
Di bandara, Reza sedang duduk di dalam pesawat yang beberapa menit lagi akan lepas landas, meninggalkan kota kelahiran sekaligus kota penuh kenangan yang entah akan bisa dia lupakan atau tidak.
Pria tampan itu menatap jendela, dia berangkat sendiri ke Amerika, meski awalnya Momy Mariska dan Papi Argantara ngotot ingin mengantar sang putra ke negeri paman sam untuk pendidikan.
Namun Reza tetap menolak, dan kedua orang tua nya pun akhirnya mengalah, mereka hanya mengantar Reza ke bandara lalu menunggu hingga pesawat nya lepas landas.
"Selamat tinggal kota kelahiran yang penuh kenangan, aku pergi sementara waktu untuk menenangkan diri membawa luka yang perih, semoga beberapa tahun lagi setelah aku selesai menempuh pendidikan, suasana nya tak berubah." Reza bergumam, tanpa terasa air mata nya jatuh menetes.
Andai saja dia tak jatuh cinta, mungkin saat ini hatinya tak sesakit ini. Namun itulah hati, tak bisa di atur sesuka hati, perasaan itu datang dengan sendirinya tanpa bisa di cegah.
Tak berapa lama pun, pesawat akhirnya lepas landas. Mariska menatap dari kejauhan saat pesawat yang membawa putra nya itu mulai pergi menjauhi tempat dia berdiri.
"Semoga kamu bisa menyelesaikan masalah mu, Nak." Gumam Mariska, namun masih bisa di dengar oleh Argan.
"Susah ya Mom kalau urusan nya sudah sama jodoh."
"Iya, Mommy udah berharap banget Renata berjodoh sama Reza tapi takdir berkata lain." Jawab Mariska pelan, Argan mengusap lembut punggung sang istri. Dia juga menyukai Renata, namun apa mau di kata jika sudah begini? Tak ada yang bisa mencegah apa yang sudah terjadi.
"Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, berjuang semaksimal mungkin, selebihnya itu urusan yang di atas. Kita berdoa ya Mom, semoga Reza berjodoh dengan orang yang tepat."
"Iya Pih, mommy pasti doain yang terbaik buat Reza." Mariska tersenyum menatap sang suami.
"Kalau begitu, kita pulang ya? Papih merasa lelah."
"Iya Pih." Pasangan itu pun berlalu meninggalkan kawasan bandara dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain, sudah berpuluh-puluh tahun keduanya membina biduk rumah tangga, namun masih terlihat sangat harmonis. Jarang terjadi percekcokan apapun.
Di kost an, pagi-pagi sekali Renata sudah bangun dan bersiap memasak untuk sarapan. Sedangkan Dimas masih bermalas-malasan di kamar, bergelung dalam selimut milik Renata.
Hari ini, dia memasak udang saus mentega dan tumis buncis, hanya itu yang ada di kulkas nya, dia belum belanja bulanan lagi.
Aroma masakan nya menguar, membuat Dimas yang tadinya belum ingin bangun pun langsung bangun karena paksaan dari perut nya.
"Masak apa, Istri?" Tanya Dimas datar, sambil mengintip apa yang ada di teflon dan sedang di aduk-aduk oleh Renata.
"Udang saus mentega, sama tumis buncis." Jawab Renata, tanpa melirik ke arah Dimas. Dia begitu fokus dengan kegiatan pagi harinya.
Dimas meneliti wajah Renata, perempuan itu memang cantik, apalagi rambut nya yang di cepol asal meninggalkan anak rambut yang menambah kesan natural.
"Ini kopinya, di minum selagi hangat."
"Makasih."
"Sama-sama." Renata menjawab singkat, dia kembali mengaduk masakan nya agar tak gosong, dan hanya perlu waktu beberapa menit, dua menu sarapan sudah tersaji di meja.
Renata menyendok nasi, dan meletakan nya di depan Dimas. Renata juga melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri, dia duduk berhadapan dengan Dimas, baru saja akan menyuap, suara pintu di ketuk membuat fokus keduanya buyar.
"Kamu makan aja duluan, aku bukain dulu pintunya."
Renata membuka pintu, senyuman cerah langsung tersungging di bibirnya setelah tau siapa yang datang bertamu pagi-pagi. Siapa lagi kalau bukan Mami Erika, dia datang dengan membawa rantang susun berisi makanan. Niatnya ingin sarapan bersama anak dan menantu nya.
__ADS_1
"Pagi Sayang.."
"Eehh Mami, pagi juga Mi. Masuk," Renata membuka pintu lebar-lebar, mempersilahkan Mami mertua nya agar masuk.
"Kalian lagi apa?" Tanya Mami Erika sekedar berbasa-basi.
"Mau sarapan Mi, itu Dimas juga udah di meja."
"Tumben itu anak udah bangun jam segini." Ucap Mami Erika, biasanya Dimas akan bangun di jam mepet, jika kelas di mulai jam 10, maka dia akan bangun jam sembilan lebih. Tapi ini? Wah suatu peningkatan yang bagus, padahal baru satu hari dia menikah dan tinggal bersama Renata.
"Gak tahu Mi, tadi Rere bangunin katanya belum mau bangun, tapi pas Rere lagi masak dia tiba-tiba aja udah ada di meja."
"Ohh perut, pasti urusan perut Nak. Dimas paling gak bisa nahan lapar." Jawab Mami Erika.
"Mungkin iya Mi."
"Gapapa kalau Dimas belum bisa cinta sama kamu, urusin dulu urusan perut nya, nanti cinta nya juga perlahan tumbuh kok."
"Semoga aja ya Mi."
"Mami selalu doain yang terbaik buat kalian berdua, yaudah ayo kita makan. Mami juga bawa masakan Mami, rendang."
"Wihh rendang buatan Mami pasti enak." Puji Renata, dia banyak belajar dari Mami Erika tentang cara memasak. Sebagai sesama wanita, tentu saja Mami Erika tak keberatan saat Renata meminta resep masakan nya, dia dengan senang hati memberikan nya dan mengajari gadis cantik itu cara memasak.
"Siapa yang Dateng?" Tanya Dimas dari meja makan.
"Mami, Mas." Jawab Renata, sambil berjalan di ikuti Mami Erika di belakang nya.
"Pagi." Jawab Mami Erika singkat plus datar, dia masih kesal dengan ulah putra semata wayangnya ini.
"Bawa apa Mi?"
"Rendang, tapi bukan buat kamu. Ini buat Renata!" Jawab Mami Erika ketus, membuat Dimas mendengus. Kalau sudah marah, pasti lama. Itulah Mami Erika.
Renata membuka rantang susun itu dan menyendok satu potong daging, lalu meletakan nya di piring Dimas.
"Di makan, bukan cuma di liatin."
"E-ehh iya." Jawab Dimas, dia menyendok nasi dan memakan nya dengan lahap.
"Itu, temen kalian yang satunya tuh siapa sih lupa."
"Reza Mi?"
"Aahh iya, itu Reza. Dia berangkat ke Amerika tadi pagi." Cetus Mami Erika membuat hati Renata terasa sakit.
"Yang bener aja Mi? Dia gak pamitan dulu sama kita berdua." Tanya Dimas dengan raut wajah penuh keterkejutan.
"Iya, pas mau kesini Mami ketemu sama Pak Arga, katanya habis nganterin Reza dari bandara." Jawab Mami Erika.
__ADS_1
'Reza, Lo beneran pergi? Bahkan Lo gak pamitan dulu sama gue, sekecewa itu Lo sama gue, Za?' Batin Renata, jelas saja dia bersedih. Selama ini pria itu yang selalu ada untuknya, jika dia pergi jauh, jelas dia akan merasa kehilangan, meski saat ini sudah ada Dimas di samping nya.
"Reza ada pamitan kok sama Rere kemaren, Mi." Ucap Renata pelan.
"Serius? Kok dia gak pamitan sama gue ya? Isshh Reza!" Kesal Dimas, bagaimana bisa dia di lupakan? Reza pamit pada Renata tapi tidak padanya. Padahal mereka sudah lebih lama berteman.
"Lupa mungkin."
"Pantesan aja kemarin dia ke kamar lama banget, pamitan dulu kali ya." Ucap Dimas, membuat Mami Erika menatap menantu nya.
"Iya Mi, dia cuma pamitan terus bilang gak nyangka aja secepat itu aku berganti status." Jawab Renata, mengerti dengan arti tatapan Mami Erika yang menuntut penjelasan.
"Ada yang kamu sembunyikan dari Mami?" Tanya Mami Erika, membuat Renata mendongak.
"Enggak kok Mi, gak ada." Jawab Renata berusaha setenang mungkin.
"Mami percaya, kamu bukan tipe perempuan yang suka main rahasia-rahasiaan. Ayo di lanjut makan nya."
Ketiga nya pun kembali melanjutkan sesi makan pagi yang sempat tertunda karena obrolan tadi.
...
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
haii, disini author mau promosiin novel punya temen author, jangan lupa mampir, tekan favorit sama komen plus like🥰
Blurb
GORESAN LUKA
(SyaSyi)
Pernikahan adalah sebuah impian setiap orang, tetapi bagaimana rasanya kalau kita menikah dengan orang yang salah? Perkenalan yang begitu singkat membuat Anindya tak mengenal jelas sosok Argantara suaminya. Niat hati ingin mendapatkan kebahagiaan, dia justru mendapatkan goresan luka yang dibuat oleh sang suami. Lantas, siapakah yang disalahkan dalam hal ini? Mungkinkah takdir tak berpihak kepadanya?
Anindya Saputri, wanita berusia 24 tahun yang harus merasakan luka dan penderitaan yang mendalam dalam pernikahannya. Pernikahan tak seperti dalam bayangannya. Dia telah salah dalam memilih suami. Argantara bukanlah suami yang baik untuknya. Banyak rahasia yang belum terungkap.
"Aku cape, harus terus terlihat bahagia di depan semua orang. Menutupi kelakuan kamu!"
-Anindya Saputri-
"Aku yakin kamu akan selalu mempertahankan aku dan tak akan pernah pergi meninggalkan aku."
-Argantara Wijaksono-
Rahasia apa yang dimiliki Argantara? Akankah Anindya tetap mempertahankan pernikahannya?
__ADS_1
jangan lupa mampir yaww🥰