
Dua bulan berlalu, selama itu pula tak ada keluhan apapun dari Renata. Saat ini kehamilan nya sudah menginjak usia ke tujuh, hari ini rencana nya akan di adakan pengajian di kediaman Argantara.
Reza sedang mengerjakan pekerjaan nya di kamar, sedangkan di bawah orang-orang sedang sibuk menyiapkan sajian untuk acara pengajian nanti sore. Keluarga itu mengundang ratusan anak yatim untuk ikut mendoakan kehamilan sang menantu.
"Mas, lagi apa?" Tanya Renata pelan, sambil berjalan ke arah sang suami. Di usia kehamilan nya saat ini, membuat Renata sedikit kesulitan berjalan dan sering mengeluh sakit pinggang karena menopang beban di tubuhnya.
"Lagi ngerjain tugas ini, sayang. Kenapa?"
"Bisa pijitin pinggang aku sebentar? Sakit banget, pegel." Pinta Renata, dia duduk di pinggir ranjang, dekat dengan sang suami.
"Bisa dong sayang, kerjaan bisa nanti. Yaudah, sini." Reza menyibak Dress yang di pakai sang istri, dan memijat pinggang nya dengan lembut, juga mengoleskan minyak kayu putih.
"Lebih enakan, sayang?" Tanya Reza, meskipun sebenarnya dia sudah tahu jawaban sang istri, karena melihat ekspresi nya.
"Iya Mas, makasih ya. Maaf ngerepotin kamu, padahal kamu lagi kerja."
"Gapapa dong, sayang. Kamu masih yang utama buat Mas, kerjaan bisa nanti." Jawab Reza, dia tersenyum manis membuat Renata juga ikut tersenyum.
"Gimana dedek bayi nya? Nendang lagi gak?" Tanya Reza.
"Nendang dong, mereka aktif banget kayak papah nya." Reza mengusap lembut perut buncit sang istri.
"Masih dua bulan lagi, gak sabar pengen lihat mereka, sayang. Pasti mereka lucu-lucu kayak aku kan?"
"Iya, pasti Mas." Jawab Renata, Reza memeluk sang istri dari belakang, menumpukan dagu nya di pundak Renata, tangan nya terus mengusap perut istrinya.
"Mas, aku punya keluhan."
"Keluhan apa sayang? Ada yang sakit?" Tanya Reza, dia langsung panik dan melepaskan pelukan nya.
"Enggak kok Mas, cuma aku punya strechmark." Renata menunjukan beberapa garis di perutnya, karena entah kenapa perutnya sering gatal hingga membuatnya tak bisa berhenti menggaruk.
"Ya terus kenapa, sayang?"
"Jelek Mas, nanti kalo udah lahiran perut aku nyusut lagi kan, pasti jelek banget." Keluh nya pelan.
"Apa itu berpengaruh sama Mas? Gak bakalan sayang, Mas cinta sama kamu tulus. Masa cuma gara-gara strechmark aja Mas bilang kamu jelek, gak bakalan dan itu gak akan pernah terjadi." Jelas Reza sambil menangkup wajah sang istri.
Namun bukan nya tersenyum, Renata malah menangis. Sebegitu sensitif nya perasaan ibu hamil, hingga masalah sepele semacam ini pun bisa membuatnya menangis sesenggukan.
Jangan salahkan Renata nya, salahkan hormon kehamilan yang membuat nya jadi sensitif, padahal masalah ini masih ada solusi nya.
"Sayang, kok malah nangis sih? Strechmark itu bisa di hilangkan, nanti kalo kamu udah lahiran, kita ke rumah sakit buat hilangin ya. Gak usah nangis, kamu tetep cantik kok."
__ADS_1
"Huaaa.."
"Astaga, istriku sayang.." ucap Reza, dia memeluk sang istri, menyurukan wajah sang istri di perut nya. Barulah tangis nya mereda.
"Mas gak bakal ninggalin aku kan?"
"Ninggalin kemana? Mas kan disini sama kamu." Jawab Reza lembut, tangan nya terus mengusap kepala sang istri.
"Aku takut Mas ninggalin aku, gara-gara aku jelek."
"Astaga sayang, Mas udah bilang hal semacam itu gak bakal pernah terjadi. Dapetin kamu itu susah, Mas berjuang buat bisa sama kamu, masa sekarang pas udah sama-sama, Mas sia-siain kamu sih?"
"Gak mungkin, mendapatkan itu gak semudah melepaskan sayang. Tapi melepaskan kamu itu seperti hal yang mustahil untuk Mas." Jelas Reza panjang lebar.
"Terimakasih kalau begitu, aku percaya sama Mas."
"Harus, kamu harus percaya sama Mas." Renata melingkarkan tangan nya di pinggang sang suami.
"Sekarang kita ke bawah yuk, liat persiapan acara pengajian nanti." Ajak nya, Renata menurut dan berdiri meski harus di bantu oleh sang suami.
"Aku nyusahin ya Mas."
"Enggak, kamu gak pernah nyusahin siapapun sayang."
"Eza, sebaiknya kamar kalian di pindah ke bawah aja. Kasian Rere naik turun tangga," saran Argan saat melihat pasangan itu menuruni tangga dengan perlahan.
"Iya Pih, Eza udah nyaranin ini berkali-kali sama Rere, tapi dianya keras kepala. Kekeuh pengen di atas aja."
"Nurut ya sayang, kami lakuin ini karena sayang sama kamu." Ucap Mariska.
"Iya Mom, maafin Rere ya."
"Gapapa sayang, kamu udah makan? Makan dulu yuk," ajak Mariska.
"Rere gak mau makan Mom, tapi kalau salad buah, Rere mau." Jawab Renata, membuat Mariska terkekeh. Seperti nya salad buah adalah makanan favorit menantu nya saat ini, setiap hari dia memakan nya tanpa merasa bosan.
"Kasih aja Mom, gapapa. Makan buah kan sehat, bagus buat perkembangan bayi." Cetus Karina, dia baru saja keluar dari kamar nya.
"Iya, kamu sama Mbak mu dulu ya sayang. Biar Mommy yang ambilin salad nya."
Karina memegang tangan adik ipar nya dan membantu nya berjalan ke sofa.
"Wahh baby pump nya udah keliatan banget ya," ucap Karina dengan antusias.
__ADS_1
"Iya mbak, udah mulai berat juga sekarang. Makanya pinggang aku sering sakit." Jelas Renata sambil tersenyum kecil.
"Ini, makan ya sayang. Kalo kurang masih ada, kalo masih belum puas makan nya ntar Mommy buatin lagi." Mariska mengulurkan semangkuk besar salad buah, porsi biasanya yang Renata makan dan selalu habis tak bersisa.
"Makasih Mommy, maaf kalo Rere ngerepotin Mommy."
"Mommy gak pernah merasa di repotin sama kamu, sayang. Justru Mommy seneng kalo kamu suka," Mariska terkekeh, lalu mengusap rambut panjang menantu nya.
"Aasshhh.." Renata meringis membuat kedua wanita yang sedang duduk itu panik seketika.
"Dek, kenapa?"
"Sayang kenapa?" Tanya Karina dan Mariska barengan, namun Renata hanya cengengesan.
"Dedek bayi nya nendang kuat banget, sampe bikin aku pipis Mom, mbak." Jawab Renata, membuat keduanya kompak mengelus dada.
"Sini, mana Mommy pengen ngerasain."
"Di sebelah sini, Mom." Renata mengambil tangan mertuanya dan meletakan nya di bagian yang tadi di tendang Reza junior dari dalam.
"Masyaallah mereka aktif sekali sayang," ucap Mariska.
"Mbak juga pengen dong, dimana dek?" Giliran Karina yang ingin menyentuh perut Renata.
"Disini mbak." Renata meletakan tangan Karina di perutnya.
Wanita itu tersenyum kesenangan saat merasakan tendangan-tendangan halus dari dalam. Kedua matanya berkaca-kaca, dia tak pernah mengalami ini.
"Mbak kenapa?"
"Gak kenapa-napa kok, mbak cuma terharu aja. Kalo bisa, mbak juga pengen ngerasain kayak kamu, tapi mbak gak bisa. Mbak gak punya rahim."
"Yang sabar ya mbak, kan mbak bisa ngerasain nya lewat aku. Jangan berkecil hati ya mbak, mbak itu wanita luarbiasa." Ucap Renata, membuat Karina langsung memeluk sang adik.
Inilah jawaban pertanyaan nya dulu, kenapa adiknya bisa tergila-gila pada wanita sesederhana Renata, dan dia mendapatkan jawaban nya sekarang. Karena Renata memiliki hati yang sangat baik.
Sedangkan Argan dan Reza tersenyum melihat interaksi antara kakak dan adik ipar nya itu. Hati Reza menghangat, melihat keduanya. Renata selalu bisa membuat siapa saja merasa nyaman dengan nya.
.......
🌻🌻🌻🌻.
ada yang kangen sila gak?
__ADS_1