
Dari jauh, Alvin datang dengan menggendong seorang bayi. Stella berlari kehalaman rumahnya.
Kaget dan terpana.
"Bayi siapa yang kau gendong Mas?" Stella tersenyum melihat cantiknya bayi yang berada dalam gendongan suaminya.
"Untukmu,"
Alvin lalu memberikan bayi itu pada Stella yang masih terpana.
"Nanti aku jelaskan didalam honey," kata Suaminya lalu mencium kening Stella.
"Oohhh lucunya. Dia sangat cantik. Dimana kedua orang tuamu?" tanya Stella tak berhenti menatap bayi itu.
"Oooooo" Bayi mungil itu membuka matanya dan bibirnya terbuka membentuk huruf o dengan sangat lucu.
"Mereka meninggalkannya di kapal. Aku membawanya pulang, dan kau akan menjadi ibunya," kata Alvin.
"Apa Mas? Aku akan menjadi ibunya? Terimakasih Mas. Aku senang sekali. Tidak sia-sia aku setiap hari merindukan mu. Kau lama sekali tidak pulang. Tapi setelah pulang, kamu memberikan kejutan yang sangat indah, aku menjadi seorang ibu," kata Stella dan segera membawa bayi itu kekamarnya. Dia menidurkannya dan mencium kening dan pipinya yang putih merona.
Alvin geleng-geleng kepala. Dia juga bahagia melihat Stella terlihat sangat bahagia dengan kehadiran bayi itu.
"Benar kata Nungky. Setelah ada anak, dia lupa jika aku sudah lama tidak pulang. Dan sekarang dia sibuk dengan anaknya," Alvin bergumam sambil tersenyum.
Alvin lalu menghampiri Stella dan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Honey, kamu jadi lupa sama aku? Katanya rindu...."
"Iya Mas....aku sangat senang. Kau membawa bayi itu, kerinduanku jadi terobati seketika," Stella berbicara tapi matanya terus terpaku pada bayi yang sedang tidur pulas diranjang.
Sepanjang malam, Stella terus tersenyum dan merawat bayinya. Alvin juga melihat bagaimana kebahagiaan yang sedang dirasakan istrinya itu.
Sementara, Nungky sedang pulang kampung karena ingin menyuburkan tubuhnya kembali setelah melahirkan.
Dia tidak mau bertemu dengan Alvin sementara waktu sampai badanya pulih dan bisa bermalam bersama dengan suaminya seperti dulu.
Dia sedang berada dalam masa nifas.
"Aku tahu, kalian pasti sedang bahagia hari ini dan beberapa Minggu kedepan. Nikmatilah, selagi bisa. Nanti suatu saat aku akan datang, dan mengatakan jika aku adalah ibunya, dan Alvin adalah ayahnya. Hingga untuk bernafas saja kau akan kesulitan, Stella,"
Pagi harinya, Stella mengundang beberapa tetangga termasuk ibu mertuanya untuk datang karena ada acara syukuran untuk anaknya.
"Apa? Stella sudah punya anak?" Ibu Mertuanya kaget sekaligus senang. Dia memang jarang menemui menantunya itu. Jadi dia juga tidak tahu jika dia hamil atau tidak.
"Iya Bu," kata Alvin lalu menutup teleponnya.
"Mas, apa tidak papa jika kita berbohong?" Stella masih ragu dengan rencana Alvin untuk membohongi ibunya dan semua orang.
"Katakan saja kau hamil dan itu anakmu. Jika kau bilang dari panti asuhan, maka mereka akan gaduh," kata Alvin.
"Baiklah Mas," ucap Stella yang memang jarang bertemu dengan para tetangganya.
__ADS_1
Dia sibuk bekerja selama suaminya belum pulang, jadi jarang berkumpul dengan para tetangga.
"Bu, silakan masuk," kata Stella saat ibu mertuanya datang.
"Kau punya anak, selamat ya, mana cucuku? Kenapa kau tidak bilang jika sedang hamil?" kata ibu mertuanya.
"Cucunya perempuan Bu. Stella tidak mau merepotkan ibu," akhirnya Stella pun terpaksa berbohong dan melakukan drama mengikuti apa kata suaminya.
"Laki dan perempuan sama saja. Jika sekarang anakmu perempuan, nanti kau hamil lagi, dan dapat anak laki," kata ibunya lalu mendekati cucunya yang akan diberi nama.
Deg.
Hamil lagi? Bagaimana bisa? gumam Stella.
Alvin memegang bahunya dan mengedipkan matanya.
Stella mengangguk dan tersenyum pada beberapa tamu yang datang.
"Siapa namanya?" tanya seorang tetangganya.
"Esther Alviana artinya tersembunyi dan bintang," kata Stella yang akan mengingatkan ya pada kehadirannya yang dirahasiakan dan juga pada kebiasaan nya menatap bintang yang indah menunggu suaminya datang.
"Dia hadir diantara bintang-bintang," bisik Stella lirih.
Alvin tersenyum. Ya, kau benar, dia lahir saat aku juga menatap bintang dengan ibunya dikapal. Nama yang pas, gumam Alvin.
__ADS_1