
Renata duduk di kursi yang menang tersedia, dia memesan satu cup rujak berbumbu kacang yang terlihat sangat menggugah selera.
"Bang, rujak nya satu tanpa nanas ya."
"Iya Neng." Jawab abang-abang penjual rujak itu, tak lama kemudian rujak itu sudah siap dan Renata langsung memakan nya dengan lahap.
"Seger banget ya ampun.." ucap Renata sambil memakan rujak itu. Dia mengusap-usap perut nya di sela memakan rujak itu, beruntung saja Abang penjual rujak itu berhenti di bawah pohon, jadi tak terlalu panas.
"Bang, pesen satu lagi di bungkus ya. Jangan pedes,"
"Siap Neng." Dia langsung membuatkan pesanan Renata dengan cepat, setelah melihat satu cup rujak itu habis hanya dalam beberapa detik saja ludes.
"Lagi ngidam ya, Neng?" Tanya nya sambil tersenyum.
"Iya Bang," jawab Renata membalas senyuman ramah penjual rujak itu.
"Jadi dua puluh ribu ya, Neng."
Renata merogoh saku celana bahan nya, lalu memberikan selembar uang berwarna biru ke pedagang rujak itu.
"Ini kembalian nya Neng."
"Makasih ya Bang." Renata pun pergi, tujuan nya adalah kembali pulang. Dia menyetop bus dan segera naik, dia malas jika harus memesan ojek terlebih dahulu, kalau naik taksi ongkos nya terlalu mahal, lebih baik di pakai jajan, begitu pikiran Renata.
Renata menikmati semilir angin sore dari jendela bus yang sedikit terbuka. Namun, siapa yang menyangka kalau Renata akan melihat hal yang sangat menyakiti hatinya.
Secara kebetulan, dia melihat motor suaminya melewati bus itu, dia hafal betul motor, knalpot, plat nomor bahkan helm yang pria itu pakai. Kalau saja dia sendiri Renata mungkin tak masalah, namun di jok belakang ada seseorang yang memeluk erat pinggang suaminya sendiri.
Hati wanita mana yang tak terbakar? Saat di lampu merah pun, keduanya nampak mengobrol mesra, bahkan saling melempar candaan. Kedua mata Renata mengembun, hingga air mata perempuan hamil itu tak bisa di bendung lagi, menetes deras tanpa bisa di cegah.
"Jangan menangis, kamu jelek kalo nangis." Dia berharap suara itu adalah suara Reza, namun saat dia menoleh itu hanya orang asing yang mungkin merasa iba saat melihat nya menangis.
__ADS_1
"Terimakasih kak." Pria itu mengangguk, Renata menerima tissu yang di ulurkan oleh pria itu.
Pria itu berdiri di samping kursi yang di duduki Renata, meski masih ada kursi kosong namun entah kenapa pria itu memilih berdiri dengan berpegangan ke tiang besi penyangga kursi.
"Duduk kak." Tawar Renata.
"Tak perlu, saya lebih nyaman berdiri seperti ini." Jawabnya datar. Renata tak bicara lagi, dia memilih diam saja.
Saat lampu berganti, bus itu mulai melaju dengan perlahan, berbeda dengan motor Dimas yang sudah melesat jauh meninggalkan bus yang di tumpangi istrinya.
Hingga beberapa menit kemudian, bus yang di tumpangi Renata sampai di halte. Perempuan itu hanya perlu berjalan beberapa langkah untuk sampai ke kost an nya.
"Tak usah membayar, aku yang bayar turun dan hati-hati." Ucap pria baik hati yang entah siapa namanya itu. Renata mengangguk dan turun setelah mengucapkan terimakasih.
'Dia menangis di bus setelah melihat motor melintas di sisi kiri.' Pria itu mengetik pesan dan mengirim nya pada seseorang yang memberikan nya perintah.
"Cari penyebab nya, apapun itu jangan biarkan gadisku menangis!" Balas nya, membuat pria itu tersenyum kecil.
Renata membuka pagar, motor suaminya belum ada. Tapi dia jelas tahu kalau motor suaminya tadi melintas kan? Lalu dia kemana dulu.
"Aaahhh ya, dia punya wanita lain. Tentu saja dia harus mengantarkan nya terlebih dahulu, ayolah Renata jangan terlalu berharap dia menepati janji nya." Gumam Renata, memilih masuk ke dalam rumah sewaan nya dan membersihkan tubuhnya, memasak seperti biasa untuk makan malam.
Meski sebenarnya dia enggan, melayani suami tukang selingkuh, namun dia ingat kata-kata paman dan bibi nya, kalau melayani suami, apalagi kebutuhan perut adalah kewajiban dan akan mendapatkan pahala.
Sedangkan di apartemen Sila, pasangan itu kembali melakukan permainan ranjang. Seperti tak ada puas atau bosan nya, keduanya terus menyalurkan nafssu dan hasrat mereka untuk bercintaa, tanpa peduli waktu, atau tempat. Tadi pagi saja, keduanya bisa bercintaa di toilet karyawan.
"Aku capek yang." Ucap Dimas, gerakan pinggang nya melemah.
"Yaudah, aku di atas." Jawab Sila, segera membalik posisi, dia bergerak naik turun dengan cepat hingga membuat Dimas mengerang nikmat dan akhirnya dia menyemburkan lahar panas nya di lubang milik Sila.
"Pulang sana."
__ADS_1
"Iya, aku pulang sekarang ya." Dimas mengecup kening Sila lalu pulang ke rumah nya. Tanpa sepengetahuan Dimas, Sila kembali kedatangan tamu, siapa lagi kalau bukan bapak CEO tempat mereka bekerja, Ken alias Kenzo.
Dimas mengendarai motor nya dengan kecepatan sedang, dia merasa sangat lelah. Membersihkan banyak ruangan hari ini, belum lagi membajak sawah milik Sila.
Pria itu memarkir motor di teras, membuka helm lalu masuk. Dia melihat istrinya sedang memasak, aroma nya menguar membuat perut Dimas keroncongan.
"Sayang, masak apa?" Tanya Dimas sambil memeluk Renata dari belakang. Renata mencium aroma parfum wanita dari pakaian suaminya, namun dia berpura-pura tak tahu saja.
"Iga bakar sama sambel bawang." Jawab Renata, sibuk membulak-balikan iga bakar berbumbu kecap di teplon.
"Wahh enak banget tuh, aku mandi dulu deh sambil nunggu waktu makan." Dimas mengecup pipi kanan Renata dan melepaskan pelukan nya, pergi ke kamar dengan langkah ceria, seperti tak terjadi apa-apa.
Renata menatap punggung Dimas yang hilang di telan pintu, kalau saja dia tak mendengar dan melihat sendiri perselingkuhan suaminya, dia takkan percaya kalau pria manis itu berselingkuh di belakang nya.
"Sebelum aku wisuda, aku pastikan kedok perselingkuhan mu itu terbongkar Mas." Gumam Renata, sorot mata nya menanam. Namun sedetik kemudian berubah menjadi sorot mata penuh kelembutan seperti biasa.
Wisuda kelulusan nya hanya tinggal dua bulan lagi, dan waktu itu sangat cukup untuk menyelidiki perselingkuhan suaminya dengan cara nya sendiri.
Dimas keluar dengan rambut kelimis dan aroma shampoo yang menyegarkan.
"Tumben doyan keramas? Padahal biasanya kamu males keramas, paling keramas nya kalo kita habis main doang." Tanya Renata dengan sedikit sindiran, membuat Dimas terkejut kelihatannya.
"Lagi pengen aja, Yang. Kenapa?"
"Enggak, cuman gak biasa nya aja kamu doyan keramas. Padahal udah dua hari ini kita gak main, kamu main sama wanita lain Mas?" Tanya Renata lagi, membuat jantung Dimas jedag jedug tak karuan hingga membuatnya diam membisu.
"Hei, kenapa diam? Aku hanya bercanda kali, ayo makan katanya laper."
"Iya sayang." Jawab Dimas, dia pun makan dengan tenang, namun tak selahap biasanya. Renata hanya tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Dimas.
......
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷