
Reza dan Mami Erika masih menunggu, hingga pukul 11 malam, barulah Renata bisa di pindahkan ke ruang perawatan.
Reza duduk di kursi yang ada di samping brankar tempat Renata berbaring. Hati pria itu mencelos saat melihat keadaan perempuan yang dia cintai itu begitu lemah saat ini, bibir kemerahan yang biasa nya melengkung oleh senyuman itu kini pucat pasi.
"Bangun, Sayang. Jangan buat aku khawatir, Mami disini juga. Dia khawatir sama kamu." Ucap Reza, dia meletakan tangan Renata di pipi kanan nya.
Lagi, air mata Reza kembali meluncur membasahi pipinya, hingga membasahi tangan Renata yang pria itu letakan di pipi nya.
Mami Erika menatap punggung pemuda itu dengan sendu, dia terharu pada pria muda itu, selain tampan dia juga bijaksana dan berhati besar. Terbukti, dia merelakan perempuan yang dia cintai menikah dengan pria pilihan nya, namun sayang semua nya berakhir dengan tidak baik.
'Jika kamu bisa membahagiakan Renata, Mami sangat merestui kamu untuk memperjuangkan wanita mu, Reza.' Batin Mami Erika.
Air mata Reza kembali menetes, dia menangis sesenggukan sambil menciumi punggung tangan Renata. Dia tak bisa lagi berpura-pura kuat, biarkan saja Mami Erika melihat sisi lemah nya, dia tak peduli.
"Ja-ngan nangis, Eza. Ka-mu jelek kalo nangis." Sebuah suara yang membuat Reza mendongak, dia tersenyum saat melihat Renata sudah terbangun dan tengah menatap nya.
"Kamu udah bangun, Sayang? Kamu membuat aku khawatir." Reza langsung mendekap tubuh Renata, lalu menangis kembali.
"Ada yang sakit, Nak?" Tanya Mami Erika.
"Kepala Rere sakit Mi, perut Rere juga. Apa bayi Rere baik-baik aja, Mi?" Tanya Renata pelan.
Reza perlahan bangkit, dia mengusap lembut kepala Renata.
"Kalau kamu tahu, plis jangan menyalahkan diri sendiri. Kalau ingin marah, kamu boleh marahin aku ya?" Bisik Reza membuat Renata terheran.
"Memang nya aku kenapa, Za? Bayi aku baik-baik aja kan?"
"Bayi kamu gak bisa di selamatkan karena benturan yang kuat membuatnya tak bisa bertahan, Sayang." Jelas Reza, membuat Renata membeku. Dia masih mencerna ucapan Reza yang menurut nya tak masuk akal.
"Jangan bercanda Eza, gak lucu. Inii masalah anak aku lho."
"Aku gak bercanda, ini serius." Jawab Reza, Renata menatap perut nya yang kembali datar.
"Kenapa semua ini terjadi, Za? Kenapa!" Teriak Renata histeris, air mata nya meluncur membasahi wajah cantik nya. Tangisan pilu yang membuat Reza langsung mendekap Renata, sekedar memberi nya sedikit kekuatan.
"Kamu harus kuat, Sayang! Ini bukan keinginan kita,"
"Bisakah aku kuat disaat seperti ini, Za? Anak aku pergi, bahkan sebelum aku sempat melihat nya, Eza. Dunia ini terlalu kejam buat aku!" Pekik Renata.
"Sayang, aku tau ini gak mudah. Aku tahu kamu merasa sakit sekarang, tapi plis jangan seperti ini sayang, aku bener-bener gak bisa liat kamu begini."
"Apa salahku di masa lalu, Za. Hingga Tuhan menghukum aku seberat ini?"
"Enggak, Sayang. Kamu adalah bidadari di kehidupan sebelumnya," Reza melerai pelukan nya, dia mengusap air mata Renata dengan lembut lalu mengecup kening nya.
__ADS_1
"Ini semua salah aku, Za. Aku gak bisa jaga anak aku dengan baik." Lirih Renata, sambil menunduk.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Cantik. Gak ada yang mau hal buruk apapun terjadi, tapi ini sudah takdir yang di atas. Kamu harus percaya, di balik sebuah kejadian pasti ada hikmah nya."
"Boleh peluk?" Tanya Renata, membuat Reza tersenyum.
"Boleh, cantik." Reza pun kembali mendekap Renata, memeluk nya erat, membuat perempuan cantik yang baru saja tertimpa musibah ini merasa nyaman.
"Mami, keluar dulu ya."
"Jangan lama ya Mi." Peringat Reza, Mami Erika hanya mengangguk lalu keluar dari ruang perawatan menantu nya dan menutup pintu dengan perlahan.
"Kamu mau tidur lagi? Kamu harus istirahat, jangan banyak pikiran dulu ya. Ingat kondisi kamu sekarang."
"Makasih Reza.."
"Sama-sama cantik, aku minta maaf ya."
"Maaf, buat apa?" Tanya Renata.
"Aku terlambat datang, kalau saja aku datang tepat waktu, pasti semua ini gak akan terjadi."
"Katanya tadi jangan menyalahkan diri sendiri, aku maafin kamu. Lagian ini bukan kesalahan kamu, aku aja yang gak sadar kalau sedari awal aku udah di ikutin orang yang punya niat jahat." Jelas Renata.
"Biasanya kamu paling peka, tapi yasudahlah mungkin semua ini memang harus terjadi. Kamu tidur dulu ya?"
"Sifat keras kepala kamu ini gak baik untuk di lestarikan, gak ada salahnya nurut sama calsu."
"Calsu? Apaan sih?"
"Calon suami, udah tidur ya."
"Isshh ngadi-ngadi, aku istri orang lho ini." Ketus Renata.
"Iya-iya, lagian aku tau diri kok."
Kedua nya terlibat obrolan yang di selingi candaan, yang membuat Renata melupakan sejenak kesedihan nya karena baru saja kehilangan buah hati pertama nya.
Sedangkan di luar, Mami Erika sedang berusaha menelpon putra nya, bisa-bisa nya disaat istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati, suami nya entah kemana. Yang ada justru malah orang lain.
Hingga di panggilan ke delapan, baru lah Dimas mengangkat panggilan itu.
'Hallo, kenapa Mi?' tanya Dimas dengan suara ngos-ngosan.
"Dari mana aja kamu hah? Mami kira kamu mati di telan buaya!" Ketus Mami Erika.
__ADS_1
'Hisshh Mami, sama anaknya gitu amat. Kenapa sih Mi? Nelpon Dimas pagi-pagi buta.'
"Istri kamu di rumah sakit, dia jatuh dari tangga eskalator mall anggrek."
'Ap-apa Mi? Kapan?'
"Tadi siang, kesini sekarang!"
'Ta-tapi Mi, Dimas lagi sama Sila.'
"Ohh kamu lagi sama jalangg itu ya? Sekarang pilihan nya gini, kalau kamu masih anggap Mami ini ibu kamu, kamu kesini sekarang, kalau enggak yaudah! Anggap aja Mami udah gak ada, Mami juga anggap gak punya anak kayak kamu!"
Tutt..
Panggilan pun terputus, ingin sekali rasanya dia memukul wajah putranya, disaat begini masih bawa-bawa nama Sila? Wanita murahan yang sejak awal tak dia suka, pasalnya dia beberapa kali melihat perempuan itu check in di hotel bersama seorang pria.
Namun Dimas sudah di butakan hati nya, dan menganggap semua fakta-fakta itu hanya angin lalu yang tak berarti.
Sedangkan di apartemen, Dimas langsung memakai pakaian nya dengan tergesa, membuat Sila yang masih polos itu bertanya. Karena permainan mereka belum selesai, dia bahkan belum merasakan kepuasan.
"Mau kemana Yang? Kita lagi main lho." Tanya Sila, dia beranjak dan memeluk Dimas dari belakang.
"Aku gak bisa lanjut, besok aja ya? Renata butuh aku sekarang!"
"Emang nya dia kenapa, sayang?"
"Dia jatuh dari eskalator mall anggrek, Sayang. Aku pergi dulu ya, maaf gak bisa bikin kamu puas." Dimas mengecup singkat kening Sila dan berlalu pergi meninggalkan apartement itu.
Perempuan itu tersenyum sinis, dia juga segera membenahi pakaian nya dan menelpon seseorang.
'Hei, kau bisa ke apartemen ku?'
"Untuk apa? Aku tak berminat bermain three some dengan kekasih mu itu." Tanya nya dengan sedikit kekehan.
'Dia sedang pergi ke rumah sakit menjenguk istri nya, jadi kesini lah dan kita bermain.' ajak Sila membuat pria manapun tergiur.
"Oke, on the way."
Sambil menunggu, Sila membersihkan tubuhnya terlebih dulu, dia tak mau membuat nafssu pria itu hilang saat mencium keringat sisa-sisa percintaan nya dengan Dimas beberapa menit lalu.
Setelah menunggu beberapa menit, bel apartemen berbunyi. Sila memakai bathrobe dan membukakan pintu nya, dia langsung mendapat serangan dari pria yang sudah sangat bernafsuu itu.
"Kamu nakal sekali, kita ke kamar dulu." Sila menarik tangan pria itu ke kamar tamu dan mereka pun memulai sesi bercocok tanam di dalam sana.
.....
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷
issshh menjijikan banget kelakuan mu, Sil😑