Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 81 IRS


__ADS_3

"Ayy.." panggil Reza, membuat perempuan itu menoleh. 


"Iya, kenapa?" Tanya Renata pelan. 


"Sudah 3 bulan, jadi apa jawaban dari pertanyaan ku masih sama?" Tanya Reza, dia menatap wajah Renata lamat-lamat. 


"Eza.."


"Rasanya tiga bulan sudah cukup untuk kamu menenangkan diri dari rasa trauma kamu, Ayy." 


"So, Will you marry me, Renata?" Tanya Reza, tiba-tiba saja dia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah dengan sebuah cincin dengan berlian di atas nya. 


Renata menengadahkan wajah nya, dia mengedip-ngedipkan mata nya, dia berusaha untuk tak menangis meski sebenarnya dia ingin. 


Renata benar-benar terharu, Reza melamar nya dengan cara yang paling mengejutkan, melamarnya di taman sambil makan bakso. 


Tapi yang lebih mengharukan, ternyata ajakan nya tak pernah main-main, dia rela menunggu lama, bahkan setelah dia berstatus janda sekali pun Reza tak keberatan sama sekali. Itu membuktikan bahwa cinta pria itu sangat tulus. 


Reza masih menatap nya dengan tatapan penuh harap, akan sangat jahat jika dia menolak lamaran pria itu kan?


Renata mengangguk lalu menggenggam tangan Reza, dia tersenyum manis. 


"Yes, i Will Reza." Jawab Renata, membuat Reza bersorak kegirangan. Membuat nya jadi pusat perhatian. 


"Aaaiissh malu, Eza."


"Biarin, aku bahagia. Penantian aku gak sia-sia akhirnya, aku mencintaimu Renata!" Teriak nya membuat wajah Renata bersemu kemerahan menahan malu. 


"Terimakasih sudah mau menerima ku, Re. Aku berjanji akan memberikan semua kebahagiaan yang ada di dunia ini untukmu, mengganti setiap air mata yang sudah kamu teteskan itu dengan kebahagiaan." Ucap Reza, dia memeluk Renata dan mengecupi kepala perempuan yang sekarang menjadi calon istri nya. 


"Aku juga berterimakasih, kamu mau menerima ku dan kekurangan ku, terimakasih sudah menunggu." 


Reza mengecup singkat pipi kanan Renata, lalu kembali memeluk nya dengan erat, menumpahkan semua kebahagiaan yang dia rasakan dengan pelukan hangat nya. 


"Semua yang ada disini aku traktir, ayo pesan apa saja!" Ucap Reza dengan lantang, membuat pengunjung itu kesenangan, mereka pun menyerbu gerobak makanan yang berjualan di taman itu. 


"Eza, kamu hambur-hamburin uang." 


"Gapapa sekali-kali, Sayang. Itung-itung syukuran lamaran aku di terima, jujur aja aku takut tadi." 


"Takut kenapa?" Tanya Renata. 


"Takut di tolak, soalnya aku modal nekat lamar kamu disini." Jawab Reza membuat Renata terkekeh. 


"Malah ketawa, ayo makan lagi." 

__ADS_1


"Enggak ahh, aku mau pulang aja. Capek, pengen tidur." Jawab Renata. 


"Yaudah, aku bayar makanan nya dulu terus kita pulang ya, Cantik." Renata mengangguk, Reza mendekati abang-abang tukang jajanan itu. Sedangkan Renata, dia terus saja menatap cincin yang tersemat manis di jari nya.


Tak sangka, status janda nya akan cepat berakhir hanya dalam waktu tiga bulan. Setelah masa Iddah, dia akan kembali membina rumah tangga. Walau rasa trauma nya masih menghantui, tapi dia yakin apalagi saat melihat ketulusan Reza. 


Meski bayang-bayang Dimas belum sepenuhnya hilang, namun dia akan mencoba untuk lebih mencintai Reza sebagai seorang suami nantinya. Walau saat ini, rasanya pada Reza belum terlalu besar, tapi tak masalah. Cinta bisa tumbuh seiring berjalan nya waktu. 


"Ayok pulang, Sayang." Renata meraih tas nya, namun keburu di rebut oleh Reza. Dia membawa nya, sedangkan tangan Renata dia juga menggenggam nya erat, menyatukan jemari nya dengan mesra. 


Reza membukakan pintu mobil, setelah memastikan wanita nya duduk dengan nyaman, dia menutup nya lalu memutari mobil nya dan ikut masuk juga. 


"Mau makan dulu, sayang?" Tawar Reza sambil melajukan mobil nya. 


"Enggak, aku masih kenyang habis makan bakso." Jawab Renata. 


"Cincin nya bagus? Di liatin terus." Renata menoleh lalu tersenyum, dan sedetik kemudian Renata mengangguk.


"Aku yang mendesain nya sendiri, dengan nama kita di dalam nya." Jelas Reza. 


"Benarkah?" Reza menatap wajah cantik kekasihnya lalu mengangguk. 


Karena penasaran, Renata membuka cincin nya. Lalu menyinari cincin itu dengan senter dari ponsel, benar sekali. Ada nama dirinya dan Reza di dalam nya. 


"Aku gak nyangka kamu bisa semanis ini." 


"A-apa orang tua mu setuju dengan hubungan ini?" 


"Tentu saja, kenapa memang nya? Kalau pun semisal mereka tak memberikan restu, biarkan aku memperjuangkan mu sekali lagi." Jawab Reza tanpa menoleh, dia fokus menatap jalanan di depan nya.


"Tapi kamu tahu sendiri status ku sekarang." 


"Sayang, kita sudah membicarakan hal ini jauh-jauh hari. Kamu sudah lihat sendiri bagaimana hangat nya orang tua ku saat menyambut mu, Sayang." Jelas Reza, dia cukup malas membahas hal ini. 


"Ingat, berfikir berlebihan adalah penyakit yang dibuat diri sendiri Cantik. Jadi, jangan terlalu banyak berfikir hal yang tak penting." Jelas Reza dengan lembut, membuat Renata sedikit lega setelah mendengar penjelasan pria itu. 


Reza memarkir mobilnya di depan pagar rumah Renata, pria itu tak mengizinkan wanita nya keluar sebelum dia membukakan pintu untuknya. 


"Silahkan tuan putri ku." Renata tertawa saat mendengar ucapan Reza. 


"Mau mampir dulu?" Tawar Renata.


"Sudah malam, kamu istirahat ya. Besok pagi aku akan menjemputmu, tidur yang nyenyak dan bermimpi indah." Reza mengusap wajah Renata dengan lembut. 


"Iya, kamu juga langsung tidur ya. Hati-hati di jalan nya," 

__ADS_1


"Siap tuan putri, masuklah." Renata mengangguk, dia menggeser pagar dan masuk ke rumah nya, tentu nya setelah dia melambaikan tangan nya ke arah Reza. 


Setelah memastikan wanita nya masuk dengan aman, Reza pun pergi dengan mobilnya. Sedangkan Renata, dia bersandar di balik pintu. Dia mengusap dada nya yang berdebar tak karuan. 


"Hatiku selalu berdebar saat berdekatan dengan Reza, apa aku punya penyakit?" gumam Renata. 


Author be like : penyakit cinta itu Re!


Setelah selesai menormalkan hatinya yang berdebar, dia berjalan ke kamar dan membersihkan diri, lalu tidur untuk bersiap menjalani harinya esok hari.


Pagi harinya, Renata sudah berkutat dengan masakan nya. Dia memasak sarapan, juga untuk bekal Reza ke kantor. 


Hari ini dia memasak ayam sambel kemangi, karena kemarin Reza meminta di masakan makanan pedas. 


Tepat pukul 7 lebih, pria itu datang menjemputnya. 


"Sudah siap?" Renata mengangguk. 


"Ini bekal buat kamu, aku pake sepatu dulu." Reza memilih duduk sambil menunggu wanita nya memakai sepatu. 


"Sayang, sepatu kamu udah buluk. Nanti kita beli ya?" 


"Gak usah, ini masih bisa di pake kok." Jawab Renata. 


"Mana bisa gitu sih, Yang." 


"Punya uang di tabung aja buat masa depan, jangan di hambur-hamburin buat hal yang gak penting." Nasihat Renata. 


"Ciee, jadi udah mikirin masa depan nih?" Goda Reza membuat wajah Renata memerah. 


"Ya harus dong." 


"Yaudah iya, ayo berangkat kerja. Keburu telat nih." Seperti biasa Reza merebut tas Renata dan membawa nya. 


"Aku bisa bawa sendiri tas nya, Za." 


"Gak usah, aku punya dua tangan. Yang satu buat bawain tas kamu, yang satunya lagi buat megang tangan kamu." Jawab Reza. 


Kedua nya pun berangkat ke tempat pekerjaan, Renata di antar ke cafe, setelah mengantarkan kekasihnya, Reza pergi ke kantor dan tenggelam kembali dalam pekerjaan yang pasti membuat kepala nya pusing. 


"Semangat Reza, buat halalin ayang." Ucap Reza menyemangati dirinya sendiri, dia semakin semangat, apalagi setelah mendengar ucapan orang tua nya di meja makan tadi pagi. Itu memotivasi nya untuk lebih giat bekerja. 


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


definisi calon suami impian tiap wanita ini mah🤭


__ADS_2