
Elina terbangun saat cahaya lampu membuatnya silau, dia menyipitkan mata nya saat melihat sosok tinggi besar berjalan mendekat.
Pria itu tersenyum smirk saat melihat Elina, mata nya memindai tubuh gadis itu dari atas hingga ke bawah. Dari ujung rambut hingga ujung kaki nya, jelas saja membuat Elina ketakutan. Tatapan pria itu terlihat seperti menelanjangii nya.
"Baron.." panggil nya, dan tak lama kemudian pria paruh baya dengan perut buncit yang membeli Elina dari ibunya datang berjalan tergopoh-gopoh.
"Gadis ini yang kau tawarkan hingga membuat aku menunggu?" Tanya pria itu.
"Iya tuan, saya jamin dia masih bersegel." Jawab pria bernama Baron itu.
"Barang yang bagus, cantik juga. Tak sia-sia aku menunggu, fiks aku ambil dia untuk besok."
"Baik tuan, saya akan menyiapkan nya dengan sangat baik." Jawab Baron antusias, itu artinya uang yang banyak sudah menanti di depan mata.
Tapi, sekali lagi dia memerhatikan bagian kaki kanan gadis yang tengah duduk di kursi itu. Terlihat seperti luka, tapi entah luka bekas apa.
"Tunggu, kenapa dengan kaki nya?"
"D-dia terjatuh saat saya menangkap nya, tuan." Jawab Baron terbata.
Pria itu berdiri dan mencengkram kerah kemeja yang di pakai Baron.
"Kau ingin menipu ku hah? Kau memberiku gadis cacat?" Tanya nya dengan suara menggelegar.
"M-maaf tuan.."
"Luka itu tak bisa sembuh esok hari, sialan! Aku butuh gadis itu besok." Ucapnya, membuat tubuh Baron terguncang karena perbuatan pria yang jauh lebih tinggi darinya.
"Maafkan saya tuan."
"Sialan." Pria itu melepaskan Baron hingga membuat nya terlempar karena tenaga pria tinggi itu sangat kuat.
"Obati luka nya, aku akan menunggu nya sampai dia sembuh. Ingat, perlakukan gadis pesanan ku dengan baik, jika dia lecet sedikit saja ku penggal kepala mu!" Ancam nya membuat Baron merinding.
"Baik tuan."
"Lusa aku kemari untuk mengambil mainan ku, jika dia masih terluka ku pastikan bar mu hancur." Ancam nya lagi, sebelum pergi dari ruangan gelap nan pengap itu.
Elina menatap horor pria yang pergi dengan langkah angkuh nya, meski terlihat tampan tapi dia sangat garang dan seperti nya pemain wanita.
"Aahhh sial, kenapa kau harus terluka bodooh?" Gerutu Baron sambil bangkit, tubuhnya terasa sakit karena di banting oleh pelanggan nya. Sejauh ini, pria itu selalu memesan gadis terbaik darinya, dia adalah pelanggan tetap nya.
Dan selalu puas dengan gadis yang dia beli darinya. Terakhir, dia membeli gadis manis bernama Sila dan menjadikan nya mainan atau partner di atas ranjang hingga 2 tahun lama nya.
Namun, Baron tidak tahu alasan apa yang membuat pria itu kembali memesan gadis untuknya, dia tak tahu ada apa dengan mainan lama nya, entah dia sudah bosan atau apa. Tapi dia tak peduli, selama dia mendapat uang dengan cara apapun dia pasti akan melakukan nya.
Elina menatap Baron yang masih menggerutu itu dengan tatapan sendu, dia masih berharap masa depan nya akan terselamatkan. Tapi pria yang dia harapkan tak kunjung datang, entah dia mencari nya atau tidak.
'Kak Dimas dimana ya? Apa dia mencariku, atau malah tidak peduli padaku?' Batin Elina, dia meneteskan air mata nya. Kenapa hidup nya begitu malang? Berhasil kabur dari kejaran Baron hari itu, tapi sekarang dia malah tertangkap lagi dan disinilah dia sekarang. Di tempat gelap, sempit dan pengap, membuat paru-paru nya tak bisa menghirup udara dengan bebas karena debu.
__ADS_1
"Gadis kecil yang sangat merepotkan, uang ku bisa raib gara-gara kau, sialan!" Rutuk nya, sambil melempar gelas kecil berisi minuman beralkohol, bekas pria tinggi tadi minum.
"Kenapa kau mengalahkan aku, luka ini bukan keinginan ku." Jawab Elina, membuat Baron kesal setengah mati. Kalau saja dia bisa melampiaskan nya, dia pasti sudah memukul gadis kecil di depan nya ini, tapi pembeli gadis ini sudah mewanti-wanti nya agar tak berani menyentuh nya.
Dari pada uang dengan nominal besar itu raib, dia memilih menahan kekesalan nya. Akan lebih baik untuk melampiaskan kemarahan nya pada benda lain, tapi jangan pada gadis itu, bisa-bisa uang itu hilang.
Waktu berlalu begitu cepat tanpa bisa di cegah, hari ini Elina sudah di siapkan oleh Baron dengan penampilan yang sangat menarik, gaun pendek selutut berwarna merah dengan manik-manik yang membuat gaun itu terlihat sangat mencolok, apalagi sangat kontras saat di pakai oleh Elina yang berkulit putih.
Rambut nya di tata sedemikian rupa, dia juga di rias dengan cantik, membuatnya seperti putri. Luka di kaki nya juga sukses di sembuhkan dengan ramuan khusus yang Baron beli dari luar negeri dengan harga tinggi.
Tapi, meskipun harga nya mahal tapi tak semahal harga gadis yang dia jual saat ini. Elina menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, harapan hidupnya tak ada. Seakan hilang bersama air mata yang tak hentinya menetes, meratapi nasib nya yang begitu miris.
Baru saja dia merasa tenang hidup dengan keluarga baru, tapi secepat itu hidupnya berubah. Kini dia di hadapkan dengan kenyataan pahit yang membuat hidup nya nyaris berakhir.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka, Elina menatap seseorang di ambang pintu. Ya, dia pria yang waktu itu datang ke tempat penyekapan.
Aroma maskulin menguar memasuki indra penciuman, bau yang tajam membuat Elina mual. Entah berapa botol parfum yang pria itu pakai, hingga bau nya sangat menyengat seperti ini.
"Hai gadis kecil, kau sudah siap?"
"Memang nya apa yang harus aku persiapkan?" Jawab Elina, tanpa menoleh sedikitpun ke arah pria itu.
"Siapa nama mu hmm?"
"Aku Kenzo, kau bisa memanggil aku Ken." Jawab pria itu yang ternyata adalah Ken, mantan ATM berjalan Sila.
Elina hanya diam tak menanggapi apapun, dia hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, sekosong harapan nya yang hilang.
"Oke, aku tak suka banyak omong. Jadi, kita mulai saja kesepakatan untuk menjadi partner ku."
"Partner? Maksud anda?" Tanya Elina, kali ini dia memberanikan diri menatap wajah Ken. Tapi, dia buru-buru kembali memalingkan wajahnya, tatapan mata pria itu terlalu tajam seperti elang yang ingin menangkap mangsa nya.
"Ya, aku membeli mu untuk ku jadikan partner di atas ranjang." Jawab Ken, dia duduk di sofa dengan sebelah kaki yang di angkat. Seakan menunjukkan bahwa dia adalah pria yang berkuasa.
"Tapi aku tidak menginginkan semua ini."
"Semua gadis mengatakan hal demikian, tapi setelah merasakan sentuhan ku, mereka pasti memuja ku untuk mendapat kepuasan." Jawab Ken dengan seringai jahat nya.
"Itu gadis lain, bukan apa. Aku berbeda, aku gadis baik-baik."
"Lalu kenapa sekarang kau disini? Menggunakan pakaian seksii seperti ini, kau tau penampilan mu saat ini sangat menggoda untuk aku telanjaangi." Jawab nya frontal, membuat bulu kuduk Elina meremang.
"Aku di jual ibu tiriku."
"Dan aku tak peduli, aku membeli mu dengan harga tinggi. Jadi layani aku sebaik mungkin!"
"Tidak." Jawab Elina tegas, dia menatap tajam pria yang tengah duduk di sofa itu.
__ADS_1
Kenzo terkekeh geli mendengar penolakan gadis itu, gadis itu benar-benar membuatnya terhibur sekaligus penasaran.
Pria itu berdiri dari duduknya dan berjalan pelan mendekati Elina, melihat itu Elina beringsut mundur, tapi Ken menarik kaki nya dan langsung menindih nya.
"Kau menolak ku? Mari kita lihat, sampai dimana kau menolak ku, gadis kecil."
"Tidak, tolong lepaskan aku!" Pinta Elina sambil meronta, membuat Ken tertawa melihat gadis itu sangat ketakutan sekarang.
"Memohonlah sayang, sampai kau menangis darah pun aku tak peduli. Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk mu, jadi beri aku kesenangan." Jawab Ken, dia berusaha mencium Elina tapi gadis itu terus menggerakan wajah nya hingga Ken gemas sendiri.
Plak..
Kenzo menampar pipi kanan Elina, hingga membuat gadis itu terdiam.
"Diamlah, aku takkan menyakiti mu jika kau diam." Tegasnya, lalu mendekatkan wajah nya dan mencium bibir Elina dengan lembut, tangan nakal nya merayap ke dada Elina, meremass pelan buah kenyal nan montok milik gadis itu, merasakan hal itu Elina menepis tangan besar Ken dan menyilangkan tangan nya.
Dia tak rela, benar-benar tak rela jika aset berharga nya di jamah oleh pria brengseek yang kini tengah mengungkung nya.
Alisa menangis dalam ciuman yang semakin lama semakin menuntut, seiring hasraat pria itu yang mulai memuncak. Dia menggesek-gesek keperkasaan nya di antara paha Alisa, membuat gadis itu bergerak menendang benda itu.
Jelas saja Ken terkejut, senjata nya berdenyut nyeri karena tendangan yang di berikan Elina. Dia melepaskan ciuman nya, lalu menggigit kuat pundak Elina, hingga membuat gadis itu berteriak kesakitan.
"Sakit? Jangan melawan atau kau bisa terluka lebih dari ini." Tegas Ken. Elina menatap pria itu dengan tatapan sendu, dia berharap sedikit saja kebaikan pria itu, mengharapkan sedikit belas kasihan agar melepaskan nya, tapi pria itu terlanjur di kuasai gairaah yang sudah memuncak.
Ken berhasil melucuti seluruh pakaian Elina, membuat nya polos. Tubuh sempurna terpampang jelas di hadapan nya, sangat menggiurkan untuk dia nikmati.
Dengan cepat, Ken membuka seluruh pakaian nya dan kembali mengungkung tubuh Elina, gadis itu benar-benar tak bergerak sedikitpun, dia sudah pasrah dengan nasib. Tak ada celah untuk kabur, di luar kamar ini Kenzo mengerahkan anak buahnya untuk berjaga, kalau-kalau gadis yang ingin dia tiduri kabur.
Lalu, apa yang bisa Elina lakukan selain pasrah? Dia perempuan dan Kenzo laki-laki, kekuatan nya tak ada apa-apa nya di bandingkan pria itu. Meski melawan, dia pasti akan kalah.
Kenzo menenggelamkan kepala nya di belahan nikmat milik Elina, tapi sama seperti tadi, gadis itu sama sekali tidak bereaksi apapun, hanya diam dan menatap langit-langit, seolah dia mati rasa.
Bahkan saat Kenzo berhasil menerobos pertahanan nya, Elina sama sekali tak merasa kesakitan, atau berteriak seperti layaknya gadis yang di perawanii.
Kenzo menikmati permainan nya, dia bergerak maju mundur dengan cepat. Memasukan batang miliknya di lembah nikmat nan sempit milik Elina, gadis yang dia beli untuk memuaskan hasraat nya.
"Aaahhh aahhh, nikmat sekali sayang. Milikmu menjepit miliku kuat sekali, uggghhh.." racau Ken, tapi lagi-lagi Elina tak bereaksi apa-apa.
Satu jam kemudian, Ken menyelesaikan permainan nya, dia berguling ke samping dan tertidur tanpa memperdulikan Elina yang masih terlentang dengan tubuh polos dan inti yang masih banjir dengan cairan pelepasan nya. Benar-benar definisi pria egois, setelah dia puas dia tak menghiraukan orang lain.
Elina berjalan pelan ke kamar mandi, rasa nya sangat sakit saat apa yang dia jaga selama hidup kini telah hilang di tangan pria brengsek.
Elina menyalakan shower dan menangis sejadinya, dia menggosok tubuhnya dengan kuat hingga tubuhnya memerah, dia merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.
"Kenapa hidupku harus seperti ini? Rasanya sakit sekali, saat aku kehilangan hal yang paling berharga sebagai wanita."
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1