
Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Dimas di perbolehkan pulang, luka di tubuhnya sudah mulai sembuh, hanya tinggal lebam di beberapa tempat. Erika membawa sang putra masuk ke dalam rumah, tapi sepertinya sang putra masih ingin di luar.
"Mami ke dalam dulu ya sayang, jangan lama-lama, angin nya tak bagus untukmu."
"Ya Mi." Jawab Dimas, dia duduk di kursi teras, merasakan semilir angin yang berhembus melewati tubuhnya.
"Elina, kamu dimana? Aku merindukan mu, sangat." Benar, tiga hari tanpa kehadiran gadis manis nan ceria itu, hidup nya terasa kosong. Seolah separuh gairah hidup nya ikut bersama kepergian gadis kecil itu.
Kehadiran Elina selama dua minggu ini membuat hidupnya kembali berwarna, setelah kepergian Renata karena kebodohan nya, dan dia di campakan oleh wanita yang dia cintai, bahkan saat ini wanita itu sudah pergi untuk selamanya karena penyakit kelaamin yang menular.
Sejak itu hidupnya tak baik-baik saja, meski dia bisa menyembunyikan nya dengan senyuman, tapi tetap saja hatinya merasa kesepian. Dan kehadiran Elina, mampu membuatnya kembali bersemangat menjalani hidup.
Gadis kecil itu benar-benar membuat hidup nya lebih baik, dan sekarang dia kehilangan nya.
"Aku harus mencari mu kemana? Aku tak punya petunjuk apapun tentang keberadaan mu, Elin."
"Apa kamu baik-baik saja? Sudah makan? Biasanya kamu selalu makan dengan lahap." Gumam Dimas, tak terasa air mata nya menetes membasahi pipi nya. Sakit, ya hatinya terasa sakit.
Dia merasa kecewa pada dirinya sendiri, karena tak bisa membuat Alina tetap di sisinya. Dia kalah oleh rasa sakit dan kepungan orang-orang jahat itu, andai saja dia lebih kuat, pasti saat ini Elina ada di sampingnya. Menyambut kepulangan nya dengan senyuman manis yang selalu bisa membuat hati nya berdebar.
"Sayang, ini ponsel kamu bunyi terus." Mami Erika membawa ponsel milik putranya.
"Dari siapa Mi?"
"Gak tau, nomor asing." Jawab Mami Erika, Dimas meraih ponsel nya dan menjawab telpon itu.
"Ya hallo, siapa ini?" Tanya Dimas pelan, mulut nya masih terasa sakit saat dia membuka mulut, karena terdapat luka di ujung bibir nya akibat pukulan yang di layangkan padanya oleh orang-orang jahat itu.
"K-ak, ini Elina."
"Elin? Kamu dimana sayang?"
"E-elin gak tau kak, tapi disini tempatnya berisik terus bau alkohol juga. Tolong Elin kak, Elin takut. Elin di jual sama mucikarii." Jelas Elina, suara gadis itu bergetar ketakutan. Dia benar-benar ketakutan karena menurut Baron, malam ini tamu itu akan membawa nya.
"Ya, pasti kak Dimas bakal tolongin kamu. Aktifin terus ponsel kamu ya, nanti kakak lacak."
"I-iya kak, cepat ya kak. Elin takut,"
"Iya, kakak akan datang secepatnya." Jawab Dimas. Lalu panggilan pun terputus secara sepihak, membuat Dimas frustasi.
"Hallo, Elin. Kamu masih disana?"
"Aarrghhh sial, telepon nya mati." Rutuk Dimas, tanpa pikir panjang dia menghubungi Reza untuk meminta bantuan.
Butuh beberapa detik untuk teman sekaligus atasan nya di kantor itu mengangkat panggilan nya.
"Hallo, kenapa Dim?"
'Za, gue minta tolong dong.' Jawab Dimas to the point, keadaan nya sangat darurat saat ini.
__ADS_1
"Minta tolong apaan dah? Btw, Lo dah pulang dari rumah sakit ya, Lo kenapa sih?" Celoteh Reza di seberang telepon, membuat Dimas mendengus. Sahabat nya ini benar-benar banyak omong, padahal situasi saat ini benar-benar sedang darurat.
'Nanti gue jelasin semuanya, Elina di culik dan gue pengen minta bantuan Lo buat temuin dia. Langkah pertama, tolong lacak keberadaan gadisku lewat nomor ponsel nya.'
"Hah, di culik kapan?" Tanya Reza membuat Dimas kesal.
'Nanti gue ceritain semuanya, Eza. Sekarang bisa bantuin gue dulu? Urgent ini Za, gadis gue di jual sama mucikarii.' Jelas Dimas yang membuat Reza tercengang.
"Oke, gue ikut sama Lo nyelamatin gadis Lo. Gue otw ke rumah Lo sekarang sama anak buah gue, nomor itu biar hacker papi yang cari tau."
'Oke Za, thanks ya.'
"Gak masalah, gue kesana. Lo yang tenang,"
Sedangkan di tempat lain, Elina beringsut mundur saat melihat dua lelaki berbadan besar berjalan mendekati dirinya. Dia terus mundur hingga akhirnya terpojok di dinding.
"Gadis kecil yang merepotkan, beresin sekarang aja bro." Ajak salah satu pria itu pada rekan nya.
"Iya, lagian tuan Ken udah nunggu dia di kamar VIP." Jawabnya, jelas saja membuat Elina ketakutan.
Apalagi kemarin, dia sudah membayangkan adegan seperti apa yang akan terjadi jika dirinya berhasil di bawa oleh anak buah pria bernama Kenzo itu.
Flashback on..
Setelah pertemuan nya dengan Kenzo kemarin siang, Elina merasa takut hingga berhalusinasi saking takutnya. Saat itu dia tertidur setelah makan, sumpal mulutnya juga di buka oleh Baron atas permintaan Kenzo. Pria yang berani membayar Elina dengan harga yang sangat tinggi, hampir menyentuh 2 milyar.
Dia bermimpi kalau dia sudah di bawa oleh Kenzo dan pria itu berhasil merenggut kesucian nya. Namun kemudian, dia tersadarkan oleh guyuran air yang membuat nya terbangun seketika dari tidurnya.
Saat tersadar bahwa semua itu hanya mimpi, dan ternyata dia masih ada di tempat yang sama, belum berpindah sedikitpun, bahkan piring bekas dia makan pun masih ada di meja dekat Baron duduk.
"Berisik amat Lu jadi cewek, gue sumpel lagi mau?" Ketus nya sambil beranjak dari duduknya, setelah puas mengguyur tubuh Elina dengan segelas air.
Elina seperti orang linglung, dia celingukan, mengedarkan pandangan nya ke sekeliling ruangan. Benar, masih ruangan pengap nan gelap yang sama.
Seketika Elina menghela nafas nya lega, ternyata semua nya hanya mimpi.
Tapi, dua hari kemudian mimpi itu hampir terealisasikan, saat ini dia sudah di bawa ke bar dan dia sudah di siapkan oleh Baron semaksimal mungkin agar pelanggan VIP itu tidak kecewa.
Flashback off..
"Lepasin, jangan bawa aku tolong.." pinta Elina mengiba, meminta sedikit belas kasih dari kedua pria itu. Tapi bagi mereka, uang adalah segalanya. Mereka menjelma menjadi pria yang tak punya hati dan terus menyeret tangan gadis kecil itu untuk mengikuti mereka.
"Maaf gadis kecil, tapi uang lebih penting sekarang." Jawab salah satunya, membuat Elina terus meronta meminta di lepaskan, tapi cengkeraman yangan mereka terlalu kuat.
"Lepaskan gadisku!" Teriak seseorang yang membuat kedua pria itu berhenti, mereka berbalik saat mendengar suara yang keras itu.
Dimas berdiri di belakang mereka, Elina tersenyum saat melihat orang yang sangat dia harapkan, kini benar-benar datang.
Kedua pria itu mengedarkan pandangan, mereka baru menyadari bahwa semua orang sudah tumbang, secepat itu?
__ADS_1
Tak lama kemudian, anak buah Argantara menyergap mereka dan berhasil menangkap keduanya dan memelintir tangan mereka ke belakang dengan cepat, hingga keduanya tak bisa berkutik.
Elina sendiri berdiri kaku, dia begitu terkejut melihat kehadiran Dimas yang sangat membuatnya bahagia, apalagi saat pria itu berjalan pelan ke arahnya. Tapi, disaat itu pula pandangan nya mengabur dan akhirnya dia jatuh tak sadarkan diri.
Beruntung nya, Dimas dengan cepat menangkap tubuh Elina.
"Elin, bangun. Kita pulang.."
"Seperti nya dia kekurangan cairan, Dim. Sebaiknya bawa ke rumah sakit, biar gue yang beresin semua nya. Plus nyari muncikarii yang udah berani jual gadis Lo." Jelas Reza membuat Dimas menganggukan kepala nya.
"Jangan lupa sama ibu tiri, juga yang udah beli Elina dari mucikari nya sekalian."
"Siap, udah sana pergi." Usir Reza, Dimas berlari di ikuti salah satu anak buah Reza yang akan mengantar nya ke rumah sakit dengan mobil.
Reza pun membereskan semuanya, setelah selesai urusan di bar, barulah dia menginterogasi kedua pria yang tadi menyeret paksa Elina.
"Katakan, siapa yang nyuruh kalian bawa gadis tadi?" Keduanya kompak bungkam, tak ada yang mau mengeluarkan suara, begitu setia nya hingga membuat Reza kesal sendiri.
Dia tipe pria yang tak sabaran, dulu saja saat menginterogasi Leo, orang suruhan Sila yang mencelakakan Renata. Dia banyak marah dan akhirnya dia melakukan kekerasan agar pria itu mau buka mulut.
Seperti nya, dia harus melakukan hal yang sama agar lebih cepat.
Reza mengambil pisau kecil dari balik tembok, saat ini kedua orang itu di bawa ke markas milik Reza. Sebuah gudang bekas keluarga Argantara.
"Bicara, atau aku sayat wajah kalian?" Tanya Reza pelan namun terdengar sangat menakutkan. Reza terlihat seperti malaikat kematian saat ini.
Reza memainkan pisau kecil itu di tangan nya, dengan sengaja menggoreskan nya sedikit ke telapak tangan nya, darah langsung menetes, menunjukan bahwa pisau itu sangat tajam.
Tapi keduanya masih enggan membuka suara, mereka masih berpegang teguh dengan keputusan mereka yang tak ingin mengucapkan siapa pria yang sudah menyuruh mereka.
"Oke, jawaban nya berarti iya." Reza mendekat dan dengan perlahan dia mendongakan wajah pria itu lalu menyayat nya dengan kejam, hingga membuat pria itu berteriak kesakitan.
Darah menetes deras dari luka sayatan itu, Reza tersenyum jahat apalagi saat melihat wajah pucat pria di sampingnya. Yang satu berteriak kesakitan, maka satu nya lagi harus merasakan nya juga.
Dengan cepat, Reza juga menyayat wajah pria yang satunya dengan perlahan. Inilah sisi lain dari Reza yang lembut dan penyayang juga bucin terhadap anak dan istrinya.
"Aaarghhh sakitt…" teriak mereka.
"Lalu, apa kalian masih ingin merahasiakan siapa pria brengsek itu hah? Atau kalian ingin merasakan sakit yang lebih dari sekedar sayatan?"
"A-ampun, tuan. Kami akan mengatakan nya, tapi jangan sakiti kami lagi."
"Bagus, katakan cepat!" Tegas Reza.
"Tuan Kenzo." Jawab keduanya bersamaan, membuat Reza terkekeh. Ternyata dialah pria yang sudah membeli gadis milik sahabatnya, seperti nya pria itu ada dendam tersendiri pada Dimas, hingga apa yang dia punya, Kenzo selalu ingin memiliki nya juga.
"Ken, dasar cassanova." Gumam Reza sambil menggelengkan kepala nya.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻
huh si Ken emang gak ada kapoknya🤣