
Kepulangan pasangan suami istri itu langsung di sambut dengan seseorang, wanita cantik bertubuh mungil, sama seperti Renata.
"Baru pulang, dek?"
"Iya mbak, jemput istri di cafe." Jawab Reza, sedangkan wanita yang di panggil mbak oleh suaminya menatap wanita yang berdiri di samping adiknya dari atas sampai bawah.
"Kenapa natap istri aku kek gitu, mbak buat dia takut." Ucap Reza sambil meraih sang istri ke dalam pelukan nya, saking peka nya Reza tahu istrinya merasa tak nyaman dengan tatapan yang di layangkan oleh kakaknya. Apalagi saat melihat sang istri yang menunduk.
"Eehh maaf Za, mbak gak ada maksud gitu." Karina mendekat ke arah Renata dan langsung memeluknya.
"Maafin mbak ya, sungguh mbak gak ada maksud bikin kamu takut."
"Gapapa kok mbak." Jawab Renata dengan suara lirih nya.
"Wahh ternyata istri adik ku cantik sekali, sini mbak punya oleh-oleh buat kamu." Karina menarik tangan Renata, dan mendudukan nya di sofa ruang tamu.
"Ini buat kamu, maaf ya saat kalian berdua nikah mbak gak bisa pulang, soalnya Mas Nick ada kerjaan yang gak bisa di tunda." Sesal Karina.
"Gapapa kok mbak, doanya aja udah cukup." Jawab Renata sopan.
"Selain cantik ternyata kamu sangat sopan ya, pantesan aja Eza ngebet pengen nikahin kamu." Celetuk nya membuat wajah Renata merona.
"Chika gak ikut, Mbak?"
"Enggak, sama Oma opa nya di Amrik." Jawab Karina santai.
"Ayo di buka dong hadiah nya, kamu suka apa nggak. Kalo gak suka kita bisa keliling mall nyari barang buat kamu."
"Gak usah mbak, istriku terlampau sederhana. Di beliin sepatu aja sama Eza baru di pake sekali, itu pun harus di paksa dulu." Reza ikut nimbrung.
"Sayang, adik ipar ku yang cantik. Jadi perempuan itu harus materialistis, gak usah hemat. Biar suami berasa punya beban jadi lebih giat bekerja, kalau kamu nya begini nanti Eza nya males kerja."
"Mbak gak usah ngeracunin otak istriku ya,"
"Lho siapa yang ngeracunin? Mbak nggak kok, cuma ngasih nasehat menjebak aja sih." Jawabnya sambil terkekeh, membuat hati Renata menghangat melihat interaksi antara Karina dan Reza.
Seingatnya dulu, dia juga punya kakak tiri. Tapi entah dimana keberadaan nya saat ini, sudah puluhan tahun tak bertemu lagi semenjak hari naas yang paling menyakitkan itu terjadi hingga dia harus kehilangan sosok ayah.
Hanya berselang dua bulan, dia kembali di hadapkan dengan kenyataan pahit. Ibunya yang mengalami depresi juga meninggal, dirinya yang saat itu masih sangat kecil di tinggalkan sendirian tanpa sosok ayah atau ibu.
Beruntung saja ada Clarissa dan Calvin yang memeluk nya dengan tangan terbuka, menyayangi nya seperti layaknya orang tua kandung pada putri mereka. Untuk itulah, mungkin hanya ucapan terimakasih takkan bisa menebus semua jasa yang sudah mereka berikan.
"Sayang, kok kamu diam. Kenapa? Ada masalah, atau perut kamu sakit?" Tanya Reza dengan khawatir begitu melihat sang istri hanya diam dengan tatapan lurus ke depan.
"Eehh enggak kok, Yang. Aku gapapa, aku baik."
"Terus kenapa melamun? Lagi ngobrol malah bengong." Reza mendekat dan memeluk nya, jika Renata kehilangan fokus saat ada orang yang mengajak nya bicara, Reza tahu pasti ada sesuatu terjadi.
__ADS_1
"Katakan, kamu kenapa? Apa Dimas menyakitimu lagi, sayang?"
"Enggak kok, tadi dia cuma mau minta maaf." Jawabnya, tak ingin sang suami salah paham.
"Ya terus kamu kenapa? Gak biasa nya kamu begini. Kalo ada masalah, cerita sama aku. Pasti aku dengerin, sayang. Ingat kamu lagi hamil, jangan banyak pikiran."
"Renata hamil?" Tanya Karina. Dengan tersenyum lebar, Reza mengangguk.
"Twins." Jawabnya, membuat Karina menutup mulutnya.
"Wahh congrats, mbak ikut seneng. Sini peluk dulu." Renata memeluk Karina, dia merasa kalau Karina adalah sosok kakak yang hangat.
Kata Mariska sikap mereka berbeda, Karina pendiam sedangkan Reza pecicilan. Tapi setelah dia lihat, ternyata Karina tak sependiam itu. Renata melihat bahwa Karina adalah sosok wanita yang penuh dengan energi positif.
"Jaga kandungan kamu baik-baik, bener kata Reza, kalau ada masalah cerita jangan di pendam sendiri ya. Itu berpengaruh sama perkembangan janin, jangan stres."
"Iya mbak." Jawab Renata singkat.
"Kamu habis dari mana tadi? Pas mbak kesini di rumah gak ada siapa-siapa, mommy sama papi juga masih di kantor."
"Tadi Renata nya ngotot pengen jalan-jalan, yaudah Eza izinin tapi harus hati-hati." Jawab Reza.
"Bosen di rumah terus mbak."
"Iya, besok jalan-jalan nya sama mbak ya. Mbak semingguan disini, jadi selama itu kita akan menikmati waktu bersama okey?"
"Oke mbak." Jawab Renata dengan bersemangat.
"Selamat beristirahat mbak." Karina mengangguk dan masuk ke kamar nya, begitu juga dengan Renata dan Reza.
"Jadi, katakan kamu kenapa ngedadak bengong, hmm?"
"Aku kangen kakak aku, seperti apa ya dia sekarang?" Gumam Renata, mata nya menerawang jauh.
"Kakak? Kamu punya kakak, sayang?"
"Punya, tapi kakak tiri. Dulu, Mama nikah sama papa itu karena kebohongan. Papa bilang dia belum menikah, akhirnya Mama mau nikah sama dia, tapi ternyata tepat di hari kecelakaan itu terjadi, Mama menerima kenyataan pahit bahwa ternyata Papa punya istri lain."
"Dia juga punya anak perempuan dari pernikahan pertama nya, usia nya hanya selisih dua tahun dariku. Setelah itu Papa meninggal dan Mama depresi, sampai meninggal." Jelas Renata membuat Reza terhenyak.
Ternyata kehidupan Renata sangat rumit, dia di tinggal sendirian saat masih kecil dan butuh kasih sayang orang tua.
"Aku hanya pernah sekali melihatnya, itu pun di hari ayah meninggal di rumah sakit. Seperti nya dia membenci ku karena sudah merebut kasih sayang ayahnya."
Mengingat masa lalu nya membuat Renata tersenyum kecut, dari awal dia sudah sangat di uji bahkan hingga sekarang. Itu membuat mental nya lebih terasah dan menjadikan dirinya sosok yang kuat.
Sedangkan di kantor polisi, Sila terus berusaha menghubungi nomor Ken, namun sial nomor pria itu sama sekali tak bisa di hubungi.
__ADS_1
"Aahh sial, kenapa kau tak mati saja Ken! Disaat di butuhkan kau malah meninggalkan aku sendirian." Teriak Sila dengan frustasi, hanya pria itu satu-satunya solusi agar dia bisa terbebas dari jeratan hukum.
Sila terus merutuki kebodohan nya juga orang suruhan nya, bahkan pria bernama Tio itu menghilang 2 hari sejak dia berhasil melakukan tindak kejahatan, entah kemana dia pergi. Masih hidupkah atau sudah mati, Sila tak tahu.
"Silahkan keluar, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda!" Ucap kepala sipir yang bertugas, dia membukakan pintu sel dan mendorong Sila agar berjalan tertatih, karena sebelumnya dia sudah sempat ingin melarikan diri, jadi dengan terpaksa polisi menembak kaki kiri nya.
"Itu pasti Ken, aku yakin dia takkan setega itu meninggalkan aku sendirian." Gumam Sila tersenyum lebar, namun saat di depan senyuman itu seketika hilang. Bukan Ken, melainkan orang asing yang dia sendiri tak tahu siapa.
"Sila Derkain?"
"Ya, saya sendiri. Anda siapa?" Tanya Sila, dia benar-benar tak mengenal siapa pria paruh baya di depan nya. Apa mantan partner one night stand nya? Tapi seingatnya dia tak pernah melayani pria ini, tapi entahlah jika dia lupa.
"Saya Argantara,"
"Argantara? Nama itu terdengar tak asing."
"Jelas tak asing, karena nama itu ada di belakang namaku." Ucap seseorang membuat kedua mata Sila terbelalak seketika.
"Re-za.."
"Ya, Reza Argantara adalah nama lengkapku." Jelas Reza, membuat wajah Sila seketika memerah.
"Ohh jadi kau yang sudah melaporkan aku?"
"Kalau iya memang kenapa? Aku sudah memberimu peringatan sebelumnya." Jawab Reza santai.
"Sialan, sekarang lepaskan aku."
"Santai, gak usah teriak-teriak berisik. Aku hanya memberimu sedikit pelajaran atas apa yang sudah kau lakukan terhadap istriku."
"Jangan lupa kalau dia adalah menantu keluarga Argantara."
"Cihh, wanita itu selalu saja kau puja. Memang nya apa bagusnya sih? Hanya wanita biasa, kau lalu mengagungkan nya?"
"Dia wanita luarbiasa, tak semua orang memiliki sifat dan sikap seperti Renataku, termasuk kau. Kau yang sampah ini takkan pernah bisa menyaingi istriku dalam hal apapun." Sindir Reza membuat Sila terdiam.
"Jadi, kami kemari hanya untuk melihat bentuk kesombongan mu lagi, apa yang bisa kau pamerkan sekarang? Setelah kau di penjara." Tanya Reza santai.
"Haha, aku hanya akan berada di tempat menjijikan ini beberapa hari. Aku takkan lama disini, aku pasti akan keluar dengan bantuan kekasihku."
"Kekasih? Kekasih yang mana, maksudmu Kenzo?" Tanya Reza, sedangkan pria itu tergelak membuat Sila heran.
"Baiklah, sudah cukup hiburan untuk hari ini. Selamat bertemu lagi di ruang sidang keputusan hakim, aku pastikan kau akan membusuk di penjara karena aku punya semua bukti yang akan memberatkan mu!" Tegas Reza, lalu keduanya pun pergi meninggalkan Sila yang mematung.
"Reza, lepaskan aku sialan! Aku tak mau hidup di tempat seperti ini, Reza!" Teriak Sila, membuat sipir kewalahan dan terpaksa memukul tengkuk Sila, membuatnya tak sadarkan diri. Dengan begitu lebih memudahkan nya untuk membawa nya lagi ke sel tahanan.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻
masih ada kejutan lainnya buat Sila, tunggu aja tanggal main nya, ya Sil😏