
Hari ini, tepat dua Minggu setelah Sila di masukan ke penjara. Selama itu juga tak pernah ada yang datang menjenguk. Namun, hari ini Sila seolah mendapatkan harapan kembali, sipir mengatakan ada yang ingin bertemu dengan nya, jelas itu membuat hati Sila bersorak kegirangan.
Dia menyangka orang yang datang menjenguk nya adalah Ken, wanita itu begitu mengharapkan laki-laki itu datang dan menebus nya, mencabut tuntutan yang di layangkan keluarga Argantara padanya.
Tak sulit bagi Ken untuk melawan pengacara keluarga itu, karena dia sendiri dari kalangan keluarga terpandang, pasti akan mudah bagi Ken untuk memenangkan persidangan. Begitulah isi otak Sila saat ini.
Namun seketika dia terbungkam saat melihat punggung tegap yang membelakangi nya, dia jelas tau itu bukan Ken.
Sila duduk dan pria itu berbalik menghadap wanita yang saat ini masih berstatus istrinya, ya untuk pertama kali nya Dimas datang menjenguk istrinya di penjara.
"Sil.."
"Huh, ku kira Ken yang datang untuk membebaskan ku, ternyata pria kere." Ejek Sila, tanpa sadar bahwa saat ini dia juga kere.
"Bahkan setelah di penjara pun keangkuhan mu tak hilang, Sil. Harusnya kau masih merasa bersyukur karena tuntutan yang di layangkan Reza masih terbilang ringan di banding dengan rasa sakit yang sudah di alami Renata."
"Ckk, lalu? Kau ingin aku bagaimana, hah?" Tanya Sila angkuh, membuat Dimas menghela nafas.
"Aku tahu, ini cukup berat apalagi aku melakukan nya disaat kau sedang mendapatkan cobaan, tapi keputusan ku sudah bulat. Aku tak bisa lagi mempertahankan rumah tangga kita, aku minta maaf. Dengan ini aku menalak mu, Sila Derkain. Mulai saat ini kau bukan lagi istriku."
Kedua mata Sila membulat, hampir keluar dari tempatnya. Dia tak menyangka Dimas akan menceraikan nya, setahu nya Dimas adalah pria yang sangat bodoh, bahkan selama dua tahun ini dia manfaatkan pun pria itu tak menyadari nya sama sekali.
"M-aksudnya apa ini, Dimas? Kau tak mungkin menceraikan aku, kau mencintai aku!" Ucap Sila.
"Dulu iya, tapi sekarang tidak. Aku hanya terlalu bodoh karena menganggap kau tulus, tapi nyatanya tidak. Seperti yang kau katakan, aku hanya alat untuk membalas dendam pribadi mu pada Renata, dan selamat kau berhasil membuat aku menyakiti nya."
"Bukan hanya berhasil menghancurkan Renata, kau juga berhasil menghancurkan aku Sil, jadi selamat. Serangan mu menghancurkan dua orang sekaligus, bahkan kau tega menghancurkan orang yang tak bersalah." Ucap Dimas membuat Sila seakan tercubit dengan perkataan suaminya. Tidak, mantan suaminya.
"Ini surat dari pengadilan, silahkan kau tanda tangani dan setelah itu kau bebas. Bebas melakukan apapun, dengan siapapun tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi."
"Dimas.." bentak Sila.
"Kenapa?"
"Aku tak ingin bercerai dengan mu, tolong lah aku tak punya siapapun lagi saat ini kecuali kau." Bujuk Sila, namun Dimas menggeleng. Keputusan nya sudah bulat untuk berpisah dengan Sila, wanita yang membuatnya melupakan segalanya. Bahkan ajaran-ajaran dari ibu dan ayahnya dia lupakan begitu saja.
"Sekali lagi maaf, keputusan aku sudah bulat. Aku udah gak bisa bertahan lagi sama kamu, kita resmi pisah." Putus Dimas dengan tegas tanpa bisa di bantah lagi.
Meski sebenarnya dia merasa tak tega saat melihat raut sendu wanita itu, namun dia sudah memutuskan untuk berpisah, hatinya terlanjur sakit dengan penghianatan dan fakta yang wanita itu katakan.
"Aku pulang dulu, selamat siang." Dimas melenggang menjauhi Sila yang masih mematung di tempatnya, air mata menetes tanpa terasa. Dia benar-benar sendirian sekarang, Ken, Dimas, Tio, semua meninggalkan nya saat dia dalam masalah.
Keesokan harinya.
Pagi ini semua keluarga Argantara pergi ke pengadilan, yaps hari ini adalah hari yang paling di tunggu oleh Reza. Persidangan yang akan menentukan hukuman apa yang pantas bagi penjahat seperti Sila.
__ADS_1
Reza pergi bersama sang istri, Mariska dan juga Argan, sedangkan Karina akan datang bersama suaminya, Nicholas.
Mereka duduk di kursi, di depan mereka ada hakim dan utusan nya, di sisi kiri ada pengacara keluarga Argantara, sedangkan di sisi kanan ada Sila yang terduduk sambil menundukkan kepala nya.
Wanita itu mengenakan seragam tahanan berwarna oranye dengan nomor 432 di punggung nya. Rambut nya di ikat ke atas, namun terlihat tak terawat.
"Tersangka kasus atas nama Sila Derkain di tuntut atas tindak kejahatan yaitu percobaan pembunuhan kepada Nona Renata Lusiana, istri dari Tuan Reza Argantara."
Bukan Renata yang duduk di sisi kiri Sila, tapi Reza selaku perwakilan dari sang istri karena Renata tetap kekeh tak mau melakukan itu, seperti yang kalian tahu bahwa Renata terlalu baik.
"Pada tanggal 13 Agustus di mall anggrek dengan menyuruh orang untuk mendorong korban dari tangga eskalator hingga membuat nya kritis selama dua hari dan mengalami keguguran."
"Ada pembelaan dari tersangka?" Tanya hakim membuat Sila angkat bicara.
"Maaf yang mulia, saya tidak pernah melakukan apa yang di tuduhkan." ucap Sila membuat Reza tersenyum smirk.
"Jelas, bukan kau yang melakukan nya tapi pria bernama Tio. Bawa dia masuk." Pinta Reza, anak buah Argan menyeret pria yang selama ini menghilang dari peradaban itu dengan kasar dan memaksa nya bersaksi.
Kedua mata Sila membeliak, dia menggeleng tak percaya saat melihat Tio ternyata masih hidup dan saat ini berdiri di depan nya, namun sebelah wajah nya rusak parah.
Dengan tangan bergetar, Tio memegang mikrofon. Mulutnya terasa berat untuk mengatakan kesaksian nya.
"Saya yang melakukan nya atas permintaan Sila, dia membayar saya sebesar 140 juta untuk melakukan kejahatan itu." Ucap Tio, suara nya gemetar. Mungkin karena trauma.
Selama ini Reza lah yang menyembunyikan Tio, dia menyayat wajah Tio bagai psikopat kejam, hanya agar laki-laki itu mau memberikan kesaksian di pengadilan, dengan begitu penjahat sebenarnya akan di hukum sesuai kejahatan nya.
"Aku punya bukti atas tindak kejahatan mu itu, Sila Derkain." Seseorang masuk ruang persidangan dengan langkah tegap nya. Setelan jas rapih, sepatu mengkilat dan aroma parfum yang membuat Sila tahu siapa pemiliknya.
Dia menoleh ke belakang, saat itu juga dia merasa dunia nya berakhir. Ken berdiri gagah dengan membawa tas kecil yang entah apa isinya.
Ken melangkah, dia memberika tas kecil dan memberikan rekaman suara saat Sila mengakui bahwa dirinya lah yang sudah menyuruh orang untuk mendorong Renata dari tangga.
Seketika itu juga wajah Sila memucat, berubah pias seperti mayat hidup. Dia tak menyangka Ken akan berada di pihak lawan, kalau begini dia yakin hukuman nya pasti akan berat.
Tak ada pembelaan lagi dari Sila, semua bukti sudah memberatkan dirinya, dengan ini dia di nyatakan bersalah dan di jatuhi hukuman 18 tahun penjara dan denda sebesar 150 juta.
Tok.. tok.. tok..
Hakim mengetuk palu, dengan ini sidang selesai dan Sila akan menjalani hukuman nya hingga 18 tahun kemudian barulah dia bisa menghirup udara bebas.
Wanita itu meronta dan berteriak memanggil Ken, namun pria itu tak mengindahkan nya dan berjalan dengan angkuh, seolah tak mengenal Sila sama sekali.
"Ken, Ken tolong aku, Ken!" Teriak nya, sebelum suara nya menghilang di balik jeruji besi.
"Tunggu Ken."
__ADS_1
"Oh ya, Reza.." Ken berbalik dan menatap Reza dengan senyum ramah nya.
"Maaf sudah membuat mu kehilangan salah satu mainan mu, tapi semua ini demi keadilan."
"Tak masalah, aku bisa mencari nya lagi. Wajah ku tampan, tak kalah darimu." Ucap Ken membuat Reza terkekeh lalu memukul pelan lengan Ken.
"Beda nya kau brengseek sedangkan aku pria baik hati dan setia. Ya sudah, terimakasih atas bantuan nya."
"Sama-sama kawan, ya sudah aku sibuk di perusahaan. Lain kali berkunjung dan bawa istrimu." Ucap Ken tanpa niat apapun.
"Ckk, takkan pernah. Bermimpi saja, kau takkan pernah bisa mendapatkan istriku, Dude!"
"Haha, baiklah. Kau sangat mencintai istri mu ya, selamat atas pernikahan mu. Waktu itu aku belum memberi hadiah padamu dan Renata, terima lah."
"Tentu aku akan menerima nya dengan senang hati, terimakasih Ken." Reza meraih paperbag dari tangan Ken.
"Sama-sama. Aku pergi dulu, Za." Reza mengangguk dan menyaksikan pria itu pergi dengan mobilnya.
Sedangkan Renata hanya melongo melihat interaksi antara suami nya dan Pria yang beberapa kali dia menolong nya di waktu yang tepat. Namun kali ini dia melihat nya begitu akrab dengan suaminya, bukankah ini sedikit aneh?
"Sayang?"
"Iya, kenapa istriku yang cantik?" Tanya Reza sambil menangkup wajah sang istri dengan gemas.
"Kamu kok kenal sama Ken?"
"Dia temanku, sekaligus rekan bisnis." Jawab Reza membuat Renata menganga.
"Kenapa memang nya?"
"Interaksi kalian berbeda, saat kita menikah dan sekarang." Jawab Renata.
"Kami memang seperti itu sayang, tapi kami berteman."
"Ohh baiklah, tapi jangan ikut-ikutan jadi buaya darat ya."
"Enggak dong, aku gak sebodohh Dimas yang rela membuang kamu demi wanita seperti Sila, aku aja jijik lihat dia." Celetuk Reza sambil bergidik, membuat Renata terkekeh.
"Kita pulang ahh, aku capek pengen manja-manjaan sama kamu. Kemarin aku udah libur nengokin baby, sekarang aku mau nengokin mereka."
"Nanti aja bahas nengokin bayi nya di rumah, ayo pulang." Ucap Argan membuat keduanya kompak terkekeh dan langsung masuk ke dalam mobil.
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
rusuh bahas nengok bayi, gak tau tempat bang Eza mah🤣