Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 118 IRS


__ADS_3

Meninggalkan sejenak pasangan yang sedang berbagi kebahagiaan, lain hal nya dengan Elin dan Dimas. 


Sudah dua Minggu, Elin tinggal di rumah Mami Erika dan selama itu pula Elin memutuskan untuk ikut bekerja di perusahaan yang sama dengan Dimas, jadi mereka bisa berangkat dan pulang bersamaan.


Hari itu, Dimas dan Elin sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Tapi, tiba-tiba saja ada sekelompok orang yang memepet motor Dimas hingga kedua nya terjatuh. Elin tertimpa motor, begitu juga dengan Dimas, tapi Dimas bisa langsung berdiri dan menolong Elin. 


Kaki gadis itu terluka cukup parah, Dimas menatap orang-orang yang sudah berdiri mengelilingi nya, pria berbadan tegap dengan otot-otot yang menonjol, juga tatto yang memenuhi tubuh mereka.


"Siapa kalian?" Tanya Dimas. 


"Siapa kami itu tak penting, kami hanya di perintahkan untuk membawa gadis ini bersama kami." Jawab nya, membuat Elin meringkuk ketakutan. Sudah di pastikan, pasti ini orang-orang dari pria yang sudah membeli nya dari ibu tirinya. 


"Hadapi aku dulu." Tantang Dimas, hingga adegan baku hantam pun terjadi, awalnya Dimas bisa menangani tiga orang, tapi karena energi nya terkuras, Dimas limbung dan saat itulah orang-orang itu memukuli Dimas hingga babak belur dan tak sadarkan diri. 


Salah satu pria itu menarik Elin untuk mengikuti nya, tentu saja Elin meronta karena tak mau ikut bersama mereka. Dia benar-benar ketakutan saat ini, dia takut akan di kembalikan pada ibu tiri nya yang jahat.


"Lepaskan aku sialan, aku tak mau ikut bersama kalian!" Teriak Elin, tapi tak ada satu pun yang peduli, mereka menyeret Elina masuk ke dalam mobil.


Sebagai usaha terakhir, Elin menendang ************ pria itu hingga membuatnya terjungkal, disaat itulah dia berlari tapi karena kaki nya yang terluka membuatnya tak bisa berlari dengan cepat dan akhirnya dia kembali tertangkap.


"Mau lari kemana kau bocah kecil, menyusahkan sekali kau!" Ucap pria sangar itu, sambil membawa Elina dalam pundak nya, memanggul nya seperti karung beras membuat Elina kembali meronta dalam gendongan pria itu.


"Aaaaa tolong aku.." pekik Elina sambil memukuli punggung pria itu, dia menangis sesenggukan saat melihat Dimas masih terkapar tak sadarkan diri di pinggir jalan raya, tak seorang pun yang menolong nya karena tempat ini sangat sepi.


"Lepaskan aku, aku mohon."


"Tidak, apa yang akan kami dapat dengan melepaskan mu? Bisa-bisa kepala kami hilang esok hari jika kau lolos." Jawab mereka, lalu mendorong tubuh Elina ke dalam mobil dan segera menutup pintu nya.


"Kak Dimas, hiks hiks hiks.." Alisa menutup wajah nya dengan kedua tangan nya, dia menangis sejadinya di mobil yang saat ini membawa nya entah kemana.


Sedangkan Dimas, dia di tolong oleh pengendara yang sedang touring, mereka membawa nya ke rumah sakit dan segera menghubungi nomor terdekat yang terakhir dia telepon, beruntung nya Dimas tidak mengunci ponsel nya, itu memudahkan orang-orang itu untuk menghubungi keluarga korban.

__ADS_1


Setelah mendapat telepon, Mami Erika langsung meluncur ke rumah sakit untuk melihat sang putra. Dia tak percaya kalau putra nya jadi korban tindak kejahatan.


Awalnya dia mengira Dimas di begal, tapi saat melihat barang-barang nya masih ada, bahkan motor nya pun masih ada di lokasi kejadian, jadi apa sebenarnya yang membuat putranya seperti ini?


"Kemana gadis kecil itu? Kenapa dia tak bersama Dimas?" Gumam Erika, dia sudah terlanjur menyayangi Elina, jadi dia mengkhawatirkan gadis itu saat ini.


"Elina, kamu baik-baik saja kan Nak?" Dia berusaha menghubungi nomor ponsel Elina, tapi nomor itu tak bisa hubungi bahkan tidak aktif. Membuat Erika sangat khawatir saat ini, di sisi lain dia sedih saat melihat putra nya, tapi di lain sisi juga dia mengkhawatirkan Elina. Gadis yang tinggal bersama nya selama dua minggu ini.


Dimas mulai sadar dari pingsan nya, dia memperhatikan tempat dia berbaring saat ini. 


"Mi.." panggil Dimas lirih saat dia melihat Mami nya.


"Iya sayang, kamu baik-baik saja kan?" Dimas menganggukan kepala nya, tapi mata nya merotasi ke belakang mami nya. Dia mencari seseorang, tapi tak menemukan nya.


"Mana Elina, Mi?" Tanya Dimas, membuat Mami Erika mengernyit.


"Dari tadi, kamu disini sendirian. Orang yang menolong kamu pun gak liat Elin di tempat kejadian." Jawab Mami Erika pelan.


"Iya, kita pasti akan menolong Elina. Tapi setelah kamu sembuh ya, sekarang kamu istirahat saja dulu." Jawab Mami Erika sambil mengusap lembut kepala sang putra.


"T-api Mi, gimana kalau mereka menyakiti Elina Mi?" 


"Kita pikirkan nanti, sekarang kamu harus sembuh dulu, baru bisa nyelamatin Elina nanti." Jawab Mami Erika, membuat Dimas terdiam. 


"Mami keluar dulu sebentar, nanti kesini lagi bawa makanan buat kamu ya."


"Iya Mi." Jawab Dimas.


Mami Erika pun pergi dari ruangan Dimas dan menutup pintu dengan perlahan. Dimas berbaring di brankar, mata nya menatap lurus ke langit-langit kamar. 


Dia mulai merasakan kenyamanan saat bersama Elina, gadis kecil yang tak sengaja dia tolong dari berandalan di jalan waktu itu. 

__ADS_1


Tadi, di perjalanan Elina tertawa riang. Bahkan untuk pertama kali nya, gadis itu memeluk pinggang nya dan menyandarkan dagu nya di pundak nya. Tapi keadaan berubah dalam sepersekian detik, saat orang-orang itu datang dan seperti nya membawa Elina nya entah kemana.


"Maafkan aku Elin, aku gagal menjaga mu." Gumam Dimas, dia menghela nafas kasar saat mengingat kebersamaan nya dengan Elina selama dua minggu ini.


Sedangkan di lain tempat, Elina terduduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki terikat. Gadis itu tak bisa berteriak karena mulut nya di sumpal.


Air mata nya terus saja menetes deras, apalagi saat mendengar derap langkah kaki yang mulai terdengar mendekat. Nafas nya terasa tercekat di tenggorokan saat melihat siapa yang berdiri angkuh di depan nya.


"Kau sangat pandai bersembunyi, gadis kecil. Laki-laki macam apa yang menyembunyikan mu, hingga membuat anak buah ku kewalahan mencari mu heh?" Bariton yang membuat nyawa Elina hampir hilang. 


Pria tua berperut buncit dengan kepala setengah pelontos itu tersenyum smirk ke arah Alisa yang sudah berderai air mata, dia ketakutan saat melihat pria itu. Dialah yang sudah membeli dirinya dari ibu tiri nya dengan harga fantastis.


Bukan untuk di jadikan sugar baby, tapi untuk di jual lagi pada laki-laki hidung belang, dengan begitu dia akan mendapatkan uang lebih banyak dari yang dia keluarkan untuk membeli nya.


Singkatnya, pria itu adalah mucikari yang menjual para gadis muda untuk di jadikan PSK. 


"Berani sekali kau mempermainkan aku, gadis kecil tak tau di untung!" Bentak nya sambil menendang meja di depan nya, membuat Elina tersentak kaget, dia sedikit merasa heran karena pria tua itu masih punya kekuatan rupanya untuk menendang meja yang lumayan besar itu.


Tapi, sedetik kemudian Elina tertawa dalam hati saat melihat pria tua itu meringis kesakitan dan berjinjit-jinjit sambil memegangi kaki nya.


"Kau menertawakan aku, gadis kecil? Sialan!" Pekiknya sambil menunjuk Elina. 


"Kau sangat merepotkan aku, tapi tak masalah karena kau sudah disini, jadi aku bisa mulai mempekerjakan mu malam ini juga, kau akan menjadi ladang uang ku mulai sekarang." Pria itu tertawa menjijikan membuat Elina merinding.


Lalu, dia pun pergi dari ruangan tempat Elina di sekap, ruangan yang gelap dan pengap, membuat Elina ketakutan. Dia berdoa dalam hati agar ada orang baik yang menolong nya, dia berharap Dimas akan datang untuk menyelamatkan nya dari pria itu. Meski dia tak bisa berharap banyak, karena pria itu tak tau keberadaan nya. 


"Kak Dimas, tolongin Elin kak. Elin kangen sama kakak," jerit Elina dalam hati, karena pria itu tak membukakan sumpalan di mulutnya. Tujuan nya hanya satu, agar Elina tak berteriak yang akan menimbulkan kebisingan di ruangan ini.


.......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


rencana mau tamatin, tapi kasian Dimas nggantung cerita nya😅


__ADS_2