Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 34 IRS


__ADS_3

Mami Erika terus saja menatap sang putra dengan tajam, membuat Dimas sangat tak nyaman dengan situasi yang tercipta, sedari tadi Mami nya itu juga terus memeluk Renata dan berusaha menenangkan nya. 


Renata terlihat begitu emosional saat ini, jadi rasanya tak mungkin jika meminta penjelasan pada gadis yang beberapa jam yang lalu melepaskan kegadisan nya karena di paksa. 


"Katakan sama Mami, Dimas. Apa yang sudah kamu lakukan sama Renata?" Tanya Mami Erika, dia jelas tahu telah terjadi sesuatu pada Renata, kalau tidak kenapa kedua nya berada di kamar yang sama dengan pakaian yang masih berserakan.


"Ee-emm Mi.." 


"Katakan Dimas!" Bentak nya membuat Renata yang masih memeluk Mami Erika terhenyak. 


"Mi, maafin Dimas. Demi apapun Dimas gak sengaja lakuin itu sama Rere." 


"Gak sengaja? Maksudnya gak sengaja?" Tanya Mami Erika. 


"Dimas mabuk tadi malam, Mi." Dimas mengakui kesalahan nya yang memilih meluapkan kemarahan nya pada Sila dengan cara yang paling salah.


"Apa?! Dimas, sejak kapan kamu jadi anak pembangkang hah? Bukan nya kamu tahu itu haram dalam agama?" 


"Maafin Dimas, Mi. Dimas mabuk gara-gara baru putus sama Sila." 


"Apa? Putus? Baru berapa hari kalian pacaran sudah putus? Sudah mami duga, Sila itu gak baik buat kamu Dimas! Firasat seorang ibu tak pernah salah." Ucap Mami Erika berapi-api. Dia begitu marah pada putra nya yang menurut nya sangat bodoh itu. 


"Gara-gara masalah kamu sama gadis itu, kamu sampe lakuin hal gak pantas sama Renata? Sejak kapan kamu menjelma jadi pria brengsek, Dimas?" Lirih Mami Erika, rasanya dia sangat kecewa terhadap putranya. Dia merasa gagal mendidik Dimas, hingga semua ini terjadi. 


"Kalau aja Papi mu masih hidup, dia pasti akan sangat murka, dan marah besar melihat putra kesayangan nya sudah berani merusak kehormatan seorang gadis baik-baik." 


"Mi, Dimas minta maaf." Ucap Dimas entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Apa dengan maaf semua nya bisa kembali? Apa dengan kamu meminta maaf kehormatan yang sudah kamu renggut paksa dari pemiliknya itu bisa kembali utuh, hah?" Masih dengan nada lirih namun terdengar begitu menusuk.

__ADS_1


Dimas menundukan kepala nya dalam, apa yang di ucapkan Mami nya sangat benar. Bahkan jika dia menangis darah pun rasanya semua itu takkan mampu membalikan keadaan menjadi lebih baik. 


"Kalian harus menikah!" Ucap Mami Erika, tegas dan lantang. Membuat sepasang remaja itu kompak mendongakkan kepala mereka, dengan ekspresi yang sama-sama terkejut. 


"Mi, Mami gak bisa ambil keputusan sepihak dong." 


"Sepihak? Sepihak kamu bilang, hah? Setelah kamu menodai anak gadis orang dengan cara yang paling brengsek, apa itu masih termaafkan Dimas?" Tanya Mami Erika, kali ini nada suara nya kembali meninggi saat mendengar penolakan dari Dimas. 


"Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, berani melakukan berarti harus siap dengan konsekuensi nya." 


"Mami.." Kali ini Renata yang bicara, dia memegang lengan Mami Erika dengan lembut. 


"Kenapa, Sayang?" Dia mengusap ujung bibir gadis itu yang masih memperlihatkan darah kering, pipi nya masih lebam, bahkan paha dalam gadis itu terlihat lebam juga, mungkin karena Dimas melakukan nya dengan kasar. Hingga meninggalkan jejak-jejak yang membuat hati seorang ibu itu mencelos. 


"Mami jangan paksa Dimas buat tanggung jawab sama Rere, kalau dia gak mau gapapa kok." Pasrah Renata, dia tak mau menjalani pernikahan tanpa adanya rasa saling suka atau saling menerima satu sama lain. 


"Tapi Mi.." 


"Besok kalian harus menikah, tanpa tapi. Ini sudah keputusan final, tak bisa di ganggu gugat!" Tegas Mami Erika membuat kedua nya lebih terkejut lagi.


"Mi, masa besok sih. Waktu nya terlalu cepat?" 


"Pikirkan masa depan Renata, Dimas. Kau sudah merusak nya, bagaimana kalau Renata hamil anak mu? Lagi, pikirkan kalau suatu saat kau punya anak lalu hal yang kau lakukan pada Renata ini terjadi pada anak mu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Mami Erika.


"Kau pasti merasa marah dan sedih? Itu yang sedang di rasakan orang tua Renata saat ini, ingat kau akan jadi ayah suatu saat nanti. Jadilah pria yang bertanggung jawab, pertanggung jawabkan perbuatan mu!" Ucapnya lagi membuat Dimas kalah telak dan memilih diam.


"Ikut Mami sekarang, kita harus membeli cincin kawin dan persiapan lain." Ajak Mami Erika pada Dimas.


"Telepon orang tua mu, suruh mereka kesini malam ini juga. Masalah uang biar Mami yang urus, asal mereka bersedia datang!" Pinta Mami Erika pada Renata, gadis itu mengangguk pelan. Padahal paman dan bibi nya baru saja pulang kemaren pagi. 

__ADS_1


"Mami transfer sekarang, suruh mereka naik pesawat agar lebih cepat sampai." 


"B-aik Mi." Jawab Renata sedikit terbata. 


"Kamu baik-baik di rumah, Mami pergi dulu. Besok pagi-pagi kita adakan akad disini, jadi bereskan. Mami akan mengirim beberapa orang untuk membantu persiapan, juga mengirim orang spa untuk memijat tubuhmu." 


"Mami, rasa nya itu terlalu berlebihan." Ucap Renata. 


"Kamu harus terlihat sempurna di hari bahagia mu, Mami pergi dulu." Pamit Mami Erika, dia menarik kasar tangan putra nya, hampir menyeret nya keluar dari kost an Renata. 


Dimas menatap Renata sekilas dengan tatapan yang entah apa artinya. Renata juga sebenarnya tak mau menikah dengan Dimas, terlebih masih ada Sila di antara mereka.


 Dia khawatir akan terjadi sesuatu andai kata mereka menikah, namun ini sudah keputusan yang di ambil Mami Erika, jadi dia tak bisa mengelak atau menolak lagi. Terlebih disini, pihak yang paling di rugikan adalah dirinya. 


"Semoga saja semua nya baik-baik saja." Gumam Renata, dia memejamkan mata nya sejenak. Lalu mengambil ponsel dan menghubungi paman dan bibi nya. 


Mereka terkejut saat mendengar Renata akan menikah besok, awalnya mereka mengira kalau Renata akan menikah dengan Reza, namun setelah mendengar nama lain seketika kedua nya mendesaah kecewa. 


Namun, keduanya setuju datang dan saat ini sedang bersiap-siap untuk menuju bandara. Renata mengusap dada nya lega, meski dia merasakan ada sedikit keraguan dalam hatinya saat ini. 


Apakah dia mampu membina rumah tangga dengan Dimas? Meski dia mencintai pria itu, namun apa pria itu memiliki perasaan yang sama?


"Sudahlah Re, cinta bisa tumbuh seiring berjalan nya waktu, berfikirlah fositif saja." Gumam Renata lalu menggelengkan kepala nya pelan. 


Hingga lamunan nya terhenti saat mendengar pintu di ketuk lirih dari luar, dia bergegas membuka nya, ternyata dua orang dari salon datang, Renata menyambut nya dengan ramah. Dan keduanya memulai perawatan spa yang membuat otot-otot tegang terasa lebih lentur. 


.....


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2