
"Kenyang banget, Za." Renata mengusap-usap perut nya yang terasa kembung hampir meledak saking kenyang nya.
"Allhamdulilah cantik."
"Ehh iya, lupa Za." Ucap Renata sambil cengengesan.
"Sayang, ini Mommy bawain kamu pembalut, kamu pasti nifas setelah keguguran kan?" Tanya Mommy Mariska yang baru saja datang. Tadi dia dan Argantara keluar sebentar entah kemana.
"Makasih Mom, Mommy baik banget." Renata mengambil tas kain dari tangan Mariska dengan sopan.
"Sama-sama Sayang, Mommy sama Papi mau pulang dulu, disini ada Reza yang jagain kamu."
"Iya Mom, makasih udah izinin Eza buat jaga Rere disini. Padahal Rere udah banyak kecewain Eza." Ucap Renata pelan.
"Kok ngomong nya gitu, aku gak suka ya kamu bicara kek gitu. Yang udah berlalu biarin aja, gak usah di ungkit lagi. Aku udah lupain semua nya, kita mulai semua nya dari awal, anggap aja gak pernah terjadi apa-apa ya." Sewot Reza panjang lebar, membuat Mariska tersenyum.
"Tuh, dengerin kata Reza. Dia benar, Sayang."
"Sekali lagi makasih ya, Mom." Ucap Renata, Mariska tersenyum lalu mengusap puncak kepala Renata.
"Mommy pulang dulu ya, kalau ada apa-apa telepon Mommy atau Papi."
"Siap Mom, Rere aman sama Eza kok." Jawab Reza sambil mengacungkan jempol nya ke arah mommy nya, lengkap dengan cengiran kuda nya.
Kedua orang tua nya pun pergi, mereka merasa lega kalau Renata baik-baik saja. Hanya sedikit konflik batin mungkin, karena baru saja kehilangan janin yang baru saja menghuni rahim nya selama 4 bulan.
Reza duduk di kursi samping brankar, dia menggenggam tangan Renata dan mengusap-usap punggung tangan nya dengan lembut.
"Kenapa natap aku kek gitu sih, Za?" Tanya Renata, dia merasa malu saat Reza menatap nya nyaris tak berkedip.
"Kamu cantik, sempurna sekali ciptaan Tuhan." Jawabnya, membuat wajah Renata bersemu kemerahan.
__ADS_1
"Gombal, dasar komodo."
"Komodo kan teman baikku, kata iklan juga. Tapi sayang nya, sekarang aku gak mau cuma jadi teman baik doang." Cetus Reza.
"A-aku gak bisa, Eza."
"Kenapa? Apa kamu masih mau berjuang sama pernikahan kamu?" Tanya Reza, namun Renata menggelengkan kepala nya.
"Enggak, aku capek Za. Aku udah mutusin buat nyerah aja, percuma sampai kapanpun rasanya Dimas gak bakal bisa cinta sama aku."
"Terus?" Tanya Reza lagi, dia menuntut jawaban dari Renata.
"Ya karena aku masih punya suami, lagipun setelah cerai aku harus lewatin masa Iddah selama tiga bulan."
"Seperti janji aku, aku bakalan nunggu kamu, sampai kapanpun." Jawab Reza tanpa ragu.
"Eza, kamu bisa cari wanita lain yang lebih baik dari aku ya."
"Enggak bisa gitu dong, Yang. Aku cinta sama kamu udah lama dan rasa itu masih sama sampai sekarang. Aku gak peduli, apapun status kamu aku terima." Tegas Reza, membuat Renata bungkam.
"Setiap orang tua pasti akan mengutamakan kebahagiaan anak nya terlebih dulu, begitu juga orang tua aku." Jawab Reza sambil tersenyum.
"Aku butuh waktu, Eza. Seenggaknya setelah aku resmi cerai dari Dimas."
"Aku siap kapanpun, asal itu sama kamu."
"Siap apa nya?" Tanya Renata. Reza tersenyum lalu mencium singkat punggung tangan Renata.
"Nikahin kamu dong." Jawab Reza, membuat Renata terkekeh.
"Kamu ini ada-ada aja. Pernikahan itu bukan hal main-main, Za. Tadinya aku mau menikah satu kali seumur hidup, tapi aku juga gak sanggup kalo begini terus, yang ada makan ati setiap hari."
__ADS_1
"Gak bosen makan ati tiap hari ya? Lain kali sama ampela nya, Yang." Goda Reza membuat Renata kembali terkekeh.
"Jangan bikin ketawa mulu, perut aku masih sakit kalo ketawa."
"Tapi kamu cantik kalo ketawa, Yang." Ucap Reza membuat Renata langsung terdiam.
"Yaudah, sekarang kamu tidur aja ya? Udah malem juga. Biar cepet sembuh, aku disini gak bakal kemana-mana, kecuali ke kamar mandi."
Renata mengangguk, memang dia sudah cukup mengantuk, mungkin karena efek kekenyangan dan obat yang tadi di suntikan oleh perawat ke dalam infusan.
Setelah Renata tertidur, Reza bangkit dan berjalan sedikit menjauh dari brankar Renata. Dia ingin menanyakan perkembangan kasus kecelakaan beberapa hari yang lalu.
Tentunya Reza takkan membiarkan pelaku dan dalang nya bebas begitu saja setelah membuat perempuan yang dia cintai hampir saja kehilangan nyawa nya, meski begitu Renata harus mengikhlaskan kepergian janin yang sedang di kandung nya.
'Hallo, kenapa bos?'
"Udah ada perkembangan kasus nya?" Tanya Reza to the point.
'Masih gue dalami apa motif nya, tapi orang nya gue udah yakin. Dalam waktu 24 jam gue bawa dia ke hadapan Lo, Za.' jawab nya.
"Bagus, gue tunggu kabar baik nya. Kerja yang bener Lo, kalau sampe gak bener gue pecat Lo." Ancam Reza, namun orang di seberang telepon itu malah terkekeh.
'Sadis bener, gak usah main ancem lah. Gue kerja bener kok, yaudah gue lagi sama temen gue buat ngeretas CCTV.'
"Oke, gue tunggu secepatnya."
Panggilan pun terputus, Reza tersenyum menyeringai. Meskipun dia sudah mencurigai seseorang yang paling memungkinkan untuk menjadi dalang dari semua ini, tapi tak ada nya bukti membuat Reza tak bisa langsung menuduh atau bahkan memberikan pelajaran pada pelaku.
"Greget amat, tangan gue gatel banget pengen nonjok tuh orang. Gue gak peduli mau Lo cewek atau cowok, berani nyentuh cewek gue, mati Lo!" Gumam Reza sambil mengepalkan tangan nya.
.....
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷
sama Za, gue juga greget pengen buru-buru hancurin si Dimas sama Sila, tapi sabar aja dulu yeekan, biar readers nya penasaran😂