Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 133 IRS


__ADS_3

Dimas masih menikmati kegiatan nya, bermain-main di dada istri cantiknya. Dia menguluum putiing kecoklatan di puncak bukit kenyal milik sang istri, membuat gadis itu melenguuh pelan menikmati perlakuan sang suami pada tubuhnya.


"Enghhh, sayang…" 


"Hemm, kenapa?" Tanya Dimas, sedikit mendongak untuk melihat raut wajah istrinya. Gadis itu sudah berantakan bahkan belum apa-apa, keringat membanjiri wajahnya yang memerah karena menahan serangan-serangan nafssu.


"Aku basah, sayang." Jawab Elina malu-malu sambil memalingkan wajahnya ke samping.


"Berarti rangsaangan ku berhasil, apa sudah cukup? Aku sudah tak tahan ingin menikmati tubuh mu."


"Terserah kamu saja." Jawab Elina pelan, Dimas tersenyum lalu menegakan tubuhnya. Secepat kilat membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya hingga membuat nya polos. Dengan cepat juga, dia menarik celana pendek sang istri hingga terlepas sempurna dan kini kedua nya sama-sama polos, tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka.


Elina membulatkan mata nya saat melihat benda yang berdiri tegak dengan urat-urat yang menonjol di sisi nya, besar dan panjang. Hanya itu yang bisa Elina jelaskan, dengan kepala yang mirip seperti helm.


Dimas kembali merangkak menaiki tubuh istri cantiknya, mengungkung nya di antara kedua tangan nya. Dia menundukan kepala nya dan kembali meluumat bibir mungil Elina dengan liar, bahkan lidah nya sudah bergerilya di dalam mulutnya, membuat Elina kewalahan dengan nafssu suaminya. Bahkan penyatuan belum juga di mulai, tapi dia sudah terengah-engah hanya karena ciuman saja. 


"Sayang, pelan-pelan dong cium nya." Pinta Elina dengan nafas yang memburu karena ciuman dalam yang di berikan suaminya.


"Maaf sayang, aku terlalu bernafsuu. Maklum lah, aku sudah sangat lama berpuasa, tidak menyentuh wanita manapun." Jawab Dimas membuat hati Elina sedikit lega, setidaknya Dimas tidak sembarang menyentuh wanita. 


Dimas melayangkan kecupan-kecupan hangat namun singkat di seluruh wajah sang istri, membuat wajah nya basah karena liur Dimas. 


Setelah merasa cukup, dia menyejajarkan posisi senjata nya dengan inti Elina yang sudah basah. Elina melotot saat merasakan benda itu mulai merangsek masuk ke dalam inti nya.


Gadis itu meringis menahan sakit, meski dia sudah tak memiliki selaput dara lagi, tapi kegadisan nya sudah di renggut bertahun-tahun lalu, sejak kejadian naas hari itu dia tidak pernah melakukan hubungan badaan dengan siapapun. Jadi wajar saja kalau inti nya terasa sakit dan ngilu, karena lama tak di masuki.


"Sakit ya? Aku akan perlahan." Elina sempat mengangguk dan kembali memejamkan mata nya, dia meremas apa ada di dekatnya. Reaksi nya hampir sama dengan memerawani seorang gadis.


Dimas tak tahan, saat Elina sedikit lengah dia langsung mendorong keras senjata nya hingga masuk sepenuhnya.


"Aaahhh.." Elina memekik menahan rasa perih di inti nya. 


"Maaf ya.."


"Tak apa, lanjutkan saja. Ini kewajiban ku, karena kamu suamiku." Jawab Elina sambil merangkulkan kedua tangan nya ke leher kokoh Dimas. Bahkan mengecup singkat bibir Dimas, lalu tersenyum.


"Aku bergerak ya? Biar cepet selesai, kamu pasti udah mulai ngantuk." Elina hanya menjawabnya dengan anggukan, Dimas pun mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur dengan tempo sedang, tidak lambat namun tidak terlalu cepat juga.


"Aahhh, lebih cepath.." pinta Elina saat gerakan Dimas semakin cepat karena dia juga mengejar pelepasan yang dia rasa sudah berada di ujung. 


Beberapa menit kemudian, keduanya mengerang bersamaan. Ya, mereka meledak bersama. Elina dengan tubuh bergetar nya merasakan klimaaks yang baru saja menghantam nya dengan sensasi yang benar-benar nikmat. Sedangkan Dimas mendongakan wajah nya dengan kedua mata yang terpejam saat lahar panas nya menyembur membasahi rahim Elina. 

__ADS_1


Dengan begitu, kecebong-kecebong milik Dimas mulai berenang mencari sel telur untuk di buahi. Entahlah kecebong yang mana yang akan berhasil menjadi jabang bayi nantinya. 


"Terimakasih sayang." Ucap Dimas lalu mengecup lembut di kening Elina. 


"Iya sayang, aku ke kamar mandi dulu ya."


"Ngapain? Gak usah mandi, nanti aja mandi nya pagi-pagi sebelum sholat subuh." 


"Cuma nyuci ini aja, gak enak lengket." Jawab Elina, Dimas pun mengangguk. Sedangkan dirinya hanya mengelap sisa-sisa cairan nya yang bercampur dengan milik sang istri itu dengan tissu basah yang memang tersedia di atas meja nakas dekat ranjang. 


Tak lama kemudian, Elina sudah keluar dari kamar mandi dengan piyama satin berwarna biru navy, karena yang tadi sudah kusut karena perbuatan suaminya. 


"Kenapa yang itu gak di pakai lagi, yang?" Dimas menunjuk piyama milik Elina yang teronggok mengenaskan di lantai.


"Udah kusut, biarin aja aku cuci besok. Udah, sekarang ayo tidur." Ajak Elina, Dimas pun mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya, lalu meraih sang istri ke dalam pelukan nya. Pelukan hangat setelah bercintaa menjadi moment yang sangat mengesankan bagi keduanya, malam yang indah dan panjang, membuat mereka larut dalam indahnya cinta.


Elina dan Dimas pun tidur dengan saling memeluk satu sama lain, larut dalam tidur nyenyak berbalut mimpi indah yang membuat mereka lupa akan waktu. 


Pagi harinya, Dimas bangun lebih dulu. Dia mengusap lembut pipi kanan Elina, menyampingkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istri kecilnya. Bahkan saat sedang tidur pun tak mengurangi kadar kecantikan yang di miliki sosok Avelina Maheswari.


"Lagi tidur aja gemesin banget, pengen makan lagi." Gumam Dimas sambil mengecup gemas pipi Elin yang mulai berisi.


Gadis yang kini menjadi istrinya itu adalah gadis yang sudah banyak mengalami rasa sakit, tak seorang pun yang bisa memahami rasa sakit nya seperti apa selain dirinya sendiri. Dulu, dia merasa sendirian menghadapi semua rasa sakitnya. Tapi sekarang, Elina memiliki Dimas yang akan selalu siap mendengarkan semua keluh kesahnya. Dia takkan pernah membiarkan Elina merasa sendirian lagi, kapanpun itu. Karena bagi Dimas, saat ini Elina adalah wanita yang menjadi prioritas nya setelah sang mami. 


"Eenghhh.." Elina menggeliat pelan dalam dekapan Dimas. Cuaca pagi ini sangat mendukung bagi pengantin baru, hujan deras yang membuat udara terasa sangat dingin. Hingga membuat Elina malas untuk bangun dan malah mengeratkan pelukan nya di pinggang sang suami. 


Dimas pun tak keberatan, lagipula mami Erika pasti akan maklum jika mereka keluar agak terlambat dari biasanya. Pria itu tersenyum lalu menaikan selimut nya hingga ke dada Elina, kembali memeluk sang istri dengan erat. 


"Sayang.." panggil Elina lirih.


"Hmm, kenapa?"


"Kamu gak ngantor hari ini?" 


"Enggak dong, masa kita baru nikah aku udah kerja sih. Libur dulu, lusa baru aku ngantor lagi." Jawab Dimas sambil tersenyum, membuat Elina bersemu lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Sayang, dingin ya?" Pancing Dimas. Tak dapat di pungkiri, nafssu nya perlahan naik saat merasakan tubuh nya dan sang istri saling bergesekan. 


"Iya, dingin banget. Matiin AC nya dong, bisa-bisa masuk angin kalo gini."


"Gak usah, sini aku bantu hangatin tubuh kamu." Jawab Dimas sambil tangan nya menyusup ke dalam pakaian yang di pakai Elina, membuka pengait braa sang istri dan meraba isi nya dengan lembut.

__ADS_1


"Eemmm modus!" Celetuk Elina sambil terkekeh, membuat Dimas cengengesan karena niat nya sudah di ketahui oleh Elina.


"Bilang aja mau jatah lagi, apa susahnya sih? Tinggal minta juga, pake modus segala bilang dingin." 


"Hehe, kan takut kamu nya gak mau. Kalo udah kepalang basah kan gak mungkin kamu nolak, sayangku." Jawab Dimas, membuat Elina memukul pelan dada bidang suaminya.


"Jadi, lanjut ronde kedua?" 


"Boleh." Jawab Elina, sambil tersenyum manis. Tadi pukul setengah 5 pagi, mereka sudah bangun untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim. Namun, karena suasana yang masih gelap, keduanya memutuskan untuk kembali tidur.


Dan pagi ini, keduanya tengah bergelut di atas ranjang dengan keringat yang membanjiri keduanya. Elina terus di buat mendesaah tak karuan saat pinggang Dimas terus menghentak inti miliknya dengan senjata laras panjang nya dengan cepat. Bahkan beberapa kali, Elina di buat menjerit saat Dimas menekan senjata nya dengan kuat hingga menyentuh titik denyut nya. 


Pagi hari itu di warnai dengan desahaan penuh kenikmatan di kamar pengantin baru, dengan cuaca yang seakan mendukung mereka untuk terus melancarkan aksi-aksi memabukan yang membuat candu.


Hingga satu jam kemudian, Dimas roboh di atas tubuh Elina dengan inti yang masih menyatu karena baru saja meluncurkan lahar panas yang membuat inti Elina semakin banjir karena di semprot oleh vitamin apa pasangan suami istri. Yang belum punya pasangan jangan dulu main semprot ya, bahaya. 


Kedua nya masih berusaha mengatur nafas yang memburu setelah gelombang klimaaks menghantam mereka. 


"Sebaiknya kita mandi, sayang." Ajak Elina, Dimas hanya menurut dan lagi-lagi mereka mengulang permainan di kamar mandi. Dimas benar-benar melampiaskan nafssu nya setelah puasa bertahun-tahun untuk tidak menyentuh wanita manapun setelah berpisah dari Renata, juga Sila. 


Setelah menyelesaikan ritual mandi plus-plus nya, keduanya pun segera berpakaian dan keluar dari kamar dengan rambut yang masih setengah basah, membuat Mami Erika yang melihat keadaan putra dan menantu nya hanya menguluum senyum karena tau apa penyebab mereka keramas pagi hari, apalagi kalau bukan sudah ehemm.


"Akhirnya keluar juga, mami kira gak bakal keluar." Celetuk Mami Erika tersenyum jahil menatap pasangan suami istri itu.


Elina tersipu hingga wajah nya memerah seperti tomat, sedangkan Dimas terlihat biasa-biasa saja.


"Mami udah masakin makanan kesukaan kamu sayang, sekarang makan ya." Mami Erika langsung menarik tangan Elina ke meja makan. 


"Eehh mami, maafin Elina gak bantu masak tadi."


"Gapapa sayang, layani aja suami kamu dengan baik. Gak usah mikirin urusan pekerjaan rumah, mami masih bisa kok. Lagian ada bi Surti yang bantuin mami." Jawab Mami Erika. Bi Surti adalah Asisten rumah tangga yang sudah bekerja dengan nya cukup lama. Bahkan sebelum almarhum suaminya meninggal, BI Surti sudah bekerja dengan nya.


Mami Erika memasak sup iga yang di campur dengan kacang polong, konon katanya bisa menambah stamina. Jadi tak ada salahnya dia memberikan itu untuk anak dan menantu nya agar keinginan nya untuk punya cucu segera terlaksana. 


Memang terdengar egois, tapi setiap orang tua pasti mendambakan seorang anak, lalu setelah dewasa anaknya akan menikah lalu memberikan nya cucu. Sederhana itu, tapi dia masih belum tau apa keputusan yang di ambil Elina, apa dia ingin menunda kehamilan untuk sementara waktu saja? Mengingat usia nya yang masih 18 tahun. 


Tapi harapan akan selalu ada, dan dirinya takkan berhenti mengharapkan lahirnya seorang cucu dari rahim Elina. 


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2