Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 86 IRS


__ADS_3

Setelah melaju beberapa menit, akhirnya mobil yang di kendarai Reza berhenti tepat di teras rumah kontrakan Renata. 


"Kali ini aku ingin mampir, sayang." 


"Tentu saja boleh, kamu boleh mampir kapanpun. Mungkin nanti kita akan tinggal bersama disini," jawab Renata sambil tersenyum. Namun berbeda dengan reaksi yang di tunjukan Reza, seperti nya pria itu nampak kurang nyaman. 


"Kenapa? Ayo masuk." 


"Setelah menikah, aku ingin kamu pindah ke rumah ku. Tinggal bersama orang tua ku di rumah besar itu, atau setelah aku menjadi manager kita bisa membeli rumah sendiri." Usul Reza membuat Renata menoleh. 


"Jangan tanya kenapa, Sayang. Kamu pikir aku akan nyaman tinggal disini? Tempat kamu dan mantan suami mu itu tinggal bersama, bahkan bercintaa disini? Maaf, aku tak mau." Tegas Reza. 


Renata mengerti, dia juga sebenarnya merasa tak nyaman. Tinggal di tempat ini membuat bayang-bayang Dimas selalu saja mengganggu pikiran nya, tentu saja itu menyulitkan, karena dia ingin melupakan pria itu. 


"Aku terserah kamu aja, aku ikut kamu kemana pun."


"Syukurlah, kamu sangat penurut sayang. Aku suka," ucap Reza, dia duduk di kursi. 


"Ini kue yang sama dengan yang di rumah, Papi menyukainya, apa kamu suka juga?" Tanya Renata sambil meletakan secangkir kopi latte dan sepiring kue. 


"Kopi latte?"


"Sudah malam, kamu mau begadang semalaman karena minum kopi hitam?" Tanya Renata, membuat Reza terkekeh. Tentu saja dia tak mau hal itu terjadi, dia ingin tidur tepat waktu agar bisa pergi bekerja dengan semangat. 


"Makasih ayang." 


"Sama-sama, aku ganti baju dulu sebentar." 


"Iya sayang, jangan lama-lama." Ucap Reza sambil menikmati kopi dan cemilan yang di suguhkan calon istri nya. 


'Sebenarnya aku ingin ikut dan menyaksikan saat kamu ganti baju, tapi belum halal.' Batin Reza, dia menghembuskan nafas nya kasar. Berdekatan dengan Renata selalu saja membuat pikiran kotor nya beraksi.


Tak lama kemudian, Renata keluar dengan daster rumahan nya, terlihat sederhana namun di mata Reza kecantikan Renata malah bertambah berkali lipat. 

__ADS_1


"Kok bengong, kenapa?" 


"Kamu cantik, pakai baju apapun kamu cantik, Ayy." Puji Reza terang-terangan, membuat Renata hanya melengkungkan bibir nya membentuk senyum simpul. 


"Kue nya enak?"


"Enak, gak kemanisan. Duduk nya disini dong, pengen manja-manjaan." Pinta Reza, Renata menurut dan duduk di samping pria nya. 


Reza menyandarkan kepala nya di pundak Renata, dan perempuan itu mengusap lembut kepala nya. 


"Rasa nya menenangkan saat bisa berdua seperti ini sama kamu, Ayy." Gumam Reza, dia memejamkan mata nya sejenak menikmati usapan tangan Renata di kepala nya. 


"Kamu wangi, Sayang." Puji nya lagi, dia menegakkan kepala nya dan menatap Renata dengan tatapan penuh arti. 


Sedetik kemudian dia mendekatkan wajah nya, mengecup singkat pipi kanan Renata, membuat wanita itu terhenyak. 


"Reza nakal.." ketus Renata, namun nada nya malah terdengar seperti rengekan manja di telinga Reza. 


"Eemm, lipstick kamu warna nya bagus, Ayy." 


"Aku pengen nyoba, boleh?"


"Kamu? Pake lipstick? Wahh pasti lucu," Renata terkekeh geli saat membayangkan jika Reza benar-benar memakai lipstick milik nya. 


"Bukan lipstick nya." 


"Lah terus?" Tanya Renata dengan kening yang berkerut heran.


Cup.. 


Reza menempelkan bibir nya di atas bibir Renata, menyesaap nya perlahan dengan lembut, melumaat bibir bawah dan atas bergantian. 


Reza memejamkan mata nya, menikmati sensasi ciuman yang terasa sangat memabukkan, meski sebenarnya Renata tak membalas apapun, dia hanya diam saja, mungkin dia terlalu shock untuk membalas. 

__ADS_1


"Manis, rasanya tak berubah sama sekali. Masih sama saat aku mencium mu tepat beberapa detik sebelum kamu menikah dengan lelaki pengecut itu, Sayang." 


Mendengar ucapan Reza, membuat Renata mengingat kembali moment ciuman pertama nya dengan Reza. Saat itu dia sudah siap menikah, lengkap dengan kebaya, siger dan make up hasil tangan MUA. 


"Jangan mengungkit nya, sekarang aku akan belajar melupakan nya." Jawab Renata. 


"Bagaimana bisa kamu melupakan nya, kalau kamu tetap tinggal dalam bayang-bayang nya?" 


"Aku sudah memikirkan tentang pindah kontrakan, tapi waktu nya hanya satu bulan lagi, jadi aku rasa akan merepotkan jika aku pindah ke kontrakan lain dan hanya menyewa selama satu bulan." Jelas Renata. 


"Kita bisa menikah lebih dulu, dan tanggal ulang tahun mu untuk kita resepsi." 


"A-apa ini tidak terlalu cepat?" Tanya Renata. 


"Masa Iddah mu sudah habis kan? Kita bisa menikah besok, lusa atau Minggu depan."


"T-api…" 


"Setuju atau tidak?" Tanya Reza, menuntut jawaban Renata, membuat wanita itu diam sejenak. 


"Paman Calvin pasti butuh waktu untuk datang." 


"Aku yang akan mengatur semua nya, bagaimana kalau lusa? Jadi ada waktu satu hari untuk menyiapkan semua nya." 


"Aku sangat merepotkan ya?" 


"Tentu tidak, Sayang. Kau tak pernah merepotkan, aku akan bicara pada kedua orang tua ku, juga orang tua mu nanti. Kamu hanya perlu mengirimkan nomor nya padaku." Jelas Reza.


"Baiklah, aku ikut apa katamu saja." Pasrah Renata. Akhirnya dia setuju, lagi pula untuk apa dia menunda lagi? Benar kata Reza, masa Iddah nya pun sudah selesai, jadi apa alasan nya? Tak baik menunda niat baik. 


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


yang nanyain kapan Dimas hancur dan nyesel, nanti ya. sekarang author fokus bahagia in couple R dulu☺️ sabar yaaw akan ada saatnya mereka nyesel😏


__ADS_2