
Dimas melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, kebetulan di sebuah toko dia melihat selebaran yang berisikan info lowongan kerja. Dimas menghentikan sejenak laju kendaraan nya, lalu memungut kertas itu.
"Aaah kantor nya cukup dekat, tapi aku hanya lulusan SMA, apa bisa melamar kesini ya? Tapi paling untung jadi OB sih kalo di terima pun." Gumam Dimas, namun dia tetap melipat kertas itu dan memasukan nya ke dalam saku jaket nya.
Dimas kembali melajukan kendaraan nya, dan hanya butuh beberapa menit saja untuk dia sampai di butik milik Mami nya.
"Selamat siang Kak, apa Mami nya ada?"
"Ehh Dimas, ada di ruangan nya, silahkan masuk." Seorang karyawan yang sudah terlihat tua menyambut nya dengan ramah.
Dimas masuk ke dalam, baru saja dia akan memutar handel pintu, dia sudah mendengar bunyi benda-benda berjatuhan di iringi dengan teriakan frustasi.
"Aaarrgghhh, kenapa bisa seanjlok ini? Sial." Pekik Mami Erika.
Usaha butik nya sedang mengalami penurunan konsumen karena banyaknya persaingan, namun Erika tak pernah menyangka bahwa persentase penjualan nya akan turun sebanyak ini.
Dimas mendengar di balik pintu, dia merasa sedih disaat begini usaha Mami nya malah mengalami masalah. Namun Dimas akan berpura-pura tak tau apapun, dia akan berusaha setegar mungkin menjalani takdir yang sudah Tuhan tentukan untuk nya dan untuk keluarga nya.
"Siang Mami ku yang cantik.." sapa Dimas dengan senyum manis nya, membuat Erika yang sedang menunduk dengan kedua tangan yang menutupi wajah nya itu langsung mendongak menatap sang putra.
Biasanya, jika Dimas datang ke tempat ini pasti dia akan meminta sejumlah uang, dengan berbagai alasan agar di berikan, namun di kondisi bisnis nya yang saat ini mengalami penurunan, Erika jelas tak bisa memberikan uang pada putranya.
"Siang, kenapa kesini? Mau minta uang ya?"
"Isshh enggak kok Mi, Dimas cuma mau bilang sama Mami, mulai besok Dimas udah gak masuk kampus lagi." Ucap Dimas membuat Mami Erika melotot, apa Dimas mendengar teriakan nya barusan? Begitu pikir Erika.
"Kenapa? Walaupun usaha Mami lagi gak baik, tapi Mami masih mampu biayain kuliah kamu, Dimas."
"Dimas udah jadi suami sekarang, Mi. Dimas harus kerja buat nafkahin Istri Dimas di rumah, nafkah lahir sama batin nya." Jelas Dimas cukup panjang.
"Jadi?"
"Renata yang bakal lanjutin kuliah, Dimas yang kerja buat biaya nya Mi, itu sebuah bentuk tanggung jawab suami buat istrinya kan?" Mami Erika tersenyum lalu menganggukan kepala nya mengiyakan pertanyaan Dimas.
"Baguslah kalau kamu sudah mengerti apa artinya tanggung jawab, Dimas. Kerja yang bener, jangan bikin Rere ngerasa kamu terpaksa lakuin ini."
"Iya Mi, Dimas ngerti kok."
"Kamu mau kerja apa dengan berbekal ijazah SMA?" Tanya Erika pelan, dia takut putra nya tak bisa bekerja berat, dari kecil Dimas adalah anak yang di manja.
__ADS_1
"Apa aja yang penting halal, Mi." Jawab Dimas membuat Erika tersenyum kecil, suatu perubahan yang baik. Renata memang membawa pengaruh yang sangat baik bagi putra nya.
"Mami akan selalu mendukung keputusan kamu selama itu baik, Nak."
"Makasih Mi, hari Minggu besok Dimas mau bawa Rere main ke rumah, sekalian bawa baju ganti." Ucap Dimas.
"Iya, Mami tunggu."
"Yaudah, Dimas mau pamit dulu. Kali aja di jalan ketemu lowongan kerja."
"Hati-hati ya Nak, Mami selalu mendoakan kamu Nak."
"Iya Mami, assalamualaikum."
"Waallaikumsalam, Nak." Dimas menutup pintu dengan pelan. Erika kembali tersenyum saat mengingat kata-kata Dimas tadi, terdengar begitu tegas dan bijaksana.
'Mas, anak kita sudah dewasa sekarang. Dia sudah mengerti apa artinya tanggung jawab, semoga dia bisa seperti mu.' Batin Erika, tiba setetes butiran bening jatuh dari mata nya, dia begitu merindukan sosok suami nya. Namun hanya doa yang bisa dia panjatkan agar almarhum suaminya tenang di alam sana.
Dimas berniat akan mengunjungi kantor yang menyebar informasi lowongan kerja itu hari ini juga, mumpung masih siang pikirnya, namun dengan pakaian seadanya. Males rasanya jika harus pulang dulu ke rumah, lalu balik lagi ke tempat ini, jaraknya cukup jauh.
Dimas celingukan di depan kantor besar dengan gedung tinggi menjulang, membuat kepala Dimas menengadah jika ingin melihat ujung dari bangunan di depan nya ini.
"Permisi pak, ada perlu apa ya?" Tanya seorang satpam.
"Ohh ada Pak, silahkan masuk. Kebetulan masih tahap interview."
"Tapi saya gak bawa surat lamaran." Ucap Dimas lagi.
"Gak apa-apa lagian ini lowongan buat nyari OB jadi gak perlu pake surat lamaran." Celetuk bapak-bapak itu, membuat Dimas menghela nafas lega. Dia memutuskan masuk dan duduk di kursi tunggu.
"Silahkan masuk Kak." Seorang perempuan cantik dengan pakaian rapih mempersilahkan Dimas masuk ke suatu ruangan.
Dimas menurut, dia masuk dan duduk berhadapan dengan seorang pria yang kelihatan nya tidak asing. Dimas merasa pernah melihat nya, namun entah dimana dia lupa.
"Nama lengkap dan pendidikan terakhir?"
"Dimas Fahrian, SMA pak." Jawab Dimas cepat.
Pria itu mendongak, terlihat senyum kecil di ujung bibirnya saat melihat wajah Dimas.
__ADS_1
"Hanya ada lowongan sebagai OB jika hanya itu, kau mau menerima nya? Gaji nya tiga juta satu bulan."
"Saya mau Pak." Jawab Dimas cepat.
"Besok kamu mulai bekerja, ada sekretaris saya yang akan membantu mu besok."
"Baik pak, terimakasih." Dimas pun pergi dari hadapan pria itu dengan membawa senyuman manis yang tersungging di bibirnya, setidaknya dia punya pekerjaan sekarang, meski hanya tukang bersih-bersih tapi gaji nya lumayan besar.
Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana bahan nya, lalu menghubungi nomor seseorang.
"Hai Babe, kau dimana?" Tanya nya.
'Di apartement, aku baru saja pulang kuliah. Kau akan kesini?' Tanya nya balik dengan suara lembut mendayu-dayu, membuat batang di balik celana pria itu mengeras seketika.
"Nanti sore aku pulang, jadi jangan menggodaku di siang hari terik begini, kau tau milikku terlalu sensitif dengan suara mu, Babe!"
'Aahh Iya, pulanglah aku akan menunggu. Bawakan aku steak Wagyu A5, Bby.' Pinta nya dengan manja.
"Ya, aku akan membawakan nya untukmu. Sekalian ada kejutan yang ingin aku beritahu padamu, see you afternoon."
Tanpa menunggu jawaban lagi, pria itu langsung mematikan sambungan telepon nya secara sepihak, bisa di pastikan lawan bicara nya saat ini sedang mengumpat kesal.
Dimas pulang, tadinya dia ingin menjemput istrinya di kampus, namun setelah membaca pesan dari nya Dimas memutuskan langsung pulang, karena Renata sudah pulang dengan menggunakan bus.
Renata sudah berkutat kembali dengan alat tempur memasak nya, dia terlalu fokus hingga tak menyadari kalau Dimas sudah pulang.
"Sayang.." panggil Dimas membuat Renata terlonjak kaget, karena pria itu langsung memeluk pinggang nya dari belakang. Sodet yang dia pegang melayang entah kemana.
"Kamu ngagetin aja sih Mas, cari sodet nya ilang tuh." Ketus Renata, membuat Dimas terkekeh.
"Tebak deh, aku punya kabar gembira lho."
"Ohya? Apa itu, Mas?" Tanya Renata, setelah mengambil sodet baru dari lemari.
"Aku dapet kerjaan dan besok aku udah bisa mulai kerja, Sayang."
"Wah selamat Mas, yaudah sekarang kamu mandi dulu ya, ini masakan nya udah hampir jadi, nanti kita makan sama-sama." Ucap Renata.
"Iya Sayang." Dimas pun ngacir ke kamar, menuruti perintah sang istri. Renata menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd suaminya.
__ADS_1
......
🌷🌷🌷🌷🌷🌷