
Reza memijit pelan kaki sang istri, di usia kehamilan nya saat ini, kaki nya membengkak membuatnya kesulitan berjalan.
"Sayang, apa pembengkakan ini normal?" Tanya Reza pada sang istri.
"Kata dokter sih wajar, Mas. Itu cuma karena aku yang kurang gerak aja kok, gapapa katanya. Banyak ibu hamil yang mengalami hal seperti ini." Jelas Renata, dia sudah mengadukan masalah ini pada dokter kandungan nya.
Namun sejauh ini kandungan nya baik-baik saja, tapi meski begitu vonis dokter tentang keadaan rahim nya masih sama, kadang-kadang dokter itu terus saja membujuk Renata agar mau memberitahukan masalah ini pada suaminya. Tapi Renata kekeuh ingin menyimpan nya sendirian.
"Aku lihat akhir-akhir ini kamu sering murung, sayang. Kenapa, apa ada masalah?" Tanya Reza.
Dia tipe pria yang sangat peka terhadap pasangan nya, meski Renata sudah mati-matian berusaha menyembunyikan tentang masalah nya, tetap saja Reza menyadari perubahan mood nya.
"Gapapa kok mas, aku hanya merasa sedikit takut."
"Takut apa, sayang?" Tanya Reza pelan
"Mungkin lebih tepatnya bukan rasa takut, tapi rasa cemas. Ini adalah pengalaman pertama, entah akan seperti apa rasa sakit nya saat aku bersalin nanti."
"Sayang, masih dua bulan lagi. Kita masih punya banyak waktu untuk memikirkan hal yang sebenarnya tak perlu. Kalau sakit, kamu bisa melampiaskan nya padaku, aku pasti akan menemani mu, kapanpun." Jawab Reza dengan senyum manis yang terlukis dari bibirnya.
"Terimakasih Mas, aku harap kita akan punya banyak waktu untuk bermain dengan anak-anak kita nanti, aku juga ingin hidup lebih lama bersama mu."
"Jangan bicara hal yang belum tentu terjadi, sayang." Ucap Reza, dia mengusap lembut wajah Renata, lalu mengecup kening nya.
"Sebaiknya kamu istirahat, sayang. Kamu pasti lelah, mas akan keluar untuk beres-beres. Kalau ada apa-apa, panggil aja Mas di luar."
Renata mengangguk, Reza menyelimuti sang istri hingga ke dada nya, tak lupa dia mencium singkat kening nya lagi sebelum keluar dari kamar.
Reza menutup pintu dengan perlahan, dia bersandar di belakang pintu dan perlahan merosot ke bawah hingga duduk di ambang pintu.
Dia menangis sesenggukan, entah apa yang membuat pria tampan itu menangis, tapi yang pasti apapun itu adalah hal yang menyakitkan.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Mariska begitu melihat Reza yang terduduk sambil menyembunyikan wajah nya di antara lutut.
Mendengar pertanyaan sang Mommy, Reza mendongak dan langsung mengusap kedua mata nya dengan tangan.
"Eza gak kenapa-napa kok, Mom. Eza baik-baik aja, Eza cuma kecapean." Jelas Reza, pria itu tersenyum manis agar akting nya lebih meyakinkan.
"Kamu gak pandai berbohong sama Mommy, katakan. Ada apa?" Tanya Mariska lagi, membuat Reza meletakan jari telunjuk nya di depan bibir, mengisyaratkan agar Mommy nya itu diam.
"Rere lagi tidur di dalam, jangan keras-keras bicara nya, Mom."
"Aahh ya, ini pasti ada hubungan nya dengan Renata. Kamu gak pernah nangis kalau bukan karena dia, tebakan Mommy benar kan?" Tanya Mariska, terpaksa lah Reza mengangguk.
"Kenapa? Ada apa sama istri kamu, hmm?"
Reza pun menjelaskan apa saja yang dia dengar dari dokter kandungan mengenai kondisi kehamilan Renata dan keadaan rahim nya yang kurang elastis, hingga membuatnya rawan pecah, apalagi saat ini dia sedang mengandung bayi kembar.
Dokter juga mengatakan, ada baiknya salah satu bayi nya harus di hilangkan, namun dengan tegas Renata menolak karena dia tak mau kehilangan salah satunya, apapun yang terjadi dia akan melahirkan mereka ke dunia dengan selamat meski harus mengorbankan nyawa nya sendiri.
Sebenarnya, hari itu dia sudah mengetahui keadaan sang istri, namun dia berpura-pura tak terjadi apa-apa, tapi semakin kesini dia merasa bersalah pada Renata. Hanya karena ingin mengandung dan melahirkan cucu untuk kedua orang tua nya, dia rela mengambil keputusan yang sulit.
Ini pilihan antara menyelamatkan dirinya sendiri atau anak-anak mereka, itu keputusan yang sangat sulit. Terlebih, Renata sendiri lebih mementingkan kedua buah hatinya di banding dirinya sendiri.
"Reza bingung harus gimana, Mom? Eza gak mau kehilangan Renata, tapi Eza juga gak bisa kalau harus kehilangan salah satu anak Eza." Jelas Reza, kedua mata nya berkaca-kaca, membuat Mariska iba dan langsung memeluk tubuh sang putra dengan erat.
"Keputusan ada di tangan kamu, Sayang. Pikirkan sebaik mungkin, Nak. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari karena pilihan yang salah." Ucap Mariska sambil mengelus pelan punggung sang putra.
Jujur, dia sakit mendengar kenyataan bahwa ternyata menantu nya yang setiap hari terlihat baik-baik saja itu menyimpan masalah yang besar. Dia terlalu pandai menyembunyikan masalah dalam senyuman, hingga dia saja tak menyadari perubahan Renata.
Dia kecewa sekaligus marah pada wanita yang menyandang status sebagai istri putranya itu, bagaimana bisa dia menyembunyikan masalah sebesar ini dan menanggung nya sendirian?
Kalau di suruh memilih, Mariska lebih baik tak punya cucu dari pada harus kehilangan menantu kesayangan nya, masalah anak bisa adopsi jika kedua nya mau, tapi wanita itu terlalu baik hati hingga membiarkan dirinya sendiri merasakan sakit.
"Mom, Eza takut kalau harus kehilangan Renata. Dia separuh hidup Eza." Lirihnya, membuat Mariska melerai pelukan nya, dia menangkup kedua sisi wajah sang putra.
__ADS_1
"Renata itu wanita yang kuat, dalam dirinya tersimpan kekuatan besar yang orang lain tak tahu, jangan bicara tentang hal yang belum tentu terjadi, Allah pasti punya rencana yang lebih baik, Nak."
Reza menganggukan kepala nya, meski tangis nya masih tersisa, namun dia sudah merasa lebih tenang saat ini. Ternyata benar, bicara dengan orang terdekat bisa membuat hati lebih tenang.
"Kamu harus kuat, jika kamu lemah begini lalu siapa yang akan menguatkan Renata?"
"Iya Mom, pasti Eza akan kuat." Jawabnya, dia tersenyum kecil membuat Mariska merasa lega.
"Temani istrimu, para tamu sudah pergi semua termasuk Dimas. Tadi dia buru-buru pergi dan tak sempat berpamitan sama kamu."
"Iya Mom, gapapa. Kalo gitu Eza masuk dulu ya,"
"Iya, jagain istri kamu dengan baik." Ucap Mariska, Reza mengangguk dan kembali masuk ke kamar nya.
Reza menghela nafas nya, dia berusaha menormalkan ekspresi nya agar Renata tak curiga. Dia memilih menyimpan nya sendiri, percuma saja bicara dengan Renata, dia pasti akan tetap pada keputusan nya.
"Sudah selesai, Mas?" Tanya Renata.
"Sudah sayang, para tamu sudah pulang. Kenapa bangun, Yang?"
"Kebangun Mas, pengen tidur lagi tapi sambil di peluk." Pinta Renata, Reza terkekeh dan menuruti keinginan sang istri. Dia berbaring dan memeluk pinggang ramping istrinya, tangan nya sesekali mengusap perut buncit Renata dengan lembut.
Keesokan harinya, Dimas benar-benar datang ke perusahaan milik Reza, dia ingin melihat-lihat saja dulu, sebelum benar-benar memutuskan untuk menjadi sekretaris CEO.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Reza."
"Maaf tuan, apa tuan sudah membuat janji bersama Pak Reza?" Tanya resepsionis itu, membuat Dimas sedikit gelagapan.
"Be-lum."
"Maaf, anda harus membuat janji temu terlebih dulu agar bisa bertemu dengan Pak Reza, karena dia orang penting yang sangat sibuk." Jelasnya, membuat Dimas paham. Bahwa Reza yang sekarang bukanlah orang sembarangan, bahkan sekedar ingin bertemu saja di persulit seperti ini.
"Aahh begitu ya, baiklah terimakasih." Ucap Dimas, dia memilih pergi dari perusahaan dan duduk di taman dekat kantor.
Setelah beberapa saat duduk termenung di bangku taman, akhirnya Dimas memutuskan pulang. Namun di perjalanan dia melihat seorang gadis tengah berlari dengan tunggang langgang dan tak sengaja menabrak nya dan membuatnya terjungkal.
"Maafkan saya kak, saya tak sengaja."
"Tak apa-apa, kenapa berlari?" Tanya Dimas, sambil menepuk lengan kemeja nya yang kotor terkena debu jalanan.
"Woyy.." teriak satu orang pria bertubuh tinggi besar dengan tatto yang memenuhi sebelah tangan nya. Refleks, gadis itu bersembunyi di balik punggung Dimas.
"Tolongin saya kak, orang tua saya jual saya ke orang itu, dia ingin melecehkan saya, tapi saya gak mau." Jelasnya dengan nada ketakutan, membuat Dimas iba tapi dia tak bisa apa-apa, jujur saja dia tak bisa bela diri.
"Serahin tuh cewek, gue dah beli mahal-mahal malah kabur." Sentak nya dengan garang, membuat nyali Dimas sedikit menciut.
"Manusia bukan barang dagangan lah bang, seenaknya aja jual beli." Jawab Dimas.
"Gak usah banyak omong, balikin tuh cewek sekarang juga atau enggak Lo gue habisin!" Tegasnya, Dimas menelan ludahnya dengan kasar. Baru saja dia mendingan dari kecelakaan, masa sekarang mau di habisi? Kan gak lucu, bestie.
"Habisin habisin, keknya habisin nyawa orang mudah amat ya." Balas Dimas, berusaha santai padahal hatinya sudah ketar ketir sendiri.
"Awas ya Lo, sialan!" Pria itu berjalan mendekat dan refleks Dimas berteriak meminta bantuan.
"Aaaaa tolong, pria itu ingin melecehkan saya!" Teriak Dimas membuat para pengguna jalan menoleh, tanpa ragu mereka langsung mengejar pria yang sudah berlari terbirit-birit saat melihat kumpulan orang.
"Fiuhh.." Dimas menghembuskan nafas nya lega, dia melirik ke arah gadis yang sedari tadi berada di belakang tubuhnya.
"Aduh, ngerepotin amat nih cewek." Keluh nya, dia melihat gadis itu sudah terbaring lemas, seperti nya dia tak sadarkan diri. Entah karena kelelahan atau shock mendengar teriakan nya tadi.
"Harus gue bawa kemana ini ya? Ke puskesmas aja deh, mana berat banget padahal badan nya kecil." Gumam Dimas, dia menggendong gadis itu di punggungnya, lalu menyeberangi jalan dan masuk ke puskesmas, beruntung saja tempatnya dekat, jadi dia bisa membawa gadis itu kesana.
Malam harinya, gadis itu terbangun dari pingsan nya, dia menggelengkan kepala nya menghilangkan rasa pusing. Dia melihat sekitar nya, tempat dia berbaring benar-benar asing, apa dia berhasil di bawa oleh pria itu?
"Sudah bangun? Ayo makan dulu." Ucap Dimas sambil meletakan beberapa bungkusan makanan di meja kecil.
__ADS_1
"Kok aku disini kak?"
"Ya kamu mau nya dimana? Di hotel sama om-om tadi?" Tanya Dimas membuat gadis itu mencebik.
"Tadi kamu pingsan, jadi aku bawa kesini. Ngerepotin tau gak, mana berat banget."
"Ohh, hehe maaf kalo udah ngerepotin Kakak."
"Banget, tapi gapapa. Udah, ayo makan dulu. Aku beli nasi ayam, kamu pasti laper ya kan?" Tebak Dimas, sedari tadi perut gadis itu terus saja berdemo, namun sang pemilik raga masih belum sadarkan diri juga. Jadi dia memilih pergi sebentar untuk membeli makanan.
"Makasih kak, udah nolongin aku terus ngasih aku makan enak."
"Makan enak? Cuma nasi sama ayam goreng doang."
"Aku gak pernah makan daging kak, paling sama tahu aja sama tempe, kadang gak makan seharian." Jelasnya membuat Dimas mendongak, pantas saja gadis itu nampak sangat kurus.
"Yaudah, makan yang kenyang. Aku sengaja beli tiga, biasa nya cewek kalo makan selalu dua porsi."
"Sekali lagi makasih ya kak." Dimas mengangguk, entah kenapa dia merasa penasaran dengan gadis kecil di depan nya, dia makan dengan lahap seolah tak makan berhari-hari.
"Nama aku Dimas, kamu?"
"Avelinna, panggil aja Elin." Jawab nya, dia tersenyum hingga mata nya menyipit. Senyuman yang sangat manis, hingga mampu membuat hati Dimas berdebar.
"Btw, kenapa kamu bisa di jual? Apa kamu nakal, atau punya masalah hutang?" Gadis itu nampak menggeleng, dia menunduk sambil melanjutkan makan nya.
"Ibu tiri aku yang jual aku sama om-om tadi."
"Hah, apa? Kok tega, terus ayah kamu kemana?" Tanya Dimas.
"Ayah aku udah gak ada, beliau meninggal 3 bulan yang lalu, dan sejak itu penderitaan aku dimulai kak." Jelas Elin, membuat Dimas hanya bisa terdiam menyimak cerita Elin.
Miris, itulah satu kata yang mampu menggambarkan kehidupan seorang Avelinna.
Dia di paksa bekerja dan kalau saja pulang tak membawa uang maka dia akan mendapat penyiksaan, bahkan Dimas bisa melihat di tangan, dagu, pipi dan kaki gadis itu penuh dengan luka lebam, bahkan di beberapa bagian terlihat seperti bekas rokok.
"Aaahh aku terlalu banyak bicara kak, maaf kalau membuat kakak tak nyaman."
"Tak apa-apa, setelah ini kamu mau kemana?" Tanya Dimas.
"Gak tau, Elin gak punya tujuan. Kalau pun Elin pulang, yang ada sama aja menghantarkan nyawa dan Elin belum mau mati. Masih ada beberapa hal yang harus Elin capai sebelum pergi." Jelasnya dengan sendu, membuat hati Dimas terenyuh.
"Ikut bersamaku, aku akan menjagamu gadis kecil."
Avelinna mendongak menatap wajah Dimas, dia menatap sendu wajah tampan itu dan sedetik kemudian dia menggeleng.
"Aku gak mau menyeret kakak dalam masalah aku, terimakasih sudah menolong aku, kedepan nya semoga kita di pertemukan dengan keadaan yang sudah lebih baik."
"Jangan keras kepala dan menurut lah, kau bisa membantu ibuku di butik." Ucap Dimas.
"Apa itu tidak masalah? Aku tak ingin menjadi beban untuk siapapun, apalagi kakak adalah orang asing."
"Tentu tidak, Elin. Besok, ikut pulang bersamaku. Biar aku yang menjelaskan semua nya pada Mami, kau hanya perlu ikut denganku saja." Jelas Dimas.
"Baiklah Kak, terimakasih." Dimas tersenyum mendengar jawaban Avelinna, keduanya pun kembali melanjutkan acara makan malam mereka. Sesekali terdengar obrolan yang membuat Avelinna merasa langsung akrab dengan orang asing yang baru saja menyelamatkan hidupnya.
Beruntunglah dia bertemu pria ini di jalan tadi, kalau tidak entah seperti apa nasibnya saat ini.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
jangan lupa mampir ke karya author yang baru yaaw☺️
__ADS_1