Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 29 IRS


__ADS_3

Reza memilih duduk sambil mencomot kue bolu buatan Renata, secangkir kopi hitam yang masih mengepul juga tersaji di meja, Reza memang terbiasa membuat nya sendiri, atau kalau Renata sedang berbaik hati dia yang akan membuatkan nya.


Renata keluar dengan pakaian kampus nya, meski lebih terlihat seperti pakaian santai pada umumnya, blouse dengan bawahan kulot berbahan crincle.


"Ini tugas Lo, udah gue kerjain semalem." Renata mengulurkan secarik kertas berisi tugas yang pasti Reza sudah melupakan nya. 


"Aaaa makasih, Rere." 


"Iya sama-sama, kita berangkat kapan?" Tanya Renata, dia juga ikut mencomot seiris kue bolu dan memakan nya. 


"Bentar lagi, kopi gue masih sisa setengah. Sayang kalo gak di abisin, mubazir gula." Jawab Reza sambil cengengesan. 


"Ini bolu gagal kemaren, jadi bantet kurang pengembang nya." 


"Enak kok, cuman gak selembut yang Lo buat waktu itu. Tapi soal rasa nya gak usah di raguin lagi, enak." 


"Sisa nya Lo bawa deh, di rumah juga gak ada yang makan." Pinta Renata, tentunya dengan senang hati Reza akan menuruti permintaan Renata. 


Renata bangkit dari duduknya, lalu pergi ke arah dapur, mengambil wadah bekal dan menata kue nya di dalam. 


"Kopi nya udah abis, berangkat sekarang?" Tanya Renata, Reza mengangguk, lalu bangkit dan menyimpan cangkir nya ke dapur. 


"Yokk, berangkat sekarang." Ajak Reza, tak lupa dia memasukan kertas berisi tugas dari Renata. 


Reza menggandeng tangan Renata keluar, lalu melepaskan nya saat di ambang pintu, membiarkan gadis itu mengunci pintu dan dia memakai helm. Setelah selesai, gadis itu mendekat. 


Seperti biasa, Reza memakaikan helm di kepala Renata. Namun ada sesuatu yang membuat kening pemuda itu mengernyit. 


"Re, Lo baik-baik aja kan?" 


"Iya, gue baik kok. Emang nya kenapa?" Balik tanya Renata. 


"Lu keliatan pucat banget, Re. Lo sakit?" 


"Kagak, gue gapapa kok Za." Jawab Renata, namun bukan Reza namanya jika percaya begitu saja dengan ucapan gadis di depan nya. 


Dia menyibak poni di kening Renata dan meletakan tangan nya, hangat. Namun masih wajar, berarti dia tak demam. 


"Isshh Reza, gue baik-baik aja." 


"Terus kenapa wajah Lo pucat gitu, Re?" 

__ADS_1


"Tanggal berapa sekarang coba?" Reza berusaha mengingat, ini memang sudah akhir bulan. 


"Aaaa Lo lagi Dateng bulan ya?" 


"Iya nih, kemaren baru Dateng tuh bulan nya. Ayo deh kita berangkat, keburu siang." Ajak Renata, lalu naik di boncengan motor Reza. 


Pemuda itu langsung melajukan motor matic nya keluar dari kost an Renata, menuju ke kampus. 


Meski kampus terasa gambar karena Dimas yang masih izin karena urusan keluarga, namun Renata tak bisa mengabaikan pendidikan nya, dia harus ingat pada paman dan bibi nya yang sudah bersusah payah membiayai nya hingga saat ini. 


Singkat nya, mereka pun sampai di kampus. Seperti biasa, kedatangan dua remaja itu akan di sambut oleh tatapan kagum dari banyak pasang mata, karena keserasian nya, juga karena melihat kedekatan mereka. 


"Reza!" 


"Hadeeuh, biang rusuh Dateng." Gumam Reza, dia tak menghiraukan panggilan itu lalu tetap berjalan bersama Renata menuju ke kelas. 


"Eza tunggu!" 


"Apa sih?" Tanya Reza ketus, lengkap dengan wajah asam nya. 


"Ketus amat, gue cuma mau nanya. Tugas Lo udah selesai? Kalo udah, gue nyontek dong." Cetus Sila, membuat wajah Renata di tekuk seketika. 


"Enak aja nyontek, kerjain sendiri."


"Ya itu mah masalah Lo kali, sorry aja gue gak peduli. Mau Lo di jemur sampe gosong juga bukan urusan gue!" Jawab Reza, dia langsung menarik tangan Renata menjauh dari gadis bernama Sila itu. 


Jelas saja, itu membuat api dendam dalam hati Sila berkobar kembali, tekadnya untuk membuat Renata menderita semakin menguat.


"Lihat saja, keangkuhan mu itu takkan bertahan lama, Reza! Aku pastikan aku bisa merebutmu dari Renata, apapun caranya Renata harus menderita!"


Gadis binall itu pun pergi dari kampus, mood nya sangat buruk jadi dia memilih bolos saja. Dari pada kena hukuman berjemur seharian sambil menghormat bendera, mendingan dia pergi ke kantor Ken. Siapa tahu pria itu butuh kesenangan, dengan begitu dia akan mendapat bonus untuk membeli pakaian baru.


Sila menyetop taksi di depan kampus dan menyebutkan tujuan nya. Supir itu pun paham dan langsung meluncur menuju tempat yang di sebut oleh penumpang nya. 


Sedangkan di kantor nya, Ken sedang bersenang-senang juga bersama gadis lain. Sekretaris cantiknya sangat menggugah selera, sayang jika harus di anggurkan. 


"Aaaahh Tuan, jangan disitu." Desahh nya membuat Ken semakin bernafsuu. 


"Lalu dimana, Baby?" Tanya Ken dengan senyum nakal nya, dia sedang bermain di belahan kenyal milik sekretaris nya itu. 


"Jangan membuat tanda merah di leher, di tempat tersembunyi saja." Pinta nya, membuat Ken menyeringai. Dia membuka kancing blouse yang di pakai gadis itu, lalu mulai memainkan putingg susu nya dengan mulut dan lidahnya. 

__ADS_1


"Aaahhh, Tuan." Gadis itu menekan kepala Ken agar puncak buah nya semakin masuk ke dalam mulut pria itu. 


"Milikmu wangi sekali, Baby." Puji Ken, namun sedetik kemudian dia berdecak karena ada telepon yang masuk, mengganggu kesenangan nya. 


Ken mengangkat nya dan seketika itu juga dia membulatkan kedua mata nya. 


"Ya hallo, kenapa? Kau tahu, kau sangat mengganggu!" 


'Maaf tuan, tapi Nona Sila datang ke kantor.' Ucap resepsionis yang haru saja melihat Sila naik ke lift. 


"Shitt! Baiklah, terimakasih informasinya." Pria itu mengumpat. Lalu menutup sambungan telepon nya sepihak.


"Kenapa Tuan?" Tanya Lydia, sekretaris gemoy Ken.


"Ada Sila, keluarlah. Setelah situasi nya aman kita lanjutkan, jangan lupa rapikan pakaian mu!" Perintah Ken, Lydia menurut meski dengan wajah yang di tekuk. Turun dari pangkuan Ken dan merapikan pakaian nya, setelah merasa rapih dia pun berpamitan untuk keluar dari ruangan Ken.


Di luar, tanpa disangka. Dia berpapasan dengan Sila, mainan berharga milik Tuan Ken. Gadis itu tersenyum manis pada Lydia, dan membuat nya tersenyum juga untuk membalas senyum itu. 


Dilihat dari penampilan nya, Sila sangat jauh dari kata 'anak kuliahan', malah terlihat seperti sugar baby. Semua yang dia kenakan adalah barang-barang branded yang tentu nya harga nya bukan main-main. 


"Sayang.." sapa Sila saat masuk ke dalam ruangan Ken. 


"Baby, kamu kesini? Kenapa gak bilang dulu Sayang?" Tanya Ken, dia merentangkan tangan nya, membuat Sila langsung menghambur ke dalam pelukan sang pria. 


"Emang nya kenapa kalau aku datang kesini tiba-tiba? Atau kamu takut ketahuan sedang bermain dengan wanita lain ya?" Tanya Sila. 


"Tidak dong Sayang, ayo duduk." Ajak Ken, Sila pun menurut dan duduk mengangkaang di pangkuan Ken. Otomatis membuat rok pendek yang dia pakai tersibak hingga menampilkan paha mulus nya. 


"Kamu menggoda ku, Baby? Ayolah, aku sedang bekerja." 


"Aku tidak menggoda, kamu saja yang mudah tergoda." Ucap Sila, membuat Ken menyeringai. 


"Ya, aku memang mudah tergoda apalagi dengan tubuh mu ini, Sayang. Jadi abaikan sejenak pekerjaan, ayo kita bermain." Ajak Ken, tentu saja Sila tersenyum senang. Dia melingkarkan kedua tangan nya di leher Ken, dan pria itu menggendong nya seperti bayi koala yang menempel di gendongan ibunya. 


Ken yang pada dasarnya sudah kepanasan karena permainan nya dengan Lydia, menjadi mudah terpancing dan kini kedua nya sudah berada di kamar yang terletak di ruangan nya. 


"Puaskan aku, Baby." 


"Of course, Bee." Jawab Sila dengan senyum nakal nya. 


......

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2