Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 32 IRS


__ADS_3

Butuh setengah jam untuk Renata sampai di bar dari kost an, dia langsung turun setelah membayar ongkos taksi. Dari luar saja aroma alkohol sudah menguar, membuat Renata harus menguatkan mental nya, terlebih di luar sudah banyak orang-orang mabuk. 


Suara musik yang menggema sangat mengganggu Indra pendengaran, membuat Renata harus menulikan telinga nya. Dia berjalan masuk menerobos orang-orang mabuk, meski sempat terkena godaan, namun dia tetap harus menjemput Dimas apapun caranya. 


Banyak sekali cobaan yang Renata harus lewati demi bisa menjemput Dimas, mulai dari godaan genit orang mabuk, sampai orang-orang yang berbuat tak senonoh di dalam, bahkan di antara mereka sudah ada yang hampir telanjangg, saling mencumbu satu sama lain dengan ganas nya. 


Renata harus menutup mata nya juga, dia tak mau matanya ternoda gara-gara melihat adegan yang tak pantas di pertontonkan di khalayak ramai, namun sudah biasa jika tempat nya di bar. 


Renata celingukan mencari Dimas di antara kerumunan orang mabuk dan sibuk bergoyang mengikuti alunan musik dj.


Hingga mata nya yang tajam itu melihat keberadaan Dimas, dia mendekat, menepuk-nepuk pipi Dimas. 


"Dim, bangun. Ayo balik Lo, Mami pasti marah liat Lo gini." 


"Gua gak peduli, gua pengen disini sampe pagi." Jawab Dimas, wajah nya merah dan mulutnya menguarkan bau alkohol yang membuat Renata sedikit mual. 


"Ayo balik." 


"Kagak Re, gua mau disini aja. Sila udah nyakitin gua, jadi buat apa gua berpura-pura jadi anak baik lagi, gak ada guna nya!" Racau Dimas membuat Renata menatap pria itu dengan sendu. 


Renata dengan susah payah berusaha membopong tubuh besar Dimas yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Beruntung bartender yang tadi menelpon nya datang dan langsung membantu Renata membawa Dimas yang sudah teler.


"Makasih ya Kak." 


"Naik apa pulang nya?" Tanya bartender itu dengan raut wajah khawatir.


"Paling baik taksi, Kak." 


"Sebentar ya, saya carikan dulu taksi nya." Pria bertato itu pergi dengan terburu-buru, mencari taksi yang kira nya kosong. Setelah mendapatkan nya, dia segera mendekat ke arah Renata yang masih berdiri dengan memapah Dimas. 


Namun baru saja mobil itu mendekat, Dimas mendapat jackpot. Dia muntah-muntah, namun hanya cairan saja. Efek kebanyakan minum, memang seperti itu. Apalagi Dimas tak terbiasa minum banyak, membuat tubuh nya tak mampu mengimbangi minuman yang sudah dia tenggak tadi. 

__ADS_1


Renata dengan sabar memijat pelan tengkuk pria itu, membersihkan sisa-sisa muntahan di sisi bibir Dimas tanpa rasa jijik sedikitpun. 


"Makasih ya Kak, saya pulang dulu." 


"Sama-sama, hati-hati di jalan." Bartender itu tersenyum melepas kepergian mobil yang membawa Renata bersama Dimas. 


"Gadis yang manis dan baik hati, pria itu begitu beruntung punya kekasih seperti dia." Gumam sang bartender lalu kembali masuk melanjutkan pekerjaan nya.


Di dalam mobil itu terjadi keheningan, Dimas sudah tertidur karena pengaruh minuman. Renata di landa kebingungan, rasa nya tak mungkin membawa Dimas pulang ke rumah dengan keadaan begini, Mami Erika pasti marah besar apalagi setelah tahu penyebab putra nya mabuk-mabukan. 


"Bawa ke kost an aja deh." Putus Renata, dia pun menyebut alamat kost an nya dan langsung di angguki sang supir.


Mobil itu berhenti di komplek kost an yang di huni oleh Renata, ibu kost an memang membebaskan penghuni nya untuk memasukan pria atau wanita ke dalam kost an, dengan catatan tidak membuat kegaduhan.


"Emm pak, bisa tolong saya untuk membawa…" 


"Baik Nona." Ucapan Renata terpotong oleh jawaban supir taksi, dengan sigap dia membukakan pintu dan membantu Renata membopong tubuh Dimas. Sangat merepotkan dan menyusahkan, kalau saja bukan Dimas pasti Renata takkan mau di repotkan seperti ini. 


"Terimakasih ya Pak." 


"Sama-sama Nona, ongkosnya sudah di bayar sama mas-mas tadi yang di bar." Ucap supir taksi itu, membuat Renata meringis, dia merasa tak enak. Dia kira taksi nya belum di bayar oleh bartender baik hati itu. 


"Kalau begitu ini tips untuk bapak karena sudah membantu saya, terimakasih ya Pak." 


"Terimakasih Nona, saya pamit dulu." 


Setelah supir taksi itu pergi, Renata membuka sepatu yang melekat di kaki Dimas, juga mengambil air hangat dan mengompres wajah dan tubuh Dimas, menyeka bekas keringat dan sisa muntahan tadi. 


Namun, tangan nya keburu di tarik oleh Dimas hingga membuat nya terhuyung dan menabrak dada bidang pemuda itu, jantung Renata berpacu dengan cepat. Apalagi saat melihat kedua mata pria itu terbuka dan menatap nya dengan tatapan yang entah apa, Renata tak tahu apa arti tatapan itu. 


"Kau sangat cantik, namun sayang kau hanya teman ku, Renata. Aku mencintai Sila!" Ucapnya dengan tatapan sayu. 

__ADS_1


Namun sedetik kemudian dia mendorong Renata, bangkit dari tidur nya lalu tanpa bicara langsung menyambar bibir ranum milik gadis itu. 


"Eeemmpp.." Renata meronta, dia memukul dada pria itu, karena ciuman nya terasa sangat liar dan bernafsuu. 


"Puaskan aku Renata, buat aku melupakan Sila!" Ucap Dimas dengan suara berat nya, dia menahan gejolak yang membuat batang nya bangkit. 


"Hentikan Dimas, aku bukan wanita semacam itu." 


"Kau akan menyukai tusukan ku!" Tegas Dimas, dia kembali menarik Renata dan menjatuhkan nya di kasur, menindih nya dan kembali melumaat bibir kemerahan itu dengan brutal. Tangan nya bahkan sudah bergerilya meraba tubuh Renata. 


Dia meremass kasar buah kenyal milik Renata, bahkan dengan tak sabar menarik blouse yang di pakai nya hingga kancing nya berhamburan.


"Cukup, Dimas! Kau menyakitiku." Pinta Renata, namun Dimas yang sudah di liputi gairah seolah tuli dan tak mendengar Renata, meski gadis itu sudah memohon dan mengiba. 


"Aaaahhh sakitt Dimas!" Gadis itu memekik kencang saat dengan tak sabar nya dia langsung menyatukan diri. Renata yang masih virgin, jelas saja merasa sakit karena hentakan kuat yang di lakukan Dimas. 


Air mata meleleh membasahi pipi Renata, dia tak menyangka bahwa keputusan nya untuk membawa Dimas pulang ke kost an nya demi menghindari amukan Mami Erika adalah keputusan yang paling dia sesali seumur hidup. 


Kehormatan yang selama 23 tahun dia jaga rusak sudah di tangan pria yang dia cintai, sakit dan perih membuat nya kembali menangis hingga sesenggukan di bawah kungkungan Dimas. 


Bahkan saat pria itu bergerak brutal di atas tubuhnya, Renata hanya bisa berteriak tanpa bisa menikmati permainan Dimas. Mungkin kalau Dimas meminta nya secara lembut, dia akan senang meskipun itu hanya pelampiasan, namun apa yang di lakukan Dimas saat ini sungguh melukai hatinya. 


"Aaarrgghhh, Sila!" Pekik Dimas, tubuhnya menegang. Cairan hangat menyembur membasahi inti Renata, Dimas klimakss. Namun yang paling sakit, pria itu menyebut nama gadis lain di saat ternikmat nya. Wanita mana yang tak sakit? 


Renata bernafas lega, dia kira semua nya sudah usai, namun seperti nya Dimas memiliki energi lebih untuk melanjutkan permainan nya, dia terus menyentuh Renata hingga akhirnya gadis itu tak sadarkan diri di pelukan Dimas, saking lelah dan sakit nya. 


Sungguh demi apapun, rasa sakit yang di rasakan Renata kali ini berkali-kali lipat sakit nya. Dia di perkosaa pria yang dia cintai untuk meluapkan rasa benci pada gadis lain, namun dia yang jadi korban.


.....


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2