
Mami Erika menatap putra nya dengan tatapan tak bersahabat, entah kenapa feeling nya sangat buruk terhadap sang putra.
"Mami kenapa natap Dimas gitu amat? Kek liat musuh aja." Tanya Dimas, dia merasa tak nyaman saat Mami nya menatap dirinya seperti itu.
"Ada yang beda dari kamu."
"Beda? Jelas Dimas yang sekarang beda Mi, Dimas kan udah punya istri." Jawab Dimas dengan senyuman nya, namun Mami Erika menangkap maksud lain dari perkataan putra sulung nya itu.
"Istri ya? Syukurlah kalau kau sudah menerima Renata sebagai istrimu. Jadi, jangan sakiti dia, apalagi kalau sampai menduakan nya. Mami coret kamu dari kartu keluarga." Tegas Mami Erika, membuat Dimas menelan ludahnya dengan kepayahan.
Renata datang membawa sepiring cemilan di tangan nya, ada teh hangat juga sebagai pendamping nya.
"Badan kamu sedikit lebih berisi dari terakhir kita ketemu, Nak." Ucap Mami Erika membuat Renata sedikit salah tingkah.
"Renata makan banyak Mi, jadi gendutan dia nya." Celetuk Dimas membuat Renata bad mood karena disebut gendut.
"Bisa diam gak? Mami gak nanya kamu ya!"
"Apa iya Rere gendut ya Mi?" tanya Renata.
"Enggak sayang, hanya sedikit berisi itu saja. Kamu makan dengan baik ya?"
"Iya Mi, padahal Rere sempet gak nafsuu makan beberapa hari ini."
"Kamu sakit?"
"Nggak kok Mi, Rere baik-baik aja." Jawab Renata, tiba-tiba saja ponsel Dimas berbunyi. Dia melipir keluar rumah saat menerima telpon itu, membuat Mami Erika terheran.
"Mi, kenapa?"
"Itu Dimas kenapa harus jawab telepon di luar ya? Mami curiga."
"Curiga kenapa Mi?" Tanya Renata santai, sambil mencomot keripik dari wadah.
"Udah biasa ya Dimas gitu? Kamu gak curiga kalau Dimas ada main di luar sana?"
"Rere percaya sama Dimas, kalau pun misal memang dia gitu, lambat laun semua nya juga pasti akan terbongkar jika sudah waktunya, Mi." Jawab Renata. Namun Mami Erika menangkap ada raut wajah sendu saat Renata mengatakan itu.
"Kamu menyembunyikan sesuatu dari Mami, nak?" Renata hanya menggeleng lalu tersenyum.
"Oke, baik Mami ngerti kalo kamu masih belum mau cerita. Tapi kalo misalnya kamu udah gak kuat, kita bicarakan semua nya secara baik-baik ya Sayang."
"Tentu saja Mi." Jawab Renata, dia bersandar manja di bahu mami mertuanya. Sedangkan Erika mengusap lembut kepala menantu nya, membuat Renata merasa nyaman. Hormon kehamilan membuat nya menjadi lebih manja.
Erika juga sadar, seperti nya menantu kesayangan nya ini punya masalah yang cukup berat, dia juga sadar perubahan sikap dari perempuan yang kini bersandar manja di pundak nya.
"Kamu sudah menstruasi bulan ini, Nak?"
__ADS_1
"Kenapa memang nya Mi?" Balik tanya Renata.
"Apa kamu sedang mengandung? Mami tahu kamu sedang ada masalah, tapi jangan memendam nya sendiri, kasian dia kalau iya kamu sedang hamil."
Perasaan seorang ibu sangat kuat dan tepat, dia bisa tahu padahal Renata tak mengatakan apapun, hanya saja memang Renata terlihat sedikit murung, juga tatapan nya yang sering kali berubah sendu.
"Renata mohon sama Mami, jangan kasih tahu Dimas."
"Kenapa Sayang, dia berhak tau!"
"Nggak Mi, Renata mohon sama Mami." Ucap Renata memohon pada mertuanya agar jangan memberi tahukan kabar kehamilan nya pada Dimas sebelum perselingkuhan nya terkuak, dan siapa wanita yang menjadi selingkuhan nya.
"Renata.."
"Iya, Mami benar. Renata punya masalah, tapi Rere punya cara sendiri buat menyelesaikan nya. Jadi Mami gak usah khawatir, cukup jaga rahasia ini saja. Jangan sampai Dimas tahu dulu, sebelum semua nya selesai."
Mami Erika terdiam, dia masih belum tahu benar apa permasalahan antara pasangan suami istri itu, tapi untuk saat ini dia akan menuruti perkataan menantu nya.
"Mami percaya kamu pasti takkan berbuat macam-macam, Sayang."
"Terimakasih Mi, Rere sayang Mami." Renata memeluk Mami Erika dengan erat.
"Mami juga sayang kamu, Nak."
Sore harinya, Mami Erika pamit pulang. Dia mengatakan nasihat, wanita paruh baya itu pun pergi dengan mobil nya.
Renata memasak sambel kentang yang di minta suaminya, dia membuat nya super pedas, sedangkan untuknya dia sudah membuat yang tak pedas, karena khawatir akan bayi nya. Pastilah kalian tahu tujuan nya untuk apa kan?
"Lain kali jangan terlalu pedas ya, Sayang."
"Iya Yang, maaf ya. Aku kira cabe keriting nya gak pedes." Ucap Renata dengan sedikit penyesalan, namun dalam hati dia tertawa. Lihat saja, besok pria itu takkan bisa menemui selingkuhan nya.
"Gapapa sayang." Jawab Dimas, lalu melanjutkan sesi makan nya. Meski keringat sudah membanjiri kening nya karena rasa pedas, namun itu tak menghentikan nafssu makan nya.
Setelah selesai makan malam, seperti biasa keduanya larut dalam kegiatan masing-masing. Dimas menonton televisi dan Renata sedang mencuci piring kotor, juga membersihkan meja.
Ponsel Dimas berdering, Dimas nampak menjauh dari ruangan televisi dan dengan sigap Renata mengikuti kemana pria itu pergi secara diam-diam untuk menguping pembicaraan. Sudah pasti dia di telpon oleh kekasih gelapnya, makanya dia menjauh.
'Hallo Sayang, kenapa nelpon?' Tanya Dimas begitu panggilan itu dia angkat.
"...."
'Iya, besok aku kesana kok. Aku udah buat alesan biar bisa pergi, kamu sabar dulu ya.'
"...."
'Aku juga kangen Sayang, gak sabar pengen goyang kamu. Tapi ya kita harus berhati-hati sekarang, biar Renata gak curiga.' Ucap Dimas, terdengar sangat menjijikan di telinga Renata.
__ADS_1
"...."
'Oke, yaudah aku matiin dulu ya Sayang. Janga lupa kirim pap sexy. Babay, love you, muach.' Panggilan pun selesai, Dimas segera masuk. Begitupun Renata yang buru-buru menjauh dari tempat dia menguping tadi agar tak ketahuan, dia berpura-pura kembali mencuci piring.
"Siapa yang nelpon Mas?" Tanya Renata basa-basi.
"Temen kantor, Yang. Mas tidur duluan ya? Kalo udah selesai langsung ke kamar aja."
"Iya, duluan aja." Jawab Renata. Tanpa setahu Dimas, perempuan itu mengepalkan tangan nya, hasraat nya untuk mengerjai Dimas semakin menggebu-gebu.
'Akan aku buat si junior itu loyo pas ketemu lubang yang salah itu, Mas. Lihat saja nanti, kamu pikir aku bodoh?'
Pagi harinya, suasana di kamar itu sudah di warnai dengan suara kentut yang keras mengawali kalau rencana yang Renata buat berhasil.
Pria itu meringis, lalu bangkit dari kasur dan pergi ke kamar mandi dengan memegangi perut nya.
"Mencret ya kan? Rasain, setelah ini kamu akan lemas dan takkan pergi kemana-mana." Gumam Renata, sebelum kembali menetralkan ekspresi nya menjadi khawatir.
"Mas, kamu gapapa?"
"Mules yang, perut aku sakit." Teriak nya dari dalam kamar mandi. Renata tertawa tanpa suara.
"Yaudah, aku buatin teh jahe ya biar enakan."
"Iya Sayang." Jawab Dimas, Renata pun pergi ke dapur lalu membuat teh jahe.
Saat mengantar teh itu ke kamar, dia mendengar suara ponsel berdering. Namun karena fokus dengan kegiatan nya di kamar mandi, seperti nya Dimas tak mendengar kalau ponsel nya berbunyi.
Renata mematikan telepon itu dan memilih mengetikan pesan di aplikasi hijau.
Nomor dengan nama Suryo itu kemarin malam mengirim foto-foto selfie dengan gaya menantang juga menonjolkan bukitan besar miliknya, namun sayang wajah nya terpotong, foto itu hanya menampakan dari leher hingga ke bawah.
Tring..
'Yang, jadi kesini gak? Aku udah kangen, gak tahan nih.' isi pesan bernada godaan itu masuk, membuat Renata merasa terbakar. Dia dengan nekat membalas pesan itu dengan kata-kata yang pasti membuat siapa saja jijik.
"Pacarmu lagi berak di kamar mandi, dia mencret-mencret sampe cepirit di celana!" Balas Renata, dia segera menghapus pesan itu agar Dimas tak curiga dan kembali menyimpan ponsel itu di tempatnya.
.....
🌷🌷🌷🌷
isshs Dimas, rasain tuh karma😑
....
haii, jangan lupa mampir ke karya temen author juga yaww🥰
__ADS_1
Complicated Mission karya AdindaRa🥰