
Dimas ada perubahan, Nak?" Tanya Mami Erika saat Dimas pergi keluar entah untuk melakukan apa.
"Ada Mi, banyak malah."
"Benarkah? Wahh kalau begitu baguslah, nampaknya dia mulai bisa menerima pernikahan ini." Ucap Mami Erika merasa lega, awalnya dia merasa bersalah karena memaksa sang putra menikah.
Tanpa persetujuan Renata, mereka resmi menjadi suami istri yang sah, dia takut Dimas akan melakukan hal-hal di luar akal, namun sejauh ini dia hanya melihat perubahan fositif pada diri pria berstatus putra nya itu.
"Apa Dimas memperlakukan kamu dengan baik, Nak?" Renata mengangguk lalu tersenyum manis, memang benar Dimas memperlakukan nya sangat manis setelah menikah.
"Tentu saja Mi,"
"Syukurlah kalau begitu, Mami harap hubungan kalian akan seterusnya baik-baik saja seperti saat ini."
"Aamiin ya Mi, setiap wanita pasti menginginkan hal seperti ini terus terjadi. Pernikahan tanpa ada bumbu-bumbu pertengkaran karena ada pihak ketiga." Jawab Renata, entah kenapa dia bicara seperti itu.
"Maksud kamu, apa sayang?"
"Eehh enggak kok Mi."
"Ingat, kalau ada masalah bilang sama Mami. Biar Mami bisa kasih solusi buat kalian ya, Mami sadar kalian masih terlalu muda, tapi keadaan akan mendewasakan kalian." Jelas Mami Renata, dia mengusap lembut penuh kasih sayang kepala sang menantu.
"Iya Mi."
Meninggalkan sejenak kedua wanita beda generasi yang saling menyayangi itu, di luar rumah milik Mami Erika sedang terjadi sebuah perdebatan.
"Pergi dari sini, nanti Mami aku liat!" Tegas Dimas, namun perempuan itu seolah tuli dan tak mendengar perkataan Dimas, dia tetap menggelayut mesra di lengan nya.
"Ayo kita bicara, Sayang." Manja nya, sedikit membuat Dimas luluh.
"Apa sih yang kamu harepin dari aku, Sil? Sekarang aku cuma OB."
"Jawaban nya kamu Sayang, aku mau kamu. Hubungan kita belum selesai, kamu mutusin aku sepihak tanpa mendengar pendapat aku." Jawab Sila.
Ya, perempuan tak tahu malu itu nekat datang ke rumah Mami Erika untuk menemui Dimas, di kamar tadi dia menelpon nomor Dimas dan karena bosan, akhirnya Dimas mengangkat nya dan disinilah mereka saat ini.
"Apa lagi yang mau aku pertahanin hah? Kamu aja berikan tubuh kamu sama laki-laki lain."
"Maafin aku sayang, saat itu aku khilaf. Aku menyesal, Sayang." Jawab Sila sambil menunduk, agar membuat Dimas percaya kalau dia menyesal.
__ADS_1
"Percuma aja nyesel sekarang, hubungan kita sudah hancur, Sil."
"Ayo kita menata nya ulang, Dim." Bujuk Sila.
"Aku punya istri sekarang."
"Lalu kenapa? Aku bisa jadi simpanan mu, kekasih gelap, aku tak masalah selama itu bersama mu, Sayang." Dimas mulai tergiur, namun ingatan tentang Renata dan penghianatan yang di lakukan Sila membuat nya sadar.
"Pergilah, Sil. Aku takut tak bisa mengendalikan hatiku!"
"Aku takkan pergi sebelum kamu setuju menjalin kembali hubungan dengan ku. Atau perlukah aku masuk dan mengatakan niat ku pada Mami Erika dan Renata?"
"Tidak, Jangan gila Sila!" Bentak Dimas, namun tak membuat perempuan itu takut.
"Tenang sayang, aku akan pergi jika kamu setuju untuk menjadikan aku selingkuhan mu."
"Jawabanku masih sama, tidak." Jawab Dimas.
"Baiklah, berarti kau ingin aku masuk ke dalam dan mengatakan niat ku datang kesini pada ibu dan istri mu itu, Dimas?"
"Sila, ku mohon hentikan. Aku sudah menikah dan hubungan kita sudah berakhir, jadi jangan ganggu aku lagi. Biarkan aku bahagia dengan keputusan ku!"
"Jangan munafik Dimas! Aku tahu kau masih mencintaiku, kan? Aku sangat tahu itu." Ucap Sila. Benar, memang benar bahwa Dimas masih mencintai Sila, namun haruskah dia menghianati istri sebaik Renata?
"Pergilah Sila, aku tak mau istriku salah paham."
"Kita belum menemukan titik terang nya, Dim." Kekeuh Sila yang tak mau pergi.
"Oke-oke, besok kita bertemu di cafe asri jam 5 sore."
"Baiklah, aku akan datang. Sekarang aku pergi dulu." Putus Sila akhirnya, sebelum dia menabrakan diri ke tubuh Dimas.
"Sila, jangan bertingkah!"
"Aku hanya memelukmu, Sayang. Aku pergi ya," Sila berjinjit lalu mengecup singkat pipi Dimas, membuat pria itu mematung, namun sedetik kemudian dia tersadar saat mendengar suara Renata kembali memanggil nya.
"Mass.."
"Iya Sayang, Mas masuk." Jawab Dimas, dia berlari masuk ke rumah.
__ADS_1
"Dari mana aja sih? Dari tadi aku panggil gak nyaut?" Tanya Renata kesal.
"Dari luar, Yang. Itu bibir nya kenapa manyun gitu sih, bikin gemes aja."
"Kesel sama Mas!" Rajuk Renata, membuat Dimas terkekeh. Dia meraih istri nya kedalam pelukannya, mendekap nya dengan erat. Hingga sedetik kemudian dia mendekatkan wajah nya, hendak mencium bibir Renata, namun…
"Mami gak lihat kok, silahkan lanjutkan." Renata mendorong dada bidang suami nya hingga membuat pria itu terjungkal. Pria itu meringis kesakitan dan mengusap bokongg nya yang baru saja mencium lantai.
"Maaf Mas aku gak sengaja, itu refleks."
"Sakit sayang!" Rengek Dimas sambil mengelus bokongg nya.
"Maaf Mas."
"Iya gapapa Yang." Jawab Dimas sambil tersenyum setelah nyeri nya sedikit berkurang.
"Lagian, kalo mau ada adegan mesra pindah ke kamar, tau disini ada jomblo!" Ketus Mami Erika sambil membawa sepiring cemilan.
"Mami ganggu aja." Jawab Dimas balik ketus, membuat Renata memilih menunduk karena malu.
"Ya mana Mami tahu kalo mau adegan nyosor, tapi Mami gak liat kok serius." Ucap Mami Erika sambil mengacungkan dua jari nya.
"Pake pura-pura polos lagi, Aaahh Mami ganggu aja."
"Ayo ke kamar aja, Yang."
"Eehh, mau ngapain ke kamar?" Tanya Renata saat tangan nya di tarik oleh Dimas.
"Lanjutin yang tadi dong, Sayang."
"Tapi aku kan lagi Dateng bulan, Mas." Jawab Renata.
"Gapapa, nyosor bibir sama itu aja." Renata mengikuti arah pandang suami nya, hingga ke dada nya. Membuat perempuan cantik itu melayangkan tatapan tajam ke arah suaminya, berbeda dengan Mami Erika yang sudah cengar cengir.
"Udah sana ikuti suami mu, biar dia gak kesel."
"E-eehh iya Mi." Jawab Renata, terpaksa dia mengikuti langkah Dimas yang membawa nya ke kamar atas.
"Semoga saja mereka akan terus akur seperti ini." Gumam Mami Erika saat melihat punggung kedua nya menghilang di balik pintu kamar.
__ADS_1
....
🌷🌷🌷🌷🌷