Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 43 IRS


__ADS_3

Mas, nanti siang aku izin ya." Ucap Renata. 


"Izin kemana?" Tanya Dimas di sela makan nya. 


"Aku masih punya tanggung jawab di cafe bintang purnama, aku kan kerja paruh waktu disana." Jawab Renata setelah menelan makanan nya. 


"Kamu harus kuliah, Sayang." 


"Iya, paman sama bibi aku udah gak mungkin biayain aku setelah pernikahan kita, jadi aku akan kerja buat biayain kuliah aku sendiri. Kalau sekiranya aku udah gak mampu, yaudah aku udah aja kuliah nya." Jelas Renata membuat hati Dimas tercubit. 


"Kamu fokus aja sama pendidikan kamu, Yang. Buat paman sama bibi kamu bangga, gak usah mikirin biaya nya, biar aku yang kerja." 


"Tapi Mas, gak usahlah begitu. Kita kuliah bareng-bareng aja." Usul Renata. 


"Yang, hidup kita berbeda sekarang. Kita sudah menikah dan aku sebagai suami punya kewajiban untuk ngasih kamu nafkah, nafkah lahir atau batin. Jadi, kamu lanjutin kuliah kamu, aku yang berhenti." 


"Mas.." 


"Udah, gak usah natap aku kek gitu. Lucu tau gak, mata nya mengembun gitu." Ucap Dimas sambil terkekeh. 


"Apa Mami bakal setuju?" 


"Setuju dong, Sayang. Dia pasti bakal seneng kalau putra nya yang manja ini sudah dewasa, punya pemikiran sendiri tentang hidup mandiri dan cara nya bertanggung jawab." Jelas Dimas. 


"Aku minta maaf.." 


"Maaf? Maaf untuk apa?" Tanya Dimas dengan kening yang berkerut. 


"Ya karena kamu nikah sama aku, kamu harus gini, gak bisa bebas main juga karena harus kerja." 


"Pernikahan kita bukan kesalahan, kalau pun aku putus kuliah karena harus fokus kerja buat nafkahin kamu ya itu karena aku punya kewajiban dan aku punya tanggung jawab, Sayang. Udah gak usah banyak pikiran, setelah sarapan aku anter kamu ke kampus." 


"Kamu gimana?" Tanya Renata. 


"Mau nyari kerjaan, nyebar lamaran kerja, kali aja ada yang masih butuh karyawan lulusan SMA." Jawab Dimas sambil tersenyum. 


"Kenapa gak minta bantuan sama Mami?" 


"Paling nanti aja aku bilang nya, sekalian ke rumah ngambil baju." Renata hanya manggut-manggut sebagai pertanda kalau dia mengerti apa yang di ucapkan Dimas. 

__ADS_1


Keduanya pun berangkat menggunakan motor sport milik Dimas, seperti rencana awal dia mengantarkan Renata ke kampus. 


Renata turun dari motor, dia menyalim tangan Dimas dengan takzim, begitu juga Dimas yang mengecup singkat kening istrinya. 


"Kuliah yang rajin ya? Aku juga bakal bekerja keras buat biaya kamu kuliah." 


"Iya Mas, hati-hati ya semoga cepat dapet kerjaan." 


"Iya, udah sana masuk nanti telat di marahin dosen, kamu kan paling anti di marahin dosen." 


"Iya iya, hati-hati." 


"Isshh bawel nya." Renata terkekeh lalu pergi masuk ke kampus dengan menenteng buku di tangan nya. 


Dimas menatap bangunan megah tempat dia menimba ilmu selama 3 tahun ini, sayang sekali harus berhenti karena dia punya tanggung jawab untuk menafkahi istrinya, padahal wisuda sudah di depan mata.


"Semangat Dimas, kamu pasti bisa!" Ucap Dimas menyemangati dirinya sendiri. 


Pria itu kembali melajukan motor nya menjauhi kawasan kampus, tujuan nya saat ini adalah butik milik Mami nya. 


Renata masuk ke kelas, dia duduk di kursi biasa. Namun perasaan aneh hinggap di hatinya, dia melirik ke arah samping. Dimana biasanya Reza duduk, namun sekarang pria itu tak ada. Entah bagaimana keadaan nya sekarang. 


"Eza, Lo baik-baik aja kan disana? Huh, semoga aja cita-cita Lo cepet tergapai disana." Gumam Renata, lalu dia kembali fokus membaca buku. 


Renata melirik wanita itu, lalu sedetik kemudian memutar mata nya jengah. Entah apa yang di inginkan wanita itu darinya, tapi yang jelas dia muak melihat nya. 


"Re, selamat atas pernikahan Lo." 


"Makasih Sil, itu semua terjadi juga berkat Lo kok." Jawab Renata sinis. 


"Ya bagus lah, berarti secara langsung Lo bilang kalo gue yang udah bikin Dimas nikahin Lo ya?" 


"Mungkin iya, mungkin juga enggak." Jawab Renata, tanpa menatap lawan bicara nya. 


"Selamat ya, Lo dapet bekas gue." Sila tersenyum penuh kepuasan, apalagi saat melihat Renata dengan raut wajah terkejut. 


"Bekas?" 


"Iya, bekas dong. Gue sama Dimas sering ngelakuin itu sebelum dia nikah sama Lo." 

__ADS_1


"Cckkk.." Renata berdecak, lalu kembali menatap wajah Sila yang sangat menyebalkan itu. 


"Denger ya Neng Sila yang cantik dan bahenol 'mantan nya Dimas', perasaan batang laki itu gak ada bekas nya, soalnya bentukan nya tetep sama, lah kalo cewek?" Tanya Renata, dia sengaja menekankan kata mantan nya Dimas dengan tujuan agar perempuan itu sadar diri, namun seperti nya wanita itu sudah kebal.


"Mau segelan atau bekasan gak ngaruh, selama goyangan nya mantap." 


"Menurut gue sih ya, wajar aja kalo yang segel goyang nya gak hot, soalnya baru pertama kali, baru belajar. Kalo yang goyang nya hot kayak yang Lo bilang tadi, udah pasti profesional dong, pasti sering di nyervis batang? Ya kan?" Telak Renata membuat Sila mengepalkan kedua tangan nya. 


"Jadi maksud Lo gue udah sering nyervis gitu?" 


"Gue gak nuduh Lo sih, tapi kalo Lo nya merasa ya gapapa." Jawab Renata dengan senyum kecil yang membuat Sila semakin mengeratkan kepalan tangan nya. 


"Apa Lo bisa puasin Dimas, seperti gue puasin dia? Gua gak yakin Lo bisa sih." Cibir Sila, kembali memancing Renata. 


"Gue bisa belajar cara puasin suami gue sendiri langsung dari ahli nya, jadi Lo gak usah bangga-banggain kemampuan Lo depan gua, gak ngaruh Sil." 


"Cihh, Lo lihat aja nanti. Gua pasti bisa bikin Dimas berpaling dari Lo, dan dia bakal balik lagi ke gua!" 


"Silahkan, gue gak takut." Jawab Renata, tanpa ragu sedikitpun. 


Sila pergi dengan membawa hati yang terbakar, bicara dengan Renata memang bukan lawan nya, karena perempuan itu jago membalikan kata dan membuat lawan bicara nya terpojok secara langsung. 


Di apartemen, seorang pria terduduk di sofa dengan kaki yang dia angkat sebelah. Mata nya menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Amerika. 


Dialah Reza Argantara, pria tampan berusia 24 tahun. Teman sekaligus sahabat Renata dan Dimas, namun dia terpaksa harus pergi karena patah hati saat melihat gadis pujaan nya menikah dengan pria lain. 


"Tuan Muda, ini poto-poto yang anda minta." 


"Ohh ya, terimakasih Albert." Pria bernama Albert itu pun segera pergi setelah memberikan amplop coklat berisi poto-poto yang di minta nya tadi pagi. 


Reza membuka nya, dia melihat Renata dan Reza yang jalan-jalan di mall bersama Mami Erika, Poto tadi pagi saat pria itu mengantar Renata ke kampus, dan kecupan di kening yang membuat hati Reza terasa sesak. 


"Harusnya aku tak perlu melakukan hal konyol seperti ini, percuma saja poto-poto ini malah membuat hati ku bertambah sakit." Gumam Reza, namun saat dia melihat slide Poto terakhir, dia tersenyum. 


"Cantik, namun kamu bukan untukku!" Ucapnya, dia mengusap Poto itu dengan perasaan berkecamuk. Apakah benar dia dan Renata tidak di takdirkan berjodoh? Hanya sekedar berteman tanpa memiliki?


.....


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


sabar bang Eza, nanti ada saat nya kamu bahagia juga😅



__ADS_2