Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 51 IRS


__ADS_3

Dimas di buat tepar di ranjang setelah melakukan beronde-ronde permainan bersama Sila, saat ini dia sedang mengatur nafas nya yang tersengal setelah pelepasan nya beberapa menit yang lalu. 


"Gimana, enak?" Tanya Sila, dia sudah memakai bathrobe nya.


"Enak, apem kamu legit juga." Jawab Dimas, dia mendudukan tubuh nya di sisi ranjang lalu menarik Sila membuat perempuan itu terduduk di pangkuan nya. 


"Jadi, setelah ini kita resmi pacaran kan? Tenang aja, aku gak bakal minta uang sama kamu kok, aku juga kerja. Aku cuma pengen kamu, itu aja." Ucap Sila, Dimas menyandarkan dagu nya di pundak Sila lalu mengecup basah leher Sila. 


"Oke, masalah pembagian waktu?" Tanya Dimas sedikit berbisik di telinga Sila, membuat perempuan itu menggeliat kegelian. 


"Satu Minggu cukup tiga hari aja sama aku, kamu bisa beralasan lembur." Jawab Sila sambil mengusap wajah tampan Dimas dengan lembut. 


"Aku setuju, dengan begitu Renata takkan curiga." 


"Ingat, kamu gak boleh buat dia curiga. Bersikap biasa saja." Sila mengecup singkat pipi Dimas.


"Kalau aku melakukan nya juga dengan Renata, kamu gak marah kan?" 


"Enggak dong, gapapa kok dia juga istri kamu." Jawab Sila, dia melingkarkan kedua tangan nya di leher Dimas. Sebelum suara dering ponsel membuat kemesraan mereka harus terganggu sejenak. 


"Ponsel kamu bunyi, angkat dulu." Sila turun dari pangkuan Dimas, membiarkan pria itu mengangkat telepon. 


Dimas melihat siapa yang menelpon nya, ternyata Renata. Dia menetralkan suara nya agar istrinya itu tak curiga.


'Hallo Mas, kamu lembur lagi?' Tanya Renata di balik telepon. 


"Iya Sayang, Mas lembur lagi. Tapi besok aku sambung kerja, pulang nya sore paling." 


'Ohh gitu ya? Yaudah deh gapapa, kamu hati-hati kerja nya. Aku mau tidur, udah ngantuk.' Ucap Renata lagi. 


"Baik Sayang, jaga diri baik-baik kalo ada apa-apa telepon Mas ya."


'Iya Mas, semangat kerja nya.' 


"Pasti Sayang, yaudah Mas lanjut kerja dulu ya." Sambungan telepon pun terputus, Dimas langsung mematikan ponsel nya, dia kembali tersenyum menyeringai saat melihat Sila sudah berbaring dengan tubuh polos nya, bathrobe yang tadi menutupi tubuhnya sudah hilang entah kemana. 


"One more, Baby?" 

__ADS_1


"Yes, i want Honey." Jawab Sila dengan suara manja nya. Tanpa basa-basi lagi, Dimas pun kembali melakukan penyatuan dengan Sila. 


"Aku boleh keluar di dalam gak?" Tanya Dimas di sela permainan panas dan bergairah mereka. 


"Of course Bby, aku bisa pakai kontrasepsi." Jawab Sila, tubuh nya terguncang di bawah kungkungan Dimas. 


Dimas tersenyum puas saat mendengar jawaban wanita di bawahnya, dia kembali melanjutkan pergerakan maju mundur nya dengan cepat, membuat Sila berteriak dan sesekali menjerit kenikmatan.


Singkat nya, dua bulan sudah berlalu. Selama itu pula tak ada perubahan apapun dari sikap Dimas, di kantor dia juga seolah tak mengenal Sila. 


Pada Renata, Dimas juga tak mengubah sikap nya, dia menjalankan peran nya dengan baik, membuat Renata tak curiga sedikit pun. Dia juga melakukan tugas dan kewajiban nya sebagai suami, nafkah batin dan lahir tetap dia berikan. 


Hari ini, Renata masuk ke kampus dengan keadaan yang kurang baik. Entah kenapa sejak tadi pagi dia merasa tak enak di perut nya, terasa di aduk-aduk hingga membuatnya mual. 


Tadi pagi, dia juga moodian. Biasa nya bangun pagi dan langsung memasak, ini sebaliknya. Dia malas sekali bangun pagi, bahkan untuk menyiapkan sarapan saja, Dimas melakukan nya sendiri. Karena tak bisa memasak, tadi pagi dia hanya sarapan mie instan dan secangkir kopi. 


"Aduhh kenapa dengan aku ini, pusing sekali." Gumam Renata, dia berjalan pelan ke kantin, memesan es teh lemon yang pasti akan sangat menyegarkan saat melewati tenggorokan nya. 


"Re, Lo baik-baik aja kan? Keliatan pucet, lemes juga dari tadi." Tanya Mira, dia teman Renata setelah kepergian Reza. Dari dulu mereka juga sudah berteman, namun tak sedekat sekarang. 


"Dari tadi pagi aku lemes banget, Mir. Mual juga, pusing." Jawab Renata. 


"Coba periksa ke dokter atau bidan, barangkali kamu isi." Saran Mira. 


"Isi? Hamil maksudmu?" Tanya Renata. 


"Iya, Hamil. Kamu punya suami kan? Pasti suka main kuda-kudaan kan, jadi gak menutup kemungkinan kalo kamu lagi isi tapi belum sadar aja." Jelas Mira, membuat Renata merasa ucapan teman nya itu ada benar nya juga. 


"Nanti sepulang dari kampus, aku ke puskesmas." Jawab Renata, dia kembali menyeruput minuman nya dari gelas. 


Sepulang dari kampus, Renata merasa ragu untuk pergi ke klinik tempat bidan desa bertugas, dia memilih melipir ke apotik untuk membeli testpack. Setalah mendapat barang yang dia pakai, dia pun memutuskan untuk pulang. 


Namun saat di depan pagar, dia melihat motor suaminya sudah terparkir rapi di teras rumah. Renata mengernyitkan kening nya heran, kenapa suami nya sudah pulang jam segini?


Renata memilih melangkah dan masuk ke rumah setelah membuka sepatu nya, dia mendengar samar-samar suara suaminya sedang bicara dengan nada mesra. Renata penasaran, dia memilih menguping di luar pintu kamar. 


'Ahh iya Sayang, besok aku bersama mu. Sekarang aku sama istri aku dulu, besok jatah kamu.' Jelas, itu suara Dimas. Renata hafal betul dengan suara suami nya sendiri. 

__ADS_1


Terdengar suara gelak tawa, namun tak lama kembali terdengar Dimas itu memanggil si penelpon dengan panggilan sayang? 


'Baiklah, aku akan meminum obat nya supaya kamu puas besok. Mau berapa ronde memang nya?' 


'Aku juga kangen sama kamu, Yang. Apalagi sama apem kamu, uhh rindu banget. Tapi ya mau bagaimana lagi, aku harus adil supaya istri aku gak curiga.' 


Deg.. 


Hati Renata terasa sakit, air mata menetes membasahi wajah cantik nya, dada nya terasa sesak hingga dia kesulitan mengatur nafas nya. 


'Ya udah aku matiin dulu ya, nanti Renata keburu pulang, terus dia denger nanti bisa berabe. Babay, muach.' 


Astaga, dengan siapa suaminya mengobrol sevulgar itu? Bahkan dia memberikan ciuman virtual lewat telepon? Saat dia mengakhiri panggilan dengan nya, pria itu tak pernah melakukan nya. 


'Kamu sudah hianatin aku, Mas? Lihat saja, aku akan menyelidiki siapa wanita itu sendiri.' Batin Renata, dia menetralkan ekspresi dan perasaan nya sebelum membuka pintu kamar. Setelah merasa berhasil, dia membuka pintu dan jelas saja kedatangan nya membuat Dimas terkejut bukan main. 


"Kok tumben jam segini udah pulang Mas?" Tanya Renata sambil menyimpan tas berisi buku nya di meja. 


Dia sedikit memaksakan senyuman nya, meski sebenarnya dalam hati dia sangat ingin menampar suami nya itu. Tega-teganya dia menghianati kepercayaan yang selama ini dia berikan pada nya. 


"Udah Yang, kamu udah lama pulang nya?" 


"Baru aja, kelas aku agak padet sekarang soalnya sebentar lagi wisuda kan." Jelas Renata. 


"Ohh iya juga, wahh sebentar lagi istriku ini akan menyandang sarjana S1 dong." 


"Iya lah, setelah itu kalo ada rezeki aku mau buat usaha aku sendiri, biar kamu gak sia-sia udah biayain pendidikan aku." Ucap Renata, membuat Dimas tersenyum kecil. 


"Yang, aku pengen boleh?" Tanya Dimas dengan mengerlingkan mata nya genit ke arah Renata. 


"Boleh, tapi pelan-pelan aja ya Mas." Jawab Renata. Ingin sekali dia menolak, apalagi setelah mengetahui penghianatan yang di lakukan sang suami, namun dia juga tak bisa mengabaikan tugas dan kewajiban nya. Meski dia merasa sangat jijik akan di sentuh oleh laki-laki tukang selingkuh itu. 


'Andai saja aku bisa, aku pasti akan menolak saat kau menyentuh ku, namun aku wanita terhormat yang patuh akan tugas dan kewajiban ku sebagai seorang istri. Tidak seperti kamu dan wanita jalangg mu itu, Mas.' Renata hanya bisa membatin. 


Dia sangat ingin tahu, seperti apa sosok selingkuhan suami nya itu hingga membuat dia berpaling?


.....

__ADS_1


🌷🌷🌷


Kira-kira gimana reaksi Renata saat tahu selingkuhan Dimas itu Sila ya?


__ADS_2