
Renata tersenyum jahat saat melihat suami nya tertidur karena lemas setelah bolak balik ke kamar mandi dari tadi pagi, ponsel pria itu juga terus saja berbunyi dan hanya dari satu kontak bernama Suryo yang Renata yakini dia adalah wanita simpanan Dimas yang namanya di samarkan.
"Jangan macem-macem sama aku Mas, hari ini kalian gagal, besok juga akan gagal." Gumam Renata, dia tersenyum lagi lalu duduk di kursi meja belajar nya.
Disaat seperti ini hanya belajar lah yang mampu membuat nya tenang, gabut nya orang pinter memang beda.
Malam harinya, Dimas terbangun. Dia buru-buru mengecek ponsel nya tanpa menghiraukan keadaan nya, benar-benar the power of affair.
Renata hanya bisa memperhatikan pria itu dari meja, dia sengaja diam agar Dimas tak menyadari keberadaan nya.
Dimas memutar voice not yang berasal dari selingkuhan nya, suara nya merengek manja namun terdengar di buat-buat.
"Sudah selesai, Mas?" Tanya Renata, membuat Dimas membeku seketika. Dia menoleh ke arah Renata yang sudah tersenyum manis menampilkan deretan gigi putihnya.
Tiba-tiba saja pria itu berkeringat, padahal pendingin udara sudah di nyalakan.
"Kenapa? Kok berkeringat?" Tanya Renata lagi, membuat Dimas semakin merasa khawatir kalau perselingkuhan nya akan ketahuan.
"Gerah Yang."
"Yaudah, mandi sana." Dimas mengangguk dan langsung pergi ke kamar mandi.
'Ekspresi mu itu sangat membuat aku muak, Mas. Tak sabar ingin melihat wajah frustasi mu saat tak bisa bermain kuda-kudaan dengan selingkuhan mu itu.' Batin Renata.
Dia memilih keluar dari kamar tanpa peduli ponsel Dimas yang kembali berbunyi tanda notifikasi masuk.
Tak ada kegiatan yang menyenangkan hari ini, hanya makan malam bersama namun dengan Dimas yang tak banyak bicara, mungkin takut Renata akan menanyakan suara siapa tadi.
"Besok, aku anterin makan siang buat kamu ya, Mas?"
"B-boleh, Sayang." Jawab Dimas sedikit terbata.
"Kamu mau lauk apa buat besok makan siang?" Tanya Renata lagi.
"Terserah kamu aja, tapi jangan yang pedas-pedas ya."
"Okey siap, Mas. Ayo lanjutin makan nya, makan yang banyak." Ucap Renata, Dimas pun melanjutkan acara makan nya dengan sangat lahap. Mungkin karena tadi isi perut nya benar-benar di kuras lewat bawah, jadi dia perlu amunisi kembali untuk memulai hari esok.
Setelah menyelesaikan kegiatan masing-masing, keduanya pun tidur. Namun kali ini sedikit berbeda, dimana Renata memilih tidur sambil berbaring miring ke kanan memunggungi Dimas.
Sebenarnya pria itu ingin bertanya, namun dia terlalu takut kalau Renata malah menanyakan hal tadi, dia belum siap kalau harus ketahuan.
Pagi harinya, setelah Dimas berangkat bekerja, seorang kurir paket datang. Renata membayar paket itu karena menggunakan sistem bayar di tempat, tak lupa dia juga memberikan tips pada kurir itu sebagai tanda terimakasih.
__ADS_1
Renata masuk dan membuka paket itu, dia tersenyum smirk. Tak sabar rasanya ingin menaburkan obat itu pada makanan yang akan dia berikan pada Dimas nanti.
'Berani bermain dengan ku, maka siap dengan akibat nya, Mas. Maaf tapi aku bukan Renata yang dulu,'
Setelah selesai membuka dan membaca petunjuk penggunaan, Renata kembali beres-beres, dan memasak untuk mengantarkan nya ke kantor nanti.
Singkatnya, waktu makan siang pun tiba. Saat ini, Renata sedang berada di dalam bus yang akan membawa nya ke kantor tempat Dimas bekerja.
Dia memegang wadah makanan berwarna biru, berisi cumi krispi saum asam manis dan sayur favorit Dimas, sayur brokoli yang di campur dengan pakcoy dan tomat.
Bus itu berhenti tepat di pemberhentian bus dekat kantor, Renata melangkah riang. Sesekali dia tersenyum ramah ke arah karyawan yang lain tersenyum padanya.
"Maaf kak, saya mencari OB atas nama Dimas."
"Sebentar saya panggilkan dulu, mbak nya tunggu dulu disini." Renata mengangguk dan memilih duduk sambil mengedarkan pandangan nya.
Namun seketika matanya menyipit saat melihat orang tak asing keluar dari toilet dengan pakaian dan lipstick yang berantakan.
"Itu Sila kan? Ohh, jadi dia bekerja disini juga. Pantesan aja udah gak masuk kuliah lagi." Gumam Renata. Tapi, sedetik kemudian mata nya di buat melotot saat melihat Dimas juga keluar dari toilet yang sama dan nampak membenarkan pakaian nya.
"Ya aku mengerti, hari ini aku mendapat kejutan yang luar biasa menyakitkan." Gumam Renata, dia akhirnya tau siapa perempuan yang menjadi selingkuhan suami nya.
"Eehh, Sayang udah lama?" Sapa Dimas seperti biasanya, seolah tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Eehh bro, sorry lama."
"Gua heran sama Lo, Dim. Seneng bener ngetem di kamar mandi ujung, ngapain sih?" Tanya Arman bermaksud mengajak Dimas bercanda, namun pria itu malah terlihat seperti marah.
"Kotor kali, kesumbat. Udah ayo makan, sebentar lagi jam makan siang habis."
"Duduk yang." Dimas mempersilahkan Renata duduk di kursi kosong.
"Siapa nih?" Tanya Arman penasaran.
"Renata, saya istri nya Dimas." Jawab Renata memperkenalkan dirinya sendiri.
"Cantik bener, beruntung amat Lo punya bini secantik dia."
"Bukan cuma cantik, dia sosok istri sempurna, pinter masak, baik, perhatian, dan yang jelas pinter juga muasin suami." Celetuk Dimas, membuat Renata berpura-pura malu dan menepuk pelan lengan Dimas.
"Bahasa nya lho, gak baik pamer gitu." Rengek Renata, membuat kedua teman Dimas melongo, iri sekaligus baper.
'Sempurna katanya? Kalau aku nyaris sempurna, lalu kenapa kamu selingkuh Dimas?'
__ADS_1
Renata pun menyuapi Dimas dengan telaten, tujuan nya bukan cuma ingin terlihat mesra di depan orang lain, namun dia ingin memastikan bahwa semua obat yang dia tabur itu masuk semua ke dalam perut Dimas. Dengan begitu junior nya takkan bisa bangun nanti.
Renata pamit pulang setelah acara makan siang selesai, Dimas mengantar kepulangan sang istri sampai ke luar.
"Aku pulang dulu, Mas. Kamu semangat kerja nya."
"Iya Sayang, kamu hati-hati di jalan nya ya. Nanti sore, kalau aku telat pulang kamu tidur duluan aja ya, gak usah nungguin aku." Ucap Dimas.
"Oke, Mas."
Dimas pun mengacak rambut Renata dan mengecup singkat kening nya, lalu mereka pun berpisah. Renata berjalan pelan ke arah jalan raya, namun lagi-lagi dia tak berhati-hati hingga terpeleset dan hampir terjatuh.
Happ..
Lagi-lagi sepasang tangan kekar menyangga tubuhnya, Renata menatap wajah pria yang sudah dua kali ini menolong nya.
"Kamu lagi, gadis ceroboh."
"P-ak, eehh Mas.."
"Kamu ini ceroboh sekali, lain kali hati-hati cantik." Ucapnya.
"Iya Mas, kurang fokus."
"Habis dari mana? Kok disini." Tanya nya.
"Dari perusahaan itu, habis nganter makan siang buat suami saya."
"Suami? Kamu sudah menikah?"
"Iya sudah, Mas." Jawab Renata lagi.
"Aaahh saya terlambat ya, kalau saja kamu masih sendiri, saya pasti akan memperjuangkan kamu."
"Mas nya bisa aja, makasih udah nolongin saya lagi ya. Saya harus pulang,"
"Hati-hatilah." Renata hanya menganggukan kepala nya lalu pergi menjauh dari pria yang sudah dua kali menolong nya.
'Cantik.' batin nya sambil tersenyum manis, membuat karyawan yang tak sengaja melintas terpesona seketika. Namun saat dia menyadari kalau menjadi pusat perhatian, dia langsung mengubah ekspresi nya menjadi datar seperti biasa.
......
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1