
Renata kembali melancarkan aksinya, dia menyentuh titik-titik sensitif sang suami, hingga membuat nya tak berdaya dan hanya pasrah saat Renata mulai menaiki tubuh nya.
"Pelan-pelan, sayang. Aku tak mau kalah sebelum bertempur untuk kedua kalinya." Renata tak menjawab, dia seolah tak peduli dengan permintaan suaminya, toh pria itu juga melakukan hal yang sama. Dia tak peduli meski Renata bilang berhenti atau pelan-pelan, pria itu hanya akan melakukan nya sesuai dengan apa yang dia inginkan, begitu juga Renata saat ini.
Suaminya sudah satu kali meledak, dan saat ini senjata nya sudah menegang kembali karena sentuhan-sentuhan jemari lentik Renata yang mampu membuat jiwa kelelakian nya meronta, minta untuk di puaskan.
Renata memasukan batang besar, panjang nan berurat itu dengan perlahan, dia sendiri memejamkan matanya merasakan ngilu-ngilu sedap di bagian intinya yang sudah basah.
"Aahhhh sshhhh.." Renata melenguuh lalu mendesis pelan saat batang milik suaminya masuk sempurna ke dalam miliknya, rasanya begitu sesak dan penuh. Hingga membuat tubuhnya melengkung, Reza dengan cepat memegang pinggang sang istri, sungguh dia tak siap jika istri cantiknya bergerak sekarang.
Bisa-bisa dia meledak lagi, padahal permainan baru saja akan di mulai tapi dia sudah meledak dua kali, kan gak asik. Biasanya juga Renata yang sudah mencapai banyak pelepasan, bahkan saat permainan baru saja di mulai.
Renata tersenyum nakal, dia bergerak memutar hingga membuat Reza mengerang nikmat. Senjatanya terasa di jepit manja oleh lubang kenikmatan sang istri, belum lagi melihat pemandangan yang begitu menggairahkan di depan nya.
"Aaahhh sayang.."
Renata hanya terkekeh lalu mendekatkan tubuhnya tanpa menghentikan gerakan nya, dengan cepat Reza melahap putiing kecoklatan milik sang istri, menyesap nya dengan penuh penghayatan, nikmat sekali rasanya.
Renata semakin brutal menggerakan tubuh nya maju mundur, sesekali dia mencium bibir suaminya dengan mesra, dia juga menciumi dada bidang suaminya hingga meninggalkan kissmark yang cukup banyak, termasuk di leher nya.
Dia tak peduli dengan apa suaminya menutupi bekas cupaang itu, biarkan saja. Dia juga seringkali kesulitan menyamarkan bekas kemerahan yang di tinggalkan sang suami, tapi ya seperti biasa Reza terlihat tak peduli. Inilah saatnya membalas, batin Renata.
"Aahhh aahhhh sayang, enak sekali." Reza meracau nikmat, membuat Renata bersemangat untuk kembali menggerakan tubuhnya.
"Berhenti sayang, aahh aku akan meledak kalau begini."
"Kamu biasanya melakukan hal ini juga sama aku, Mas. Sekarang anggap saja aku sedang membalas dendam padamu, atas perbuatan mu." Jawab Renata tersenyum menyeringai, dia mempercepat gerakan nya dan beberapa detik kemudian pria itu kembali mencapai klimaaks nya.
Dia menekan kuat pinggul sang istri, agar senjata nya masuk lebih dalam. Renata tersenyum puas melihat raut keenakan suaminya.
"Baru beberapa menit, kamu sudah tiga kali meledak mas."
"Iya, itu semua karena kamu sayang. Sekarang rasakan." Dengan cepat Reza membalik posisi, awalnya Renata berada di atas sekarang dia berada di bawah kungkungan suami tampan nya. Pria itu tersenyum smirk lalu mencium bibir Renata sekilas.
"Nikmati permainan ku sayang, aku yakin kamu akan merasakan nikmat yang luar biasa."
"Aku siap, Mas." Jawab Renata.
Reza memulai gerakan pinggang nya maju mundur dengan teratur, menarik senjata nya hingga ke dekat kepala nya, lalu memasukan semua nya dengan cepat, membuat Renata terkejut, baru kali ini Reza melakukan hal ini dan rasanya sangat luarbiasa nikmat.
"Aaahhh, Mas.."
"Apa? Enak kan?" Tanya Reza sambil terkekeh.
"Ya, enak sekali tolong lebih cepat."
"Sesuai permintaan mu, sayang." Jawab Reza, dia melakukan hal yang sama berulang kali hingga membuat Renata mencapai klimaaks, tubuh nya mengejang dengan kedua mata yang terpejam. Lubang itu terasa sangat basah dan hangat, membuat Reza kembali bergairaah untuk melanjutkan permainan.
Pasangan suami istri itu terus saja mereguk nikmat nya berbagi keringat di malam hari yang dingin, bahkan di luar mansion sedang hujan saat ini, sangat mendukung kegiatan keduanya untuk memadu kasih.
Sedangkan di bawah, baby Aisha dan Farish nampak anteng di gendongan oma dan opa nya, mereka tersenyum sambil mencolek-colek gemas pipi gembul sang cucu.
"Lihat Mom, Farish mirip sekali dengan Reza saat masih bayi ya. Ini mah fotokopian nya banget." Ucap Argan sambil tersenyum menatap baby Farish yang tertidur lelap.
"Kalau Aisha 50% mirip Renata, dan setengahnya lagi mirip Eza. Nih, liat hidung nya mirip banget sama Rere, apalagi bulu mata nya yang lentik ini." Jawab Mariska tak mau kalah.
"Kedua cucu kita sangat lucu, seperti malaikat tanpa sayap yang baru saja turun dari langit."
"Papi terlalu berlebihan, mereka memang lucu dan menggemaskan. Siapa dulu dong papa sama Mama nya, Reza sama Renata. Keduanya kan bibit unggulan," jawab Mariska membanggakan putra dan menantunya.
"Siapa dulu opa nya, udah tua gini juga masih ganteng."
"Oma juga." Mariska tak mau kalah, lalu akhirnya kedua nya tertawa.
"Sebaiknya kita bawa mereka ke kamar, mom."
"Iya Pi, biar kita juga bisa istirahat. Jaga-jaga kalau nanti malam mereka bangun." Ucap Mariska setuju, pasangan paruh baya itu pun membawa kedua cucunya ke kamar dan menidurkan mereka di ranjang, di tengah-tengah mereka. Lalu Mariska dan Argan juga ikut berbaring di sisi kanan dan sisi kiri kedua bayi mungil nan menggemaskan itu.
"Selamat tidur kedua cucu kesayangan, tidur yang nyenyak, jangan rewel ya sayang."
Keduanya pun memilih untuk tidur sambil memeluk cucu mereka. Argan bersama Farish, dan Mariska bersama Aisha.
Keesokan paginya, Renata bangun dengan malas. Sekujur tubuhnya terasa sangat sakit, pegal dan ngilu. Apalagi di bagian inti nya, terasa perih.
Semalam, Reza benar-benar melakukan nya hingga enam ronde, membuat Renata kewalahan sendiri melayani nafssu sang suami, namun demikian dia tak bisa menolak karena itu kewajiban nya, lagipun dia menikmatinya, meski terasa sakit tapi rasa nikmat itu benar-benar lebih mendominasi.
__ADS_1
Hingga membuat Renata mengabaikan rasa perih di sekitar inti nya, dan memilih menikmati penyatuan itu. Keduanya baru tertidur di jam 11 malam, dari pukul 7. Bisa di bayangkan, di hajar selama 4 jam berturut-turut dengan senjata yang besar, panjang dan keras itu.
Wajar saja jika saat ini dia merasa malas untuk bangun, dia ingin beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga nya. Dia juga baru ingat, sepulangnya dari rumah sakit, dirinya juga Reza melewatkan makan malam hanya untuk bergulat di atas ranjang.
"Selamat pagi istriku sayang."
"Hmmm, pagi juga." Jawab Renata lirih.
"Masih sakit, sayang?" Tanya Reza seolah tanpa rasa bersalah sedikitpun karena sudah menghajar Renata selama itu tadi malam.
"Banget, ini aku perih. Rasanya kayak di peraawani dulu."
"Wkwk, yaudah kamu istirahat aja dulu ya. Mas mau mandi, bersih-bersih sisa percintaan kita semalam." Ucap Reza sambil tersenyum genit.
"Yaudah sana, mau ke kantor hari ini?"
"Iya, kerjaan banyak banget. Kamu gak usah nyiapin pakaian aku, aku bisa sendiri. Kamu istirahat aja dulu," Jawab Reza sebelum masuk ke kamar mandi.
Tak lama berselang, Reza keluar dengan handuk yang membalut bagian sensitif nya. Dia berjalan santai ke ruang ganti, tanpa memperhatikan Renata yang sudah menunjukan ekspresi kesal, entah kenapa jika dia melihat Reza bertelanjaang dada seperti itu, dia merasa kesal sendiri.
Renata masih bermalas-malasan di kamar, itu karena kelelahan akibat melayani nafssu suaminya semalam.
Setelah merasa rapih, Reza keluar dengan setelan kerja nya. Lengkap dengan tas berisi laptop yang dia tenteng di tangan kanan nya.
"Sayang, mas berangkat kerja dulu ya."
"Iya mas, hati-hati ya." Jawab Renata, dia tetap rebahan karena Reza melarang istrinya untuk sekedar bangun. Dia tau benar, kalau sang istri merasa kelelahan setelah pergulatan panas semalam.
Reza mengulurkan sebelah tangan nya, dan Renata langsung mengecup punggung tangan suaminya dengan takzim. Pria itu juga mengecup singkat kening istrinya, lalu mengacak pelan rambut Renata.
"Kalau ada apa-apa, langsung telepon mas ya. Jangan turun, biar bibi atau mbak Karin yang bawain sarapan buat kamu."
"Iya mas, ini udah baikan kok." Jawab Renata, dia tak mau merepotkan siapapun apalagi mbak Karina.
"Walaupun udah mendingan, kamu harus tetap istirahat ya. Mas berangkat dulu, love you."
"Love you too, suami." Reza tersenyum manis, lalu melangkah pergi keluar kamar. Pria itu meniti tangga dengan perlahan sambil merapikan lengan kemeja nya.
"Lho, tumben turun sendirian. Renata mana?" Tanya Mariska.
"Ohhh, terus kamu mau kerja pas istri lagi sakit?"
"Rere yang nyuruh, Mom."
"Yaudah, sana pergi kalau mau ngantor." Ucap Mariska.
"Tolong anterin sarapan ke kamar ya, Mom."
"Iya, kamu gak sarapan dulu?" Tanya Mariska.
"Nanti aja di kantor, yaudah Reza pergi dulu." Pamit Reza, dia pun pergi dari mansion.
"Lho, Reza dah berangkat? Mana Rere?" Tanya Karina yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Rere lagi gak enak badan katanya."
"Ohh, yaudah biar Karin yang anter sarapan buat Rere." Mariska mengangguk dan keluar bersama Argan, untuk berjemur bersama kedua cucu nya.
Tak lama kemudian, Karina membawa sepiring makanan dan segelas air dengan nampan dan membawa nya ke kamar.
"Re, udah mendingan?" Tanya Karina setelah pintu berhasil terbuka.
"Ehh, mbak Karin." Jawab Renata yang masih rebahan, untung saja tadi dia sudah sempat berpakaian, kalau tidak bisa bahaya.
"Katanya kamu sakit, sakit apa?"
"Aku gak kenapa-napa kok mbak, cuma kecapean." Jawab Renata sambil tersenyum.
"Kecapean?" Gumam Karina dengan kening yang berkerut, tapi tak lama kemudian dia membulatkan mulutnya.
"Ohh, habis di hajar Eza ya?"
"Hehe, iya mbak. Semalaman suntuk, akibat cemburu jadinya gitu."
"Cemburu kenapa?" Tanya Karina, Renata pun menceritakan semuanya pada Karina, mulai dari pertemuan nya dengan Dimas di rumah sakit hingga pertempuran itu terjadi.
__ADS_1
"Wahh, jadi masalah nya cuma karena cemburu?" Tanya Karina, Renata menganggukan kepala nya.
"Ya ampun, mbak kira kalian tuh punya masalah berat gitu. Sampe Eza nya jadi pendiem gitu, ehh ternyata." Ucapnya sambil menggelengkan kepala nya, tak heran sih karena ini Reza. Kelakuan adiknya kadang kala tak bisa di tebak.
"Hehe, iya mbak."
"Yaudah, sekarang kamu makan dulu ya. Baby Aisha sama Farish lagi berjemur sama Oma opa nya, gak usah khawatir. Mereka anteng aja, gak rewel. Kayaknya mereka tau, kalau mama nya lagi di hukum sama papa nya karena udah bikin dia cemburu." Celoteh Karina membuat Renata terkekeh.
"Mbak tinggal dulu, nanti turun ya kita rujakan. Mbak habis beli jambu air kemarin."
"Siap mbak, ihh pasti enak." Ucap Renata antusias, begitu juga dengan Karina.
Setelahnya, Karina keluar dari kamar Renata. Sedangkan wanita itu memakan sarapan nya dengan lahap, karena dia memang sudah cukup lapar, tapi tubuhnya lemas tak bertenaga, itu semua karena ulah suami tampan nya.
Sedangkan di kantor, Reza memulai segudang pekerjaan nya dengan fokus. Tapi, beberapa kali dia melirik ke arah Dimas yang seringkali tertangkap basah sedang melamun, seperti nya pria itu juga punya masalah.
"Bengong aja, kerja!" Tegas Reza membuat Dimas terlonjak kaget hingga menjatuhkan pena nya.
"Iya iya bos." Jawab Dimas, dia pun kembali mengerjakan beberapa laporan.
"Kalo kerja itu yang fokus, Lo Napa sih? Gak kayak biasanya!"
"Biasalah." Jawab Dimas singkat.
Ruangan CEO dan sekretaris memang sengaja di satukan, hanya di beri penghalang sekat yang hanya setinggi pinggang. Itu atas permintaan Reza, karena dia ingin lebih melihat kinerja Dimas.
"Kenapa? Cerita kali, jangan di Pendem sendiri."
"Elina marah sama gue, Za. Bahkan rencana nikahan gue sama dia terancam batal." Jelas Dimas sambil menunduk, menghembuskan nafas nya yang terasa berat.
"Lho, kenapa?"
"Dia kan tanya masa lalu gue sama Renata, ya gue jelasin semuanya biar gak ada salah paham lagi. Ehh dianya malah jadi ragu, takut gue ulang kesalahan kayak gitu lagi, Za." Jawab Dimas.
"Menurut gue nih, ada wajarnya sih Elina ragu sama Lo. Soalnya Lo punya masa lalu yang buruk, dan lagi sebaiknya Lo sabar. Elina itu masih remaja yang belum cukup dewasa untuk menyikapi masalah seperti ini, jadi disini yang harus bisa nyelesain masalah itu Lo sendiri. Karena Lo yang lebih dewasa di banding Elina."
"Gue bingung, harus ngeyakinin dia pake cara apa, Za."
"Buktiin aja kalo Lo bener-bener serius sama dia, jangan sampe dia mikir kalo Lo cuma jadiin dia pelampiasan. Gue yakin sih, wanita manapun pasti ragu kalo udah denger masa lalu Lo." Ucap Reza.
"Iya, gue ngerti Za. Tapi kali ini gue bener-bener serius sama Elin, gue cinta sama dia, gue sayang sama dia."
"Buktiin, jangan cuma ngebacot doang. Laki-laki manapun juga bisa kalo cuma ngomong, tapi kenyataan nya nol besar."
"Caranya gimana Za, kasih solusi dong." Pinta Dimas, membuat Reza terkekeh.
"Treat a queen, perlakuin dia kayak ratu. Gue yakin dia luluh, Dim. Buktinya gue, Lo bisa belajar dari gue. Gue rela nunggu Renata, Lo tau berapa lama? Tiga tahun tanpa kepastian, Dimas."
"Wanita pasti akan luluh jika kita memperlakukan dia dengan baik, Renata juga awalnya ragu sama gue karena dia trauma, tapi gue berhasil yakinin dia dengan cara perlakuin dengan lembut, bagai ratu." Jelas Reza panjang kali lebar, membuat Dimas manggut-manggut.
"Gue coba saran Lo, makasih Za."
"Santai, kayak ke siapa aja. Sekarang Lo kerja yang fokus, kalo kinerja Lo bagus nanti gue kasih tips gede buat Lo manjain si Elina."
"Wahh serius Za? Siap, gue bakal kerja dengan semangat kalo gitu." Jawab Dimas.
"Kalo udah denger tips aja langsung berbinar, gak kuyu kayak tadi."
"Eehem, bos kalau buat saya ada tips?" Tanya Marko yang membuat Reza terkejut, sejak kapan pria baya itu berada di ruangan ini.
"Buseett, dari kapan Lo disini sih?"
"Hehe, udah dari tadi sih. Mungkin ada lima menit yang lalu," jawab Marko sambil tersenyum menyebalkan di mata Reza.
"Jadi, gimana bos? Ada tips juga buat saya?"
"Ada, jadi pada kerja yang bener. Sana, kerja lagi sebelum saya berubah pikiran ini."
"Siap.." jawab Dimas dan Marko bersamaan. Dimas kembali fokus dengan laptop nya, sedangkan Marko keluar dari ruangan CEO menuju ruangan nya. Demi tips bulanan, mereka akan bekerja dengan giat.
Reza terkekeh melihat tingkah sekretaris dan asisten nya, sifat keduanya hampir sama, hanya saja kalau Dimas seumuran dengan Reza, kalau Marko usia nya hampir seumuran dengan Argan, papanya Reza.
........
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1