
Keesokan harinya, sebuah mobil berhenti di depan teras rumah kontrakan Renata, wanita itu mengernyitkan kening nya, siapa kiranya yang datang pagi-pagi begini?
Namun pertanyaan nya terjawab sudah, dia melihat dua orang yang paling dia rindukan turun dari mobil itu dengan menenteng tas besar, entah berisi apa dia sendiri tak tahu.
Air mata nya luruh begitu saja, dia mengingat saat terakhir kali dia melihat wajah paman dan bibi nya saat pergi setelah dia menikah, dia tahu kalau keduanya kecewa.
Susah payah menyekolahkan nya hingga jenjang tinggi, namun malah di hancurkan oleh hal tak terduga.
"Pa-man.." Renata berlari, dia menghambur memeluk Calvin yang sudah merentangkan tangan nya, bersiap menyambut kedatangan sang keponakan kesayangan.
Renata menangis terisak di pelukan Calvin, inilah yang sejak lama ingin dia lakukan. Menumpahkan tangis di pelukan pria yang menjadi pengganti ayahnya, Calvin juga menangis. Dia mengusap punggung Renata dengan lembut.
Sedangkan Clarissa berdiri tak jauh dari keduanya, menyaksikan betapa harunya pertemuan paman dan keponakan itu. Bukan masalah lama atau sebentar nya mereka bertemu, tapi pada kesan terakhir saat mereka bertemu.
"Apa kabar, Nak? Kenapa tak bercerita tentang kehidupan mu? Kenapa?" Tanya Calvin menuntut jawaban pada Renata.
"Eemm, sebaiknya kita bicara di dalam saja." Ucap Clarissa, meski sebenarnya dia juga penasaran tentang cerita hidup Renata setelah menikah dan akhirnya berpisah, namun dia harus menahan nya karena mereka masih berada di luar.
"Aaahh iya, akan sangat tak sopan jika kita bicara disini. Ayo masuk, Paman, bibi." Ajak Renata lirih, mengajak kedua nya masuk. Dia bahkan membantu membawakan tas yang di bawa Calvin dan Clarissa tanpa diminta.
"Duduk dulu, Rere bikinin minum sebentar."
"Gak usah repot-repot, sayang. Kami bukan tamu disini, kami orang tua mu. Bukan begitu?" Tanya Calvin, Renata mengangguk dan kembali memeluk Calvin, menangis sejadinya di dekapan hangat nya.
"Sayang, apa kamu begitu terluka? Paman belum pernah melihat mu menangis sesakit ini, setelah kepergian orang tua mu."
"Sangat, sangat menyakitkan." Jawab Renata lirih.
"Kau bisa bercerita sekarang, ada kami yang mendengarkan, meski sudah sangat terlambat."
Renata menghela nafas nya berat, mau tak mau dia harus menceritakan semua masalah yang dia alami.
"Semua nya di awal dari pernikahan aku dan Dimas, dua bulan awal biasa-biasa saja, Dimas sangat baik dan dia mau bekerja."
"Namun selanjutnya, dia berselingkuh dengan mantan kekasihnya, Sila. Dari awal, akulah yang menjadi pihak ketiga di antara hubungan mereka hingga Mami menikahkan aku dengan nya, mungkin Sila belum selesai dengan Dimas jadi dia datang kembali."
__ADS_1
"Dan ya, kalian pasti bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya, mereka sering menghabiskan waktu bersama, bahkan mengobrol mesra di depanku, padahal saat itu aku sedang hamil." Jelas Renata, membuat keduanya terhenyak.
Bahkan Calvin sudah mengepalkan kedua tangan nya, ayah mana yang rela putri kesayangan nya di sakiti pria brengsek? Takkan ada dan takkan pernah ada.
"Namun sepertinya, berita kehamilan ku bocor, hingga mengundang niat jahat dari orang lain yang entah siapa, aku tak berani menuduh tanpa bukti. Tapi yang jelas, orang itu mungkin masih ada hubungan nya dengan Sila. Tapi entahlah."
"Aku di dorong jatuh dari tangga eskalator mall anggrek dan janinku tak bisa bertahan, dia pergi bahkan sebelum aku sempat melihatnya, aku menyerah dan memutuskan untuk berpisah, aku tak sanggup menerima rasa sakit lagi."
"Jadi katakan, rasa sakit seperti apa yang belum aku rasakan? Semua nya sudah aku alami, bahkan rasa sakit yang paling sakit pun sudah aku rasakan." Lirih Renata, sedetik kemudian dia menutup wajah nya dengan kedua tangan.
Sekuat apapun seorang wanita bertahan di depan orang, apalagi orang yang sudah menyakiti nya, tapi dia tetap seorang putri di mata kedua orang tua nya, dia tak bisa menyembunyikan sisi rapuh nya. Saat tatapan mata lembut, teduh yang menenangkan itu menatap nya dengan segala ketulusan yang terpancar dari tatapan nya.
"Kami percaya kamu adalah sosok wanita kuat, sayang. Tak apa menumpahkan air mata, tapi jangan menyakiti diri sendiri. Kemarilah sayang, kamu bisa menangis di pelukan bibi sepuasnya."
Renata beralih memeluk Clarissa dengan erat, dia kembali menangis. Meski sebenarnya dia sudah berusaha sangat keras untuk melupakan semua rasa sakit yang pernah dia alami, namun apa mau di kata tetap saja rasa sakit itu masih bersarang di hatinya.
Tokk.. tokk.. tokk..
Pintu di ketuk berulang, membuat Calvin refleks berdiri untuk membukakan pintu. Dia melihat Reza berdiri dengan senyum manis yang melengkung bibir tipis nya.
"Iya, kami baru saja sampai. Mari masuk, Nak Reza." Ajak Calvin, Reza masuk ke dalam. Dia nampak terkejut saat melihat Renata menangis, ya dia tahu wanita itu sedang menangis dari bahu nya yang bergetar.
"Sayang kenapa?" Tanya Reza, dia mendekat dan mengambil alih pelukan Clarissa.
"Aku baik-baik saja."
"Baik? Kau pikir aku bodoh, mana bisa di katakan baik jika kau menangis, sayang? Apa ada yang melukaimu, katakan!" Tanya Reza beruntun.
"Maaf, Nak Reza. Tadi kami menanyai tentang masalah yang sebenarnya terjadi," jawab Calvin, membuat Reza menoleh dan menatap pria itu sedikit tajam.
"Jangan menatap ayahku seperti itu, atau kau.."
"Iya iya, aku minta maaf sayang." Ucap Reza, dia kembali meraih Renata ke dalam pelukan nya, mendekap nya dengan erat.
"Kenapa kamu kesini? Bukan nya harusnya kita di pingit?" Tanya Renata.
__ADS_1
"Hehe, aku kesini sembunyi-sembunyi. Kangen soalnya, sekalian ngasih ini buat kamu." Reza mengeluarkan sebuah benda yang membuat air mata Renata kembali tumpah.
"Ezaa.." lirih Renata, dia kembali menduselkan wajah nya di dada bidang Reza.
"Isshh geli, sayang."
'Malu di liatin Paman sama bibi kamu, jangan gini sayang.' Bisik Reza membuat Renata sadar, seketika dia menjauhkan wajah nya dari dada bidang Reza, calon suaminya.
"Gak salah ngasih ginian? Kita besok nikah lho."
"Ya karena besok kita nikah jadi aku ngasih ini sama kamu, biar bisa kamu pakai besok."
Mahkota, ya sebuah mahkota dengan hiasan batu kristal berwarna merah. Reza pernah mengatakan jika dia akan memakaikan mahkota ini pada pengantin nya suatu saat nanti.
Dulu, dia juga sempat memberikan mahkota itu pada Renata, namun Renata malah mengembalikan mahkota itu dan mengatakan untuk menyimpan mahkota itu dengan baik dan memberikan nya pada orang tepat.
Saat itu dia berdoa dalam hati semoga Renata lah yang menjadi pengantin nya, dan doa-doa nya terkabul sudah. Dia akan memakaikan mahkota itu untuk Renata besok.
"Kenapa tak saat resepsi?"
"Saat resepsi aku ingin kamu memakai mahkota yang lebih besar agar kamu terlihat seperti princess, sayang." Jawab Reza, dia membelai wajah Renata dengan lembut.
"Aku akan memakai besok, untuk suamiku."
"Terimakasih, aku mencintaimu."
"Maaf.."
"Tak masalah, aku bisa menunggu sebentar lagi." Jawab Reza, membuat Calvin dan Clarissa terharu, sejak dulu kelembutan inilah yang mereka sukai dari sosok Reza.
.....
🌻🌻🌻
bab besok nikahan Renata sama Reza, jangan lupa siapin amplop vote, kopi atau bunga yaaw☺️
__ADS_1