
Reza sedang merebahkan kepala nya di paha sang istri, tangan lentik nan lembut perempuan itu tengah mengusap kepala sang suami. Wajah nya menyuruk di perut sang istri, sudah kebiasaan dia bahkan menyibak pakaian sang istri hingga ke atas. Agar dia bisa bebas menciumi perut sang istri.
"Mas, kata kamu sekretaris kamu genit ya?" Tanya Renata pelan. Reza langsung mendongak dan menatap wajah istrinya.
"Iya, masa pakaian nya ketat plus kurang bahan sih. Cocoknya di pakai lontee bukan sekretaris, lagian Marko ada-ada aja masa sekretaris aku kek gitu sih."
"Haha, gapapa dong biar kamu punya pemandangan lain di kantor." Celetuk Renata membuat Reza bangkit seketika.
"Gak ada, gak suka. Dosa tau, mending lihat kamu aja yang udah pasti halal."
"Yaudah bagus, biar aku gak perlu posesif sama kamu kalo gitu."
"Cemburu ya?" Tanya Reza.
"Ya iyalah aku cemburu, aku kan istri kamu Mas."
"Aahh senang nya di cemburuin sama istri sendiri." Gumam Reza pelan, namun masih bisa terdengar oleh telinga sang istri.
"Maksud Mas?"
"Ya kalo kamu cemburu, tanda nya kan kamu cinta sama aku, Yang."
"Kalo aku gak cinta sama kamu, aku gak bakal mau di hamilin sama kamu." Ketus Renata, lengkap dengan bibir yang mengerucut.
"Uuhh gemesin nya istriku, iya iya sayang."
"Aku pengen periksa kandungan dong, Yang." Pinta Renata.
"Boleh sayang, kapan? Biar aku temenin."
"Gak usah, aku bisa sendiri kok. Kamu kan sibuk, kerjaan kamu banyak." Tolak Renata.
"Tapi hati-hati ya, jangan ceroboh. Itu sih yang bikin aku sering khawatir dan gak percaya sama kamu,"
"Hehe, aku minta maaf. Aku janji bakal lebih hati-hati, soalnya aku bawa nyawa lain dalam tubuh aku." Jawab Renata sambil tersenyum.
"Oke, aku pegang kata-kata mu sayang. Sekarang, ayo bantu suami mu ini bercukur."
"Boleh, tapi pengen di gendong kayak tadi." Pinta nya manja, tentunya dengan senang hati Reza akan menurut. Hanya menggendong saja, tak sulit baginya.
Renata melingkarkan tangan nya di leher sang suami dengan erat, sesekali mencuri ciuman di pipi suami tampan nya.
Reza menaikan sang istri di dekat wastafel, dia mengambil alat pencukur dan menyerahkan nya pada sang istri. Dengan perlahan, Renata mencukur bulu-bulu halus di rahang Reza.
"Sakit?"
"Enggak kok, enak malah." Jawab Reza sambil terkekeh.
"Udah selesai, kamu mandi dulu. Setelah itu turun ke bawah, aku udah laper."
"Siap istriku, hati-hati pas turun tangga nya." Peringat Reza sebelum sang istri keluar dari kamar mandi.
"Siap suamiku, pakaian ganti nya aku siapin di ruang ganti ya." Reza mengangguk, dan membiarkan sang istri keluar sementara dirinya membersihkan diri.
Keesokan harinya, Argan benar-benar berkunjung ke perusahaan nya, tentunya kedatangan pemilik perusahaan secara tiba-tiba itu membuat karyawan kalang kabut. Mereka mengira ada kesalahan fatal yang membuat pemilik perusahaan langsung yang turun tangan.
Namun dari senyuman cerah nya yang secerah mentari pagi, seperti nya tak terjadi apa-apa, dan semua nya baik-baik saja.
"Selamat pagi, Pak Argan." Sapa Marko selaku asisten nya dulu, dan sekarang menjabat sebagai asisten putranya.
"Pagi, mana sekretaris itu?"
"Sebentar, saya panggilkan dulu, Tuan."
__ADS_1
"Saya tunggu di ruangan CEO." Jawab Argan, lalu pergi dengan langkah panjang nya.
"Selamat pagi, putraku. Bagaimana pekerjaan mu sekarang?" Tanya Argan pada Reza yang sedang berkutat dengan setumpuk pekerjaan.
"Seperti yang Papi lihat, aku begitu menderita melihat semua pekerjaan ini." Jawabnya ketus.
Argan terkekeh, dia sangat senang menggoda sang putra.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang wanita cantik dengan tubuh proporsional, dengan pakaian rapi yang membalut tubuhnya. Dia menunduk hormat pada Argan.
"Selamat pagi, Tuan."
"Pagi." Jawab Argan singkat, mata nya memindai wanita itu dari atas sampai bawah, persis seperti Reza kemarin.
"Apa hanya ini pakaian yang kau punya? Terlihat kekecilan." Sindirnya, mulut ayah dan anak itu sama-sama pedas nya.
"M-maaf pak."
"Marko, kemari kau!" Tegas Argan, membuat Marko langsung mendekat.
"Iya tuan."
"Keahlian mu menurun seperti nya, untuk apa merekrut orang semacam dia untuk jadi sekretaris? Carikan yang baru!" Tegas Argan.
"Baik tuan, beri saya waktu satu Minggu untuk mendapatkan nya."
"Ya, kalian berdua pergilah. Merusak pemandangan saja!" Ketusnya, lalu kedua nya pun keluar.
Setelah di luar ruangan, Marko melayangkan tatapan tajam pada Stefanny.
"Sudah ku bilang padamu, ganti cara berpakaian mu. Gak bisa gitu beli yang sedikit longgar? Siapa yang kena marah, gue! Sialan." Umpat pria itu lalu berjalan meninggalkan Stefanny.
Renata berjalan seorang diri, ya saat ini dia sedang berada di rumah sakit, tepatnya di ruangan dokter kandungan yang selama ini menangani nya.
"Siang juga dok."
"Ohh, anda sendirian? Kemana tuan muda?" Tanya nya, aneh saja. Biasanya pria itu akan selalu ikut di setiap pemeriksaan kehamilan nya, namun kali ini seperti nya dia absen.
"Sibuk dok, pekerjaan nya menumpuk sekali." Jawab Renata.
"Baiklah, ada keluhan apa? Atau hanya ingin melakukan pemeriksaan rutin saja?" Tanya nya, Renata mengangguk. Dia tak punya keluhan apapun, kecuali nafssu makan nya yang semakin bertambah, di kehamilan nya yang sudah menginjak usia ke lima, berat badan nya sudah bertambah 5 kilo.
"Baiklah, ayo kita USG terlebih dulu." Renata menurut dan membaringkan tubuhnya di brankar pemeriksaan, di bantu perawat.
"Wahh, tebakan saya benar. Selamat Nyonya, anda mengandung anak kembar. Untuk jenis kelamin nya sepasang, satu perempuan dan satu laki-laki. Tapi, ini hanya prediksi, bisa benar bisa salah." Jelas dokter itu ikut antusias.
"Aahh benarkah dokter? Sebuah kabar yang sangat membahagiakan." Ucap Renata.
"Tapi Nyonya, seperti nya rahim anda akan sangat kesulitan menampung kedua bayi ini. Maaf, untuk kemungkinan buruk nya rahim anda akan pecah nanti."
Renata terhenyak, dia menerima kabar baik dan kabar buruk sekaligus.
"Lalu? Saya tak mau jika harus mengorbankan salah satu anak saya, dok."
"Kita lihat nanti Nyonya, jika kehamilan anda rentan, sebaiknya tak perlu di pertahankan, karena akan mengancam nyawa Nyonya sendiri." Jelasnya lagi, membuat Renata berkaca-kaca.
"Tapi, sebisa mungkin kami akan membantu Nyonya. Segala kemungkinan bisa terjadi, tetap berdoa dan berfositif thingking."
"B-aik dok, tapi bisakah dokter tak perlu memberitahukan hal ini pada suami saya, dok?" Tanya Renata.
"Kenapa nyonya? Sebaiknya tuan Reza tahu hal ini, agar dia bisa mengambil keputusan dan mengambil langkah pencegahan." Jelas saja dia merasa keberatan, pasalnya ini masalah nyawa manusia.
"Tidak dulu, dok. Biarkan semua ini menjadi rahasia dulu, saya tak mau membuat siapapun khawatir. Selagi saya mampu, saya akan memperjuangkan kedua anak ini."
__ADS_1
"Baiklah kalau itu keputusan Nyonya, semoga prediksi saya salah dan kehamilan Nyonya baik-baik saja." Ucap dokter itu, dia pun memberikan resep vitamin penguat kandungan.
"Saran dari saya masih sama, jangan kelelahan, jangan banyak pikiran dan satu lagi, frekuensi berhubungan intiim sebaiknya di kurangi, Nyonya."
"Baik dok, saya mengerti. Untuk makanan bagaimana?"
"Tak ada yang di larang Nyonya, hanya pedas saja." Jawabnya membuat Renata lega.
"Baiklah dok, terimakasih. Saya pamit dulu, bulan depan saya kesini lagi."
"Hati-hati di jalan Nyonya, jika merasa ada yang sakit atau kurang nyaman, datang saja kemari." Ucapnya, Renata mengangguk dan pergi dari ruangan dokter itu.
Dia berjalan gontai, sesekali mengusap ujung mata nya yang mengeluarkan air. Semoga saja prediksi dokter itu salah dan kandungan nya baik-baik saja juga rahim nya.
Renata bertekad akan memperjuangkan kehamilan nya, namun tanpa sepengetahuan Reza, karena pria itu sudah terlalu banyak berjuang untuknya, jadi untuk kali ini biarkan dia yang berjuang untuk pria itu.
"Yang kuat ya Nak, kita berjuang sama-sama." Gumam Renata sambil mengusap lembut perutnya.
Dia memesan taksi online, karena tadi Renata ngotot menolak menggunakan supir pribadi keluarga Argantara. Dia berfikir akan sangat merepotkan, kalau dia bisa sendiri kenapa harus merepotkan orang lain.
Tujuan nya saat ini adalah kantor sang suami, dia harus memberitahukan kabar gembira saja, untuk kabar buruk biarkan hanya dirinya saja yang tahu.
Hanya beberapa menit saja, akhirnya Renata sampai di depan perusahaan Argantara's group. Setelah membayar taksi, dia pun berjalan pelan.
Begitu masuk, dia di sambut hangat oleh para karyawan yang sedang bekerja, sebentar lagi istirahat makan siang, pasti akan sedikit lengang.
"Permisi, apa Reza nya ada?" Tanya Renata.
"Pak Reza ada di ruangan nya, Nyonya." Jawab resepsionis yang bekerja di balik meja.
Renata mengangguk sopan dan masuk ke dalam lift untuk sampai di ruangan suaminya, hanya beberapa menit saja dia sudah sampai dan kini dia berdiri di depan pintu ruangan sang suami.
Beberapa kali dia menghela nafas nya pelan, agar tak terlihat sedang punya beban apapun, nanti Reza bisa curiga.
"Selamat siang, pak suami." Sapa Renata dengan riang, mengabaikan seorang wanita yang berdiri di depan meja suaminya.
Reza menyambut kedatangan sang istri dengan senyuman manis nya, lalu memeluk istri cantiknya di depan sekretaris nya.
"Sudah selesai periksa nya, sayang?"
"Sudah Mas, ehh itu siapa?"
"Stefanny, sekretaris yang aku bicarain sama kamu." Jawab Reza, tanpa malu merengkuh pinggang sang istri dan membawa nya ke pangkuan.
"Ngapain bengong disitu, keluar Sono ganggu aja!" Sinis Reza, membuat Stefanny segera keluar dengan langkah terburu-buru.
"Harusnya dia bikin kamu betah di kantor, Mas."
"Hisshh apaan sih, gak usah mancing-mancing yang berujung pertengkaran deh. Gimana hasilnya?" Tanya Reza pelan.
"Bagus dong, aku baik-baik aja. Dan kata dokter bayi kita kembar nya sepasang."
"Wahh beneran? Allhamdulilah sayang," Reza kembali memeluk erat sang istri.
"Aku laper pengen makan siang sama kamu," rengek Renata, sambil menunjukan wadah bekal yang tadi dia bawa.
"Yaudah ayo makan, kamu harus makan yang banyak biar dedek bayi nya sehat." Reza pun menuntun sang istri ke sofa dan keduanya makan bersama, dengan Reza yang menyuapi Renata, kali ini keadaan nya terbalik.
Biasanya Renata yang akan menyuapi suaminya, tapi kali ini berbeda.
🌻🌻🌻🌻🌻
Renata🥺🥺
__ADS_1