
"Mami anter kamu besok!" Tegas Mami Erika, membuat Renata mendongak.
"Maksud Mami?" Tanya Renata.
"Mami anter kamu ke pengadilan besok, Sayang." Jawab Mami Erika lagi, dia mengusap lembut wajah Renata.
"Ma-mi, gak marah Renata memilih menyerah sama Dimas?" Tanya Renata lagi.
"Sebenarnya, Mami gak rela sayang. Tapi melihat kamu bahagia adalah satu kebahagiaan buat Mami, jadi buat apa Mami bersikukuh membuat kamu bertahan, sedangkan Dimas saja menyakitimu."
"Mami sayang sama kamu sebagai anak, orang tua mana yang rela anaknya di perlakukan seperti itu? Mami rasa gak bakal ada. Jadi, apapun keputusan kamu, Mami dukung."
"Kalau pun semisal kamu ingin bertahan, Mami pasti akan menyuruh kamu berfikir dua kali untuk bertahan." Jelas Mami Erika panjang lebar.
"Terimakasih Mami.."
"Sama-sama sayang, semoga setelah proses cerai kalian resmi, Mami doakan kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik, yang bisa menghargai kamu sebagai wanita." Pepatah Mami Erika, Renata mengangguk dan kedua wanita berstatus mertua dan menantu itu pun kembali berpelukan hangat.
.
Keesokan paginya, Renata sudah bersiap-siap. Dia membawa berkas-berkas pengajuan perceraian nya dengan Dimas, tak lupa dia juga membawa bukti-bukti perselingkuhan Dimas dan beberapa Poto kekerasan yang di lakukan oleh Dimas beberapa waktu lalu.
Kedua nya berangkat dengan menggunakan mobil Mami Erika, semalam dia memutuskan untuk menginap di rumah Renata.
Sepanjang perjalanan, Renata terus memilin ujung kemeja nya, dia gugup bahkan berkeringat. Tangan nya terasa dingin.
"Tenang sayang,"
"Rere gugup, Mi." Jawab Renata.
Mami Erika hanya tersenyum menanggapi jawaban Renata, wanita baya itu juga tak pernah menyangka dia sendiri yang mengantar menantu nya untuk menggugat cerai putra nya.
Tapi disini putra nya lah yang salah, bukan Renata. Jadi tidak masalah selama dia berada di pihak yang benar.
Renata masuk sendiri ke ruangan sidang, dia memberikan berkas-berkas nya, dan setelah beberapa saat salah satu pegawai di kantor pengadilan agama itu memanggilnya kembali.
"Surat ini membutuhkan tanda tangan dari pihak pertama, jika memang mempersulit maka akan di adakan sidang." Jelas nya membuat Renata menganggukan kepala nya.
"Baik, terimakasih." Renata pun keluar dengan menenteng amplop kecil bercap pengadilan.
"Sudah sayang?"
"Sudah Mi, kata nya ini butuh tanda tangan pihak pertama. Kalau semisal Dimas gak mau tanda tangan atau mempersulit proses cerai, maka akan di adakan sidang seminggu kedepan." Jelas Renata.
__ADS_1
"Berikan surat itu sama Mami, biar Mami yang minta tandatangan Dimas."
"Iya Mi, makasih ya. Rere gak mau ketemu Dimas dulu," jawab Renata, Erika pun mengerti kenapa Renata tak mau bertemu Dimas. Itu karena dia trauma dengan kejadian tadi malam, lagi pula pria itu sudah terlalu banyak menyakitinya.
Setelah selesai, kedua nya pun pulang. Mami Erika juga langsung pulang setelah mengantarkan Renata sampai depan rumahnya.
Dia pulang, duduk di sofa dengan tatapan mata lurus ke depan. Dia menatap pigura berisi Poto keluarga kecil nya, dia, almarhum suaminya, dan Dimas kecil.
"Mas, maaf aku gagal mendidik anak kita. Dia menyakiti wanita dan aku tahu itu adalah salah satu pantangan bagimu, tapi anak kita melakukan nya, Mas. Maaf.." Gumam Mami Erika lirih, tumpah sudah air mata nya, dia menangis tergugu sambil menutupi wajah nya dengan kedua tangan.
Suami nya adalah pria baik hati dengan sejuta pesona yang membuat siapapun jatuh hati, dia adalah ustadz muda yang melabuhkan hati nya pada Erika belasan tahun silam. Hingga akhirnya mereka menikah karena sudah merasa cocok, dia pria idaman, tak pernah sekalipun dia berkata-kata kasar yang menyakiti hati istrinya, meninggikan suara nya pun tak pernah.
Namun kenapa anak mereka berbeda? Dimas sangat jauh berbeda dengan ayahnya, dia menganggap pernikahan itu seperti permainan. Padahal pernikahan itu suci, setiap wanita pasti bermimpi menikah hanya sekali seumur hidup, tak terkecuali Renata. Dan itu lah alasan kenapa sampai saat ini Erika memilih tak menikah lagi.
Setelah perasaan nya membaik, Mami Erika merogoh ponsel nya dari tas dan menghubungi nomor sang putra. Hari sudah cukup petang, pasti Dimas sudah pulang bekerja.
'Ya, hallo Mi..' Suara Dimas terdengar setelah dia mengangkat panggilan.
"Ke rumah Mami sekarang!"
'Iya Mi, Dimas nganter Sila pulang dulu.'
"Sekarang! Mami minta sekarang kamu kesini, sejak kapan ibu nomor dua setelah istri? Apalagi istri mu modelan Sila." Sindir Erika.
Di parkiran kantor, Dimas memasukkan kembali ponsel nya, dia menatap wajah Sila yang sudah asam seperti sayur yang tak di hangatkan.
"Sil, maaf aku harus ke rumah Mami. Kamu pulang sendiri, bisa kan?"
"Hah? Terus dari tadi aku berdiri disini panas-panasan ngapain Dimas?" Cerocos nya dengan ketus.
"Ya Mami lebih penting dari kamu, yaudah Aku ke rumah Mami dulu, terserah kamu pulang pake apa." Dimas pun melajukan motor nya meninggalkan Sila yang terus berteriak memanggil suaminya.
"Issshh si Dimas nyebelin!" Gerutu Sila sambil menghentak-hentakkan kaki nya.
Dimas melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi, meski dalam hati dia bertanya-tanya, ada apa Mami nya menyuruh pulang?
Tak butuh waktu lama, Dimas sudah sampai di rumah nya. Rumah tempat dia di besarkan dan dia tempati selama 24 tahun.
"Assalamualaikum Mami.."
"Waallaikumsalam, Dimas." Jawab Erika, putranya menyalim tangan nya dengan takzim seperti biasa.
"Ada apa nyuruh Dimas kesini, Mi?" Tanya Dimas langsung.
__ADS_1
"Duduk." Pinta Erika, Dimas menurut. Dia membuka jaket nya dan menyampirkan nya di sandaran sofa.
Erika menghela nafas nya, dia mengambil tas dan merogoh amplop berisi surat dari pengadilan.
"Ini dari Renata.." Erika mendorong pelan amplop itu ke hadapan Dimas.
"Amplop apa ini, Mi?"
"Buka dan baca, jangan tanya kenapa tidak Renata sendiri yang memberikan nya. Kamu pasti tahu alesan nya kenapa." Ucap Mami Erika. Perlahan Dimas mengambil amplop itu, membuka nya dengan perlahan, membuka lipatan surat itu dan membaca nya dengan teliti.
Disana tertulis bahwa pihak kedua atas nama Renata Lusiana menggugat cerai pihak pertama atas nama Dimas Fahrian.
"Renata gugat cerai Dimas, Mi?"
"Kamu bisa membaca nya kan? Mata mu masih berfungsi kan? Maka kau tahu jawaban nya." Jawab Mami Erika sinis.
"Mi, kenapa Mami dukung Renata buat cerai sama Dimas? Dimas ini anak mami lho, sedangkan Renata itu orang lain. Kenapa Mami lebih menyayangi Renata dari pada Anak Mami sendiri?"
"Karena kamu salah, Dimas. Kalau seandainya Renata yang berbuat seperti ini Mami pasti akan membela mu, tapi disini kau yang salah dan Mami sebagai orang tua akan membela pihak yang benar!" Tegas Mami Erika membuat Dimas bungkam.
"Kamu gak sadar selama ini sudah sangat menyakiti Renata? Di mulai dari berselingkuh dengan jaalang itu, lalu menikahi nya dengan megah, mengutamakan selingkuhan dari pada istri sah? Apa itu di benarkan? Tidak Dimas, sampai kapanpun perbuatan mu itu tak bisa di benarkan."
"Tandatangani surat itu, dengan begitu kalian resmi bercerai dan kamu bebas mau berbuat apapun dengan Jalaang mu itu!" Sinis Mami Erika.
"Mi, Sila bukan jaalang. Dia istri Dimas sekarang!"
"Ya, jadi lepaskan Renata dan kau bisa tenang dengan hanya punya satu istri." Jawab Mami Erika, dia memberikan pena ke tangan Dimas.
"Tapi Dimas juga gak mau cerai sama Rere, Mi."
"Jangan egois Dimas, sebagai laki-laki harusnya kamu bisa adil. Kalaupun seandainya Renata rela di madu, tapi perlakuan mu jauh dari kata adil. Jadi, biarkan Renata bebas dan memilih jalan hidupnya. Begitu juga kau,"
Dengan tangan bergetar, Dimas meraih pena di meja dan membubuhkan tanda tangan nya di surat itu. Dengan berat hati, mulai hari ini mereka sudah resmi bercerai.
"Terimakasih, kamu bisa kembali pada istrimu." Mami Erika kembali melipat surat itu dan menyimpan nya dengan rapih. Besok, dia akan menyerahkan surat itu ke pengadilan, agar akta cerai nya bisa segera di proses.
"Dimas pulang dulu, Mi. Assalamualaikum.."
"Waallaikumsalam." Dimas pun pergi dengan langkah gontai. Mami Erika menghembuskan nafas nya lega, setidaknya saat ini beban nya sedikit berkurang.
......
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1