
Keesokan harinya, Reza menepati janjinya. Dia membawa sang istri untuk menjenguk mantan suami nya yang kecelakaan kemarin malam.
"Mas, kamu baik-baik aja?" Tanya Renata saat keduanya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit tempat Dimas di rawat.
"Baik sayang, kenapa?" Balik tanya Reza, dia menatap sekilas wajah sang istri dan kembali memfokuskan mata nya ke depan.
"Enggak, kalau kamu gak suka kita ke sana gak usah aja. Aku gak mau nyakitin kamu atau buat kamu kecewa, Mas."
"Enggak kok sayang, aku percaya sama kamu. Lagian kita dulu pernah temenan, aneh aja rasanya temen sendiri kecelakaan aku gak nengokin." Jawab Reza bijak, jelas saja itu membuat hati Renata lega.
Sedari tadi pagi, dia merasa ada yang mengganjal hatinya, biasanya suami akan marah jika istrinya bertemu dengan mantan suaminya, namun Reza tak seperti itu, justru malah kebalikan nya.
"Sayang, kita mampir dulu beli buah ya?"
"Emmm terserah Mas aja, aku mau jajan rujak dong, boleh ya? Udah lama pengen makan rujak."
"Boleh sayang, tapi nanti ya sekarang masih pagi." Jawab Reza membuat Renata cemberut.
"Tapi baby pengen nya sekarang, Mas." Rengek nya dengan manja, membuat Reza terkekeh.
"Yaudah iya, tapi jangan banyak-banyak beli nya ya. Terus gak boleh pedes, dikit aja."
"Siap suamiku." Jawab Renata sambil meletakan tangan nya di dahi, seperti orang menghormat bendera.
"Ibu hamil yang satu ini sangat menggemaskan ya ampun." Gumam nya sambil menggelengkan kepala nya, melihat tingkah Renata selalu bisa membuatnya tertawa, apalagi setelah hamil dia malah semakin terlihat menggemaskan.
Setelah singgah sebentar membeli buah-buahan, sekedar buah tangan. Tak enak rasanya menjenguk orang sakit dengan tangan kosong. Sedangkan Renata sibuk memakan rujak buah hingga membuat sudut bibirnya belepotan bumbu kacang.
"Ya ampun istriku ini, makan nya sampe belepotan gini." Reza mengambil tissu dan mengusap ujung bibir sang istri.
"Hehe maafin, Mas. Habisnya rujak nya enak, nanti pas pulang dari rumah sakit beli lagi ya?" Pinta Renata, dan Reza tak bisa menolak. Jadi dia hanya menganggukan kepala nya dan kembali melajukan mobilnya.
Hanya butuh beberapa menit, akhirnya pasangan suami istri itu sampai di rumah sakit. Tak lupa, Renata juga sudah menelpon nomor mantan mertua nya, Mami Erika.
Tadinya dia ingin memberitahu kabar Dimas kecelakaan itu, karena dia pikir Mami Erika tak tahu. Mengingat hubungan Dimas dan Mami nya renggang sejak perselingkuhan nya dengan Sila.
Tapi ternyata Mami Erika tahu dan saat ini beliaulah yang menunggui Dimas di rumah sakit sendirian.
"Assalamualaikum.." ucap Renata saat memasuki ruangan bernuansa putih itu.
Mami Erika langsung berdiri dari kursi nya, lalu menghambur memeluk Renata dengan erat. Dia menangis di pelukan mantan menantu nya dengan pilu.
"Mami harus kuat ya Mi, Dimas pasti sembuh kok."
"Dimas kritis, Nak. Luka di kepala nya sangat parah." Jelas Mami Erika membuat hatinya sedikit merasakan sesak mendengar nya. Dia melirik ke samping, Reza hanya mematung dengan mata fokus melihat ke depan, ke arah brankar. Dimana ada tubuh Dimas yang berbaring lemah dengan segala alat kesehatan yang menempel di tubuhnya.
"Mas.." panggil Renata lirih, membuat Reza langsung menatap sang istri.
Dia mendekat dan mengusap kepala sang istri, tersenyum manis yang justru membuat hatinya terluka, dia tahu ada rasa sakit yang tersirat dari senyum itu.
__ADS_1
Reza berjalan pelan, dia menyimpan parsel buah di meja dekat brankar, terlihat dia beberapa kali menghela nafas berat.
"Dim, Lo baik-baik aja kan? Cepetan bangun, jangan bikin orang tua Lo khawatir." Ucap Reza pelan, dia menggenggam tangan lemah Dimas.
"Hati gua sakit banget liat Lo begini, Dim. Ayo bangun, kita berteman lagi kayak dulu lagi. Gue kangen sama Lo, Dim."
"Sorry gue menjauh, jujur gue gak suka aja Lo Deket sama wanita itu. Tapi sekarang, gue sadar gue salah. Harusnya gue nyadarin Lo bukan malah ngejauh, gua minta maaf Dimas. Ayo bangun, jangan begini."
Sebenci apapun Reza pada Dimas, tetap saja dulu mereka pernah dekat sebagai teman, harusnya dia tak menjauh dulu, tapi Dimas bodooh saat mencintai. Jangankan nasehat nya, ucapan orang tua nya saja tak di dengarnya.
Reza ingat saat-saat kebersamaan mereka di kampus saat kuliah bersama, kadang mereka bolos bareng jika ada kelas yang tak mereka sukai, dan saat itu Renata akan mengomeli mereka berdua.
Aahhh mengingat masa-masa itu membuat hati Reza berdenyut nyeri, kenapa sahabatnya berakhir seperti ini? Ini semua karena satu orang, persahabatan mereka hancur, bahkan Dimas menyakiti wanita yang sangat mencintai nya dan ini semua karena pengaruh Sila.
Wanita itu menghancurkan semua nya demi misi balas dendam pada satu orang, yakni Renata. Namun yang di rugikan malah tiga orang sekaligus, hebat sekali wanita itu.
"Lo gak kangen sama gua, Dim? Bangun cepet, kita bolos kelas lagi yok. Nanti Rere bakal marahin kita, sampe ngerap kalo dia marah." Renata tersenyum kecut, kecepatan bicara nya saat mengomel mengalahkan rapper.
"Dimass.." gumam nya, dia akhirnya tak bisa menahan nya lagi, dia menangis sambil menangkupkan wajah nya di samping Dimas.
"E-za cengeng.."
Reza mendongak, dia terkekeh saat melihat Dimas sudah membuka kedua mata nya. Tangisan Reza membuat nya terbangun dan berhasil melewati masa kritis nya.
"Syukurlah Lo dah bangun."
"G-ue minta maaf, Za."
Renata masih berdiri di ambang pintu, dengan Mami Erika yang masih memegang tangan nya. Dia ingin mendekat, namun dia khawatir tak bisa mengendalikan diri dan membuat Reza terluka.
Dia tak ingin menyakiti suaminya, dia terlalu baik untuk di kecewakan.
"Sayang, kenapa gak mendekat? Dimas udah bangun, kamu gak mau liat?" Tanya Reza pada sang istri.
Renata hanya menatap suaminya dengan tatapan yang entah apa artinya, namun yang jelas ada sorot ke khawatiran disana.
"Ayolah sayang, aku percaya padamu."
Barulah, Renata berani mendekat. Dia melihat saat dokter memeriksa keadaan nya, dan tak lama kemudian dokter itu keluar.
"Bagaimana keadaan mu, Dim?" Tanya Renata pelan, dia berdiri dengan jarak cukup jauh dari brankar Dimas.
"Seperti yang kau lihat, Re. Mengenaskan." Jawab nya sambil tersenyum tulus.
"Apa yang sakit?"
"Hanya kepala, pusing banget ini." Jawabnya lirih.
"Yaudah, istirahat dulu."
__ADS_1
"A-ku minta maaf Renata."
"Aku udah maafin semua nya, Dimas. Gak ada yang bisa aku maafkan lagi." Jawab Renata.
"Semua kesalahan bisa termaafkan, tapi tidak dengan melupakan." Reza ikut bicara dari belakang Renata.
Dimas menatap dua sahabatnya yang kini bersatu dalam ikatan suci pernikahan, bahkan dia melihat perut buncit Renata adalah bukti bahwa wanita itu sudah bisa menerima kehadiran Reza dalam hidupnya.
"Maafin gua ya, Za."
"Santai, kita temen bro. Ayo cepetan sembuh, biar kita bisa nongkrong bareng-bareng lagi." Jawab Reza.
"Gue harus nyari cewek dulu kalo mau nongkrong ama kalian berdua."
"Ya jelaslah, masa depan Lo masih panjang Dim. Semangat sembuh ya, emang Lo lagi apa sih kok bisa ke tabrak?" Tanya Reza penasaran, membuat Dimas terkekeh.
Ini sebenarnya karena kesalahan nya sendiri, menyeberang jalan sambil melamun. Membayangkan hidup nya yang hancur berkeping-keping, rasanya dia tak punya harapan untuk hidup lagi. Dia putus asa dan ingin mengakhiri hidup dan secara kebetulan Allah mendengar doanya, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak tubuhnya hingga terpental 10 meter dan membuat kepala nya bocor.
"Hanya kurang fokus dan mungkin sudah takdirnya harus kek gini, Za." Jawab Dimas.
"Lo kayak udah bosen hidup njirr, jangan putus asa lah. Nih buktinya Mami Lo disini, dia sayang sama Lo, Dim."
"Iya, gue udah buat dia nangis semalaman. Nanti gue ganti air mata itu dengan kebahagiaan."
"Makanya Lo harus sembuh dulu biar Mami Lo bisa senyum lagi."
"Iya Za." Jawab Dimas singkat.
"Sorry gue gak bisa lama-lama Dim, kerjaan gue di kantor banyak sekarang. Gue pergi dulu ya, nanti atau besok gue kesini lagi."
"Hati-hati ya Za." Reza hanya menganggukan kepala nya mengiyakan.
"Sayang, mau disini aja atau ikut aku ke kantor?"
"Aku ikut aja Mas," jawab Renata sambil menyatukan jemari nya dengan jemari besar milik suaminya.
"Yaudah, aku sama Renata pergi dulu ya. Cepet sembuh, betah banget Lo di rumah sakit."
"Bukan keinginan gue vangke!" Ketus Dimas, lalu terkekeh pelan.
Pasangan itu pun pergi dengan tangan yang saling bertautan mesra, sedangkan Dimas menatap kepergian mereka dengan nanar, hingga punggung mereka menghilang begitu pintu tertutup.
"Renata udah bahagia sama Reza, Nak. Kamu juga harus mulai menata masa depan, jangan terpuruk dengan masa lalu. Percuma kamu menyesal, semuanya sudah terjadi dan takkan bisa di ulang." Ucap Mami Erika.
"Iya Mi, maafin Dimas yang udah bodooh ya."
"Gapapa sayang, kamu istirahat ya. Mami bakal jagain kamu disini kok, mami gak bakal kemana-mana sampai kamu sembuh." Ucap Mami Erika sambil mengusap lembut kepala sang anak yang di balut perban.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻..
harus sama pertemanan mereka tuh, Eza aku padamu😥🥺🥺🥺