Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 122 IRS


__ADS_3

Reza pulang ke rumah dengan senyuman manis yang senantiasa tersungging di bibirnya, di tangan nya dia membawa satu buket bunga mawar kesukaan istrinya. 


"Dari mana?" Tanya Mariska saat melihat sang putra masuk ke dalam mansion.


"Habis dari rumah sakit, jengukin pacar nya Dimas, Mom." 


"Dimas udah punya pacar?" Tanya Mariska penasaran.


"Udah Mom, gadis belia. Usia nya baru 18 tahun, dia korban perdagangan manusia." Jelas Reza membuat Mommy Mariska terhenyak. 


"Perdagangan manusia seperti apa?"


"Jadi, Elina itu di jual sama ibu tirinya sama mucikari, terus sama si mucikari ini di jual lagi sama pria hidung belang." 


"Ya ampun, tega banget itu ibu tirinya." Gumam Mariska.


"Makanya, Dimas minta tolong Eza buat laporan penuntutan, biar mereka bisa di hukum setimpal dengan yang sudah mereka perbuat." Jawab Dimas.


"Mommy setuju sih, kamu pakai pengacara keluarga Argantara aja."


"Pasti Mom, Reza udah kontak pengacara kita kok buat nanganin kasus ini. Pokoknya mereka harus di hukum seberat-beratnya." Ujar Reza, dia ikut gemes sendiri saat mendengar cerita Dimas waktu pertama kali dia bertemu dengan Elina. 


"Kamu benar sayang, mereka harus menerima hukuman nya."


"Iya Mom, yaudah kalo gitu Eza ke kamar dulu ya. Kangen sama istri, semalem gak bisa peluk." Cetus Reza membuat Mommy Mariska tergelak.


"Baru semalem aja, bukan setahun."


"Isshh Mommy, kita itu lagi hangat-hangatnya sebagai pasutri plus orang tua." Reza menyahut dengan senyum tipisnya.


"Iya deh iya."


"Mbak Karin kemana?"


"Tadi sih pamitnya mau pergi ke acara sama temen-temen nya." Jawab Mariska.


"Ohh yaudah, sekali-kali emang dia harus keluar rumah, biar seger gak murung terus." 


"Alah, bilang aja biar kamu gak ada yang godain." Celetuk Mariska, membuat Reza terkekeh.


"Itu juga bener sih, eehh Mom nanti aku nitip Aisha sama Farish ya?"


"Emang kalian mau kemana?" Tanya Mariska dengan satu alis yang terangkat.


"Tadinya mau buat adik buat mereka, tapi karena Rere gak punya tempat buat nampung nya." 


"Ohh iya, yaudah nanti Aisha sama Farish biar sama Mommy aja tidurnya." 


"Makasih Mom." Ucap Reza sambil mengecup singkat pipi kanan Mommy nya.


"Iya sama-sama." Mariska tersenyum melihat kelakuan sang putra, bahkan setelah status nya saat ini, tingkah nya sama sekali tak berubah. Masih manja dan kadang menyebalkan. 


Reza berjalan cepat meniti tangga menuju kamarnya, mereka sepakat untuk kembali ke kamar lama dengan menambah sedikit ruangan untuk box bayi kedua anak kembar mereka. 


Pria itu membuka pintu, dia melihat istri nya sedang menggendong Aisha, sedangkan Farish sudah terlelap di dalam box nya. 


"Sayang.." 


"Eehh, sudah pulang Mas?" Tanya Renata, lalu menyalim tangan suaminya. 


"Sudah sayang, baby Aisha udah bobo?"


"Udah, tapi neneen nya belom di lepas." Jawab Renata, memang benar karena bayi itu sudah terlelap, tapi mulutnya seakan enggan melepaskan putiing susu ibunya.


"Ini bunga untuk istri ku tercinta." 

__ADS_1


"Wahh makasih Mas, cantik banget bunga nya." Ucap Renata antusias. Dia mengambil bunga itu dengan sebelah tangan, sedangkan satu tangan lain menahan Baby Aisha. 


Renata menghirup aroma bunga itu dalam-dalam, bunga ini adalah favoritnya dari dulu hingga saat ini. 


"Kamu lebih cantik sayang, bahkan bunga nya aja sampai insecure kalo deket kamu."


"Sejak kapan kamu pandai gombal, Mas?" Tanya Renata sambil menguluum senyum nya.


"Gak tau, tapi ini bukan gombal. Ini seriusan sayangku." 


"Pasti gara-gara keseringan sama Dimas ini, jadinya suamiku kang gombal. Ya kan?" Goda Renata.


"Bisa jadi sih, yang." Reza tergelak kencang, membuat Renata refleks menepuk lengan suaminya. 


"Upss, maaf sayang." Renata berdiri dan menurunkan baby Aisha dari pangkuan nya. Gadis kecil itu tertidur dengan lelap, sangat cantik dan menggemaskan. 


"Jadi, gimana kelanjutan kasus yang kamu bilang kemarin, Mas?" 


"Aku baru ngajuin nya tadi pagi, sayang. Jadi kemungkinan akan di acc nya besok, atau enggak lusa paling lama." Jawab Reza sambil membuka kemeja nya. 


"Terus orang nya gimana?"


"Mereka aman sama anak buah papi, sayang. Gak bakalan bisa kabur, di jaga ketat soalnya." 


"Baguslah, miris ya orang-orang zaman sekarang Mas. Demi uang bisa mengorbankan apa saja, termasuk anak sendiri." Lirih Renata, Reza mengangguk membenarkan ucapan istrinya. Dia sendiri merasa kesal dan geram, kok ada wanita sekejam itu? 


Meskipun bukan anak kandung, tapi setidaknya dia masih punya hati nurani. Tapi lagi-lagi, seperti nya hati nurani wanita itu sudah mati rasa. Dia menguatkan diri demi uang. 


"Itulah sayang, demi mengejar gaya hidup yang gak ada habisnya. Kamu tau gak, uang hasil menjual Elina pada mucikari itu di pakai apa? Belanja, beli mobil, beli rumah, pokoknya wanita itu berfoya-foya dengan yang haram itu."  


Renata menggelengkan kepala nya, sungguh dia tak mengerti dengan jalan pikiran wanita yang berstatus ibu tiri gadis bernama Elina itu. 


"Untung aja Elin keburu di selamatkan, kalau enggak dia udah jadi mainan Kenzo." 


"Hah? Kenzo siapa?" Tanya Renata. 


"Kak Ken ya?" 


"Kenzo, gak usah pakai kakak." Tegas Reza pada istrinya. 


"Iya iya, terus dia juga ikut di laporkan? Soalnya dia juga kan terlibat, mas." 


"Gak semudah itu untuk bisa melaporkan dia, sayang. Dia berkuasa, polisi saja takut padanya, pasti mereka takkan berani menangkap pria itu." Jawab Reza.


"Lalu, apa dia bebas begitu saja?"


"Biarkan saja, toh tak merugikan. Elina belum di sentuh pria itu karena kami datang tepat waktu, tapi uang pria itu terlanjur masuk ke rekening Baron." Jelas Reza lagi, Renata hanya manggut-manggut mengerti. 


"Yaudahlah kalo gitu. Sekarang Elina masih di rumah sakit?"


"Iya sayang, luka di kaki nya infeksi sampai ada hewan nya gitu. Jadi harus di operasi, untuk beberapa hari ini dia akan di rawat di rumah sakit."


"Aku mau nengokin dia besok, boleh Mas?" Tanya Renata, dia penasaran dengan sosok Elina. 


"Boleh sayang, tapi jangan bawa anak-anak ya."


"Siap Mas, aku pergi sama mbak Karin aja kalo gitu." 


"Iya, mas mau mandi dulu." 


"Sebentar, aku siapin dulu airnya ya." Renata buru-buru masuk ke kamar mandi,  menyiapkan air hangat untuk sang suami.


"Sudah Mas." 


"Terimakasih sayang, kalau gak repot tolong siapin pakaian Mas ya?"

__ADS_1


"Siap suamiku." Jawab Renata, membuat Reza gemas dan mengacak rambut istrinya. 


"Isshh Mas mah gitu, suka banget ngacak-ngacak rambut aku." Kesal Renata lengkap dengan bibir yang mengerucut lucu. 


Cup..


Reza mengecup singkat bibir sang istri sebelum masuk ke kamar mandi, membuat bibir itu melengkung ke samping membentuk sebuah senyuman yang manis. 


Wanita itu masuk ke ruang ganti dan memilihkan pakaian untuk suaminya, setelah menemukan yang cocok dia membawanya ke luar, meletakan nya di atas ranjang agar lebih mudah, pikir Renata. 


Oke, beralih lagi ke pasangan calon bucin di masa depan. 


Dimas dan Elina sedang makan bersama, gadis itu belum bisa pulang sebelum jahitan di kakinya mengering. Ngeri juga, infeksi bahkan sampai ada hewan nya, pasti karena luka itu tak mendapatkan penanganan yang tepat, hingga membuatnya infeksi, tak terbayang rasa sakitnya.


Tapi, untunglah Dimas datang dan menyelamatkan Elina, luka itu juga kini sudah di tutup dan di pastikan bersih 100 persen.


"Kak, kalau misalnya Mami gak setuju, gimana?"


"Gak setuju apanya?" Tanya Dimas di sela makan nya.


"Ya tentang hubungan kita."


"Gak usah mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi, sayang. Kamu tau sendiri mami itu gimana, lagi pula sejauh ini aku melihat Mami menyukai mu." Jawab Dimas. 


Sejauh ini, hanya satu wanita yang begitu tak di sukai oleh Mami nya, yaitu Sila. Dan Dimas tak bisa mengalahkan kenapa mami nya tak menyukai nya, apalagi setelah tau alasan nya.


"Tetap aja kak, Elin ngerasa ragu."


"Ragu kenapa? Kamu ragu sama kakak, begitu?" Elin menggeleng, bukan pria itu yang dia ragukan.


"Lalu?"


Elina tak menjawab, dia malah menundukan kepala nya, menatap mangkok berisi bakso bening yang di belikan Dimas beberapa menit yang lalu. 


"Sayang, kamu gak usah ragu ya. Yakin aja sama kakak, masalah Mami biar kakak yang bicara, ya?" Dimas menangkup wajah Elina, membuat wajah gadis itu mendongak dan menatap nya. 


Perlahan dia mengangguk, membuat senyuman Dimas terbit.


"Gadis pintar, nurut sama calon suami ya?" 


Blush..


Wajah Elina memerah mendengar perkataan pria di depan nya, apa katanya tadi? Calon suami? Huaaa, itu membuat nya salah tingkah, dada nya berdebar-debar dan jantung nya berdetak lebih cepat, seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. 


"Lanjutin makan nya ya? Kamu harus banyak makan biar cepet sembuh, Mami besok kesini jengukin kamu." 


"I-iya kak." Jawab Elina terbata, keduanya pun melanjutkan makan mereka hingga bakso di mangkok mereka habis tak bersisa.


"Kenyang?"


"Iya kak, perut Elin gembung gini saking kenyang nya." Ucap Elina sambil terkekeh.


"Baguslah, selama kamu sama kakak. Kakak gak bakalan biarin kamu kekurangan makanan, kakak suka liat pipi kamu yang berisi ini." Dimas mencubit pelan pipi cabi Elina. 


Keadaan Elina sangat berbeda sebelum dan sesudah dia tinggal bersama Dimas. Dulu, Elina memiliki tubuh yang kecil kurus tak terawat, dengan pipi tirus. Tapi sekarang tubuhnya mulai berisi. 


"Sakit kak.." Ringis Elina sambil mengusap-usap pipi nya.


"Ututuu maafin sayang nya aku, habisnya kamu gemesin banget." Dimas mengusap lembut pipi Elina, dia tak tahan dan ya akhirnya bibir nya di mendarat di pipi kanan gadis itu. 


"Isshh kakak, nyosor mulu."


"Cuman kecupan singkat sayang, kakak juga gak berani lakuin apa-apa sama kamu. Anggap aja kakak tabung buat malam pertama kita nanti." Jawab Dimas sambil menarik turunkan alisnya. 


"Issshh kakak mesuum!" Elina menepuk lengan Dimas, bukan nya meringis kesakitan, pria itu malah tergelak mendengar suara kesal Elina yang malah terdengar seperti rengekan manja di telinga nya.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2