Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 31 IRS


__ADS_3

Dimas melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, jiwa pembalap nya tiba-tiba saja muncul. Dengan lincah motor yang dia kendarai menyalip kendaraan lain, tak jarang dia mendapat teriakan dan umpatan kekesalan dari pengendara lain yang dia salip, namun dia tak menghiraukan nya. 


Otak dan akal sehat nya mendadak tak berfungsi, karena sakit hati membuat nya kehilangan akal dan tak memikirkan akibat dari perbuatan nya saat ini. 


Tujuan nya saat ini adalah kost an Renata, mau bagaimana pun gadis itu adalah tempat ternyaman bagi Dimas mengeluhkan semua masalah nya.


Hanya butuh beberapa menit saja untuk Dimas sampai di depan kost an Renata, dia mengetuk pintu kost an itu dengan perlahan.


"Ya, tunggu sebentar!" Teriak dari dalam, namun suara nya tetap lembut seperti biasanya. Mendengar suara nya saja membuat tubuh Dimas menegang, sejak berhubungan dengan Sila, batang di sakti nya menjadi lebih sensitif dan seringkali terbangun tanpa di minta. 


Ceklek..


Pintu terbuka, Renata mematung saat melihat siapa yang sudah berdiri di depan pintu. Sosok pria yang sangat dia rindukan kini berada di depan nya, tersenyum padanya. Namun raut wajah nya terlihat sendu.


"Hai Re, apa kabar? Di tinggal seminggu, kok Lu malah keliatan makin cantik aja sih?" 


"E-eh Dim, ayo masuk." Ajak Renata, Dimas kembali tersenyum lalu mengangguk, dia mengacak rambut Renata dan berjalan masuk. 


Renata mengekor di belakang Dimas, tentunya setelah menutup pintu. Pria itu duduk di sofa seperti biasa, Renata juga duduk berhadapan dengan nya. 


"Ini oleh-oleh dari Mami." 


"Makasih, Dim. Harusnya Mami gak usah repot-repot bawain gue oleh-oleh." 


"Ya gapapa, itu cuma hadiah kecil aja buat Lo." Ucap Dimas. 


"Katanya nanti malem Lo kesini, tapi jam segini udah disini, kenapa? Gak mampir ke rumah Sisil dulu?" Tanya Renata, dia tidak tahu menahu tentang masalah yang saat ini di alami Dimas. 


"Udah, tapi aahh mengecewakan Re." 


"Maksudnya? Mengecewakan gimana, Dim?" Tanya Renata lagi.


"Sebelum kesini gua udah ke apartemen dia dulu." 


Renata tersadar, dia bukan prioritas lagi bagi Dimas, posisi nya ada di belakang setelah Sila. Sila adalah nomor satu bagi Dimas, itu membuat hati nya lagi-lagi terasa sesak. 


"Tadinya gua mau ngasih dia kejutan, gue sengaja gak ngasih tahu dia dulu, tapi yang gua liat beneran bikin gue ngambil keputusan besar, Re." 


"Tunggu, keputusan besar? Apa sih Dim?" Tanya Renata lagi. 


"Gua udah putusin Sila, Re." 


Deg.. 

__ADS_1


Entah harus menunjukan ekspresi seperti apa Renata saat ini, sedih kah atau malah bahagia?


"Alasan nya? Gak mungkin kan kalian putus tanpa alasan?" 


"Gue mergokin dia lagi gituan sama cowok lain, Re. Sumpah demi apapun, hati gue sakit banget." Jelas Dimas, membuat Renata mengepalkan kedua tangannya. Namun dia tak berani menunjukan nya di depan Dimas.


'Sialan Lo Sil, mati-matian gue nyoba relain Dimas buat Lo, tapi Lo malah gak tau diri dan nyia-nyiain Dimas!' Batin Renata. 


"Ini serius Dim?"


"Serius, gua liat dengan mata gue Re, ya masa gue becanda." Jawab Dimas. Renata menatap pria itu dengan nanar, sebegitu cinta nya kah Dimas pada Sila hingga membuat nya murung seperti ini?


"Lo butuh sandaran? Sini, bahu gue ada buat Lo." Tawar Renata, dia tak tahan saat melihat Dimas begini. 


Dimas mendongak, lalu sedetik kemudian dia bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah Renata dan menghambur memeluk gadis itu, menangis sejadinya di pelukan Renata. 


Renata merasakan hatinya sakit saat melihat pria yang teramat dia cintai merasakan hal seperti ini, namun dia tak bisa membantu apapun karena ini masalah hati, dia hanya bisa diam, dan membiarkan Dimas menangis sampai dia tenang dulu. 


"Gua gak nyangka Sila sejahat itu, Re. Sakit banget hati gue liat dia lagi gituan sama cowok Laen."


Renata diam tak menanggapi apapun, dia hanya mengusap kepala dan punggung Dimas dengan lembut, menunggu hingga tangis pria itu reda. 


Ini pertama kali nya dia melihat Dimas menangis sepilu ini, padahal bukan hanya sehari atau dua hari dia mengenal Dimas. Tapi bertahun-tahun sudah dia berteman dengan Dimas. 


"Gue cuma gak nyangka aja Sila ternyata begitu, gua bener-bener gak nyangka cewek yang selama ini gue cinta, gue perjuangin sampe rela nentang orang tua gue kek gini, sakit banget!" Jawab Dimas.


'Andai aja Lo ngeliat gue yang selalu ada buat Lo, Dim!' batin Renata.


"Kuat ya, Dim?"


"Makasih Re, makasih udah mau Nerima gue disaat kayak gini." 


"Sama-sama, mau makan gak? Gue udah masakin makanan kesukaan Lo." Tawar Renata, Dimas memang selalu menyukai apapun masakan Renata. 


Dimas mengangguk, entah kenapa mendengar Renata sudah memasak membuat perut nya lapar. Renata pun dengan senang hati menyajikan makanan buatan nya, dia tersenyum saat melihat Dimas makan dengan lahap. 


"Lo udah makan?" 


"Belom laper, gue nanti aja." Jawab Renata, namun sedetik kemudian dia di buat terdiam seketika saat melihat sendok berisi nasi dan lauk nya di depan mulut. 


"Makan bareng gue, Re. Gue kangen kebersamaan kita." 


Renata pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Dimas, akhirnya kedua remaja itu makan satu piring yang sama dan sendok yang sama pula. 

__ADS_1


Setelah kenyang, Dimas memutuskan untuk pulang. 


"Gue pulang dulu ya, Re." 


"Lo baik-baik aja kan, Dim? Disini aja dulu sebelum hati Lo tenang." 


"Gue baik kok, makasih ya. Gue balik dulu," 


"Yaudah, hati-hati di jalan. Gak usah ngebut bawa motor nya, pelan aja." Peringat Renata, Dimas hanya mengangguk lalu pergi dengan motor besar nya. 


Namun tujuan nya ternyata bukan pulang, tapi ke bar. Tempat yang di penuhi orang-orang mabuk, perempuan dan laki-laki tak punya batasan di tempat ini, mereka bisa melakukan apapun tanpa khawatir akan ada yang marah, karena disini hal berbau mesumm sudah biasa. 


Dimas memasuki tempat itu, seketika aroma alkohol menyeruak masuk ke Indra penciuman, orang-orang sempoyongan, bahkan dari mereka sudah terkapar tak sadarkan diri karena efek minuman yang mereka tenggak.


Meski tau hal itu, namun tak menyurutkan niat Dimas untuk masuk lebih dalam lagi. Dia duduk di meja bartender dan memesan minuman dengan kadar alkohol paling tinggi. Tanpa ragu, Dimas menenggak nya hingga tandas, membuat tenggorokan nya terasa panas.


Tapi itulah sensasi yang membuat nya ketagihan, Dimas mulai mabuk dan meracau merutuki Sila. Hingga seorang perempuan cantik datang dan duduk di samping Dimas, dengan berani dia menyapukan tangan lentik nya di paha Dimas. 


Dimas melirik nya, dia menatap perempuan itu dengan tajam penuh kebencian. 


"Hentikan tangan mu itu, Jalaang!" Tegasnya, membuat perempuan itu langsung pergi.


Dimas semakin mabuk, dia tepar tak sadarkan diri di meja. Bartender yang melihat hal itu langsung merogoh ponsel milik Dimas di saku celana nya, lalu berniat menghubungi seseorang untuk membawa pulang pria itu. 


Lagi-lagi, nomor yang terakhir Dimas hubungi adalah nomor Renata. Dan pria bartender itu langsung menghubungi nomor Renata.


Hanya butuh hitungan detik saja, Renata langsung mengangkat panggilan dari Dimas. Kebetulan dia belum tidur karena sedang mengerjakan tugas kampus.


"Hallo, kenapa Dimas?" 


'Maaf kak, kami dari pihak bar xxx ingin memberitahukan bahwa pria yang memiliki ponsel ini sedang mabuk berat dan hampir tak sadarkan diri, bisakah anda kesini menjemputnya?' 


"Bar? Di bar mana?" Tanya Renata dengan panik. 


"Bar di jalan mawar berduri kak, datang secepatnya.' 


"Baik, saya kesana sekarang." Jawab Renata, panggilan pun berakhir. 


Renata meraih cardigan rajut yang tergantung di lemari, mengganti celana hotpants nya dengan celana jeans panjang. Dia bergerak cepat dan keluar begitu di rasa selesai, dia menyetop taksi dan taksi pun bergerak menjauhi kost an nya setelah Renata menyebut kemana dia akan pergi. 


'Dimas Bodohh, sakit hati sampe mabuk-mabukan!' Batin Renata. 


.....

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2