jangan lama, jangan malah cipokaan dulu." Dimas bersiap akan melempar sahabatnya itu dengan sendal, tapi pria itu keburu menutup pintunya.
"Cipokaan itu apa, kak?"
'Astaga si Reza, kalo ngomong gak di saring dulu. Pikiran polos gadis gue tercemar anjir.' Batin Dimas.
"Nanti kakak jelasin sambil praktek langsung ya, kakak udah di tungguin sama temen kakak."
"Jangan lama.." pinta Elina membuat Dimas tersenyum.
"Siap sayang, yaudah kamu istirahat dulu yaa. Nanti kalau martabak pesenam kamu udah dateng, kakak bangunin."
"Iya kak."
"Good girl." Dimas mengusap lembut kepala gadisnya, lalu keluar dari ruangan itu. Membiarkan gadisnya untuk beristirahat sejenak sambil menunggu pesanan nya datang. Dia pergi menemui Reza, entah pembicaraan seperti apa yang akan di bicarakan oleh teman nya itu, tapi saat melihat raut wajah serius nya, bisa di pastikan itu ada kaitan nya dengan Elina.
Dimas duduk di samping Reza, keduanya duduk di kursi tunggu.
"Pembicaraan apa, Za?" Tanya Dimas memulai pembicaraan.
"Ini tentang Baron, mucikari yang menjual Elina, juga ibu tiri gadis itu. Mereka udah berhasil anak gue tangkap kemaren malem, jadi kira-kira Lo pengen keduanya di hukum seperti apa?" Tanya Reza.
"Menurut Lo hukuman semacam apa yang pantes buat mereka?"
"Penjara seumur hidup mungkin." Celetuk Reza.
"Terlalu mudah deh, coba Lo bayangin gimana jadinya kalo kita gak keburu dateng nyelamatin Elina, dia pasti udah jadi mangsa pria bejat di luar sana, Za!"
"Jadi, gue harus nuntut mereka kayak gimana? Hukum mati?" Tanya Reza.
"Gue rasa itu lebih baik, Za. Apa Lo tahu siapa yang udah beli gadis gue dari mucikari nya?" Tanya Dimas, dia memang penasaran pada pria yang sudah berani membeli gadisnya dengan harga yang sangat fantastis untuk satu malam.
"Pebisnis saingan gue, Dim." Jawab Reza pelan. Dimas membulatkan kedua mata nya, dia bekerja sebagai asisten Reza yang selalu mengikuti kemana pun pria itu pergi. Dan ekspresi itu sangat menunjukan bahwa dia tau siapa orang nya.
"Kenzo?"
"Tebakan Lo bener, Dim. Tapi jangan harap buat bisa jeblosin ke penjara, dia punya koneksi kuat. Bahkan polisi sekalipun gak bakalan bisa bikin dia di penjara." Jelas Reza membuat Dimas menganggukan kepala nya. Dia tau benar kalau pria bernama Kenzo itu bukanlah orang sembarangan. Dia orang yang sangat berpengaruh, jangan harap bisa membuatnya membusuk di penjara, menyentuh nya saja polisi takkan bisa dan dia menjamin hal itu.
"Gapapa Za, yang penting gue udah tau siapa orang nya. Tapi, gue mohon sama Lo, jangan lepasin dua orang dalang semua ini."
"Gue udah buat laporan plus tuntutan buat mereka, hakim pasti ngabulin tuntutan gue sih. Ibu udah menyalahi aturan kemanusiaan dan hukum."
"Bagus deh, gue berharap mereka di jatuhi hukuman yang setimpal sama perbuatan mereka. Sumpah demi apapun gue gak rela gadis gue di giniin, Za!" Ucap Dimas menggebu.
"Thanks ya Za."
"Santai, kayak sama siapa aja. Btw, kapan Lo mau nikah? Jujur aja, gak tenang gue kalo Lo masih jomblo, takutnya ngincer bini gue lagi." Cetus Reza membuat Dimas mendelik tajam.
"Gila aja kali, gue gak mungkin ngincer bini Lo. Cukup aja gue nyia-nyiain dia dulu, sekarang dia udah sama Lo, orang yang bisa bikin dia bahagia, dia udah sama orang yang tepat."
"Baguslah, jadi kapan?" Tanya Reza lagi.
Selama ini, Reza mengetahui bagaimana seorang Dimas meyakinkan dirinya sendiri bahwa perasaan nya pada Elina itu bukan sekedar rasa ingin melindungi, tapi lebih dari itu. Tepatnya rasa cinta, karena Reza seringkali melihat sahabat sekaligus bawahan nya di kantor itu melamun dan menggunakan nama Elina.
Lalu apa itu kalau bukan cinta? Jelas itu cinta, karena nama Elina benar-benar sudah masuk ke dalam hati sahabatnya.
"Gue bahkan belom bilang apa-apa sama Mami,"
"Buruan bilang, biar Lo punya kuasa buat lindungin dia, sebagai suami." Usul Reza, selain karena alasan pertama yang jelas-jelas tidak mungkin, dia juga menginginkan kebahagiaan untuk sahabat nya. Cukup, dia di manfaatkan oleh Sila demi dendam dan obsesi nya untuk menghancurkan Renata. Sekarang, giliran dia benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
"Iya iya, bawel banget Lo sekarang."
"Ketularan ayang." Jawab Reza sambil terkekeh.
"Orang bucin mah bebas."
"Idih, kayak Lo gak pernah bucin aja. Lo juga pernah bucin kali, cuman Lo tuh bodoh kalo udah bucin. Bodohnya sampe ke tulang." Celetuk Reza membuat Dimas tertawa hambar.
"Semoga aja Elina cinta terakhir gue deh."
"Keliatan nya dia tulus sih sama Lo, Dim." Ucap Reza dan Dimas pun menganggukan kepala nya, pertanda dia setuju dengan ucapan Reza.
"Lo bener Za."
"Yaudah, nanti gue kabarin kapan sidang nya. Gue balik dulu, kangen sama Faisha sama Farish."
"Ciee bapak beranak dua." Goda Dimas.
"Makanya nyusul, biar balik ke rumah ada yang nyambut, asli capek juga langsung ilang liat anak sama bini lagi ketawa."
"Iya Eza, yaudah sono kalo mau balik. Gue juga mau ngasih ini makanan sama Elina, dia belum makan btw."
"Yaudah, selamat bertemu di kantor besok."
"Oke." Jawab Dimas, Reza pun pergi dari rumah sakit dengan langkah tegap nya, keduanya tangan nya dia masukan kedalam saku celana bahan yang dia pakai.
__ADS_1
Dimas membuka pintu dengan perlahan, dia kira gadisnya tengah tidur. Tapi rupanya, Elina sedang duduk sambil memakan buah jeruk.
"Udah selesai bicara nya kak?" Tanya Elina sambil tersenyum.
"Udah, kenapa gak istirahat?" Balik tanya Dimas sambil meletakan kotak martabak pesanan gadisnya di meja nakas dekat brankar tempat gadisnya duduk setengah berbaring.
"Gak ngantuk, pengen ngemil aja."
"Yaudah, mau kakak kupasin apel?" Tanya Dimas.
"Apa merepotkan kak?"
"Enggak dong cantik, kamu gak pernah ngerepotin kakak." Jawab Dimas.
Dimas mendudukan tubuhnya di kursi plastik dan mulai mengupas buah apel juga pir dari parsel yang di bawa Reza tadi.
Setelah selesai mengupasnya, Dimas memotong nya kecil-kecil dan meletakan nya ke dalam mangkok.
"Makan ya, ngemil buah dulu terus makan tuh martabak nya."
"Siap kakak." Jawab Elina sambil meletakan tangan nya di dahi, seperti menghormat bendera.
"Iya sayang." Dimas mengambil sebelah tangan Elina dan mengecup punggung tangan gadis itu dengan mesra.
Elina membeku seketika saat merasakan bibir hangat pria itu di atas tangan nya.
"Jangan buat kakak khawatir lagi ya? Kamu tau gimana takut nya kakak saat kamu pergi? Hidup kakak terasa kosong."
"Iya kak, Elina gak bakalan kemana-mana kok." Jawab Elina dengan senyum manisnya.
"Jadi, apa kamu mau mendampingi kakak?"
"M-maksud kakak?" Balik tanya Elina, harusnya Dimas tidak mengatakan hal seambigu itu, dia harus tau kalau gadis di depan nya ini adalah gadis polos.
"Mau jadi istri kakak?"
"Istri?"
"Yeah, istri yang akan mendampingi kakak disaat susah maupun senang." Jawab Dimas, Elina terhenyak mendengar ucapan Dimas.
"Becanda nya gak lucu deh kak."
"Apa kamu pikir kakak bercanda? Apa wajah ini tak menunjukan keseriusan kakak, hmm?" Tanya Dimas.
"Jadi, kakak serius?" Dimas mengangguk mengiyakan membuat Elina terdiam.
"Jika tak bisa menjawab nya sekarang, tak masalah sayang. Kakak bersedia menunggu sampai kamu punya jawaban untuk pertanyaan kakak."
Dimas sadar, dia tak bisa memaksakan kehendaknya pada Elina, meski sebenarnya dia sangat ingin mendengar jawaban gadis itu sekarang juga. Tapi gadis itu juga perlu berpikir terlebih dulu sebelum mengambil keputusan, apalagi ini berhubungan dengan masa depan.
"Maaf ya kak, Elina gak bisa nolak ajakan kakak."
Dimas mendongak begitu mendengar jawaban Elina, dia bangkit dari duduknya dan menghambur memeluk tubuh gadis kecil itu dengan erat.
"Terimakasih Elina, kakak berjanji akan menjaga mu dengan baik. Kakak gak bakalan nyakitin kamu, kakak janji."
"Elina butuh bukti, jadi buktikanlah kak." Jawab Elina, membalas pelukan Dimas.
"Pasti, kakak akan membuktikan nya." Dimas tersenyum hingga kedua matanya berkaca-kaca.
Dimas melerai pelukan nya lalu mencuri satu ciuman di pipi kanan Elina, dia meraih kotak makanan dan memberikan nya pada Elina.
"Ayo makan, biar cepet pulang. Nanti kita bicarain ini sama Mami ya, biar secepatnya kita menikah."
"Apa itu tidak terlalu cepat, kak?" Tanya Elina.
"Tidak, bukankah niat baik itu tak seharusnya di tunda-tunda?"
"Baiklah kak, aku setuju-setuju saja." Jawab Elina sambil tersenyum, dia memakan potongan martabak telor itu dengan lahap.
"Sayang, ibu tiri dan mucikari yang sudah menjualmu sudah di tangkap. Teman kakak yang tadi bilang dia sudah mengajukan laporan atas nama mereka." Alina menatap wajah Dimas dengan dahi yang mengkerut.
"Lalu?"
"Hukuman apa yang sekiranya setimpal untuk mereka berdua menurut mu?"
"Aku serahkan semuanya pada kakak saja, tapi aku minta jangan biarkan mereka bebas semudah itu kak." Jawab Elina, Dimas bisa melihat raut sendu di balik wajah gadisnya. Pasti dia merasa sangat sedih saat ini.
"Maaf membuat mu sedih sayang, tapi kakak kira kamu harus tahu karena disini kamu adalah korban."
"Iya kak, aku gapapa kok. Lagian mereka pantas di hukum kan? Korban Baron pasti bukan hanya aku saja, bayangkan sudah berapa ratus gadis yang pria itu rusak masa depan nya." Ucap Alina membuat Dimas mengangguk, dia heran kenapa ada yang mau profesi semacam itu? Menjual manusia demi keuntungan pribadi, bukankah itu kejahatan yang sangat keji?
........
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1