
Hari ini adalah hari yang paling di tunggu oleh Dimas dan Elina, hari dimana akhirnya keduanya memutuskan untuk mengikat janji suci.
Pria itu berdiri gagah dengan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih di dalam nya, mengenakan kopiah hitam. Dia nampak duduk berhadapan dengan penghulu dan beberapa saksi, karena ayah Elina sudah meninggal dan dia tak punya saudara di kota ini sama sekali.
Karena ternyata ayah Elina adalah putra tunggal di keluarga nya, dia pun tinggal sendirian di kota ini sebelum akhirnya bertemu dengan ibu Elina dan menikahi nya. Jadi Dimas dan Elina memutuskan untuk memakai wali hakim saja.
Dimas mendadak gugup saat melihat penghulu yang terlihat sangat serius saat menatap nya, ini adalah kali ketiga beliau mengajarkan pria bernama Dimas Fahrian.
"Yakin dengan pilihan mu kali ini, anak muda?" Tanya nya dengan sorot mata yang entah apa artinya.
"Insyaallah yakin pak penghulu, ini pernikahan terakhir saya." Jawab Dimas penuh keyakinan, di mata nya terlihat keseriusan, tanpa keraguan sedikit pun.
"Baiklah, agar tidak terlalu mencuri waktu mari kita mulai acara ini dengan ucapan bissmilah bersama-sama." Semua nya serempak membaca kalimat bissmilah.
Tak lama kemudian, penghulu itu meminta pengantin wanita agar keluar. Elina keluar dengan di gandeng oleh Mami Erika dan Renata.
Wanita dengan dua anak itu datang pagi-pagi sekali tadi, untuk apa lagi kalau bukan mengantarkan gaun pengantin milik Elina. Keputusan Dimas untuk segera menikahi Elina memang sangat mendadak, awalnya dia akan menikahi Elina Minggu depan, tapi tadi malam dia berubah pikiran.
Beruntung saja gaun pesanan mami Erika sudah selesai, jadi dia tak perlu khawatir. Reza hadir, bahkan Dimas menunjuk sahabat sekaligus atasan nya itu sebagai salah satu saksi.
Mariska juga datang sebagai tamu, dia dan Erika sudah lama berteman baik, hanya saja karena kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bertemu.
Dimas hampir saja tak berkedip saat melihat Elina yang nampak begitu cantik dengan balutan gaun sederhana berwarna putih dengan mahkota kecil di atas kepala nya. Renata lah yang menyulap penampilan Elina hingga terlihat seperti ratu hari ini. Dia yang merias Elina, bahkan mami Erika dan Mariska saja di buat terkejut saat Renata mengatakan dia yang akan merias Elina.
Awalnya keduanya kurang percaya, tapi setelah melihat secara langsung kemampuan yang di miliki seorang Renata, akhirnya mereka baru percaya bahwa Renata bisa merias.
Renata menarik kursi dan membiarkan Elina duduk di samping Dimas, pria itu baru sadar tatkala penghulu berdehem membuat lamunan nya buyar, dan berhenti menatap wajah calon istrinya.
"Baiklah, sekarang kita mulai acara inti nya. Silahkan jabat tangan bapak pengganti." Ucapnya, Dimas mengangguk dan menjabat tangan seorang pria paruh baya dengan rambut yang separuhnya sudah berwarna putih. Namun tak mengurangi sedikitpun aura ketegasan di wajahnya, meski usia nya terbilang sudah tua.
Pak penghulu mulai membacakan doa-doa dan saat nya Ijab, Dimas menghela nafas lalu mengucapkan kata-kata dengan tegas dan lantang.
"Saudara Dimas Fahrian, saya nikah dan kawinkan anda pada Avelina Maheswari binti almarhum Bapak Wijaya dengan mas kawin satu set perhiasan, di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawin nya Avelina Maheswari binti almarhum bapak Wijaya dengan mas kawin satu set perhiasan di bayar tunai." Jawab Dimas.
"Bagaimana para saksi?"
SAAAHH ..
Serempak para tamu yang turut menghadiri pernikahan antara Dimas dan Elina. Banyak di antara para undangan yang tak menyangka bahwa Dimas yang tak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun kini sudah menikah dan berstatus seorang suami, membuat seisi kantor patah hati berjamaah.
Termasuk karyawan yang waktu itu jadi korban tingkat kepercayaan diri yang terlalu tinggi, dia sudah geer saat Dimas selalu membalas senyuman nya, tapi akhirnya dia harus menelan pil pahit saat sang pujaan hati ternyata saat ini sudah memiliki pendamping.
"Yaaahh, patah hati gue." Lirihnya sambil menyuapkan satu buah siomay ayam ke dalam mulutnya.
"Buset, patah hati sih patah hati, tapi cocot Lo mangap nya lebar bener, siomay masuk langsung, di bagi dua kek biar keliatan anggun." Celetuk teman nya yang duduk di sampingnya.
"Kecewa gue."
"Serah Lu dah, kata orang juga apa jangan terlalu baper deh."
"Kesel banget gue, kirain belom punya pawang, eehh taunya langsung married."
Teman nya menguluum senyum melihat sahabatnya yang biasanya energik banyak omong, kini terlihat lesu karena pujaan hatinya sudah menikahi gadis lain.
__ADS_1
Elina mencium punggung tangan pria yang kini resmi menjadi suaminya, lalu Dimas membalas dengan mengecup singkat kening istrinya dengan lembut dan dalam. Setelah nya, barulah bergantian memasang cincin kawin di jari manis masing-masing.
"Sekarang kamu milikku sepenuhnya, Elina." Gadis itu hanya menunduk menyembunyikan rona di wajahnya yang tak bisa di kendalikan lagi, dia tersenyum malu saat Dimas membisikan kata-kata yang menurutnya cukup untuk membuat wanita di landa salting berlebihan seperti dirinya.
Mereka pun kembali duduk dan menandatangani surat nikah, lalu menunjukan nya pada para tamu dengan senyum cerah yang senantiasa tersungging dari keduanya.
Pasangan baru itu pun melangkah bersamaan ke pelaminan yang semalaman suntuk Mami Erika buat, tentunya di bantu Dimas juga Elina. Karena mendadak, Mami Erika tak sempat membeli beberapa dekorasi, dia hanya memakai apa yang sudah ada di rumah. Kebetulan dia menanam banyak bunga, jadi tadi malam dia membabat nya habis dan menggunakan nya sebagai dekorasi pelaminan.
Reza dan Renata berjalan mendekat ke arah pasangan pengantin itu, lalu mengambil poto dan mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
"Elin, selamat ya untuk pernikahan kalian. Semoga langgeng sampai maut memisahkan." Ucap Renata, sambil memeluk tubuh Elina yang mulai berisi.
"Terimakasih kak Rere, setelah ini kita bisa berteman kan?"
"Tentu saja, katanya mau main ke rumah tapi aku tungguin kamu gak pernah dateng." Ucap Renata membuat Elina terkekeh.
"Maafin ya kak."
"Gapapa, nanti ajakin suami kamu main ke rumah. Baby Aisha sama Farish pasti seneng ketemu kalian berdua." Renata tersenyum manis sambil mengusap lembut wajah Elina.
"Makasih ya kak, udah ngasih solusi buat Elin."
"Sama-sama, jangan sungkan ya sama aku. Sekarang aku turun dulu, kasian yang lain pada nunggu, lagian aku laper, hehe." Ucap Renata sambil cengengesan.
"Selamat buat Lo Dim, semoga ini pernikahan terakhir Lo ya. Gue doain semoga cepet punya momongan, langgeng sampe tua."
"Haha, thanks ya banget ya Za." Jawab Dimas sambil memeluk sahabat nya ala lelaki.
"Sekali-kali ajakin bini Lo main ke rumah gue, biar Renata ada temen nya. Dia suka bosen, katanya gak asik kalo ngobrol nya cuma sama Mommy sama Papi doang."
"Bukannya ada nanny yang jagain dua bayi Lo?"
"Okey, thanks udah Dateng." Reza mengangguk lalu turun dari pelaminan, menyusul sang istri yang sedang mengantri di perasmanan untuk bisa makan bakso.
"Ngebakso aja terus, nanti kamu bulat kayak bakso." Goda Reza sambil tersenyum ceria, tapi Renata tak menanggapi bercandaan suaminya, dia hanya mendelik sebal ke arah suaminya.
Selain karena masih kesal dengan kelakuan suaminya, dia juga bertambah kesal saat pria itu menggoda nya. Baginya mungkin lucu, tapi tidak bagi Renata. Wanita mana sih yang suka di katai bulat, apalagi oleh suami sendiri? Ingat ya, wanita selalu sensitif dengan apapun yang berhubungan dengan berat badan, termasuk Renata.
"Sayang…" Renata begitu tahan harga, setelah mengambil bakso secukupnya dia melenggang pergi dari area perasmanan tanpa menghiraukan panggilan suaminya.
Renata memakan bakso dengan tenang, seolah Reza tak ada di depan nya sedang membujuk nya agar berhenti marah padanya.
"Yang, ayolah.."
"Lagi makan, jangan berisik atau aku siram pake kuah, mau?" Ancam Renata membuat Reza bungkam seketika.
'Di bujukin biar ngomong, eehh sekalinya ngomong bikin ketakutan, istri ku memang pemegang tahta tertinggi. Di panggil suami takut istri juga gapapa lah ya.' Batin Reza sambil menunduk menatap bakso di mangkoknya, lalu dia pun ikut memakan nya dengan lahap. Meskipun di perasmanan, tapi rasa bakso nya enak karena berasal dari catering dengan kualitas terbaik.
Setelah menghabiskan bakso nya, Renata bangkit dan berburu makanan lain yang tersedia, dia tergiur untuk mencoba siomay ayam, wanita mengambil cukup banyak karena dia sangat lapar saat ini.
Renata kembali duduk, namun bukan di meja yang sama, karena dia malas bertemu suaminya untuk saat ini mood nya sedang buruk jika berdekatan dengan Reza.
Wanita itu makan dengan tenang, semua orang tau bahwa wanita yang sedang duduk sendirian itu adalah istri petinggi perusahaan, CEO Argantara's group. Tempat ribuan karyawan menggantungkan hidup mereka.
"Ibu Renata kan?" Renata mendongak lalu tersenyum manis, dia mengangguk pelan mengatakan pertanyaan seorang gadis muda di depan nya.
__ADS_1
"Woaahh, saya gak nyangka bisa ketemu istri nya pak Reza Argantara disini. Bisakah saya mengambil selfie berdua bersama ibu?" Tanya nya dengan antusias. Sebenarnya Renata tak keberatan jika hanya mengambil gambar saja, lagi pula tak ada salahnya menyenangkan hati orang lain, begitulah pikirnya.
"Tentu saja, mari." Renata bangkit dari duduknya, menunda sejenak acara makan nya dan berselfie ria bersama gadis tersebut.
"Terimakasih ya Bu, saya permisi dulu. Maaf sudah mengganggu."
"Ohh tidak kok, sama-sama." Jawab Renata ramah, seperti biasa dia selalu berbaik hati kepada siapapun.
Gadis itu undur diri dan menjauh dari meja yang di duduki oleh Renata, dia kembali melanjutkan acara makan nya yang sempat tertunda karena acara selfie tadi.
Dalam sekejap mata, dia menjadi terkenal di kalangan para gadis karena sebuah buku yang dia tulis, buku itu mengisahkan perjalanan hidupnya dari awal sampai di titik ini. Awalnya Renata overthinking sendiri, apa buku nya akan laku di pasaran?
Tapi Reza selalu memberi nya dukungan dan semangat, hingga akhirnya buku itu siap di terbitkan dan siapa yang menyangka bahwa buku itu laku keras tanpa melihat siapa yang menjadi inspirasi dari penulis untuk membuat buku tesebut dan setelah tau bahwa itu buku yang di terbitkan di bawah management Argantara's grup, mereka tau bahwa penulis buku itu adalah Renata, yang tak lain adalah istri dari CEO pihak penerbit.
Buku itu langsung terkenal, bahkan langsung ludes saat dia mulai membuka pree order atau PO.
Reza memang tak mengekang sang istri agar seperti ini atau seperti itu, dia membebaskan pada sang istri untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Dan karena bosan hanya tinggal di rumah dan mengurus anak, akhirnya Renata memutuskan untuk menulis buku.
Menuang semua pengalaman hidup yang pahit dalam bentuk tulisan, dia tak menyangka bahwa buku yang dia terbitkan bisa laku sekeras itu di pasaran.
"Sayang, makan gak ngajak-ngajak."
"Tinggal ambil doang kok." Jawab Renata tanpa mengalihkan pandangan nya sama sekali.
"Udah nih, aku makan nya pengen Deket kamu." Jawab Reza sambil tersenyum.
"Duduk aja, kosong kok."
"Yang, jangan dingin gini dong yang."
"Apanya?"
"Aku kan udah minta maaf sama kamu, bahkan seminggu ini aku udah gak minta jatah malam lagi sama kamu, tega bener yang."
"Iya iya Mas, aku gak marah kok cuma kesel aja."
"Beda nya apa? Bukannya kesel itu sama aja dengan marah?" Tanya Reza.
"Iya terserah Mas aja, tau gak? Tadi ada yang ngajakin aku Poto lho."
"Iya tau, aku lihat kok tadi."
"Ohh yaudah kalo udah tau."
"Uummm, cantiknya istriku." Reza mencubit pelan kedua pipi cabi sang istri, hingga kemerahan dan membuat Renata meringis.
"Sakit mas."
"Aaahh maaf sayang, habisnya kamu gemesin sih. Eehh, disana ada makanan kesukaan kamu lho, mas ambilin ya?"
"Boleh deh, tapi jangan banyak-banyak. Aku udah makan bakso sama siomay, nanti aku bulat seperti ucapan kamu tadi." Sindir Renata membuat Reza nyengir.
"Maaf ya sayang, maksud aku gak gitu."
"Iya gapapa Mas, udah sana ambilin." Reza bangkit dari duduknya dan pergi mengantri makanan kesukaan istrinya. Apapun akan dia lakukan agar sang istri memaafkan nya. Sungguh demi apapun, berdiam-diaman dengan istrinya sungguh sangat menyiksa fisik dan batin nya.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻