Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 21 Berlayar di samudera


__ADS_3

Stella menelpon Andin karena dia akan berlayar selama dua Minggu ke negara lain.


"Andin, kapalnya akan berangkat hari ini juga, bagaimana? Bisakah aku menitipkan Esther padamu?" Stella menelpon Andin dari ruang kerjanya.


"Ya, aku bisa menjaganya. Kau selesaikan lah urusanmu,"


"Andin, terimakasih,"


"Ngga papa, jangan pikirkan kami, kau fokus saja untuk membuat wanita itu jera,"


"Baiklah,"


Stella lalu menatap atasanya yang tersenyum mencuri pandang pada Stella.


"Kau sudah punya anak?"


Stella menggeleng pelan. Dalam hati entah kenapa dia ingin menceritakan kisah hidupnya pada CEO itu.


"Aku dan Alvin tidak mendapatkan anak. Dan tiba-tiba kemarin dia pulang membawa seorang anak dan memberikannya padaku,"


"Jadi, itu anak orang lain?"


"Ya, dan aku mengangkatnya menjadi anakku,"


"Begitu..."


CEO lalu memberikan obat anti mabuk pada Stella.


"Aku lihat di data kesehatanmu, kau pusing jika naik kapal?"


"Ya,"


"Minum ini, kau tidak akan pusing dan mual," CEO lalu memberikan obat itu serta air putih pada Stella.


Berdiri dihadapan Stella dan melihatnya meminum obat itu tanpa berkedip.


Kau cantik alami. Entah kenapa aku jatuh cinta begitu pertama kali melihatmu.

__ADS_1


Tapi aku langsung patah hati secepat mendung yang berubah menjadi hujan. Kau ternyata istri orang lain.


Meskipun begitu, cinta ini tetap tumbuh setiap kali melihatmu tersenyum. Tak memikirkan jika aku tak bisa memilikimu.


"Ehm, saya akan keluar sebentar," kata Stella pada atasanya.


"Silakan,"


Ya Tuhan, kenapa dia menatapku seperti itu? Sudah tahu jika aku istri orang lain, tetap saja kau menatapku seakan aku adalah kekasihmu.


Tiba-tiba, tanpa sengaja dia melihat sepasang sejoli sedang naik ke hotel yang ada didalam kapal pesiar.


Dalam hati, Stella tergerak untuk mengikutinya.


Mengendap-endap dan memastikan jika itu bukan suaminya.


Namun, Stella sangat terkejut, saat dia melihat jika pria itu adalah suaminya.


Memeluk wanita lain dihadapanya. Membuat hatinya retak dan terbelah seketika.


Menyakitkan, dadanya naik turun dan kakinya lemas, melihat pemandangan itu. Apalagi saat suaminya mencumbunya sebelum akhirnya mereka masuk kedalam kamar hotel.


Stella lalu kembali ke kantor dan mengatakan apa yang baru saja dia lihat karena tidak kuasa untuk memendamnya lagi.


"Kau menangis?" CEO lalu berjalan mendekati Stella yang berdiri dipintu masuk kantornya.


CEO reflek memeluknya dan membawanya duduk kedalam kantor pribadinya.


"Sudah bertemu dengan suamimu? Kalian bertengkar?"


Stella menggeleng dan tangisnya semakin pecah dan keras


"Dia masuk kamar hotel bersama wanita lain. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," Stella menangis sedih.


"Kau butuh bantuanku?" Bertanya lagi karena tidak ingin berbuat sesuatu yang justru membuat Stella marah dan pergi dari kantornya.


"Tidak," Akhirnya Stella mengusap airmatanya dan menghentikan tangisnya.

__ADS_1


"Aku akan meminta cerai darinya. Awalnya aku datang karena ingin bersamanya dan memperbaiki kesalahanku karena membiarkanya sendirian di rantau orang. Tapi setelah melihat dia bercumbu dengan wanita lain, aku tidak sanggup lagi meneruskan pernikahan ini. Aku akan mengajukan cerai darinya," kata Stella setelah airmatanya berhenti.


"Oke. Keputusan mu sudah benar. Kau jangan menjadi lemah dan mudah di manfaatkan,"


"Ya...."


Stella lalu menatap CEO dan bertanya kamar suaminya.


"Aku ingin ke kamar suamiku. Dan menyelesaikan masalah ini. Kau bisa memberikan kunci duplikat nya?"


"Baiklah, aku akan meminta pada pegawai dan memberikanya padamu. Apakah kau akan baik-baik saja? Haruskah aku mengawasi mu?"


"Tidak. Aku akan baik-baik saja."


Seorang pegawai datang menyerahkan kunci kamar pribadi Alvin. Beberapa pegawai mendapatkan kamar pribadi menyangkut pekerjaan mereka saat berlayar di samudra.


Alvin bekerja bagian teknisi, tentu saja dia juga mendapatkan fasilitas dan kenyamanan. Kalau masalah pribadi, CEO tidak mau ambil pusing dengan setiap langkah yang di ambil oleh pegawainya. Kecuali karena kebetulan Alvin adalah suami Stella. Wanita yang dia cintai dalam pertemuan pertama dan menghabiskan satu malam bersamanya.


Stella segera pergi ke nomor kamar sauminya. Masuk kedalam dan memeriksa semua lemarinya. Dan dia tidak heran jika menemukan begitu banyak alat kontrasepsi di di lemarinya.


Dengan penuh kemarahan dia melempar semua barang itu. Dan membanting beberapa barang milik suaminya. Setelah itu dia duduk menunggu mereka masuk kedalam.


Stella mengusap beberapa bening kristal yang tetap saja membanjiri pipinya melihat suaminya sering bermain dibelakangnya dengan wanita lain.


Buktinya, dia menemukan barang-barang itu didalam lemarinya. Yang biasa digunakan untuk bercinta oleh para pria.


"Kurang ajar! Pengkhianat! Pria laknat! Tidak punya perasaan! Jahat dan kejam!"


Stella tidak sabar ingin memaki suaminya begitu dia masuk dan melihatnya.


Stella, tiba-tiba ingin menjebak suaminya agar mudah saat berurusan dengan pengadilan nanti.


Dengan cepat dia membereskan semua barang yang dia lempar. Dia lalu membereskan selimut yang dia acak-acak.


Dia juga merapikan barang lainnya yang tadi di jadikan pelampiasan olehnya.


Stella lalu bersembunyi didalam lemari baju. Dia menunggu suaminya dan wanita itu datang, entah kenapa dia yakin jika mereka akan kesini setelah dari hotel.

__ADS_1


Apa yang mereka lakukan dihotel jika bukan bercinta? Tunggulah, aku akan membalasmu, Alvin!


__ADS_2