
Dimas memacu motor nya dengan kecepatan tinggi, dia pergi meninggalkan Sila di aula kampus, membuat perempuan itu kesal setengah mati.
Dia menghentak-hentakan kaki nya saking kesal nya, beruntung saja dia membawa uang dan ponsel, kalau tidak sudah pasti dia seperti orang terlantar.
Di restoran, Renata dan Reza baru saja sampai. Dia membukakan helm untuk Renata, lalu membukakan pintu restoran untuk gadis pujaan nya.
"Makasih Eza."
"Sama-sama cantik." Jawab Reza, dia pun berjalan mengekor di belakang Renata.
"Kamu mau pesen apa?"
"Kayak rabboki enak deh." Celetuk Renata, padahal niatnya ke restoran ini kan untuk membeli steak bukan makanan ala Korea.
"Duhh cantik, disini gak ada rabboki. Tadi kan katanya mau steak, jadi aku ngajak kamu kesini."
"Tapi, aku mau nya rabboki Eza." Rengek Renata.
"Uhmm, kita makan steak dulu setelah nya kita pergi ke restoran Korea, mau ya? Aku udah laper, belom makan tadi." Renata mengangguk, melihat perempuan itu setuju Reza langsung tersenyum.
Dia memanggil pelayan dan pelayan itu mendekat, memberikan buku menu.
"Mau yang mana?" Tanya Reza, tapi Renata malah terlihat kebingungan, masalahnya dia tak terbiasa makan makanan seperti ini, dia biasa nya kan makan seblak atau mie ayam.
"Samain sama punya kamu aja, aku gak tahu." Reza tersenyum, dia tahu Renata memang tak terbiasa dengan makanan seperti ini, tapi yasudah lah.
Setelah selesai memilih menu, pelayan itu pun pergi dengan catatan pesanan menu yang di pilih Reza.
"Kamu cantik pake kebaya gini," puji Reza membuat Renata tersenyum malu.
"Makasih Eza."
"Ehh lupa, dari dulu kamu kan memang cantik ya." Ucap Reza lagi, membuat Renata terkekeh. Hati Reza menghangat, dia sangat senang melihat perempuan cantik itu tertawa lepas.
"Eza, kenapa natap aku kek gitu? Aku aneh ya?" Tanya Renata.
"Aneh? Enggak, kamu malah terlihat sangat cantik, kan aku udah bilang." Jawab Reza.
"Re.." panggil Reza, membuat Renata mendongak dan menatap pria di depan nya.
"Iya, kenapa?"
"Bagaimana pernikahan kamu sama Dimas, baik-baik aja?" Tanya Reza, membuat Renata tersenyum getir.
"Semua nya gak pernah baik-baik aja, Eza. Kamu lihat tadi kan, Dimas bahkan bawa Sila ke acara kelulusan aku." Jawab Renata membuat hati Reza panas terbakar.
"Maksud kamu mereka balikan lagi, gitu?" Tanya Reza lagi, dia berpura-pura saja tak tahu apapun, padahal dia tau semuanya.
Renata mengangguk lemah, dia merasa tak ada salahnya jika bicara dengan Reza.
__ADS_1
"Perut kamu sedikit membuncit, kamu hamil?"
"Iya, sudah empat bulan dia hadir di rahim aku, Eza. Dia yang buat aku semangat jalanin hidup, meski bapaknya gak pernah nganggap dia ada." Jelas Renata, lagi-lagi dia tersenyum palsu, membuat Reza semakin marah.
"Untuk sekarang, kamu mau gimana? Perjuangin Dimas lagi atau udah aja?"
"Aku capek berjuang sendiri, Za. Aku udah pasrah, apapun yang akan terjadi aku sudah ikhlas." Jawab Renata, membuat hati Reza sedikit merasa senang.
"Baguslah, kamu terlalu baik untuk Dimas yang brengsekk, Re."
"Aku tau, Za. Aku juga gak ngerti kenapa rasa ini susah banget hilang nya, malah bertumbuh semakin dalam."
"Jangan terlalu banyak berpikiran negatif, ingat bayi kamu, dia masih dalam masa pertumbuhan. Bawa happy aja, kalau Dimas gak ada, aku yang akan selalu ada buat kamu." Ucap Reza, dia menggenggam tangan Renata yang berada di atas meja.
"Makasih Eza."
"Aku akan menepati janji ku, Re." Jawab Reza, membuat Renata tersenyum. Setelah sekian lama berlalu, tapi Reza masih mengingat janji nya.
Reza adalah tipe laki-laki yang selalu menepati janji.
Tak lama, pelayan datang dengan membawa pesanan steak untuk dua orang yang sedang duduk berhadapan itu.
"Silahkan menikmati, tuan dan Nona."
"Terimakasih." Balas Renata. Reza pun menarik piring milik Renata, dia memotong-motong daging itu menjadi ukuran kecil untuk satu suapan, membuat hati Renata menghangat.
"Kok cuma di liatin, makan dong."
"Makasih Eza." Reza terkekeh, perempuan di hadapan nya jelas-jelas tak berubah.
"Kebiasaan kamu gak berubah ya, selalu aja bilang makasih. Udah, makan ya." Renata mengangguk, dia menusuk daging dan memakan nya dengan lahap.
"Mau nambah? Biasa nya kalo mie ayam kamu gak kenyang cuma satu mangkok."
"Issshh Eza, aku malu."
"Ngapain malu? Gapapa kali, lagian sekarang ada janin yang hidup di rahim kamu, jadi gapapa makan dua porsi. Satu buat kamu, satu lagi buat anak kamu." Renata cengengesan mendengar ucapan Reza, benar dia memang belum kenyang sama sekali.
"Boleh nih?"
"Boleh dong, apa sih yang enggak buat kamu." Goda Reza, Renata pun menarik kembali steak di piring kedua yang sudah Reza potong-potong juga.
Seperti mengerti nafssu makan ibu hamil, Reza sengaja memesan tiga porsi steak, dan benar saja Renata memakan dua porsi.
'Si Dimas bener-bener, istri nya lagi hamil bukan nya di manjain malah di selingkuhin, awas aja Lo Dim.' Batin Reza setelah melihat Renata makan dengan sangat lahap.
Singkatnya, acara makan pun selesai. Kedua nya bersiap untuk pulang, seperti biasa Reza menahan pintu agar Renata bisa keluar tanpa harus membuka pintu.
Buakk..
__ADS_1
Reza terhuyung ke samping setelah satu pukulan keras mendarat di rahang nya. Siapa lagi pelaku nya kalau bukan Dimas yang sedari tadi sudah kebakaran jenggot saat melihat Renata memilih pergi bersama Reza.
"Dimas, kamu apa-apaan sih?" Renata langsung membantu Reza untuk bangkit.
"Aku apa-apaan? Kamu ini masih istri aku, Renata! Malah keluyuran sama laki lain, inget kamu sedang hamil." Teriak Dimas, tatapan nya sangat tajam seakan ingin memakan siapapun hidup-hidup.
"Istri ya? Istri boneka mungkin iya, istri rasa simpanan juga iya. Lalu kenapa kau marah?" Tanya Renata, membuat Dimas bungkam.
Renata menyeka darah di ujung bibir Reza, dia tak kuasa menahan tangis saat Reza mendapat hukuman karena dirinya.
"Ayo pulang.." tanpa ragu, Dimas menarik tangan Renata dengan kasar, hingga membuat tubuh mungil nya terseret di lantai.
"Jangan kasar sama cewek, brengsekk!" Pekik Reza, dia menendang tulang kering Dimas hingga membuat pria itu terjungkal. Dia meringis karena Reza menendang nya dengan sangat kuat.
"Kata Lo dia istri Lo kan? Tapi kenapa Lo kasar sama dia hah? Sialan!"
Bughh..
Reza memukul wajah Dimas, membalas pukulan tadi hingga membuat wajah Dimas lebam, inilah yang ingin Reza lakukan sedari lama. Apalagi saat mendengar kalau Dimas berselingkuh.
"Gue udah relain cewek sebaik Renata sama Lo, tapi apa? Lo pria brengseek yang gak tau diri, gak tau malu, dan gak tau terimakasih."
Dughh..
Reza menendang selangkangaan Dimas, membuat pria itu berteriak kesakitan, Reza tersenyum penuh kepuasan. Rasanya itu cukup untuk membuat junior Dimas tak mampu berdiri selama beberapa hari.
Reza meraih pergelangan tangan Renata dan membawa nya pergi dari tempat itu, meninggalkan Dimas sendirian, terkapar di lantai berguling-guling menahan sakit.
"Eza, tapi itu Dimas gimana?"
"Gak usah khawatir sama dia, apa dia pernah khawatir sama kamu? Itu setimpal dengan apa yang sudah dia perbuat sama kamu, bahkan masih kurang!" Tegas Reza, dia kesal karena Renata terlalu baik pada pria sebejaat Dimas.
"T-api.."
"Karena dia suami kamu, Re? Lalu dia bisa berbuat seenaknya sama kamu, maaf selama aku disini, aku gak akan pernah biarin dia menyakiti kamu lagi." Ucap Reza, dia meraih Renata ke dalam pelukan nya, tak peduli bahwa perempuan yang saat ini dalam pelukan nya ini berstatus istri pria lain.
......
🌷🌷🌷🌷
apa cerita ini semakin lama semakin gak jelas ya? apa cuma author yang merasa begitu😅
......
jangan lupa mampir ke karya temen author juga yaaaw☺️
Jangan Hina Kekuranganku karya kak Ocybasoaci🥰
__ADS_1