
"Renata adalah mantan istri kakak, Sayang." Jawab Dimas pelan, setelah beberapa kali pria itu menghela nafas nya berat.
Sedangkan Elina membeku di tempatnya, siapa yang menyangka bahwa wanita yang tadi sangat baik padanya adalah mantan istri dari Dimas, yang saat ini adalah calon suaminya.
"B-enarkah?"
"Ya, aku dan Renata pernah menikah selama satu tahun." Jawab Dimas lirih. Jika mengingat tentang pernikahan nya dengan Renata hatinya selalu terasa sakit, apalagi saat mengingat betapa dia sangat menyakiti nya dulu.
"Kenapa sangat singkat?" Tanya Elina mulai penasaran. Satu tahun? Itu bukan waktu yang lama untuk menjalin suatu ikatan rumah tangga.
"Aku yang bodoh, aku menyakiti Renata. Menghianati nya, berselingkuh di belakang nya dengan teman nya sendiri."
Elina membulatkan matanya, dia tak menyangka bahwa pria yang selama ini dia anggap baik adalah pria brengseek yang sudah menyakiti wanita sebaik Renata.
"Maaf, aku menyembunyikan semua ini dari mu. Aku tau, aku salah. Harusnya aku menceritakan semua masa laluku padamu terlebih dulu, agar kamu tak salah paham."
"Kak, tapi entah kenapa tiba-tiba aku merasa ragu dengan pernikahan kita. Maaf, aku tak suka laki-laki yang tak setia." Ucap Elina lirih.
"Sayang, aku berjanji takkan pernah mengulangi kesalahan yang sama."
"Maaf kak, tapi aku tak percaya sebelum kamu membuktikan nya." Jawab Elina, dia berbalik memunggungi pria itu. Jelas saja itu membuat Dimas merasa bersalah pada Elina.
"Sayang, itu semua hanya masa lalu. Berikan aku kesempatan, aku pasti akan memanfaatkan nya dengan sangat baik. Bukankah semua orang bisa saja berubah? Jika dulu aku brengseek dan menyakiti wanita, maka kali ini aku akan berubah."
"Aku perlu bukti, kalau kamu serius buktikan. Kalau tidak, maaf lebih baik kita tidak usah berdekatan lagi, kak." Jawab Elina tanpa menoleh sedikitpun, seperti nya dia cukup kecewa setelah mengetahui apa yang terjadi antara Dimas dan Renata di masa lalu.
Apalagi wanita yang bersikap sangat baik padanya tadi itu adalah korban ke egoisan Dimas, tentunya dia merasa ragu kan? Sebagai seorang wanita, pastinya dia ingin di perlakukan sebaik mungkin oleh pasangan nya, itu dambaan semua perempuan tak terkecuali dirinya.
Dia ragu, apakah Dimas sudah benar-benar berubah atau belum. Bagaimana jika hal serupa terjadi kembali? Perkataan nya tadi memang sangat meyakinkan, tapi tetap saja itu semua tak menutupi kemungkinan bahwa pria bisa kembali berhianat di kemudian hari. Itulah yang Elina takutkan.
"Baik, aku akan membuktikan kalau aku serius dengan ucapan ku." Jawab Dimas, dia berdiri lalu keluar dari ruangan, entah kemana Elina tak tau. Biarkan saja, untuk sejenak dia memang ingin sendiri untuk merenungi keputusan nya yang sudah menerima lamaran Dimas.
"Apa keputusan yang aku ambil sudah benar, atau justru salah? Kak Dimas, aku harap perkataan mu benar dan kau takkan menyakiti aku." Gumam Elina sambil menatap nanar pintu yang baru saja tertutup.
Jujur saja, dia sangat terkejut saat mendengar ucapan Dimas, bagaimana bisa pria itu menyia-nyiakan wanita secantik dan sebaik Renata? Jika dirinya di bandingkan dengan Renata, tentu saja jauh.
Di ibaratkan dia planet Merkurius dan Saturnus, yaps jauh sekali perbedaan nya. Dari segi ukuran dan jarak, keduanya sangat berjauhan. Begitu juga dirinya dengan Renata, perbedaan antara mereka sangat jauh. Seketika dia merasa kecil di depan Renata, dirinya tak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan wanita itu.
Sedangkan Dimas, saat ini dia duduk di taman sendirian. Menikmati udara malam yang terasa dingin menusuk kulit, tapi dia tak peduli. Dia menengadahkan wajahnya, menatap langit yang indah bertabur bintang.
Cahaya nya sangat indah, membuat Dimas tersenyum. Dulu, dia dan Renata sering melihat bintang bersama. Masih segar di ingatan, kala itu Renata mengatakan bahwa dia punya keinginan, yaitu menikahi pria yang mencintainya dengan tulus tanpa melihat sisi kekurangan nya.
Dia juga mengatakan, suatu saat nanti akan ada masanya dia dan Dimas akan mengalami fase terberat dalam hidup masing-masing, dan saat itu mereka harus saling menguatkan.
Namun, siapa sangka setelah bertahun-tahun, dirinya sendirilah yang memberikan masa terberat bagi Renata. Bukan hanya sekedar penghianatan, tapi juga cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Aku memang pantas mendapatkan semua ini, sungguh demi apapun aku sudah berniat untuk berubah. Tapi, wajar saja jika Elina meragukan aku, aku memang pria brengsek." Gumam Dimas lirih. Hatinya kembali berdenyut nyeri, dia meremaas kuat dada nya, rasanya sangat sakit hingga membuat nya sesak.
"Sesakit inikah? Maafkan aku Renata." Lirihnya, dirinya baru mendapatkan penolakan yang membuatnya sakit. Lalu apa kabar dengan Renata yang selama ini selalu mendapatkan penolakan? Bahkan dari orang-orang terdekat nya, termasuk dirinya.
Wanita itu berjuang bertahun-tahun untuk bisa bersama nya, tapi setelah bersama lagi-lagi dia mendapatkan rasa sakit yang pasti membuat siapa saja merasa keberatan dengan beban yang dia rasakan. Tapi Renata bisa melewati nya, bahkan dia masih bisa tersenyum tulus menerima semuanya. Entah terbuat dari apa hati gadis itu hingga bisa sekuat itu.
"Hah, aku harusnya belajar dari Renata." Ucap Dimas, lalu berjalan gontai kembali ke dalam ruangan Elina.
Saat sampai di dalam ruangan, ternyata Elina sudah terlelap. Namun Dimas melihat ada bekas lelehan air mata di ujung mata gadisnya, dia mengusap nya lalu mengecup singkat kening nya.
"Selamat malam Elina, aku mencintaimu dan aku berharap kamu mempercayaiku." Ucapnya dengan suara bergetar.
Dimas berjalan dan mendudukan tubuhnya di sofa, dia merasa lelah dan hanya dalam hitungan menit saja, Dimas terlelap.
Sedangkan di mansion, Reza dan Renata baru saja tiba. Renata langsung menggendong bayi Farish yang tengah menangis, dia tak ragu meninggalkan kedua buah hatinya karena dia sudah memompa ASI nya, dan menyimpan stok nya di freezer. Lagi pula ada dua nanny yang di pekerjakan oleh Reza.
"Kalau sudah, kasih Farish sama Mommy, aku lagi gak mau di ganggu." Ucap Reza ketus, membuat Renata keheranan. Kiranya apa yang membuat mood suaminya berubah?
__ADS_1
"Iya Mas, tunggu sebentar lagi. Dia belum kenyang." Jawab Renata lirih, Mariska dan Argan juga keheranan dengan sikap sang putra yang mendadak pendiam.
Reza tak menjawab, dia pergi ke kamar nya dengan meniti tangga satu persatu, tanpa menunggu istrinya dulu, padahal biasanya pria itu takkan pergi jika Renata tanpa Renata. Taulah, seberapa manja nya Reza pada sang istri.
Jadi, saat dia berubah pendiam dan tak manja itu mengundang heran dari kedua orang tua, juga Karina.
"Eza kenapa, sayang?" Tanya Mariska.
"Rere gak tau Mom, sejak pulang dari rumah sakit dia jadi pendiem gitu, kalau bicara seperlunya." Jawab Renata, dia juga tak tau alasan di balik berubahnya sikap sang suami.
"Yaudah, tanya langsung sama orangnya aja biar gak salah paham. Sini, biar Farish sama mbak aja."
"Aisha biar sama Mommy aja." Mariska mengambil Baby Aisha dari pelukan Renata. Ya, dia terbiasa untuk menyusui kedua bayi nya secara bersamaan. Tentunya dengan cara yang benar.
"Yaudah, Rere nitip mereka dulu ya. Kalau rewel, panggil Rere aja."
"Iya, yaudah sana ke kamar dulu. Kalian harus bicara baik-baik, masalah gak bakalan selesai kalau kalian gak saling terbuka." Ucap Karina menasehati.
"Iya sayang, masalah juga gak baik di biarkan berlarut-larut." Mariska ikut menimpali, lalu mengusap rambut sang menantu dengan lembut.
Wanita itu mengangguk, lalu pergi ke kamarnya dengan langkah perlahan.
"Semoga saja permasalahan mereka gak berat ya? Mommy khawatir."
"Jangan khawatir, Mom. Renata sama Reza itu sudah sama-sama dewasa, mereka pasti akan punya solusi untuk setiap masalah tanpa harus terjadi pertengkaran." Ucap Karina.
"Karina benar, Reza maupun Renata sama-sama bijak dalam menyikap setiap masalah. Pasti mereka punya solusi untuk masalah yang sedang mereka hadapi." Argan ikut angkat bicara.
Sebenarnya, dia juga khawatir dengan apa yang terjadi pada putra dan menantu nya.
Renata masuk ke dalam kamar, dia melihat Reza sedang berdiri dengan kedua tangan yang dia masukkan kedalam celana training panjang nya. Pria itu menatap jendela besar yang menyajikan pemandangan kota di malam hari, kelap-kelip lampu yang memanjakan mata.
"Mas.." panggil Renata lirih, Reza berbalik dan menatap sang istri dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bicara tentang apa? Masalah ini sepele sebenarnya, aku cemburu saat melihat tatapan Dimas padamu, sayang." Jawab Reza. Dia mendudukan tubuhnya di sisi ranjang, lalu menggerakan tangan nya meminta sang istri agar mendekat.
Renata menurut, dia berjalan mendekat dan duduk di pangkuan sang suami. Melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh suami tampan nya yang kini tengah di landa cemburu.
"Ohh cemburu ya? Aku pikir kamu kenapa, Mas."
"Aku gak suka cara Dimas natap kamu, sayang. Aku cemburu, hatiku panas ini seperti terbakar." Reza mengadu pada istrinya, dengan gaya manja yang membuat Renata gemas sendiri.
"Ya ampun, kamu sangat menggemaskan Mas. Bukan nya kamu yang bilang kalau kamu percaya sama aku?"
"Aku memang percaya sama kamu, tapi tetep aja cemburu itu ada, sayang." Jawab Reza membuat Renata terkekeh.
"Terus, aku harus apa Mas?"
"Kalau pergi kamu harus pakai cadar sekarang, biar cuma aku yang bisa lihat wajah cantik kamu."
"Baiklah, aku akan memakainya."
"T-idak begitu sayang, isshh kamu ini." Ucap Reza sambil menoel hidung mancung istrinya.
"Lalu, aku harus gimana sih? Nurut salah, apalagi gak nurut."
"Iya, aku juga gak tau harus gimana. Intinya aku gak suka aja kalau kamu ketemu sama Dimas." Jawab Reza, smabil menduselkan wajahnya di leher sang istri, menghirup aroma menyegarkan yang menguar lembut dari tubuh istri nya.
"Tapi, kita kan udah gak ada hubungan apa-apa lagi, Mas. Lagian Dimas kan udah punya Elina, aku juga punya kamu."
"Tetep aja, apalagi saat aku bayangin kamu sama dia pernah, aahh hati aku panas banget yang." Rajuk Reza membuat Renata segera memeluk suaminya itu.
"Maafin aku ya, harusnya aku gak maksain diri buat bisa sama dia dulu."
__ADS_1
"Itu sih gak masalah, aku terima kamu apa adanya. Tapi ya, saat membayangkan nya aku marah, kesal, cemburu, hati aku panas kayak terbakar gitu."
"Yaudah, jadi sekarang masalah kita selesai ya?" Reza mengangguk pelan, membuat Renata mengecup kening suaminya.
"Percaya sama aku ya? Kalau ada masalah, kamu harusnya langsung ngomong sama aku, jangan malah kesel sendiri terus jadi pendiem, aku kan jadi heran Mas."
"Iya maaf sayang, maaf." Jawab Reza sambil terkekeh.
"Jadi, kamu mau jatah ya?"
"Hehe, iya. Waktu itu kan gak jadi main kamu nya banjir, sekarang udah selesai apa masih kebanjiran?" Tanya Reza.
Renata mengangguk, membuat senyuman yang tadi terukir sirna seketika. Berganti dengan raut wajah murung penuh kekesalan.
"Aku bercanda sayang, aku sudah bersih. Tapi sebentar, aku bersiap dulu."
"Siap, berikan aku pelayanan yang terbaik sayang." Ucap Reza sambil tersenyum. Renata mengangguk dan turun dari pangkuan sang suami.
Renata berjalan ke ruang ganti, dia memilih pakaian dinas yang akan dia pakai, dia sempat kebingungan memilih antara warna merah menyala atau warna hitam, tapi akhirnya Renata memakai yang merah.
Wanita cantik itu keluar dari ruang ganti dengan lingerie berwarna merah, membuat Reza yang terduduk di tengah kasur sambil memainkan ponsel nya menoleh dan berbinar saat melihat betapa cantik dan menantang nya penampilan Renata saat ini.
"Bagaimana? Apa aku terlihat cantik?"
"Sangat, kamu terlihat sangat cantik sayang." Jawab Reza, pria itu merentangkan tangan nya dan Renata yang mengerti langsung masuk ke dalam dekapan hangat pria nya.
Reza memulai dengan mengecupi leher jenjang sang istri, menyesap nya hingga meninggalkan bekas-bekas kemerahan.
"Eenghhh, mas.."
"Puaskan aku, sayang." Pinta Reza. Wanita itu tersenyum, lalu memeluk leher sang suami dan memulai ciuman dengan liar, tentunya Reza membalas ciuman sang istri tak kalah liarnya hingga bunyi decap nikmat memenuhi ruangan itu.
Renata melepas tautan bibirnya, lalu beralih ke leher suaminya, mengecup dan menyesap nya seperti yang suami nya lakukan padanya. Setelah merasa cukup memberi tanda, Renata kembali mencium bibir suaminya. Tangan nya perlahan membuka kancing piyama yang di pakai suaminya, setelah terlepas sempurna dia melempar piyama itu ke sembarang arah.
Renata meraba perut rata suaminya, mengusap-usap nya dengan lembut hingga membuat Reza menegang, kini senjatanya mulai aktif.
"S-ayang jangan.."
"Aku penasaran ingin melakukan nya Mas, plis sekali ini saja ya?" Bujuk Renata, selama ini Reza tak pernah membiarkan sang istri mengulumm junior nya, tapi sepertinya kali ini Renata sangat ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk suaminya.
"Pelan-pelan saja." Akhirnya Reza kalah dengan tatapan memohon istri cantiknya. Renata menurunkan celana suaminya, sekalian dengan boxer nya. Hingga terpampang lah batang besar yang selama ini selalu membuatnya menjerit nikmat saat dia bergerak brutal di dalamnya.
Renata mengecup ujung nya membuat Reza memejamkan mata nya. Wanita itu menjulurkan lidahnya, menjilat batang itu dari atas sampai ke ujungnya.
"Aaahhh sayang, cukup mas gak kuat." Pinta Reza, dia benar-benar tak tahan. Kalau terus begini, bisa-bisa dia kalah dan meledak sebelum juniornya tenggelam ke dalam lubang hangat sang istri, yang sangat dia rindukan.
Renata tersenyum, dia malah melahap benda itu, memasukan nya ke dalam mulutnya, bergerak maju mundur membuat Reza kelojotan sendiri.
"Aaarghhh sayang, mas mau keluar.." racau Reza, dan sedetik kemudian tubuh nya menegang.
Uhukk… uhukk..
Renata tersedak cairan yang tiba-tiba saja muncraat di dalam mulutnya, tentu saja dia terkejut dan tersedak.
"Maafin mas sayang, mas udah bilang gak tahan tapi kamu malah terusin." Ucap Reza merasa kasian dengan istrinya yang tersedak cairan miliknya hingga wajah nya memerah.
"Iya, gapapa Mas. Aku minum dulu sebentar." Renata bangkit dan meminum jus jambu, untung saja dia sudah antisipasi sebelum hal ini terjadi.
"Mau di lanjut?" Tanya Renata sambil tersenyum nakal.
"Lanjut.."
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻