Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 109 IRS


__ADS_3

Keesokan harinya, Dimas membawa pulang Elina, dia mana tega meninggalkan gadis itu sendirian dengan keadaan yang cukup memprihatinkan. 


Keduanya berjalan bersisian, gadis kecil itu nampak melongo saat melihat rumah di depan nya.


"Ayo masuk." Ajak Dimas.


"I-ni beneran rumah kakak ya?"


"Rumah Mami, kakak tinggal disini sama Mami." Jelas Dimas, membuat Elina menggaruk kepala nya yang tak gatal.


"Ayo cepat masuk." Ajaknya lagi sambil menarik tangan Elin masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum, Mi." 


"Waallaikumsalam, sayang." Jawab Erika yang sedang membaca majalah di tangan nya. 


Dimas berjalan mendekat dan menyalim tangan sang Mami dengan takzim. 


"Habis dari mana? Kenapa gak pulang semalem?" Tanya Erika.


"Eemm, Dimas nungguin Elin di rumah sakit, Mi." 


"Elin, siapa dia?" Tanya Erika, dia tak pernah mendengar nama perempuan mana pun setelah Renata dan Sila. 


"Itu Mi." Dimas menunjuk gadis kecil yang berdiri kaku di ambang pintu dengan raut wajah sendu.


"Astaga, gadis itu siapa nya kamu? Dia masih kecil, Dimas."


"Tenang dulu dong, Mi. Dimas justru nyelamatin dia kemaren." Ucap Dimas membuat dahi Erika mengernyit. 


"Maksudmu menyelamatkan itu seperti apa? Jangan bilang…"


"Isshh Mami, sama anak nya sendiri pikiran nya negatif mulu." Cetus Dimas.


"Ya terus, nyelamatin apa maksud kamu?" Tanya Mami Erika lagi, Dimas pun menjelaskan awal pertemuan nya dengan Elina kemaren siang, tanpa ada yang terlewat sedikitpun membuat Mami Erika shock sendiri ketika mendengar penjelasan sang putra.


"Jadi, intinya Elina ini gak tahu harus kemana sekarang, kalau pun pulang sama aja nyerahin diri kan? Makanya Dimas bawa kesini aja." Jelas Dimas.


Mami Erika manggut-manggut, dia mengerti dan hatinya juga merasa iba pada gadis kecil berwajah manis itu. 


"Kemari sayang, kamu tak ingin duduk?" Setelah di ajak oleh Erika, barulah gadis itu berani mendekat meski perlahan.


"Semoga betah disini ya, kamu bisa bantu-bantu Mami di butik. Jangan sungkan ya, kalau perlu apa-apa bilang aja sama Mami atau sama Dimas." Ucap Erika ramah dan lembut, membuat Elin tersenyum. Inilah yang dia inginkan dari sosok ibu, maklum saja ibu nya sudah meninggal saat dia masih berusia 5 tahun.


"Te-rimakasih Tante."


"Panggil aja Mami, kamu siapa namanya?" Tanya Erika pelan.


"Avelinna Mi, panggilan nya Elin."


"Usia mu berapa?" 


"18 tahun Mi," jawab Elin, membuat Erika terhenyak. Gadis di depan nya ini benar-benar masih muda, lalu apa yang membuat ibu tiri nya tega menjual nya?


"Kamu sudah makan? Makan dulu ya, mami masak ayam sambel ijo. Kali aja kamu suka, kebetulan Mami juga belum makan siang." 


"Eemm, maaf Elin ngerepotin Mami."


"Gak repot kok cantik, yuk kita makan. Nanti Dimas nyusul, dia lagi mandi dulu." Mami Erika menarik tangan Elin ke dapur, tepatnya ke meja makan. Bahkan hendak mengambilkan makanan untuknya, namun dia buru-buru mencegahnya.


"Gak usah Mi, Elin bisa ambil sendiri."


"Yaudah, makan yang banyak ya?" Elin mengangguk, lagipun makanan di depan nya nampak sangat menggiurkan, membuat cacing di perutnya seketika berdemo.


Namun karena dia masih mempunyai rasa malu, jadinya dia hanya mengambil sedikit saja. Tengsin dong ya, udah di masakin, di baikin ehh malah ngelunjak, kan gak enak sama Dimas yang udah ngeyakinin Mami nya buat nampung dia disini sementara waktu.


Elina makan dengan lahap, membuat Erika tersenyum di sela makan nya. Entah kenapa, melihat Elina dia seperti melihat Renata dan mengingat mantan menantu nya itu selalu membuat hatinya terasa sakit. 


Sakit karena dia gagal mendidik Dimas untuk menjadi pria yang bertanggung jawab pada Renata, bukan nya menjaga nya Dimas malah menyakiti nya dengan cara yang paling sempurna.


"Makan yang banyak ya, sayang." Ucap Erika, membuat Elina tersenyum lalu mengangguk pelan. 

__ADS_1


Tak lama, Dimas juga datang menyusul untuk makan siang. Dia duduk di dekat Elina, dan langsung mengambil nasi beserta lauknya.


"Gimana, udah ketemu Reza?" 


"Besok Dimas kesana lagi, tadi udah Dimas telepon Eza nya." Jawab Dimas disela makan nya.


"Yaudah, manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Pekerjaan yang di tawarkan oleh Reza itu bukan sembarang pekerjaan." 


"Iya Mi, nyari kerjaan itu susah Mi." Jawab Dimas membuat Erika mengangguk.


"Kak Dimas kerja dimana?"


"Baru rencana, belum tentu di terima El. Kenapa?"


"Elina juga mau kerja dong." Ucap Elina membuat Dimas dan Maminya saling melempar tatapan. 


Jelas dia akan merasa tak enak hati jika disini dia hanya duduk saja tak membantu apapun dan menggantungkan hidupnya pada keluarga baik ini, jadi tak ada salahnya dia bekerja selama pekerjaan itu halal.


"Nanti aku tanyain sama temen aku, pendidikan terakhir kamu apa?"


"SMP, kak." Jawab Elinna, dia tak bisa melanjutkan sekolah nya ke jenjang yang lebih tinggi karena biaya, terlebih lagi ibu tiri nya yang gila harta itu selalu menuntut nya agar terus bekerja mencari uang demi memenuhi segala kebutuhan nya dan putri kesayangan nya.


"Oke, sekarang makan aja dulu." 


Elina mengangguk dan melanjutkan makan nya, Erika menatap nanar tangan, kedua pipi, rahang bahkan leher nya terdapat luka lebam. Jelas ini bukan kecelakaan, pasti di sengaja. Ini pukulan benda tumpul. 


"Elin, maaf kalau Mami ikut campur. Tapi, jujur aja Mami pas lihat tubuh kamu penuh luka memar gini tuh mami penasaran, ini bekas luka apa?" Tanya Erika, membuat gadis itu langsung mendongak, lalu sedetik kemudian dia kembali menundukan kepala nya.


"Kalo di pipi kena tampar karena Elin pulang telat, rahang kena pukul gagang sapu, leher ini di cekik, kalau ini bekas puntung rokok Mi." Jelas nya membuat hati Erika seakan tercubit. Ada wanita sekejam itu di dunia ini? Rasanya dia ikut malu, sebagai sesama wanita.


"Kenapa gak lapor polisi, Nak? Ini kekerasan fisik yang bisa menyebabkan trauma." 


"Elin gak berani Mi, lagian lapor ke polisi juga butuh uang, sedangkan Elin gak pernah megang uang sedikitpun meski Elin kerja setiap harinya." Jelas Elina lagi, Dimas menatap sendu gadis kecil berwajah manis itu. 


Kedua mata gadis itu berkaca-kaca, lalu segera menunduk membuat Erika merasa bersalah karena sudah membuka luka yang mungkin sebenarnya tak ingin gadis itu ceritakan pada siapapun, apalagi mereka yang hanya orang asing.


"Maafin Mami ya, sayang." 


Erika berdiri, dia berjalan mendekat dan memeluk gadis itu. 


"Astaga, Nak. Luka apa ini, sayang?"


"Hah? Luka apa Mi?" Tanya Dimas yang ikut penasaran.


"Lihat ini Dimas, astaga ini perlu di obati. Kenapa kau tak peka? Dia di rawat di rumah sakit kan kemarin?" 


Pantas saja saat menyandarkan punggung nya Elina terlihat meringis pelan, dia punya luka yang besar di punggung nya, luka itu masih basah dan beberapa titik masih mengeluarkan darah. 


Erika histeris melihat luka itu, dia menangis melihat keadaan gadis malang yang di bawa putranya.


"Ambilkan kotak obat, Dimas." Pekik Mami Erika, sedangkan Elina dia menunduk menyembunyikan wajahnya. Luka itu dia dapatkan dari setrika panas, ibu tirinya melakukan itu karena dia tak memberikan uang. Lukanya melepuh dan mengeluarkan cairan, juga darah yang merembes ke pakaian nya.


Dimas berlari mengambil kotak obat dan segera memberikan nya pada Maminya. 


Wanita itu menyibak sedikit pakaian gadis itu, dia sendiri meringis melihat luka yang begitu besar di punggung nya. 


"Bagaimana bisa kamu menahan nya, sayang? Mami saja tak tahan melihatnya." 


"Luka seperti ini sudah biasa, Mi." Jawab Elin, dia tersenyum manis meski sesekali nampak meringis saat kapas dan obat merah menyentuh permukaan kulitnya yang terluka.


"Mami gak habis pikir, kenapa ibu tirinya itu jahat sekali padamu, Nak. Sebenarnya apa kesalahan mu?"


"Satu-satunya kesalahan Elin adalah di lahiran, Mi. Kalau saja Elin gak hadir, Mama pasti masih hidup sampai sekarang, papa juga pasti masih ada." Ucap nya lirih, sangat lirih. 


Elinna ingat dimana ibu nya menyelamatkan nya dari mobil yang hendak menabrak nya saat dia tengah mengambil bola di tengah jalan. Saat itu dirinya masih sangat kecil, Elinna kecil menangis histeris saat melihat ibunya terkapar bersimbah darah dari kepalanya. 


Lalu, beberapa tahun kemudian ayahnya menikah kembali dengan seorang wanita berasal dari desa sebelah. Awal-awal, ibunya itu sangat baik, namun semuanya berubah ketika dia mendapatkan peringkat pertama sedangkan putrinya tidak sama sekali. 


Lalu, saat dia berusia 12 tahun Elina kembali di hadapkan dengan sebuah rasa sakit yang membuat hatinya masih terasa sakit bahkan hingga saat ini. Ayahnya meninggalkan dunia karena penyakit, setelah itu kehidupan nya seolah berakhir. 


Satu-satunya orang tua yang dia punya kini pergi untuk selamanya, meninggalkan dirinya sendirian. Awalnya dia merasa masih punya harapan karena punya ibu tiri yang baik, tapi akhirnya ibu tirinya itu menunjukan watak aslinya. 

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu, sayang. Kamu tak bersalah apapun, kamu berhak hidup dan bahagia." Ucap Mami Erika sambil menangkup wajah gadis itu. 


"Elina cuma ngerasa putus asa aja Mi."


"Gak boleh seperti itu, sekarang ada kami yang akan menjagamu." Kali ini Dimas yang ikut angkat suara, dia pernah menyakiti wanita, meski tak sekejam ini tapi dia merasa tercubit saat melihat keadaan Elin.


Elina hanya diam, tak bicara apapun lagi. Dia hanya menunduk dan sesekali memiliki ujung pakaian nya. 


"Sudah selesai, sekarang kamu istirahat ya. Nanti Mami bangunin," Elina mengangguk dan pergi ke kamar yang Mami Erika tunjukan.


Sedangkan di mansion keluarga Argantara, Renata tengah menemani sang suami yang ingin berenang di sore hari yang menurut Renata terasa dingin.


Jujur saja, setelah kehamilan nya membesar dia jadi lebih malas mandi, bahkan hingga seminggu lamanya dia tak mandi, namun semua itu tak membuat Reza menjauh karena bau badan nya, pria itu tetap saja menempel dan asik bermanja padanya.


"Sayang, udah ya? Aku kok ngilu liat kamu berenang kesana kemari." Ucap Renata, jelas saja Reza terkekeh. Dia naik ke tepian dan mengambil handuk, seketika itu juga kedua mata Renata membelalak.


Dia melihat tonjolan yang begitu besar di antara paha sang suami, celana pendek nya menjadi ketat karena basah.


"Sayang.."


"Kenapa, mas?" Tanya Renata, dia buru-buru menetralkan ekspresi wajahnya. Bisa-bisa Reza langsung menerkam nya disini, pria itu kan kalau sudah ingin dimana saja bisa. 


"Kamu lihatin Mas nya gitu amat, kenapa?"


"E-ehh enggak kok, Mas ganteng soalnya apalagi rambutnya basah." Ucap Renata berbohong, tapi tak sepenuhnya berbohong karena kalau suaminya ganteng itu kenyataan.


"Yaudah, ayo masuk." Ajak Reza, dia mengulurkan tangan nya di depan sang istri yang sedari tadi duduk di kursi santai di pinggir kolam.


Renata menyambut uluran tangan suaminya, keduanya pun masuk ke dalam rumah dengan saling bergandengan tangan mesra. Seolah dunia ini hanya milik mereka berdua, mengabaikan kakak nya yang menatap mereka dengan jengah.


Karena dia harus LDR, jadinya dia tak bisa melakukan hal-hal mesra seperti itu dengan suaminya.


"Ehem.." 


"Eehh mbak.." sapa Renata sambil tersenyum.


"Dari mana?" 


"Kolam renang mbak, mas Eza habis berenang." Jawab Renata pelan.


"Ohh gitu ya, yaudah deh."


"Btw, mbak dari kapan disini? Perasaan tadi gak ada." Tanya Reza pada sang kakak. 


"Gak ada? Segede gini gak keliatan, karena terlalu sibuk ngebucin." Sindir Karina, membuat Reza mencebik.


"Bilang aja iri, kasian laki nya gak ada. Haha." Ledek Reza membuat Karina mendengus. 


"Kutuklah adik ku ini menjadi adik yang berguna. Ngeledek terus, kualat baru nyahok Lo." Ucap Karina ketus lalu pergi sebelum dia semakin kesal mendengar ocehan adiknya. 


Iri? Tentu saja iya, dia juga ingin bermesraan dengan suaminya. Tapi tak bisa dia lakukan karena suaminya orang super sibuk, dan Chika tak bisa pindah kesini karena nanggung.


"Sayang, gak baik lho gitu sama kakak kamu. Kalo dia baper gimana?"


"Nggak bakalan, kakak aku tuh tahan banting. Yaudah yuk, aku mau mandi." Ucap Reza, dia kembali menarik tangan sang istri ke kamar. 


Renata pun mengikuti langkah suaminya, namun setelah berada di dalam, Reza malah tersenyum mencurigakan, dan sedetik kemudian dia nyosor bibir Renata, melumaat nya dengan lembut penuh perasaan.


"Enghh, Mas.." Renata melenguh pelan.


"Mas lagi kepengen, boleh ya? Nengokin Dede sebelum dia launching." 


"Idih, masih satu bulan lebih lagi Mas." 


"Yaudah, hayuk atuh. Ini si junior udah tegak gini, gak tahan pengen masuk sarang." Bujuk Reza, membuat Renata terkekeh geli karena ekspresi wajah menggemaskan yang di tunjukan suaminya.


"Iya iya, boleh sayang. Tapi satu kali aja ya? Aku takut gak kuat." 


"Siap istriku sayang," jawab Reza dengan semangat, dia pun menuntun sang istri ke ranjang yang akan menjadi saksi pertempuran hebat nya sore ini.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


jangan lupa mampir ke karya baru author, Secret Wedding (Jimmy&Alisa)🥰🥰


__ADS_2