
"Kalo lagi kayak gini tuh suka kangen sama Reza deh, Mir. Biasa nya dia yang selalu ada buat gue, nemenin gue disaat gue terpuruk, tapi sekarang dia gak ada. Gue jadi ngerasa sendiri." Ucap Renata, mata nya menatap lurus ke arah danau.
"Kata siapa Lo sendiri, Re? Masih ada gue, gue disini sama Lo."
"Rasanya beda, Mir. Apa gue bodoh nya udah nolak Reza demi pria brengsekk kaya Dimas?" Tanya Renata pelan.
"Enggak dong, itu kan masalah perasaan. Dia gak bisa di paksa, susah emang kalo udah main nya sama perasaan Re."
"Harusnya dulu gue gak jatuh cinta sama Dimas, mungkin keadaan nya gak bakal kek gini."
"Jangan menyesali yang udah terjadi Re, Lo berhak bahagia lho. Apapun keputusan Lo sekarang, gue dukung." Ucap Mira, dia tersenyum lalu mengusap lembut perut rata Renata.
"Ingat Re, jangan nyerah. Disini ada nyawa yang harus kamu jaga, kalo Dimas gak mengharapkan nya kita rawat bayi kamu sama-sama ya."
"Miraa, jangan buat gue nangis. Gue lagi gak mau nangis, Mir." Ucap Renata, Mira hanya tersenyum lalu keduanya pun berpelukan.
Benar kata orang, orang yang baik pasti di kelilingi oleh orang baik pula.
"Kalo Lo ngerasa gak baik, Lo bisa datang ke rumah gue, mau?" Tawar Mira.
"Gak usah Mir, mau gak mau gue harus bicara sama Dimas."
"Iya, gimana pun masalah kalian itu masalah besar Re. Tapi, lawan dengan cara cantik ya. Gue takut bayi Lo kenapa-napa." Ucap Mira, dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan sahabat dan juga bayi yang tengah dia kandung.
"Oke Mir, makasih ya."
"Santai, kayak sama siapa aja. Kita kan temen, Re." Keduanya berpelukan lagi, lalu berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.
Renata menghela nafas nya saat membuka pagar dia melihat motor Dimas sudah terparkir rapi di teras seperti biasa. Dia membuka pintu dan masuk, rumah yang biasa nya hangat itu kini berubah sunyi bagai tak berpenghuni.
Dimas duduk di kursi sambil memegangi kepala nya, begitu mendengar pintu di buka dia mendongak dan seketika itu juga dia bangkit dan mendekat.
"Re.."
"Kenapa pulang? Sudah puas selingkuh nya, Mas?" Tanya Renata pelan sambil menyimpan sepatu nya di rak.
"Kamu dari mana aja, kenapa baru pulang? Aku khawatir sama kamu."
"Khawatir? Jangan bercanda Mas, sejak kapan kamu khawatir sama aku?" Balik tanya Renata, dia tersenyum getir.
__ADS_1
"Renata, kamu istri aku."
"Istri? Kamu anggap aku istri ya? Lalu kenapa kamu melakukan hal menjijikan di belakang aku, Mas?"
"A-aku khilaf Re."
"Jangan bersembunyi di balik kata khilaf, jika kalian sama-sama menikmati dosa itu." Ucap Renata, dia sedikit menaikan nada suaranya.
"Mas, jika kamu mencintai Sila pergilah. Aku gak akan mencegah, jika itu memang keinginan kamu."
"M-maksud kamu apa, Re?" Tanya Dimas.
"Dari awal aku sudah merelakan mu bersama Sila, namun apa yang kamu dapat? Dan apa akibat nya hingga kita bisa menikah secara paksa? Kamu gak ingat penghianatan yang Sila lakukan hingga mau kembali?"
"Kamu gak ingat sampai rusak aku gara-gara sakitnya penghianatan yang dia lakukan? Kamu lupa, Dimas?"
"Aku gak menyalahkan kalau kamu memang buta dan masih mencintai perempuan itu, aku juga buta karena menutup mata ku dan menganggap kamu sudah berubah, tapi nyatanya?"
"Renata, aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu, tapi aku.." ucapan Dimas terhenti kala mendengar suara Renata.
"Aku akan memaafkan kamu jika kamu bersedia meninggalkan Sila dan mempertahankan pernikahan kita."
"Kamu tinggal pilih, aku atau Sila. Mudah kan?"
Renata pun pergi ke kamar nya tanpa menghiraukan Dimas yang masih mematung di tempatnya, perempuan itu mengunci pintu kamar. Dia tak mau tidur bersama suami yang tak setia macam Dimas.
Dimas memilih tak banyak bicara, dia diam dan tidur di sofa tanpa selimut, padahal cuaca sangat sejuk membuat nya menggigil. Renata sebenarnya merasa iba, tapi rasa sakit nya mengalahkan rasa iba.
Pagi harinya, Renata sudah bangun dan memasak seperti biasa, hanya saja dia hanya diam tak bicara sepatah kata pun. Itu adalah bukti bahwa dia sedang marah, karena Renata adalah tipe wanita yang akan diam ketika marah.
"Ini gaji ku satu bulan bekerja, aku mengambil nya 500 ribu untuk jaga-jaga kalau terjadi hal yang tak di inginkan." Ucap Dimas, dia mendorong pelan amplop coklat berisi uang dua juta lima ratus itu.
"Sudah kau bagi dengan selingkuhan mu itu juga, Mas?"
"Tidak, dia tidak meminta uang. Hanya saja dia minta untuk sering di temani." Jawab Dimas, membuat Renata berdecak.
"Udah jadi selingkuhan, gak tau diri lagi." Celetuk Renata, membuat Dimas mendongak.
"Renata.."
__ADS_1
"Hmm, kenapa? Gak terima aku nyebut dia sebagai selingkuhan ya, padahal kan iya."
Saat keduanya tengah bicara, tiba-tiba pintu di ketuk beberapa kali. Dimas langsung berdiri dari duduknya dan berjalan terburu-buru, setengah berlari untuk membuka pintu.
Terdengar beberapa bincangan, dan tak lama dia membawa masuk perempuan yang paling Renata benci, siapa lagi kalau bukan Sila.
"Eeemmm, Sila mampir buat sarapan."
"Kere ya Neng, sampe gak mampu beli sarapan di restoran atau di pinggir jalan gitu? Harus banget ya numpang makan di rumah orang?" Sindir Renata pedas, membuat kedua tangan Sila terkepal.
"Maaf, disini tidak menerima pengemis. Jadi silahkan pergi, makanan ini aku beli dengan uang dan aku memasakan nya untuk suamiku, tidak termasuk selingkuhan nya." Ucap Renata, dia langsung membereskan piring dan menyimpan lauk pauknya.
"Kalau mau, silahkan makan dengan lauk seadanya." Renata hanya menyisakan tahu goreng dan tempe di meja.
Dengan terpaksa, keduanya pun sarapan dengan lauk seadanya, meski beberapa kali Sila sempat mengeluh karena makanan nya tidak enak, tapi Dimas juga tak ingin memancing kemarahan istrinya.
"Dimas, uang kontrakan selama 2 bulan belum aku bayar. Mana uang nya?" Renata menengadahkan tangan ke arah suaminya.
"Tadi kan udah, Re. Aku kasih semua nya ke kamu,"
"Aku gak mau tahu, uang itu cuman cukup buat belanja barang rumah, gak termasuk bayar kontrakan." Jawab Renata, membuat Dimas mau tak mau harus mengeluarkan uang dari dompetnya lagi. Uang tips yang kemarin dia terima karena bekerja sangat rajin.
"Ingat, jangan suka nyembunyiin uang dari istri, dosa. Apalagi selingkuh, dosa nya lebih besar." Sindir Renata lagi, lalu dia pergi keluar rumah dengan membanting pintu dengan keras. Hingga membuat kedua manusia itu terlonjak kaget.
"Dimas, kenapa kamu kasih semua yang sama Renata sih?"
"Mau gimana lagi dari pada aku gak punya tempat tinggal." Jawab Dimas acuh.
"Isshh kamu ini,"
"Kamu janji gak bakal minta uang sama aku tapi cuma minta waktu kan?"
"Iya, aku juga kerja bisa dapet uang kok. Yang penting kamu bisa ngasih waktu buat aku." Ucap Sila dengan manja, membuat Dimas tersenyum.
'Lihat saja, aku pasti akan membuat mu lupa daratan. Kau akan lupa kalau kau punya istri, dan hanya fokus padaku.' Batin Sila tersenyum licik.
......
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
si sila urat malu nya benar-benar udah putus😑