Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 116 IRS


__ADS_3

Di rumah sakit, keadaan Sila semakin memburuk. Kini di tubuhnya hanya tinggal tulang berbalut kulit, tak ada tubuh yang montok seperti dulu. Makan dan minum pun hanya melalui selang, karena perawat maupun dokter tak ada yang mau mengambil resiko tertular penyakit menular itu.


Hari ini, dia meminta secara khusus pada dokter dan perawat, dia ingin merekam sebuah pesan untuk orang-orang yang pernah dia sakiti. 


Dia memaksakan diri untuk bangun dan bersandar di brankar rumah sakit.


"Sudah siap dok?" Tanya Sila, dokter itu mengangguk lalu keluar. Dia akan memanggil dokter itu kembali jika rekaman nya sudah selesai.


Dokter itu menyalakan kamera tepat di depan Sila. 


"Hai Renata, ini aku Sila. Aku minta maaf karena sudah sangat menyakiti mu, aku yang sudah membuat Dimas menyakiti mu. Aku tahu, mungkin kejahatan ku ini terlalu berat untuk di maafkan. Tapi, aku hanya ingin saat aku pergi, aku merasa lega dan tak punya beban apapun di dunia ini."


"Re, kamu ingat gadis kecil di rumah sakit saat ayahmu kecelakaan? Itu aku, aku adalah kakak tirimu. Maaf karena aku di butakan dendam, tapi sekarang aku sadar bahwa kau dan aku tak bersalah apa-apa dalam hal ini. Begitu juga ibumu, aku tahu kesadaran ku saat ini sudah terlambat."


Sila menghela nafas nya dengan berat. Lalu kembali tersenyum, senyuman yang sangat di paksakan. 


"Aku tak tahu harus memulai semua nya dari mana, tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa aku iri padamu. Kamu mendapatkan limpahan kasih sayang dari ayah, sedangkan aku tidak. Disitulah awal terbentuk nya rasa benci, dan setelah ayah meninggal, ibuku mengalami depresi parah hingga akhirnya meninggalkan aku sendirian, benar-benar sendirian."


"Dendam itu semakin tumbuh saat aku melihat mu hidup dengan tenang, bahkan mendapat banyak cinta dari banyak orang. Aku iri padamu, karena aku tak mendapatkan itu semua dari siapapun. Aku minta maaf, entah berapa ribu kali aku harus mengatakan nya agar kamu bisa memaafkan aku."


"Aku sangat berharap kamu bahagia sama suami mu sekarang, aku harap kamu takkan menjatuhkan setetes air mata pun jika sudah waktunya aku pergi meninggalkan dunia ini. Maaf, aku sudah tak sanggup menghadapi rasa sakit yang setiap hari menggerogoti tubuhku hingga seperti ini."


"Untuk Reza, aku minta maaf sudah menyakiti istrimu. Aku berharap kamu akan membahagiakan dia seumur hidup mu, aku menitipkan adik yang sudah aku sia-siakan padamu."


"Dimas, aahh ya Dimas. Tolong sampaikan permintaan maaf ku padanya, aku sangat menyakiti nya dan aku mengorbankan nya karena ambisi ku untuk menghancurkan adik ku sendiri, tapi sekarang malah aku yang hancur, sehancur hancur nya."


"Terimakasih jika kalian sudah memaafkan aku, mungkin besok atau lusa aku bisa pergi dengan tenang. Aku tak menyalahkan keadaan, semua ini karma atas perbuatan ku di masa lalu. Sekali lagi maafkan aku, adik ku." Ucap Sila, dia memanggil dokter dan dokter itu langsung datang untuk mengambil rekaman itu. 


"Kami akan memberikan rekaman ini pada keluarga Argantara sekarang juga."


"Terimakasih atas bantuan nya dok, aku berhutang budi padamu, semoga kebaikan mu di balas berkali-kali lipat."


"Sama-sama, sesama manusia memang harus saling menolong. Saya permisi dulu, selamat beristirahat." Ucap dokter itu, lalu keluar dari ruangan pengap itu dan menutup pintu dengan perlahan.


Sila menatap kosong ruangan di depan nya, lalu tak terasa air mata nya menetes begitu saja. 


"Huftt, sudah sangat terlambat untuk menyesal." Gumam nya, lalu kembali membaringkan tubuhnya, dan memejamkan mata nya.


Sedangkan rekaman itu, saat ini sudah sampai di kediaman keluarga Argantara. Kebetulan, Reza sendiri yang langsung menerima nya. 


"Sayang.." panggil Reza, dan Renata langsung keluar dari kamar. 


"Iya Mas, kenapa?" Tanya Renata.


"Ini ada paket dari rumah sakit, katanya sih buat kamu." 


Renata mendekat ke arah sang suami, membuat pria itu melotot dan sedetik kemudian dia tersenyum nakal.


"Mau itu." Tunjuk Reza ke arah dada sang istri. Renata membulatkan mata nya, baru saja dia habis menyusui kedua buah hati nya, tapi malah lupa mengancingkan kembali blouse nya.


"Iya, nanti ya Mas. Sekarang aku mau lihat paket nya dulu, kamu mandi ya."


"Oke istri cantik ku." Jawab Reza, dia mencuri satu ciuman di pipi istrinya lalu pergi ke kamar nya dengan langkah riang karena akan dapat jatah susu nanti malam. 


Renata duduk di sofa, sambil membuka bungkusan paket itu. Dia melihat satu buah Compact disc, dengan sebuah catatan harus di lihat saat ini juga. 


Renata memasukan nya ke dalam pemutar kaset dan melihat apa kira-kira isi dari kaset itu. Namun sedetik kemudian dia terkejut saat melihat siapa yang tersenyum dan melambaikan tangan nya ke arah kamera.

__ADS_1


"Hai Renata.." sapa nya dengan senyuman manis. 


"S-sila.." gumam Renata, tak lama kemudian Reza turun dan ikut duduk di samping istrinya.


"Lho, itu kan Sila ya? Secepat itu tubuhnya kurus karena penyakit itu ya." 


"I-iya Mas." Jawab Renata. 


Keduanya melihat rekaman itu dengan fokus, beberapa kali Reza mengepalkan tangan nya saat Sila mengucap kata maaf yang pasti di tujukan pada Istrinya. Namun Renata melihat rekaman itu dengan ekspresi tenang. Berbeda dengan suaminya yang sudah menahan emosi. 


Kedua mata wanita itu membulat saat Sila mengatakan bahwa dia adalah kakak tirinya, kakak yang selama ini Renata cari keberadaan nya ternyata adalah orang yang selama ini sangat menyakiti nya. 


Bahkan rela melakukan apa saja demi bisa menyakitinya, dia yang membayar orang untuk mendorong nya dari tangga dengan ketinggian lebih dari sepuluh meter, hingga membuatnya harus kehilangan janin nya. 


Tak terasa, air mata Renata luruh seketika. Begitu juga Sila, dia tak kuasa menahan air mata nya saat mengatakan beberapa kejahatan yang sudah dia perbuat di masa lalu.


"Kak Sisil.." gumam Renata lirih, lalu menutup wajah nya dengan kedua tangan nya, membuat suami nya langsung merengkuh kepala sang istri, menyembunyikan nya di antara ceruk lehernya.


"Sabar ya sayang, kamu harus kuat." Ucap Reza. 


"Kenapa aku harus mengetahui fakta ini setelah dia sakit parah, Mas? Aku bahkan tak bisa menolong nya, aku tak bisa berbuat apapun untuknya Mas." 


"Sudah sudah, ini bukan kesalahan mu sayang."


"Tapi, dia begitu karena merasa ayah tak adil padanya Mas. Andai saja ayah tak menikah dengan Mama, pasti semua nya gak akan seperti ini." Ucap Renata sambil terisak, membuat Mariska dan Argan yang baru saja keluar dari kamar nya kompak mengernyitkan dahi mereka keheranan, kenapa dengan Renata?


"Semua nya sudah terjadi, sayang. Tak baik menyesali sesuatu yang sudah terjadi ya." Reza mengusap lembut kepala belakang istrinya.


"Renata kenapa? Kok dia menangis?"


"Karena rekaman ini, Mom." Jawab Reza sambil menunjukan televisi yang masih menayangkan Sila yang masih bicara. 


"Tanpa kau minta pun, aku pasti akan memberikan kebahagiaan pada istriku, aku takkan pernah menyakiti nya apapun yang terjadi aku takkan pernah meninggalkan nya, kecuali maut." Jawab Reza.


"Adik? Apa maksudnya ini?" Tanya Argan.


"Sila itu ternyata kakak tirinya Renata yang selama ini kita cari, Pih." 


Argan membulatkan mata nya, kenapa takdir serumit ini? Argan mengerahkan anak buah nya untuk mencari keberadaan kakak tiri sang menantu, padahal dia berada di dekat nya, bahkan dia sendiri yang menjebloskan nya ke penjara. 


Mau di cari ke ujung dunia pun takkan pernah ketemu, karena dia ada disini dan sungguh di sayangkan, dia adalah gadis yang sudah menyakiti Renata dengan cara yang paling menyakitkan. 


Tringg…


Ponsel Reza berdering, dia mengambil ponsel nya di meja dan mengangkat panggilan yang ternyata dari rumah sakit. 


"Hallo.."


"Dengan tuan Reza Argantara?"


"Ya, saya sendiri. Ada apa ya?" 


"Kami dokter dari rumah sakit xxx menyatakan bahwa pasien atas nama Sila Derkain telah meninggal dunia tepat pukul 6 sore." Jelas nya membuat Reza shock. 


Dia sedang melihat wanita itu di televisi, rekaman yang di kirimkan dari rumah sakit, bahkan rekaman itu belum selesai, tapi sekarang dia mendapat kabar bahwa wanita sudah meninggal? 


"I-ini serius dok?"

__ADS_1


"Tentu saja tuan, kami tidak pernah main-main dengan nyawa pasien." Jawab Dokter itu. 


"Baiklah, saya dan keluarga akan kesana secepatnya. Tolong di urus dengan layak ya dok,"


"Baik tuan." Jawabnya, Reza pun mematikan sambungan telepon nya dan meletakan kembali ponsel nya di meja.


"Kenapa Mas?" Tanya Renata dengan menatap sang suami lekat-lekat.


"Maaf sayang, aku tahu ini pasti akan sangat menyakitkan, tapi aku harus memberitahu mu."


"Iya, kenapa Mas? Perasaan ku tiba-tiba saja tak enak, Mas." 


"Sila, eemm kakak tirimu meninggal dunia, sayang." Jawab Reza membuat Renata terkejut. 


"A-apa? Gak mungkin dong mas, ini rekaman nya aja belum selesai kita tonton lho."


"Tapi aku serius sayang." Reza menangkup wajah istrinya lalu kembali menyurukkan wajah nya di pelukan nya, membuat Renata menangis sejadi nya. 


Dia belum punya banyak moment bersama Sila, tapi sekarang dia malah pergi meninggalkan dunia dengan membawa rasa sesal karena dia tak bisa mengatakan bahwa dia sudah memaafkan semua kesalahan nya secara langsung.


"Sayang, kamu harus kuat." 


"Aku ingin kesana Mas, aku ingin melihat Kak Sisil untuk yang terakhir." Pinta Renata, Reza tentu saja akan mengabulkan keinginan istrinya. 


Pasangan itu pun pergi dengan mobilnya, Reza mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beberapa kali dia melirik sang istri yang duduk di sampingnya, tapi wanita nya tak menunjukkan reaksi apapun kecuali menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


Bahkan hingga ke rumah sakit pun Renata hanya diam, tanpa bicara sepatah kata pun. Jelas saja itu membuat Reza khawatir.


"Sayang, bicaralah. Jangan diam seperti ini, kamu membuat aku khawatir."


"Biarkan aku sendirian dulu, Mas." Pinta Renata, saat ini keduanya sudah pulang kembali ke rumah. Karena ternyata jenazah nya tak bisa di lihat sembarang orang karena masalah penyakitnya yang bisa menular meskipun orangnya sudah tiada. 


Renata tidur di kamar anak-anak nya, sedangkan Reza tidur di kamar biasanya, di lantai atas. 


Pagi harinya, Renata bersiap karena dia akan menghadiri pemakaman saudara tiri nya, tentunya bersama Reza dan kedua mertuanya. Sedangkan Karina memilih untuk tetap di rumah bersama kedua nanny yang menjaga keponakan nya.


Mereka pergi ke pemakaman dengan satu mobil, tak lama setelah mereka sampai di pemakaman, mobil ambulan yang membawa jenazah Sila juga datang. Petugas langsung membawa peti jenazah itu dan di biarkan terlebih dulu.


"Saya mohon, bisakah saya melihat wajah kakak saya untuk yang terakhir kali?" Pinta Renata lagi.


"Baiklah Nona, tapi hanya melihat tanpa menyentuh." Jawab petugas medis itu. Renata mengangguk, kemudian mereka membuka peti itu. Membuka sedikit kain kafan yang menutup wajah Sila. 


Renata kembali menangis saat melihat keadaan kakaknya, hingga dia limbung karena lututnya lemas, tak mampu menahan tubuhnya, beruntung saja Reza dengan sigap langsung menahan tubuh istrinya.


"Kak Sisil, maafin aku kak. Aku sudah merebut kebahagiaan kakak, aku percaya kakak orang yang baik. Beristirahatlah dengan tenang kak, aku sudah memaafkan semua kesalahan kakak."


"Aku juga sudah bersama laki-laki yang tepat, tak usah khawatir. Jika nanti disana kakak ketemu Ayah, bilangin sama ayah Aku baik-baik saja ya. Selamat jalan, kak." Ucap Renata lirih. 


Reza membopong tubuh istrinya agar kembali berdiri, dia menyaksikan saat peti itu di masukan ke dalam liang lahat dan mulai di timbun tanah.


Angin berhembus kencang, menerbangkan sebagian rambut Renata. Dia menatap lurus dan kosong, masih terekam jelas dalam ingatan nya saat dia pertama kali bertemu dengan Sila di rumah sakit, lalu di kampus. 


Siapa yang menyangka bahwa kakak nya sendiri berniat menghancurkan hidup adiknya sendiri? Tapi sudahlah, semua nya sudah terjadi dan saat ini kakak nya sudah pergi ke alam baru dengan tenang. Semoga tak ada lagi penyesalan yang dia bawa. 


.......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


bab ini mengandung bawang😭🤧


__ADS_2